tiket surga

ADAKAH TIKET MENUJU SYURGA ALLAH…???

Perjalanan kehidupan ini begitu teramat singkat sekali, seiring dengan berjalannya
waktu seiring itu pula usia  terus  berkurang,  tanpa  disadari  perjalanan  hidup
menuju tujuan akhir dari hidup ini seakan semakin dekat menghampiri hidup kita,
padahal maut itu tidak memilih waktu dan tempat, tidak peduli apakah seseorang itu
dalam keadaan sehat maupun sakit, tidak memilih tua ataupun muda dan tidak
memilih bayi atau dewasa karena maut setiap detik mengintai setiap manusia yang
hidup atau yang merasa hidup tanpa memandang miskin ataupun kaya.

Segala persiapan dan bekal telah kita persiapkan untuk menghadapinya namun ada
kalanya diri kita masih merasa ragu-ragu, apakah bekal atau persiapan itu sudah
cukup sebagai tiket menuju kepada tujuan akhir kehidupan tersebut. Melaksanakan
segala bentuk amal ibadah dengan menjalankan segala perintah Tuhan serta
meninggalkan segala apa yang dilarang-Nya, dengan harapan segala amal ibadah itu
yang kita kerjakan mendapatkan balasan pahala atau pun syurga, akan tetapi
keraguan itu masih tetap menghampiri didalam pikiran dan terkadang hatipun
bertanya-tanya, apakah amal ibadah itu yang kita kerjakan sudah benar, pas, tepat
menurut pandangan dan penilaian serta keridho’an Allah SWT…???

Pada kesepatan ini kami akan memaparkan dengan terang seterang-terangnya dan jelas
sejelas - jelasnya, gamblang  segamblang - gamblangnya,  apa  dan bagaimana  serta
seperti apa beramal ibadah yang diinginkan, yang dikehendaki dan yang di maksudkan
serta yang di ridhoi Allah itu…?, sehingga  amal ibadah  yang  kita  kerjakan tidak
menjadi keraguan bahkan  menjadi  sia-sia  nantinya  dalam  penilaian-Nya,  jangan
pernah berkata atau berfikir dengan mengatakan: “yang penting aku sudah mengerjakan
segala perintah-perintah Allah dalam menegakkan shalat dan beramal ibadah lainnya,
semuanya terserah Allah dan Allah yang menentukan kemana aku hendak diletakkan-Nya”
kata-kata yang kita keluarkan itu  tidaklah  salah  karena  secara  segala sesuatu
adalah mutlak ketentuan Allah, tidak jarang kita mengeluarkan kata-kata itu ketika
seseorang,  teman,  kerabat,   sanak  saudara   untuk  mengajak  diri  kita  untuk
memperbaiki shalat khusyuk  dengan  menuntut  ilmunya, yaitu  ilmu  tasawuf dengan
jalan beramal ibadahnya melalui thariqat. Maksud teman, kerabat, sanak saudara 
kita itu sangatlah baik dan sangatlah membukakan pikiran dan hati kita untuk
menyadari dan menyadarkan kita bahwasannya seseorang yang menganjurkan untuk
memperbaiki amal ibadah yang kita kerjakan itu dirinya telah menuntut ilmunya
terlebih dahulu, sehingga ia ingin memberi tahukan sesuatu atas apa yang
dirasakannya dalam mendekatkan diri kepada Allah melalui jalan beramal ibadah
setelah menuntut ilmu itu. Secara tidak langsung, mereka itulah sebagai petunjuk
dari Allah yang datang kepada kita. Karena kita tahu kwalitas shalat dan amal
ibadah kita yang lain tidak karuan alias masih semerawut atau berantakan, karena
kita tahu dan sadar; ketika kita berdiri menegakkan shalat, pikiran dan hati kita
masih terganggu dan masih banyak diganggu oleh hiruk pikuk kehidupan dunia ini
apalagi kita mempunyai masalah (problem), sehingga pada waktu shalat yang kita
kerjakan teramat sukarlah dan sangat susah sekali untuk berkonsentrasi hanya
kepada Allah, bukankah kwalitas shalat kita itu tidak baik dan teramat buruk
apalagi sampai melayang nyawa kita, hati kita banyak yang lain yang kita simpan
dan kita pelihara di dalam hati ini, bukankah ini yang dinamakan: mensyarikatkan
atau menduakan Tuhan (syirik/ syirik khofi yaitu syirik yang halus)...inilah dosa
yang tidak diampunkan oleh Allah...!!!, karena hati kita terus berzina (bercampur)
dengan yang lain selain-Nya
. Allah telah berfirman:

1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
2. (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,

(Q.S Al Mu’minuun (23) ayat 1-2)


Dan Allah berfirman lagi:
88. (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,
89. kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,

(Q.S Asy Syu’araa (26) ayat 88-89)

Menurut pendapat dan pemahaman Mursyid/Guru Besar Mujaddid Syekh. Muhammad Hirfi
Nuzlan Bin H. Muhammad Thahir Bin Muhammad Isa Bin Malan atas firman Allah:
Q.S Asy Syu’araa (26) ayat 89 “kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan
hati yang bersih” adalah orang-orang yang telah khusyuk, yaitu yang hatinya tetap
terfokus hanya kepada Allah atau telah tauhid secara benar, pas, tepat dan terarah
yang diridhoi Allah.


Dan Allah SWT berfirman kembali:
4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,

(Q.S Al Ma’un (107) ayat 4-5)

Mari kita pikirkan dan bayangkan dengan akal yang sempurna yang dapat menerima
pelajaran bila kita memahami diri kita dengan kejujuran yang tinggi, Ketika dalam
mengerjakan shalat saja, kita di ancam Allah dengan azab neraka karena dalam
mengerjakan shalat itu pikiran daan terutama hati kita tidak mengingat Allah atau
alias lalai/lupa berdzikir (mengingat)-Nya
. Inilah pekerjaan secara syari’at
(hukum fiqih) benar tetapi dalam pandangan Allah (hakikat) teramat sangat dibenci
Allah dan dimurkai Allah, sehingga diancamnya dengan neraka. Apakah kita masih
mempertahankan kwalitas shalat kita yang buruk dan jelek itu...??? . Dan Allah
berfirman lebih jelas dan tegas lagi bagi orang-orang yang mengaku beriman untuk
khusyuk hatinya mengingat-Nya.

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati
mereka mengingat Allah
dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka),
dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al kitab
kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka
menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.

(Q.S Al Haddid (57) ayat 16)

Bahkan Allah menyeruh lagi dan menekankan kepada kita semua yang telah rajin dan
sungguh-sungguh untuk mengerjakan segala perintah-perintah Allah dan menjauhi
segala larangan-Nya itu agar hati kita tunduk (khusyuk) mengingat-Nya. Bukankah
sudah cukup jelas untuk orang-orang beriman, janganlah lagi banyak berdalih dan
mengemukakan berjuta-juta alasan kalau diri kita mau selamat kedalam
keridho’an-Nya atau berada di surga-Nya. Bukankah Allah telah berfirman bagi
orang-orang yang sia-sia perbuatannya di dalam menjalankan segala perintah Allah.
Allah  SWT telah berfirman yang artinya :

Katakanlah: "apakah akan kami beritahukan kepada mu tentang orang-orang yang
paling merugi perbuatannya?" yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya
dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-
baiknya
. mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan
(kafir terhadap) perjumpaan dengan dia
.
maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan
kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat".
(Q.S. Al-Khafi (18) ayat 103-105).

Didalam hadist Qudsi Allah telah berfirman yang artinya :
“ Kelak pada hari kiamat akan didatangkan beberapa  buku yang disegel lalu
dihadapkan kepada Allah SWT ( pada waktu itu) . Allah berfirman:“buanglah ini
semuanya “. malaikat berkata : “ demi kekuasaan engkau, kami tidak melihat
didalamnya melainkan yang baik-baik saja”. selanjutnya Allah berfirman:
 “sesungguhnya isinya ini dilakukan bukan karena-KU
dan AKU sesungguhnya tidak akan menerima kecuali apa-apa yang
dilaksanakan karena mencari keridhaan-ku “.

(H.Q.R.Bazzaar dan Thabarani, dengan dua sanad atau diantara
para rawinya termasuk perawi al-jami’ush shahih).

Mengerjakan segala amal ibadah ternyata tidaklah cukup hanya dengan mengandalkan
dimensi gerak tubuh saja ataupun hanya sekedar membaca bacaan-bacaan dilidah
syariat saja, namun lebih mengutamakan dimensi HATI/RUH yang merupakan alat
penentu diterima atau tidaknya amal ibadah tersebut, karena manalah mungkin dan
tidaklah mungkin Allah yang Maha Suci itu dapat kita dekati ataupun dapat kita
kenali dengan hati yang tidak bersih dan suci, sangatlah mustahil pada akal kita
dapat berjumpa dengan Allah atau bersyahadat (menyaksikan) Allah tanpa mau diri
kita secara sengaja untuk bersungguh-sungguh membuang segala penyakit-penyakit
hati yang selama ini menjadi hijab atau yang menutupi dan membutakan mata hati
kita dari menyaksikan-Nya karena berbagai kilauan dunia itu, karena hanya Hati/
Ruh itulah yang dapat mengenal dan menyaksikan Allah itu sendiri,  karena
sesungguhnya agama itu didirikan diatas kebersihan hati. Allah SWT berfirman:

9. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
10. dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

(Q.S Asy Syams (910 yat 9-10)


Dalam hadits Nu`man bin Basyir bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ
Artinya:
"Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging.
Jika segumpal daging itu baik, maka seluruh tubuh juga baik. Jika segumpal daging
itu rusak, maka seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah
hati
". (HR Muslim, no. 1599.)

Setiap Manusia telah Allah Amanahkan Ruh kehidupan, dengan ruh itulah manusia hidup
dan dapat beraktifitas, namun sedikit manusia yang dapat menyadari dan mengenali
serta mengetahui akan teramat pentingnya dan teramat sangat-sangat wajib di nomor
satukan untuk mengenal dan menyaksikan Allah dengan ruh/jiwa yang sebenarnya sudah
ada di dalam tubuh kita sendiri.

Seperti layaknya seekor ikan yang hidup berenang didalam air, akan tetapi ikan itu
sendiri tidak menyadari bahwa ia hidup bersama air itu, namun seketika ikan itu
di angkat kedaratan ia menggelepar dan menyadari bahwa ikan itu membutuhkan air
dan ternyata air lah tempat ia hidup. Begitu pula manusia dapat sadar ketika ruh/
jiwa itu telah berpisah dari badannya ternyata bukan badan atau tubuh itu yang
hidup tetapi RUH/jiwa kita itulah sesungguhnya yang hidup dan mempertanggunjawabkan
segala perbuatan kita selama hidup, karena Allah sangat mengetahui akan isi hati/
jiwa kita.

Seperti firman Allah SWT yang artinya:
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
"Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami
menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap
ini (keesaan Tuhan)", (Q.S.Al-A’raaf (7) ayat 172).

Sebelum Ruh atau Jiwa itu ditiupkan kedalam Janin Anak manusia, Allah memanggil
Ruh ciptaan-Nya untuk diambil kesaksiannya sebagai janji Ruh kepada Allah agar
selalu menyaksikan Allah dengan tidak melupakan akan janji suci itu karena pada
saat itu Ruh itu masih dalam keadaan Fitrah atau suci sehingga dapat menyaksikan
Tuhannya yang Maha Suci, Ruh yang ditiupkan kedalam janin anak manusia itulah yang
dinamakan HATI yang bila hati itu dapat kembali Fitrah atau suci hanya mencintai
Allah di dalam hatinya (Tauhid) maka hati atau mata hati itu dapat kembali melihat
atau menyaksikan Allah Azza wajalla atau telah menepati janjinya dan selamatlah
diri kita, itulah yang dinamakan IHSAN dan itupula yang dikatakan telah melihat
atau bersyahadat secara benar, di ucapkan di lidah “Asyhadualla ila haillallah”
dan ditasdikan di hati atau dibenarkan di hati yaitu hatinya telah benar-benar
melihat atau menyaksikan Allah SWT sehingga tubuh pun ikut merasakan kenikmatan,
kelezatan dalam beramal ibadah, maka ISLAMLAH KITA PADA HAKIKATNYA, dan benarlah
kita pengikut Nabi Muhammad SAW, dan benar pulalah kita telah menghadapkan wajah
hati kita kepada jalan yang lurus yaitu kepada Allah semata, bukankah tiket surga
akan diberikan Allah kepada diri kita karena Allah telah ridho akan jiwa kita itu.
     
Allah SWT berfirman yang artinya;
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada
fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui

(Q.S.Ar-Ruum (30) ayat 30).


Allah SWT berfirman yang artinya;
Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh
menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.

(Q.S.Al-insyiqaaq (84) ayat 6).

Karena teramat rindunya Ruh itu kepada Allah, karena Allah merupakan kekasih hatinya,
Allahlah cinta sejatinya, cintanya yang kekal dan abadi dan cinta pertamanya serta
sebagai cinta terakhirnya, namun adakalanya hawa nafsu itu telah menguburnya hidup
-hidup agar tidak bangkit untuk dapat mencintai Allah, hawa nafsu telah memasung
dan mengikat Ruh/jiwa itu agar tidak dapat lepas merdeka menuju Tuhannya, sehingga
menjadi sakitlah Ruh/Jiwa itu, susah dan menderitalah jiwa/hati itu, gelisah dan
sengsaralah jiwa/hati itu, karena terhimpit atau terjepit oleh Hawa nafsu yang ada
di dirinya, sehingga nerakalah yang dirasakannya, karena hawa nafsu itu masih
bersifat liar, ganas dan kejam terhadap jiwa yang tidak mau berjuang untuk kembali
kepada Allah, sebaliknya bila hawa nafsu itu dapat diperangi serta dibujuk untuk
dapat tunduk sebenar tunduk hanya kepada Allah maka bahagianya RUh/jiwa itu karena
tidak ada lagi yang menghalangi jiwa/ruh/hati menuju kepada Allah yang teramat
dicintainya itu, sehingga tenang dan tentramlah hatinya, lapanglah hatinya,
bahagialah hatinya karena telah bersama dengan Allah atau dapat kembali menyaksikan
Allah itulah surga yang sesungguhnya telah dirasakan didalam hati /jiwanya.

Allah SWT telah berfirman:
27. Hai jiwa yang tenang.
28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
29. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,
30. masuklah ke dalam syurga-Ku.

(Q.S Al fajr (89) ayat 27-30)


SUDAH CUKUP JELAS BUKAN…? BAGI SAUDARA-SAUDARAKU YANG KUSAYANGI, KUKASIHI DAN
KUCINTAI, JANGANLAH KITA DIKARENAKAN SIBUKNYA MENGURUSI DUNIA INI HINGGA SAMPAI
MELALAIKAN DAN MENGABAIKAN AKAN TUJUAN AKHIR DARI PERJALANAN HIDUP INI ATAU
KEHIDUPAN SETELAH KITA MATI YAITU SAAT BERPISAHNYA TUBUH DENGAN RUH YANG SUDAH
PASTI AKAN DATANG MENEMUI DIRI KITA, CEPAT ATAU LAMBAT KITA PASTI KEMBALI KEPADA
ALLAH SWT UNTUK MEMPERTANGGUNG JAWABKAN AMANAH YANG DITITIPKANNYA KEPADA KITA 
YAITU RUH APAKAH MASIH BERSIH DAN SUCI SEPERTI SEMULA KETIKA ALLAH TIUPKAN KEDALAM
 JANIN ANAK MANUSIA DALAM KEADAAN SUCI ATAU FITRAH.

KUNCI TIKET MASUK KE SURGA ALLAH
adalah
BERSIH HATI, BERSIH PIKIRAN

 


 

Bagikan :

Komentar

Tambah Komentar (0)

Batal

Balas Komentar

Komentar Berhasil diterbitkan
Komentar tidak dapat diterbitkan Silakan coba lagi..!
Alamat email yang anda masukkan salah..!
Alamat web yang anda masukkan salah..!
Kode Captcha yang anda masukkan salah...!
Bidang tidak boleh ada yang kosong....!

Artikel Terbaru