Silahturahmi kepada Prof. DR. KH. Said Aqil Siroj


 

SILAHTURAHMI SUMBANGSIH PEMIKIRAN MURSYID AL RASYID/GURU BESAR/MUJADDID
SYEKH. MUHAMMAD HIRFI NUZLAN BIN H. MUHAMMAD THAHIR BIN MUHAMMAD ISA BIN MALAN
KEPADA PROF. DR. KH. SAID AQIL SIROJ
(Sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama)

 

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Mengutip ceramah dari Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)
Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, menegaskan pentingnya menjaga ukhuwah kebangsaan.
Dalam pandangan beliau, prinsip tasamuh (toleransi) merupakan inti pandangan
Islam Nusantara. Demikian penegasan KH. Said Aqil Siroj dalam Dialog Kebangsaan,
"Kebhinekaan dan Prinsip Kebangsaan: Semangat Islam Nusantara untuk Indonesia
Damai". Agenda ini, diselenggarakan oleh Polres Simalungun, pada Sabtu sore
(17/06/2017), dalam rangkaian Dialog dan buka bersama di Masjid Baitul Karim,
Kebun Dolok Hilir, PTPN IV, Kec. Dolok Batu Nanggar, Simalungun, Sumatra Utara.
(dikutip dari TRIBUNNEWS.COM, SIMALUNGUN)

Kemudian dalam dialog tersebut KH. Said Aqil Siroj mencontohkan, betapa pendiri
Nahdlatul Ulama, Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari memiliki prinsip utama dalam
berbangsa. "Hubbul wathan minal iman, cinta tanah air itu bagian dari iman.
Mana dulu, tanah air dulu atau agama dulu. Kiai Hasyim menjawab, kita perkokoh
tanah air dulu, baru membangun agama,"
begitulah KH. Said Aqil Siroj
mengkisahkan kisah pertemuan Presiden Soekarno yang bertemu dengan Syaikh
Hasyim Asy'ari (di bulan November 1945 beberapa bulan setelah Indonesia Merdeka).
Dalam ulasannya tersebut, Kiai Said berharap agar warga lintas agama di kawasan
Simalungun, Sumatera Utara, dapat hidup damai dan harmonis.

Setelah melihat pemberitaan tersebut, Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan
Bin H. Muhammad Thahir Bin Muhammad Isa Bin Malan menanggapi atas ceramah
(dialog) KH. Said Aqil Siroj yang mengutip kata-kata dari Tokoh Pendiri
Nahdatul Ulama Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari yang memiliki prinsip utama dalam
berbangsa. "Hubbul wathan minal iman, cinta tanah air itu bagian dari iman.
Mana dulu, tanah air dulu atau agama dulu. Kiai Hasyim menjawab, kita perkokoh
tanah air dulu, baru membangun agama," apakah prinsip Syekh. Hasyim Asy’ari
tersebut tetap menjadi pedoman bagi kaum Nahdlatul Ulama hingga sampai saat
sekarang ini..? karena KH. Said Aqil Siroj masih berpedoman kepada ungkapan
Syaikh. Hasyim Asy’ari dalam ceramah (dialog) yang disampaikannya tersebut di
dalam upaya menciptakan perdamaian dan keharmonisan di dalam berbangsa dan
bernegara. Kalau prinsip ini masih terus di pegang dan dijalankan oleh kaum
Nahdlatul Ulama yang sangat saya hormati, saya sayangi, saya kasihi dan sangat
saya cintai, kami dari Pengajian Tasawuf Babur Ridho Rahmatullah Ahli Thariqat
Naqsyabandi Jabal Hindi, Medan-Sumatera Utara sangat menyayangkan.
karena Allah SWT telah menegaskan di dalam firman-Nya.
Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan
Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.(Q.s Al Anbiya’ (21) ayat 92)

Yang prinsip tersebut sangat tidak sesuai dengan rukun Islam yang lima
perkara yaitu:
1. Mengucap dua kalimah syahadat.
2. Menegakkan shalat.
3. Menunaikan Dzakat.
4. Melaksanakan Puasa.
5. Menunaikan Ibadah Haji Bagi yang mampu.

Dan juga tidak sesuai dengan rukun iman yang 6 perkara itu sendiri,
karena prinsip dasar beragama di dalam agama Islam adalah rukun Islam dan rukun
iman sebagai pondasi bagi pemeluk agama Islam. Dimana mentauhidkan Tuhan atau
men-Esakan Tuhan adalah perkara yang utama dan paling utama di dalam beragama.
Pastinya, juga sangat tidak sesuai dengan firman Allah SWT:
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram
dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.
(Q.s Ar rad (13) ayat 28)


Dan Firman Allah SWT lagi yang artinya:
Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin
supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).
Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana, (Q.s Al Fath (48) ayat 4)


Kalau saja di saat sekarang ini masih juga berprinsip bahwasannya untuk dapat
menciptakan perdamaian dan keharmonisan di dalam berbangsa adalah dengan lebih
mengutamakan dengan memperkokoh tanah air dulu dari pada nilai-nilai agama,
jelas ini adalah sebuah KEKELIRUAN YANG BESAR. Walaupun kami sangat kagum dan
mengagumi serta sangat menghormati para tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama dan para
pejuang Nahdlatul Ulama yang juga sangat kami kagumi, sangat kami sayangi,
sangat kami hormati dan sangat kami cintai karena perjuangannya yang begitu
besar membela tanah air ini. Karena tidaklah pantas Allah Sang Maha Pencipta itu
di nomor 2 kan dengan lebih mengutamakan dengan memperkokoh nilai-nilai
kebangsaan di dalam menciptakan perdamaian dan keharmonisan di Negeri yang kita
cintai ini, walaupun maksud padangan dari KH. Said Aqil Siroj tidaklah seperti
itu. Bukankah aqidah di atas segala-galanya…? Sekali lagi saya jelaskan, kalau
dahulu di masa perjuangan itu Syaikh Hasim Asy’ari berprinsip
“mendahulukan membangun bangsa terlebih dahulu baru agama” karena beliau
memiliki pandangan kedepan bahwa tidaklah mungkin agama dapat berjalan dengan
lancar, tentram dan aman tanpa kemerdekaan terlebih dahulu kita gapai.

Jika anak-anak bangsa di zaman saat sekarang ini telah jauh dari nilai-nilai
ketauhidan dalam mentauhidkan Tuhan Yang Maha Esa itu, maka bersiap-siaplah
bahwa anak-anak bangsa ini menjadi tidak punya pegangan dalam hidup dan tidak
pula punya tempat bergantung segala kehidupannya yang semua itu adalah hanya
wajib bergantung kepada Allah semata (Q.s Al Ikhlas (120) ayat 1-4) otomatis
kebobrokan dan kerapuhan mental anak-anak bangsa akan semakin terlihat jelas
dan nyata bahkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan perlahan akan memudar
dengan sendirinya dan bercerai berai, sehingga keruntuhan bangsa ini tinggal
menunggu waktu saja. Tapi sebaliknya, bila nilai-nilai ketauhidan telah kita
tanamkan secara real (nyata), benar, pas, tepat dan terarah pada inti
sasarannya yaitu HATI di dalam diri setiap anak-anak bangsa itu, maka mencintai
bangsa itu jelas otomatis akan tumbuh dengan sendirinya di dalam diri para
generasi muda. Karena mencintai tanah air, mencintai setiap makhluk ciptaan
Tuhan merupakan cabang dari iman itu sendiri.  Sebagaimana yang diucapkan
Kiyai Said Aqil Siroj "Hubbul wathan minal iman, cinta tanah air itu bagian
dari iman.

 

Memang bisa-bisa saja menciptakan perdamaian dan keharmonisan di dalam
berbangsa dengan menanamkan nilai–nilai nasionalisme kepada anak-anak bangsa
sebagaimana pendapat Kiyai Said Aqil Siroj, namun anak-anak bangsa ini pasti
akan kehilangan rasa keber-Tuhanan di dalam dirinya sebagai aqidah pegangan
hidupnya di dalam menuju kebersihan hatinya kembali kepada Allah.  Karena jika
persatuan dan kesatuan diwujudkan dengan hanya menanamkan nilai-nilai
nasionalisme semata, yang terjadi hanyalah sebuah persatuan dan kesatuan yang
terlihat indah di atas permukaan semata.

Dan jika Diibaratkan, sama saja seperti orang yang hanya sibuk mengejar
berbagai bentuk ganjaran pahala kebaikan dan ganjaran surga dengan melaksankan
berbagai bentuk amal ibadah yang terlihat baik dan benar di dalam pandangan
manusia lainnya, namun dirinya melupakan akan siapa sesungguhnya pemilik
pahala dan surga itu, Dia-lah Allah SWT. Maka semuanya akan menjadi sia-sia
saja di dalam pandangan dan penilaian Allah.


Coba sejenak kita kembali hayati lagu kebangsaan “Indonesia Raya” pada syair
bait ke tiga:
“Bangunlah jiwanya..bangunlah badannya, untuk Indonesia raya”.
Apakah membangun jiwa di dalam lagu tersebut, adalah membangun jiwa rasa
kebangsaan Nasionalisme..? atau membangun jiwa dalam konteks ketuhanan…? Karena
pada sila pertama pacasila adalah “Ketuhanan Yang Maha “.
sehingga Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan meyakini bahwa makna lagu tersebut
maksudnya adalah membangun jiwa atau metal anak-anak bangsa terlebih dahulu
untuk mengenal kembali kepada Tuhannya agar dia kokoh dalam beragama dan kokoh
pula dalam berbangsa dan bernegara, sehingga rasa nasionalisme kebangsaan itu
menjadi tinggi.

Sebagaimana juga mengutip Pidato Bapak Presiden RI Ir. Joko widodo pada
pelantikan lulusan IPDN angkatan XXll tahun 2015. yang mengatakan: “Bapak
bangsa kita Bung Karno pernah mengatakan sesungguhnya bahwa membangun suatu
negara, membantu ekonomi, membangun tehnik, membangun pertahanan adalah
pertama-tama dan tahap utamanya adalah membangun jiwa bangsa. Bukankah
demikian… tentu saja keahlian perlu, namun keahlian saja tanpa dilandasi jiwa
yang besar tidak akan mencapai tujuan. Ini adalah sebab mutlak diperlukannya
nations and caracter building”.


Jadi jelas, rasa nasionalisme itu sesungguhnya otomatis akan datang di dalam
diri anak-anak bangsa ini jika jiwa (mental) anak-anak bangsa ini dihubungkan
kembali kepada Sang Pencipta-Nya.

Bahkan di dalam butir pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia sudah cukup
jelas menetapkan dan menjelaskan untuk kita semua sebagai bangsa Indonesia
bahwa nilai-nilai ketauhidan menjadi bagian paling utama di dalam berbangsa,
yaitu pada sila pertama “ Ketuhanan Yang Maha Esa”, jadi jelas kemerdekaan
bangsa ini, persatuan dan kesatuan bangsa ini, berdirinya bangsa ini dapat
terwujud karena sebuah nilai-nilai ketauhidan kepada Tuhan (Meng-Esakan Tuhan),
baik agama apapun itu, semuanya hanya meng-Esakan kepada Tuhan Yang Satu
menurut keyakinan agamanya masing-masing. Karena Allah Maha Besar dan
disebut-sebutnya nama Allah yang Maha Besar itu dihatinya, maka dibesarkan
Allah jiwanya, dikuatkan Allah jiwanya dan dilapangkan Allah jiwanya serta
disucikan Allah jiwanya dan didamaikan Allah jiwanya.

 

Allah SWT telah berfirman:
Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka
lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan
(syariat) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu
benar-benar berada pada jalan yang lurus.(Q.s Al Hajj (22) ayat 67)


Dan Allah SWT juga berfirman:
Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah,
karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.
Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka.
Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada
mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.(Q.s Al An'aam (6) ayat 108)


Juga pada pembukaan UUD tahun 1945 pada alenia ke tiga yang berbunyi:
"Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh
keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat
Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya."
Jadi semakin jelas bahwa
kemerdekaan bangsa ini sesungguhnya tidak pernah terlepas akan keridho’an dan
rahmat Allah SWT terhadap Negeri ini.

Jadi, Jika anak-anak bangsa sudah mentauhidkan tuhan dengan cara atau keyakinan
agamanya masing-masing secara benar, pas, tepat dan terarah, pastilah Allah akan
menurunkan Karunia dan Rahmat-Nya untuk dapat lebih mencintai-Nya secara
mendalam, rasa patriotisme yang tinggi pun akan timbul di dalam diri anak-anak
bangsa ini, bahkan Bangsa dan Negara ini akan dilindungi oleh Allah yang Maha Perkasa itu.
sebagaimana pada firman Allah SWT (Q.s Saba’ (34) ayat 15):
Baldatun Toyyibatun Warabbun Ghafur (Negerimu adalah negeri yang baik dan
(Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun)

Dan terciptalah Negara yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo,
benar bukan…? 

dan antar umat beragama (lintas agama) itu tidak akan terjadi lagi sikap caci
mencaci, ejek-mengejek, hina-menghina, hujat menghujat  dan saling
menjatuhkan bahkan tidak akan ada lagi sikap saling kafir-mengkafirkan,
sehingga terbentuklah rasa nasionalisme kebangsaan yang kokoh.

Prof. DR. KH. Said Aqil Siroj adalah sosok tokoh Negeri ini yang sangat pintar
dan sangat piawai, tepat benar dan pas serta tiada melenceng sedikitpun di
dalam mengulas tentang tasawuf, sebagaimana  di dalam bukunya berjudul
“Tasawuf sebagai kritik sosial, mengedepankan Islam sebagai inspirasi,
bukan Aspirasi” pada cetakan I September 2006 penerbit PT. MIZAN. 
Tapi Kenapa tidak diterapkan oleh KH. Said Aqil Siroj methode tasawuf kepada
anak-anak bangsa ini untuk membangun jiwa mereka terlebih dahulu agar dapat
kokoh siap sedia dengan situasi dan kondisi apapun juga. Kalau methode tasawuf
diterapkan oleh KH. Said Aqil Siroj, Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan 
memandang inilah KEBENARAN YANG MUTLAK ATAU SEJATI DARI ALLAH DI DALAM DIRI
SETIAP ANAK-ANAK BANGSA, DAN ALLAH PASTI MENDAMPINGI DAN MELINDUNGI ANAK-ANAK
BANGSA INI SERTA TETAP MEMBIMBINGN DAN MEMEBERIKAN PETUNJUK KEPADA HATINYA
MASING-MASING UNTUK TIDAK BERBUAT KEONARAN, KERUSUHAN, KEBENCIAN DAN MENYEBAR
FITNAH, WALAUPUN BERBEDA PAHAM PENDAPAT, DAN KEYAKINAN DI DALAM MENJALANKAN
AGAMANYA MASING-MASING. Walaupun keangkara murkaan TIDAK SECARA TUNTAS dapat
DIMUSNAHKAN, NAMUN SEMUA DAPAT DITEKAN SESUAI DENGAN JALUR KEYAKINANNYA.
SEHINGGA DAPAT MEMINIMALISIR SIKAP KETIDAK SEPAHAMAN ITU AGAR DAPAT
TERWUJUDKAN KEDAMAIAN DAN PERSATUAN SERTA KEHARMONISAN DI NEGERI INI.
DAN TERCIPTALAH KERUKUNAN ANTARA UMAT BERAGAMA SECARA TULUS, MURNI DAN KEJUJURAN
YANG TINGGI.

Akhir kata, kami dari Pengajian Tasawuf Babur Ridho Rahmatullah Ahli Thariqat
Naqsyabandi Jabal Hindi khususnya Mursyid Al Rasyid/Guru Besar/Mujaddid
Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan Bin Muhammad Thahir Bin Muhammad Isa BIn malan memohon

maaf yang sebesar-besarnya kepada Prof. DR. KH. Said Aqil Siroj bila ada kata-kata kami
yang kurang berkenan, ini adalah sebagai masukan buat Prof. DR. KH. Said Aqil Siroj
yang sangat kami hormati, kami kasihi, kami sayangi dan sangat kami cintai.
Sekali lagi  kami memohon dimaafkan yang sebesar-besarnya, maksud kami tidak
lain adalah memberikan sumbangsi yang tidak ada apa-apanya. Itupun kalau
diterima.

Akhirul kalam.
Billahitaufik wal hidayah.
Wasalamu’aikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


 

Bagikan :

Komentar

Tambah Komentar (0)

Batal

Balas Komentar

Komentar Berhasil diterbitkan
Komentar tidak dapat diterbitkan Silakan coba lagi..!
Alamat email yang anda masukkan salah..!
Alamat web yang anda masukkan salah..!
Kode Captcha yang anda masukkan salah...!
Bidang tidak boleh ada yang kosong....!

Artikel Terbaru