Ratu Adil

NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI UTUSAN ALLAH PEMBAWA KEADILAN
YANG DAPAT MEMUTUSKAN PERKARA DENGAN SEBENAR-BENAR ADIL
(Adil yang berdasarkan syari’at dan hakikat)


Kitab Zabur, Taurat, Injil dan Al Qur’an semuanya adalah
Wahyu yang datang dari Allah kepada siapa yang di
kehendaki-NYa. Agama Islam dengan kitab sucinya Al Qur’an
Al Karim yang merupakan penerang bagi seluruh umat manusia
(Hudallinas), yaitu: “bagi yang mau membersihkan hatinya
dan mentauhidkan hanya satu Tuhan di dalam hatinya”.
Allah SWT telah berfirman:

Beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya
(Q.s Asy Syams (91) ayat 9)


Kitab Suci Al Qur’an yang di bawa oleh Junjungan Nabi
Besar Muhammad SAW sebagai penyempurna dari seluruh
kitab-kitab dan agama-agama yang di bawa oleh Nabi-Nabi
terdahulu. Al Qur’an di pegang dan dibawa oleh Nabi
Muhammad SAW yang merupakan kekasih Allah (Habibullah)
dan utusan Allah yang wajib kita ikuti dan kita yakini
dengan sepenuh hati kita sebagai umat Islam serta
mengerjakan apa-apa yang disunnahkan oleh Nabi SAW
terutama dalam hal bagaimana untuk mentauhidkan Tuhan
di dalam hati. Nabi Muhammad SAW menjalankan perintah
Allah berdasarkan wahyu yang diturunkan kedalam hatinya
yaitu hanya ada Allah yang disaksikannya dalam pandangan
mata hatinya (Syahadatul bil Qalbi), sehingga Rasulullah
SAW di dalam menjalankan hukum-hukum Allah dan menjauhi
apa yang dilarang-Nya tersebut tidak berdasarkan
kepentingan diri pribadi, nafsu dan akalnya semata serta
tidak berdasarkan kemauan atau keakuan dirinya semata
(Mutu Qabla Anta Mutu) Bahkan Nabi SAW menganjurkan untuk
saling berlomba-lomba dalam berbuat
kebaikan tanpa memandang suku, ras dan agama.

Junjungan Nabi Besar Muhammad SAW adalah wakil atau
utusan Allah yang merupakan sosok suri teladan khususnya
bagi seluruh umat Islam yang wajib kita yakini.
Sebagaimana Allah SWT telah berfirman:
 
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri
teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat)  Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia
banyak menyebut Allah.(Q.s Al Ahzab (33) ayat 21)

Berdasarkan penafsirkan Tuan Guru  Syekh. Muhammad Hirfi
Nuzlan atas maksud ayat tersebut di atas, ialah sebagai
berikut:
Kalau kita mengaku pengikut Nabi Muhammad SAW, apa yang
dibuat Nabi Muhammad SAW Wajib untuk kita mengikutinya,
dan kebanyakan kita mengikuti perbuatan yang terlihat
saja pada diri Rasulullah SAW, contoh: sopan santun,
kasih sayang dan lemah lembut, dan perbuatan-perbuatan
baik lainnya, namun kita tidak dapat melihat secara kasat
mata bahwasannya Suri Tauladan yang paling utama di diri
Rasulullah SAW adalah pada Qalbunya, yaitu:
Qalbu Rasulullah SAW yang bersih dan suci dan hanya ada
satu Tuhan dihatinya (Allah SWT), sehingga diri Rasulullah SAW
selalu di bimbing dan terbimbing serta apa yang dilakukan-nya
yang terlihat secara kasat mata selalu berdasarkan
kehedak Allah (tuhan), namun sebaliknya pandangan kasat
mata kita tidak dapat melihat Qalbu Rasulullah SAW yang
selalu beserta dengan Allah itu, karena diri kita
bergelimang dengan dunia yang nyata atau tegasnya diri
kita mabuk akan dunia (cinta dunia). Bagaimana mungkin
kita dapat mencontoh Rasulullah itu secara benar, tepat
pas dan terarah kalau kita tidak terlebih dahulu
membersihkan dan mensucikan hati kita (Q.s Asy Syams (91)
ayat 9-10), karena cinta dunia itulah sesungguhnya
tirai-tirai (hijab) yang dapat  menututupi hati untuk
dapat melihat Allah SWT, dan bagaimana mungkin kita dapat
berbuat baik atau berakhlakul karimah yang benar kalau
sebelum nama Allah kita tauhidkan secara daimun (terus
menerus) di dalam hati kita.  Sehingga perbuatan baik
apapun yang kita lakukan itu hanya bersifat temporer
(tidak tetap), “tapi itupun jadilah…? Dari pada tidak
berbuat baik sama sekali….?”.
Tapi jangan selalu berkata
atau terucap dari bibir kita “itukan cuma hanya nabi yang
bisa berbuat sepeti itu, kita mana mungkin bisa…?”

apalagi bila kita berucap: “Namanya Nabi, itukan pilihan
Tuhan”
perkataan, ucapan atau pikiran seperti ini adalah
salah  besar di mata Allah. Kenapa…? Karena kita tidak
mau berjihad secara bersungguh–sungguh dan selalu
menyandarkan bahwa yang berakhlak sempurna itu hanya Nabi
saja. Perlu kita ketahui Nabi Juga manusia sepeti kita
juga yang makan, minum, berkeluarga, beaktifitas,
bekerja, berdagang dan juga bisa sakit atau sehat serta
juga mempunyai keluarga..itulah pengertian seperti manusia
biasa, tapi hatinyalah yang sangat-sangat luar biasa.
Kalau Nabi dibersihan dan dibersihan
oleh Allah melalui perantaraan malaikatnya,,
diri kitapun juga bisa bersih dan suci jika :

1. Menuntut ilmu yang benar pas, tepat dan terarah pada
    hati yaitu ilmu tasawuf melalui jalan thariqat
    (Q.s Al Jiin ayat 16), ilmu tasawuf adalah ilmu yang
    membahas dan mempersoalkan serta memperbaiki hati agar
    benar-benar di pandang Allah dan Allah menjadi ridho
    terhadap diri kita dengan methode amalannya diperaktek
    kan di thariqat, seperti:
      a.Dzikir Ismu Dzat 
      b.Dzikr Nafi Ssbat
      c.Dzikir Muraqabah Ahdiyah 
    Karena pembersih hati itu adalah Dzikrullah.

2. Menjaga syari’at yang dibawa junjungan Nabi besar
    Muhammad SAW dan menjalankannya sebagaimana tuntunan
    yang di ajrkannya atau yang dicontohkannya.

3. Menebarkan kasih sayang.
4. Berbuat Baik.
5. Beramal ibadah secara lebih ekstra dari biasanya,
    yaitu dengan memperbanyak amalan-amalan sunnat seperti
    berdzikir kepada Allah yang di ajarkan di dalam
    thariqat, yaitu meladzim-ladzimkan dzikir dengan lidah
    bathin agar melekat nama Allah sebenar-benar melekat
    secara istiqomah dandi dalam hati.
6. Menjauhkan diri dari sifa sifat tercela dan mengisinya
    dengan sifat-sfat yang mulia.
7. Insya Allah, Allah akan memperkenankan untuk dapat
    melihat-Nya dengan mata hati yang telah kembali
    bersih dan suci itu selagi masih hidup di dunia.
    Allah SWT telah berfirman:
    “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan
    sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan
    menemui-Nya.(Q.s Al Insyiqa (84) ayat 6).

dan Rahmat Allah itu pada intinya adalah kita banyak
menyebut nama Allah, seperti yang dicontohkan dan
diajarkan Nabi SAW kepada kita, itulah rahmat Allah yang
sebenarnya dengan tetap melaksanakan apa-apa yang di
sunnahkan Rasulullah SAW. Seperti Ali bertanya kepada
Rasulullulah SAW:
Ya Rasuluulah ajarakanlah cara mendekatkan diri kepada
Allah yang lebih baik. Rasulullah SAW bersabda kepada Ali
bin Abi Thalib Karamullahu wajhah: Hai Ali, pejamkan
kedua matamu dan tempelkan sepasang bibirmu serta
lipatkan lidahmu pada langit-langitan mulut dengan
berdzikir Allah, Allah, Allah di dalam latifah dari
lathaif tujuh (H.R Thabarani dan baihaqi)

Allah SWT berfirman:
205. dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan
merendahkan diri dan rasa takut,dan dengan tidak mengeras
kan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu
Termasukorang-orang yang lalai.
(Q.s Al A’raaf (7) ayat 205)

22. Maka Apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya
untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari
Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka
kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu
hatinya untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan
yang nyata. (Q.s Az Zummar (39) ayat 22)


Kalau hati kita tidak menyebut Allah (tidak berdzikir
kepada Allah) maka Allah SWT berfirman dalam Hadits Qudsi:
“Kelak pada hari KIAMAT akan didatangkan beberapa buku
yang disegel lalu DIHADAPKAN KEPADA ALLAH S.W.T ( pada
waktu itu ). Allah berfirman : “ BUANGLAH INI SEMUANYA”.
 Malaikat berkata :” demi kekuasaan Engkau, KAMI TIDAK
MELIHAT DIDALAMNYA  melainkan yang baik-baik saja ”.
Selanjutnya Allah berfirman :” Sesungguhnya isinya ini
dilakukan bukan karenaKu dan Aku sesungguhnya TIDAK AKAN
MENERIMA kecuali APA-APA YANG DILAKSANAKAN karena mencari
KERIDHAANKU (IKHLAS) “.
( H.q.r. Bazzar dan Thabarani, dengan dua sanad atau
diantara pararawinya termasuk perawi al jami’us shahih)

   
Pengertian dalam hadits tersebut adalah: bahwa Malaikat
hanya melihat pelaksanaan beramal ibadah yang kita
lakukan yang terlihat baik dalam pandangan zharih
(syari’at) atau terlihat baik pada penampilan kulit luar
saja (tubuh) padahal diri kita menyadari dan tahu ketika
menegakkan shalat atau beramal ibadah lainnya hati kita
tidak berdzikir atau lalai dari mengingat Allah, namun 
kebanyakan diri kita merasa gengsi dan malu untuk
mengakui atas kelalai hati kita di dalam beramal ibadah
yang kita lakukan itu, sehingga segala bentuk amal
ibadah yang kita lakukan tidak sesuai dengan yang
dimaksudkan dan yang dikehendaki Allah serta yang
diridhoi Allah itu, karena hati kita tidak dapat khusyuk
berdzikir kepada Allah. Dan kita tidak boleh mengatakan
“namanya kita manusia biasa…jadi biar sajalah Allah yang
mengetahui apa yang saya buat” karena Allah Maha Tahu-lah
atas apa yang kita kerjakan dalam beramal ibadah itu
salah atau belum disukai atau belum diridhoi-Nya,
maka diri kita sebagai makhluk yang berakal dapat
menerima pelajaran apa yang kita rasakan tidak sesusai
dengan kehendak Allah, maka wajiblah kita menuntut
ilmunya di dalam ilmu tasawuf yang beramalnya melalui
jalan berthariqat dan orang-orang sufi (thariqat) sangat
gemar dan banyak mengamalkan amalan sunnat, yaitu dzikir
ismudzat, dzikri nafi Isbat, dan Dzikir Muraqabah Ahdiyah.


Meneladani Junjungan Nabi Muhammad SAW adalah sebuah
kewajiban kita khususnya bagi umat Islam atau bagi siapa
saja yang mau meyakininya dan beriman kepada Allah,
yang tidak hanya meneladani perbuatan syariat Nabi SAW
saja,  seperti gerakan berdiri, ruku, duduk tasawud dan
sujud di dalam shalat saja, tetapi yang terlebih utama
adalah meneladani Hati Nabi Muhammad SAW yang tunduk
sujud hanya kepada Allah semata secara berkekalan (itulah
sebenar-benar hati yang tunduk khusyuk mengingat Allah,
itulah sebenar-benar mengabdi kepada Allah) karena Allah
SWT telah berfirman:

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman,
untuk khusyuk hati mereka mengingat Allah dan kepada
kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah
mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah
diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa
yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras.
dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang
fasik. (Q.s Al Haddid (57) ayat 16)


Maka dari itu beruntunglah orang-orang yang dapat
mengikuti hati Nabi Muhammad SAW,  yaitu orang-orang
yang dapat membersihkan dan mensucikan jiwanya dan
menegakkan kalimat “La illaha ilallah” di dalam hatinya. 

Allah SWT telah berfirman:
27. Hai jiwa yang tenang.
28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi
    diridhai-Nya.
29. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,
30. masuklah ke dalam syurga-Ku.
Q.s Al Fajr (89)ayat 27-30)


Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu,
(Q.s Asy Syams (91) ayat 9)
 

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan
merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak
mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang,  dan
janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. 
(Q.s Al A’raaf (7) ayat 205)


Jadi pada prinsipnya dan pada hakikanya Allah-lah yang
memberikan rahmat dan karunia-Nya serta safa’atnya
melalui Junjungan Nabi Muhammad SAW sebagai suri teladan
kita, yang mana kita juga ikut banyak menyebut nama Allah
di dalam hati, seperti apa yang dirasakan oleh hati
Muhammad SAW, hati kita pun bisa seperit itu, tapi diri
kita bukan lagi disebut Nabi tetapi cukuplah sebagai
pewaris Nabi yang benar yaitu orang yang mengikuti segala
yang disunnahkan Nabi dan mengikuti hati Nabi yang
selalu menyebut nama Allah di dalam hatinya.

Selain sebagai sosok suri teladan bagi setiap umat yang
mau menyakininya khususnya umat Islam, Nabi Muhammad SAW
juga adalah sosok penegak keadilan di atas bumi ciptaan
Allah ini, karena Hakim Yang Maha Adil (Bi’ahkamil
hakimin) selalu beserta dengannya, berkekalan di dalam
lubuk hatinya (Baqabillah).  Allah SWT telah berfirman:

Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya
(Q.s At Tiin (95) ayat 8) 


Allah-lah yang menurunkan kitab dengan (membawa) kebenaran
dan (menurunkan) neraca (keadilan). Dan tahukah kamu,
boleh jadi hari  kiamat itu (sudah) dekat?  (Q.S Asy Syuura (42) ayat 17) 


Sehingga di dalam menegakkan keadilan beliau tidak pernah
memilah-milah dan pandang bulu dalam menegakkan keadilan
berdasarkan hukum itu sendiri. jika siapa saja yang salah
di mata hukum atau yang melanggar hukum, baik itu anak,
suami/istri, keluarga atau bukan keluarga atau siapa saja.
Karena didalam menegakkan hukum beliau tidak pernah
menggunakan akalnya tetapi Nabi Muhammad SAW lebih
menggunakan perkataan Allah di hatinya, sehingga
berjalanlah hukum itu dengan seadil-adilnya. Beliaulah
manusia ciptaan Allah yang memiliki dua kedudukan
sekaligus, yaitu sosok ulama dan sosok umaroh.

Maka dari itu, besarkanlah nama Allah dihatimu, sehingga
keadilan dapat ditegakkan di muka bumi ini dengan seadil-
adilnya, itulah pedang keadilan Rasulullah SAW dari
Masyriq ke Maghrib di dalam dalam menegakkan keadilan di
muka bumi ini, jelasnya di dalam menegakkan kalimat
La illaha ilallah dan menanamkan rasa cinta kepada Allah
SWT. 

Berikut penjelasan Prof. DR Nasaruddin Umar:
Dalam pandangan sufistik, al-masyriq (timur) dan
al-maghrib (barat) ternyata bukan hanya menunjukkan tempat
atau wilayah geografis, melainkan juga banyak makna dan
pesan.  Termasuk di dalamnya adalah pesan kosmologi,
teologi, mitologi, antropologi, sosiologi, dan metodologi.

Tidak kurang dari 13 kali kata al-masyriq dan al-maghrib
terulang di dalam Alquran.   Ada dalam bentuk mufrad
(al-masyriq/al-maghrib) seperti dalam QS Al-Baqarah
[2]: 115, bentuk mutsanna (al-masyriqain/ al-maghribain)
seperti dalam QS Al-Rahman [55]: 17, dan ada dalam bentuk
jama' (al-masyariq/al-magharib), misalnya, pada
QS Al-Ma'arij [70]: 40. Al-masyriq berasal dari akar kata
syaraqa-yasyruq berarti terbit, bersinar, kemudian
membentuk kata al-masyriq (timur, sinar yang masuk di
celah-celah lubang), al-musytasyriq (orientalis).
Lalu, kata gharaba-yaghrubu berarti pergi menjauh,
terbenam, asing, beracun, lalu membentuk kata al-maghrib
(barat, tempat/waktu terbenam matahari), al-musytaghrib
(oksidentalis). Dalam kitab-kitab tafsir klasik, kata
al-masyriq dan al-maghrib lebih banyak diartikan dengan
kata timur dan barat.
                                                                                   
Dalam arti geografis, yakni timur dan barat tempat, waktu
terbit, serta tenggelamnya matahari, seperti dijelaskan
dalam QS Al-baqarah [2]: 115, "Dan kepunyaan Allah-lah
timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di
situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas
(rahmat-Nya), lagi Maha Mengetahui. Kata al-masyriq dan
al-maghrib dihubungkan dengan tempat yang menjadi kiblat
shalat umat Islam di Madinah, yang tadinya menghadap ke
timur, yaitu ke Baitul Maqdis, dan ke barat, yaitu ke
Ka'bah, Kota Suci Makkah. Demikian pula ulama-ulama
tafsir mu'tabarah lainnya di kalangan Sunni.

Dalam pandangan ulama tasawuf, timur dan barat lebih
banyak menekankan makna kosmologis dan hermeneutiknya.
Kata al-masyriq (timur) dihubungkan dengan sebuah dunia
yang lebih menekankan arti penting nilai-nilai spiritual-
psikologis, sedangkan kata al-maghrib (barat) dikaitkan
dengan sebuah dunia yang lebih menekankan aspek filsafat
dan logika.


Sedangkan pendapat Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan
berdasarkan hatinya sendiri yang dirasakannya di setiap
helaan nafasnya dan pandangan mata hatinya begitu juga
pikirannya yang hanya tertuju kepada Allah atau hatinya
yang hanya berdzikir kepada Allah Dzat Yang Maha Mulia
dan  Agung itu, beliau selalu berkata : “Ampunkanlah aku
ya Allah…semoga kata-kataku ini tidak keluar dari akal
dan nafsu dan kehendakku sendiri, apa yang aku rasakanlah
 yang aku keluarkan dan pada hakikatnya adalah semua itu
adalah kata-kata-MU, karena ENGKAU telah berfirman: “dan
tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia
mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir Zahra pun
dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau
yang kering, melainkan tertulis  dalam kitab yang nyata
(Lohmahfuz) (Q.s Al An’aam (6) ayat 59) dan dalam sebuah
hadits mengatakan: La Tataharru Dzarratun Illa Bi
Idznillahi, artinya: tidak bergerak satu biji Zahra pun 
melainkan atas izin Allah”. Aku tidak akan pernah
mendahului Engkau Ya Allah…karena Engkaulah Yang Maha
Mengetahui segala isi hatiku… dan mohon maaf kepada
saudara-saudaraku bila kata-kataku ini dapat menimbulkan
sa’wa sangka (prasangka) terhadap hati saudara-saudaraku
yang membacanya”
bahwa makna dan artian  pedang
Rasulullah SAW dari Masyiriq dan Maghrib sebagai berikut:

Yaitu hati yang telah berkekalan (baqabillah) bersama
dengan Allah, sehingga 1x24 jam hati kita tidak boleh
lalai dari berdzikir mengingat Allah di setiap naik
turunnya helaan nafas ini hanya penuh tidak ada ruang
kosong selain hanya Allah di hati kita, agar hati kita
tidak disusupi oleh azazil (raja Iblis) yang sangat halus
itu pula yang sangat mahir juga beribadah kepada Allah SWT.
Sehingga kadang-kadang kita terpeleset di dalam ibadah
itu sendiri, jika ada rasa kesombongan sebesar biji Zahra
atau muncul keakuan diri kita di dalam melaksanakan amal
ibadah itu jangankan masuk surga, mencium surga Allah pun
tidak dibaginya (H.R Muslim). 

Azâzîl  adalah nama asli dari Iblis yang merupakan bapak
dari bangsa jin, sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa
nama asli Iblis adalah al-Harits. Menurut syariat Islam `
Azâzîl adalah pemimpin kelompok syaitan dari kalangan jin
dan manusia. Sebelum diciptakannya Adam, Azâzîl pernah
menjadi Imam para Malaikat (Sayyid al-Malaikat) dan
Khazin al-Jannah (Bendaharawan Surga), selama beberapa
puluh ribu tahun sebelum membangkang kepada Allah. Nama
Azazil dapat ditemukan dalam beberapa kitab tafsir,
diantaranya dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir,
(Mujallad I-1/76 – 77),  Tafsir Al- Khozin – Tafsir
Al- Baghowi (I-1/48).  Sebelum dilaknat oleh Allah,
Azâzîl memiliki wajah rupawan cemerlang, mempunyai empat
sayap, banyak ilmu, terbanyak dalam hal ibadah serta
menjadi kebanggaan para malaikat dan dia juga pemimpin
para malaikat karubiyyuun, memiliki tempat dibeberapa
langit, mendengarkan berita-berita rahasia Tuhan dan
masih banyak lagi. Azâzîl sangat banyak memiliki nama
panggilan seperti, "Abu Kurdus",  Sayid al-Malaikat dan
Khazin al-Jannah. Di setiap langit ia memiliki julukan
yang sangat bagus, sampai akhirnya dipanggil "Iblis"
oleh Allah, ketika ia tidak mau menghormati Adam.
Julukannya adalah sebagai berikut:  Langit pertama
ar-Rafii'ah, Ahli ibadah (al-Abid),  Langit kedua
al-Maa'uun, Ahli ruku (ar-Raki), Langit ketiga
al-Maziinah, Ahli sujud (as-Saajid),  Langit keempat
az-Zahirah,Selalu merendah dan takluk kepada Allah
(al-Khaasyi),Langit kelima al-Muniirah, Selalu ta'at
(al-Qaanit),  Langit keenam al-Khaliishah, Bersungguh-
sungguh dalam beribadah (al-Mujtahid), Langit ketujuh
al-Ajiibah, Sederhana dalam menggunakan sarana hidup
(az-Zahid). 

Hati yang Baqabillah, Seperti itulah hati
kekasih Allah Jujungan Nabi Muhammad Rasulullah SAW,
dan hendaknya kita semua dapat seperti Nabi SAW, tidak
ada yang kita cintai selain hanya Allah semata dan
bersyari’at sebagaimana biasanya. sebagaimana firman
Allah SWT: 

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat,
maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha
Mengetahui. (Q.s Al Baqarah (2) ayat 115) 


Dan firman Allah lagi: Maka hadapkanlah wajahmu dengan
lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah
yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak
ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus;
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,
( Q.s Ar Rum (30) ayat 30). 


Kita semua pasti bisa, dan kata Allah: kita semua pasti
bisa bertemu dengan-Nya asalkan kita bersungguh-sungguh,
bersabar dan bertawakal kepada-Nya, karena Allah SWT
telah berfirman: 

Dan orang-orang yang berjihad untuk
(mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan
Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah
benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. 
(Q.s Al Ankabut (29) ayat 69) 


Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan
sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan
menemui-Nya. (Q.s Al Insyiiqaaq (84 ayat 6) 


Bagi hati yang telah bersama Allah pasti akan merasakan
keadilan dari Tuhannya, dan dia pasti akan menerima
keadilan dari Allah itu, yaitu keputusan-keputusan yang
ditetapkan Allah kepada dirinya di dalam menjalani
bahtera hidup yang selalu disyukurinya atas segala
pemberian Allah terhadap dirinya, itulah yang dikatakan
RIDHO (menerima). Baik itu yang datang dengan berbagai
ujian, cobaan, rintangan, kesusahan, kesakitan,
penderitaan apalagi dalam bentuk kesenangan, karena
dirinya telah mengenal dan meyaksikan Allah dalam setiap
hembusan nafasnya. Karena pada intinya semua agama itu
menganjurkan beramal ibadah dan berlomba-lomba dalam
berbuat kebaikan agar kita dapat mencintai Tuhan dan
hanya mengharap ridho-Nya semata, bukan sebaliknya
menyebarkan firtnah atau mengaduh domba, menghasut 
serta mememecah belah umat, apalagi tujuannya memecah
belah persatuan dan kesatuan Negara Republik Indonesia
yang kita cintai ini  bahkan sampai membuat kerusakan di
muka bumi ini, karena semua itu sangat dimurkai Allah. 


Jadi, inti beragama adalah ” hakikat ketahuidan kepada
Allah”
, jika inti ketauhidan telah kita gapai dan kita
rasakan sebenar-benar kehadiran Allah yang dapat
disaksikan dengan mata hati, maka semakin lezat dan
nikmatlah kita dalam beramal ibadah bahkan bertambah-
tambah gilaan kita dalam berama ibadah (majnun) itulah
yang dikatakan telah beragama secara benar: karena hati
kita telah tentram dan tenang serta dengan pikiran yang
jernih dan tenang pula, sebagaimana dalam bahasa
sangsekerta tentang artian “Agama” yaitu A: tidak dan
Gama: Kacau (Agama=Tidak Kacau)
, jadi orang yang beragama
secara benar dan berpedoman kepada kita sucinya masing-
masing pastilah tidak kacau hatinya karena Tuhan telah
beserta di hatinya, disebabkan hatinya yang telah
terbebas dari berbagai belenggu penyakit-penyakit hati
dan belenggu keduniawian. Jadi buat apa shalat yang kita
lakukan nungging balik, menahan lapar dan dahaga dengan
berpuasa, serta berdzakat dan menunaikan ibadah haji
bagi yang mampu kalau hati kita tidak terbebas dari
berbagai penyakit-penyakit hati dan belenggu keduniawian.

Allah SWT telah berfirman: 
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah
penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan
 mereka berdusta. (Q.s Al Baqarah (2) ayat 10) 


Karena sesungguhnya semua agama mengajarkan ketauhidan
dan sesunggunya hanya ada satu Tuhan yang wajib di sembah,
diikuti perintahnya serta menjauhi segala apa yang
dilarang-Nya, dengan satu syarat membuang segala
penyakit-penyakit yang bersarang di hati kita masing-
masing, serta yang terutama dan paling utama adalah
untuk tidak mensyarikatkan Tuhan (menduakan Tuhan) di
hati, karena itulah dosa yang tidak diampunkan-NYa.

 

Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua;
agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah
Aku. (Q.s Al Anbiya’ (21) ayat 92)  Sesungguhnya Allah
tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni
segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa
yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan
Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.
(Q.s An Nisaa (4) ayat 48) 


Maka secara otomatis orang yang beragama secara benar
akan selalu menebarkan kasih sayang, dan mengajarkan
kebaikan serta menghormati antar sesama dan menghargai
serta menghormati keyakinan orang lain di dalam
menjalankan peribadatannya berdasarkan syari’atnya
masing-masing pula.

Allah SWT berfirman: 
Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu
yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka
membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah
kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar
berada pada jalan yang lurus. (Q.s Al Hajj (22) ayat 67)

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka
sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki
Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.
Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik
pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah
kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa
yang dahulu mereka kerjakan.
(Q.s Al An’aam (6) ayat 108)

Bagikan :

Komentar

Tambah Komentar (0)

Batal

Balas Komentar

Komentar Berhasil diterbitkan
Komentar tidak dapat diterbitkan Silakan coba lagi..!
Alamat email yang anda masukkan salah..!
Alamat web yang anda masukkan salah..!
Kode Captcha yang anda masukkan salah...!
Bidang tidak boleh ada yang kosong....!

Artikel Terbaru