tidak tersesat menuju keridhoan Allah

BERAMAL IBADAH MELALUI JALAN BERTHARIQAT
AGAR DIRI KITA TIDAK TERSESAT MENUJU KERIDHO’AN ALLAH

Assalamu’alaikum Warohmatullahi wabarokatuh.

Habitat adalah tempat dimana awalnya sesuatu itu berasal, contohnya hewan liar seperti
gajah, habitat aslinya adalah berada di dalam hutan, ikan habitat aslinya berada di
dalam air yang harus dikembalikan ketempatnya semula; itulah habitat.  Mohon maaf
sebelumnya, dalam hal ini penulis memakai istilah “habitat” yang tujuannya adalah
hanya untuk lebih memudahkan kita untuk berpikir, mengerti dan memahami uraian tulisan
kami berikut ini.Begitu juga dengan Ruh/Jiwa, juga memiliki tempat darimana ia berasal
dan pastilah Ruh/jiwa juga akan kembali ketempat asalnya bila sudah waktunya
"Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah
dan kepada Allah jugalah kami kembali), bila ruh kita ingin kembali dekat di sisi
Tuhan seperti semula wajiblah kita memahami, mengetahui jalannya untuk kembali dekat
di sisi Tuhan itu agar ruh/jiwa kita itu tidak tersesat jalan pulangnya, bukankah
begitu saudara-saudaraku....??? nanti...kalau tidak tahu jalan pulang kepada Allah,
maka pastilah Ruh/jiwa kita itu akan tersesat untuk kembali kepada Allah, dan
pastinya akan dijeput  paksa oleh pembantu Allah, namanya malaikat Izrail,

seperti dalam Firman Allah SWT:

93. dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap
Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", Padahal tidak ada diwahyukan
sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang
diturunkan Allah." Alangkah dahsyatnya Sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang
zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang Para Malaikat memukul dengan tangannya,
(sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang
sangat menghinakan
, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang
tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.

(Q.S Al An’aam (6) ayat 93)

Mengapa jiwa/hati kita tersesat ketika akan kembali kepada Allah....???
itu dikarenakan jiwa/hati kita telah di kuasai syaitan yang bersemayam di dalam hati
ini karena tidak berdzikirnya hati kita kepada Allah, sebagaimana Allah SWT telah
berfirman:
19. syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah;
mereka Itulah golongan syaitan. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya golongan syaitan
Itulah golongan yang merugi.
(Q.S Mujaddilah (58) ayat 19)


Sebenarnya... kita manusia ini tidak ada yang mau dikatakan sebagai syaitan, tetapi
sadar atau tidak sadar terkadang hati kita cenderung mengikuti bisikan-bisikan atau
kata-kata syaitan itu, sehingga menjadikan kita lupa mengingat Allah. Bukankah kita
sudah tergolong orang-orang yang merugi, yaitu merugi dalam kehidupan dunia ini dalam
segala perbuatan amal ibadah yang kita lakukan, seperti: mengerjakan shalat, berpuasa,
berdzakat, bahkan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu dan bahkan di dalam aktifitas
kita sehari-hari, seperti yang dikatakan Allah dalam firman-Nya;

1. demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

(Q.S Al Ashr (103) ayat 1-2)

1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
2. (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,

(Q.S Al Mu’minuun (23) ayat 1-2)

4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,

(Q.S Al Ma’uun (107) ayat 4-5)

142. Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan
membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri
dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia.
dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali
.

(Q.S An Nisaa’ (4) ayat 142)

Betapa mengerikan dan sangat tidak masuk di akal bukan....??!, kita berbuat baik
dengan mengerjakan shalat tetapi kita di ancam Allah dengan api neraka, rupa-rupanya
shalat yang kita kerjakan itu hanya sekedar memenuhi kewajiban belaka sebagai umat
Islam atau hanya sebagai pelepas tanggung jawab sebagai umat muslim, Ini adalah
sesuatu kekeliruan yang amat besar,
mengapa begitu...??? karena jujur saja, kalau kita
di tanya Allah SWT; apakah ketika kamu mengerjakan segala perintah-perintah-Nya,
seperti menegakkan shalat, sudah benarkah kamu dalam shalat itu MENGINGAT-KU...???
tidak bercabang-cabangkah pikiran dan hati mu yang mabuk akan dunia itu...??? seperti
mabuk akan istri/suami, anak, cucu, harta, pangkat dan jabatan/kedudukan dan lain
sebagainya yang selalu hadir ketika kita mengerjakan shalat. Ketahuilah... bahwa Allah
SWT tidak suka dan Allah tidak mau menerima orang yang mengerjakan shalat dan amal-
amal ibadah lainnya tidak ada hadirnya Allah di dalam hatinya atau tidak berdzikirnya
hati kepada Allah, dan Allah mengancam dalam firman-Nya:  

179. dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin
dan manusia
, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami
ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk
melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak,
bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.

(Q.S Al A’raaf (7) ayat 179)


Allah SWT pun berfirman dalam hadits Qudsi yaitu ;
“Kelak pada hari KIAMAT akan didatangkan beberapa buku yang disegel lalu DIHADAPKAN
KEPADA ALLAH S.W.T ( pada waktu itu ). Allah berfirman : “ BUANGLAH INI SEMUANYA”.
Malaikat berkata :” demi kekuasaan Engkau, KAMI TIDAK MELIHAT DIDALAMNYA  melainkan
yang baik-baik saja ”. Selanjutnya Allah berfirman :” Sesungguhnya isinya ini di
lakukan bukan karenaKu dan Aku sesungguhnya TIDAK AKAN MENERIMA kecuali

APA-APA YANG DILAKSANAKAN karena mencari KERIDHAANKU (IKHLAS) “.
( H.q.r. Bazzar dan Thabarani, dengan dua sanad atau diantara pararawinya
termasuk perawi al jami’us shahih ).

Kenapa dikatakan lalai....??! karena ketika ruh/jiwa di dalam diri kita sudah berada
didunia dengan segala kemilau dan gemerlap duniawi yang disekitarnya, membuat diri
kita lupa (lalai) melatih ruh/jiwa/hati ini untuk bagaimana dapat berjalan kembali
pulang keasalnya yaitu berada di sisi Allah, kalau kita sudah lupa melatih jalan untuk
pulang, pastilah... lama-kelamaan diri kita menjadi bingung di buat oleh segala
gemerlap kilauan duniawi itu. Ditambah lagi kita mendustai janji jiwa kita yang
sekarang berada di dalam diri  kepada Allah untuk selalu mengingat-Nya,  yang telah
ditegas dalam firman Allah SWT:

dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan
anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa
mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul
(Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di
hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah
orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",

(Q.S Al A’raaf (7) ayat 172)

Kini kita sudah melupakan janji kita kepada Allah, dan ditambah lagi kita pelihara
pula penyakit-penyakit hati yang bersemayam duduk bersilah/bertapa di dalam hati kita
itu. Nah... Allah dengan tegas berfirman lagi:

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya;
dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

(Q.S Al Baqarah (2) Ayat 10)

Berdusta dalam ayat ini, menurut pemahaman dan penafsiran Musyid/Guru Besar/Mujaddid
Syekh. Muhammad Hirfi  Nuzlan Bin H. Muhammad Thahir Bin Muhammad Isa Bin Malan adalah
berdusta karena tidak menepati janji kita kepada Allah untuk selalu mengingat-Nya
(Q.S Al A’raaf (7)ayat 172). Maka jelaslah diri kita pasti dikatakan Allah sebagai
golongan-golongan syaitan karena melupakan janji jiwa kita kepada-Nya
. Allah SWT
telah berfirman:

Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah;
mereka Itulah golongan syaitan. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya
golongan syaitan  Itulah golongan yang merugi.

(Q.S Al Mujaddilah (58) ayat 19)

Cukup terang dan jelas uraian tersebut di atas bukan...???, jangan berkilah lagi dan
mencari berjuta-juta alasan untuk tidak memperbaiki diri dan hati kita, dan hanya ada
satu jalan untuk semua itu, yaitu: SINGSINGKAN LENGAN BAJUMU...LANGKAHKAN KAKIMU...
DAN NIATKAN DALAM HATIMU “Illahi anta maqsudhi waridhoka mathlubi (Ya Allah...hanya
Engkau yang aku maksud tiada yang lain, dan ridho-MU jua dambaku tiada yang lain)”
PASTI ALLAH AKAN MEMBANTUMU. SEGERALAH BERJIHAD/BERJUANG MENCARI DAN
MENUNTUT ILMUNYADIMANA SAJA BERADA AGAR DAPAT HATI INI HIJRAH KEPADA ALLAH
atau MEREVOLUSI MENTAL DIDALAM DIRI KITA SENDIRI UNTUK MEMERANGI BERBAGAI
BISIK-BISIKAN SYAITAN DAN MEMBUANG BERBAGAI PENYAKIT-PENYAKIT HATI,
dan salah satu jalan yang akurat dan lebih terarah adalah dengan menuntut ilmu tasawuf
dengan jalan beramal ibadahnya melalui thariqat yang sudah mempunyai methode-methode
dzikrullah sejak zaman Junjungan Nabi Besar Muhammad SAW yang diajarkannya kepada
Saidina Ali bin Abi Thalib.

Dalam sebuah riwayat: Nabi Muhammad SAW pernah membai’at dan menalqin kepada diri
sahabat Ali bin Abi Thalib, sebagaimana yang diterangkan di dalam Hadits Shahih yang
muttashil, yaitu: Rasulullah SAW bersabda kepada Ali bin Abi Thalib: “Hai Nabi,
pejamkan kedua matamu dan tempelkan sepasang bibirmu serta lipatkan lidahmu pada
langit-langitan mulut dengan berdzikir; Allah, Allah, Allah...di dalam Latifah dari
lathaif tujuh”
(HR. Thabarani dan Baihaqi)

205. dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut,
dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu Termasuk
orang-orang yang lalai
. (Q.S Al A’raaf (7) ayat 205)

Firman Allah SWT yang artinya :
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada
fitrah Allah". (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,”

( Q.S. Ar-Ruum (30) ayat 30 ).

Dan Allah memberi jaminan surga bagi orang-orang yang berjihad dijalan Allah untuk
membersihkan hatinya atau untuk menegakkan Kalimah (agama) Allah yaitu menegakkan RUH
yang telah terbenam atau tertutupi atau terhijab oleh hawa nafsu sehingga  mata 
hatinya menjadi buta dari menyaksikan Allah, dan bila ia bersungguh-sungguh didalam
berjihad memerangi hawa nafsu dirinya dengan kata lain menuntut ilmu kepada ahlinya
dengan bersungguh-sungguh, jika ia mati belum hatinya fitrah kembali atau belum
berjumpa berhadapan muka dengan Allah/menyaksikan Allah, maka termasuklah ia mati
dalam jihad fisabilillah dan baginya surga yaitu tempat yang telah dijanjikan
Allah SWT.

Firman Allah SWT yang artinya :
Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu,
maka pasti kamu akan menemui-Nya
.(Q.S.Al-Insyiqaaq (84) ayat 6)

Firman Allah SWT yang artinya:
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami
tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar
beserta orang-orang yang berbuat baik
.(Q.S.Al-Ankabut (29) ayat 69).

Dan hadits Nabi Muhammad Rasulullah SAW:
Siapa yang berperang untuk MENEGAKKAN KALIMAH (AGAMA) ALLAH ,
maka itu FII SABILILLAH,”
.(H.R. Bukhori, Muslim, Abu Daud).

Nabi Muhammad Rasulullah SAW Bersabda:
Orang mati syahid dalam jihad fii sabilillah dalam barisan pertama dan belum
berhadapan muka melainkan terbunuh, maka mereka akan bertempat dalam bilik yang
tertinggi didalam sorga,
Allah TERTAWA kepada mereka, dan bila Allah tertawa pada
seseorang hamba-Nya yang mukmin maka berarti tidak ada hisab atasnya.”

(Hadits Riwayat Athabarani).

KETAHUILAH....SAUDARAKU YANG KUKASIHI, KUSAYANGI DAN KUCINTAI..tiada sedikitpun
kami mau mengajari, tetapi semua itu kami rasakan akan pengamalan ilmu
dzikrullah itu keadaan diri kami masing-masing, jadi BUKANLAH AGAMA, BUKANLAH
GOLONGAN, BUKANLAH PENGAJIAN THARIQATNYA YANG SESAT TETAPI HATI ATAU RUH YANG
ADA DI DIRI MANUSIA ITULAH YANG SESAT BILA TIDAK KENAL ALIAS TIDAK DAPAT KEMBALI
 MENYAKSIKAN TUHANNYA. SEMOGA BAGI KITA YANG SUNGGUH-SUNGGUH MENUNTUT ILMU
KEPADA AHLINYA DAPAT KEMBALI MENYAKSIKAN ALLAH AZZA WAJALLA TUHAN SANG MAHA
PENCIPTA ITU, JADI BILA HATI KITA BELUM DAPAT MENGENAL ATAU BELUM DAPAT
MENYAKSIKAN ALLAH, SEGERAKANLAH DENGAN MENYINGSINGKAN LENGAN BAJU KITA UNTUK
MENUNTUT ILMU TASAWUF MELALUI JALAN THARIQAT MANA SAJA YANG MUKTABARAH
BERDASARKAN AL-QURAN DAN AL-HADITS DAN QIYAS DAN IJMA’ ULAMA AHLU SUNNAH
WAL JAMA’AH YANG KITA YAKINI. SEMOGA KITA ADALAH TERMASUK DIDALAM GOLONGAN
ORANG-ORANG YANG NANTINYA DAPAT KEMBALI KEPADA ALLAH DISAAT SAKRATUL MAUT
DENGAN HUSNUL KHOTIMAH.

Amiin...Amiin... Yaa rabbal 'Alamin.

 

 

Bagikan :

Komentar

Tambah Komentar (0)

Batal

Balas Komentar

Komentar Berhasil diterbitkan
Komentar tidak dapat diterbitkan Silakan coba lagi..!
Alamat email yang anda masukkan salah..!
Alamat web yang anda masukkan salah..!
Kode Captcha yang anda masukkan salah...!
Bidang tidak boleh ada yang kosong....!

Artikel Terbaru