Petunjuk dari Allah SWT (Sang Maha Ghaib)

SEJARAH SINGKAT

TURUNNYA PERINTAH GHAIB 3 (TIGA) KALI BERTURUT-TURUT DENGAN 2 (DUA) ORANG SAKSI

KEPADA SEORANG ANAK MANUSIA UNTUK MEMIMPIN 

PONDOK PESANTREN BABUR RIDHO THARIQAT NAQSYABANDI

 

Sejarah diangkat dan ditunjuki oleh Allah SWT seorang anak manusia yang bernama Drs. Hirfi Nuzlan  di dalam perkhalwatan (Persulukan) untuk melatih kerohanian bagi cara salik (murid) PADA PERSULUKAN 20 HARI (SULUK AKBAR) DARI TANGGAL: 16 MARET 1998 s/d 05 APRIL 1998 TEPAT DI BULAN HURUM (BULAN MULIA) DZULKAIDAH 1418 H di Pondok Pesantren Babur Ridho Thariqat Naqsyabandi di Jalan Young Panah Hijau  Lingkungan III Kelurahan Labuhan Deli Kecamatan Medan Marelan, Medan-Sumatera Utara. 

Allah SWT telah berfirman yang artinya:   "Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan". (Q.S Al An’aam (6) Ayat 88)

 

PERISTIWA TURUNNYA PERINTAH PERTAMA DARI SANG MAHA GHAIB (ALLAH SWT) 

Tepatnya di hari kedua persulukan, 17 Maret 1998  (18 Dzulkaidah 1418 H) Selasa malam Rabu (Selasa Legi), pukul: 23.00 wib terjadi suatu peristiwa bersejarah yaitu turunnya perintah Ghaib dari Sang Maha Ghaib (Allah SWT) kepada seorang anak manusia yang bernama Drs. Hirfi Nuzlan yang mendapatkan perintah untuk pemimpin pondok Pesantren Babur Ridho Thariqat Naqsyabandi.

           Ketika seluruh peserta persulukan selesai melaksanakan shalat Isya berjama’ah dan di teruskan dengan tawajuh jama’ah yang dipimpin oleh Khalifah Muhammad Yunus, dan pada saat tawajuh tersebut dilaksanakan, suasana dirasakan begitu hening dan terasa dingin terasa menusuk tulang,disaat itulah turun perintah ghaib yang pertama dari Allah SWT yang bersuara sangat halus  dan pelan  yang terdengar di telinga bathin dan di telinga dzahir ikhwan Drs. Hirfi Nuzlan yang  mengatakan: “PIMPIN INI PONDOK  PESANTREN...!” spontan saja  terucap dari bibir ikhwan Drs. Hirfi Nuzlan  “LAA...” sambil menggelengkan kepalanya, kembali suara ghaib itu terdengar “PIMPIN INI PONDOK PESANTREN...!”  ikhwan  Drs. Hirfi Nuzlan tetap hanya berucap “LAA...” dengan tetap menggelengkan kepalanya, namun perintah ghaib itu terus terdengar hingga berulang-ulang kali dan tetap saja ikhwan  Drs. Hirfi Nuzlan hanya berucap “LAA...” dengan diiringi gelengan kepala. Sehingga kata-kata yang keluar dari mulut ikhwan Drs. Hirfi Nuzlan tersebut sampai terdengar oleh sebahagian jama’ah tawajuh di dalam persulukan Akbar tersebut, diantaranya yaitu Khalifah Muhammad Yunus dan  Khalifah Mahyar.

            Setelah selesai melaksanakan tawajuh seluruh jama’ah bangkit dan berjalan menuju dan memasuki kelambunya masing-masing dengan tertib dan tanpa bersuara sepatah kata pun untuk melakukan amalan dzikir Ismu Dzat, beberapa saat kemudian ikhwan Drs. Hirfi Nuzlan keluar dari kelambunya dan seterusnya menemui Khalifah Mahyar dan Khalifah Muhammad Yunus diruangan segi empat pengajian lalu menceritakan peristiwa perintah ghaib yang di dengarnya tersebut pada saat tawajuh, lalu Khalifah Mahyar berkata kepada ikhwan Drs. Hirfi Nuzlan: ”ikuti saja dulu... karena masih sekali, kalau sekali bisa saja dari syaitan atau dari perasaan diri sendiri. Kalau memang benar dari Allah itu biasanya tiga kali berturut-turut seperti perintah Allah kepada Nabi Ibrahim.as untuk menyembelih putranya Nabi Ismail. as, sebagai ujian dari Allah SWT.”

 

PERISTIWA TURUNNYA PERINTAH KEDUA DARI SANG MAHA GHAIB (ALLAH SWT) 

               Di hari ketiga persulukan akbar, Rabu tanggal 18 Maret 1998 bertepatan dengan tanggal 19 Dzulkaidah 1418 H (Rabu pahing) sekitar pukul 08.00 Wib disaat selesai sarapan pagi bersama dengan seluruh peserta persulukan lainnya di ruangan segi empat pengajian, seketika itu suasana di ruangan tersebut menjadi terasa dingin dan sejuk, lalu perintah dari Sang Maha Ghaib (Allah SWT) tersebut terulang kembali untuk yang kedua kalinya dengan lebih jelas, terang dan tegas kedalam hati (telinga bathin) dan terdengar pula pada telinga panca indra ikhwan Drs. Hirfi Nuzlan, perintah Sang Maha Ghaib itu kembali mengatakan dengan semakin keras, jelas, tegas dan terang: “PIMPIN INI PONDOK PESANTREN...!“, dan secara spontan ikhwan Drs. Hirfi Nuzlan kembali berucap “LAA...“ dengan menggelengkan kepalanya berulang-ulang. Akan tetapi perintah itu terus berulang-ulang tanpa henti sehingga berpuluh-puluh kali kembali terdengar kedalam hati dan telinga dzahir ikhwan Drs. Hirfi Nuzlan yang mengatakan: “PIMPIN INI PONDOK PESANTREN... !”, namun ikhwan Drs. Hirfi Nuzlan tetap berucap secara spontan: “LAA...” dengan tetap menggelengkan kepalanya berulang-ulang, seiring dengan itu pula ikhwan Hirfi Nuzlan merasakan suatu rasa (Zauqi) yang amat nyata seperti sebongkah es masuk kedalam jantung hatinya yang sangat terasa dirasakannya membuat seluruh tubuhnya merasakan kedinginan hingga bergetar dan menggigil, dan rasa dingin pun tak tertahankan hingga tubuhnya terlihat bergemetar meliuk-liuk dan melengkuk menahankan rasa dingin yang teramat sangat, namun suara ghaib itu terus datang berulang-ulang yang terdengar: “PIMPIN INI PONDOK PESANTREN... !” ikhwan Hirfi Nuzlan tetap berucap “LAA…” serta mengucapkan:“ENGKAULAH…YA..ALLAH…ILAHI ANTA MAQSHUDI WARIDHOKA  MATHLUBI“ yang dikatakannya berulang-ulang kali pula. Seluruh peserta persulukan yang  menyaksikan langsung peristiwa yang di alami ikhwan Drs. Hirfi Nuzlan melihatnya seperti rasa kesakitan yang luar biasa. Namun sebaliknya, keadaan yang dirasakan ikhwan Drs. Hirfi Nuzlan tersebut begitu lezat dan nikmatnya atas rasa itu yang tidak bisa terlukiskan dan terungkapkan dengan kata-kata, karena yang mempunyai dan mendapatkan rasa-lah yang dapat mengetahuinya. Allah SWT telah berfirman: "Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya." (Q.S An Najm (53) Ayat 11)

Serta sebagaimana ungkapan pujangga tasawuf (pepatah arab) yang dikutip dari buku “Ilmu Ketuhanan PERMATA YANG INDAH (Ad-durrunnafis) oleh Syekh M. Nafis Bin Idris Al Banjarie 1200 H): Man lam yazuq lam yadri Artinya: “Siapa yang belum pernah merasa, pasti tidak tahu”

                  Akhirnya dengan rasa ketidakberdayaannya itu, dirinya pun hanya dapat mengatakan: “ILAHI ANTA MAQSHUDI WARIDHOKA MATHLUBI“ (yang artinya: “Ya Allah hanya Engkau yang aku maksud tiada yang lain dan ridhoMu jua dambaanku, harapanku tiada yang lain”) yang dilanjutkan dengan ucapan “LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘AZHIIM”. Kemudian dengan penuh kesadaran ikhwan Drs. Hirfi Nuzlan pun menangis sembari menahankan rasa dingin yang teramat dahsyat dan terasa sangat nikmat serta lezat yang dirasakan ke seluruh tubuhnya, sehingga tubuhnya menjadi terasa sangat dingin seakan dibaluti es, dan seiring itu pula terdengar suara Ghaib yang memerintahkan kepada ikhwan Drs. Hirfi Nuzlan agar menemui dan menyalami serta menanyakan kepada para khalifah yang saat itu sedang duduk di  sekitar mimbar imam shalat, namun ikhwan Drs. Hirfi Nuzlan tidak kuasa dan tidak berdaya rasanya untuk bangkit berdiri dari duduknya dengan tetap berucap “ILAHI ANTA MAQSHUDI WARIDHOKA MATHLUBI“ serta mengucapkan “ENGKAU YA.. ALLAH…HANYA ENGKAULAH YANG AKU MAKSUD YA…ALLAH” sambil terus menangis dan berucap “LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘AZHIIM”  yang diucapkannya berulang-ulang kali.

                Namun perintah ghaib tersebut terus berulang-ulang terdengar, dan ikhwan Drs. Hirfi Nuzlan tetap tidak berdaya untuk bangkit dari duduknya dengan berucap berulang kali “IYA...YA ALLAH....” dan mengucapkan “ENGKAU...YA..ALLAH...”. Hingga akhirnya beberapa saat kemudian dirinyapun merasakan ada kekuatan Ghaib yang merangkul dan mengangkat tubuhnya (seperti orang tua yang mengangkat atau hendak menggendong anaknya) dari posisi duduk hingga berdiri dan  seiring itu pula terdengar suara Ghaib yang memerintahkan kepada ikhwan     Drs. Hirfi Nuzlan agar  mendatangi dan  menyalami serta menanyakan kepada para khalifah yang saat itu sedang duduk di sebelah kanan mimbar imam shalat, yaitu  Khalifah Muhammad Yunus dan Khalifah Sujono. Disaat ikhwan Drs. Hirfi Nuzlan menyalami Khalifah Sujono dan Khalifah Muhammad Yunus, ikhwan Hirfi Nuzlan bertanya kepada mereka “BAGAIMANA INI PAK..?, MENGAPA PERINTAH INI DATANG LAGI KEPADA SAYA...?”. Kemudian Khalifah Sujono menjawab dan menjelaskan “PIMPINLAH KAMI PAK ULAN...!, ” dan Khalifah Muhammad Yunus pun menyambut dan menguatkan ungkapan Khalifah Sujono dengan berkata: “ PETUNJUK ITU SUDAH BENAR…. ALLAH ITU TIDAK MELIHAT ORANG LAMA ATAU ORANG BARU, DAN TIDAK MELIHAT BANYAK AMALNYA, ALLAH ITU HANYA MELIHAT ISI HATI KITA,  KALAU ALLAH HANYA MELIHAT ORANG LAMA DAN BANYAK AMALNYA..TENTULAH KAMI YANG DIPILIH-NYA...TERNYATA ALLAH HANYA MELIHAT ISI HATI... PIMPINLAH KAMI PAK ULAN...!”.

Allah SWT telah berfirman yang artinya: "Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati". (Q.S Ath Thagabun (64) Ayat 4)

"maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada". (Q.S Al Hajj (22) Ayat 46)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Abdirahman Bin Syahrin, ra. Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kalian dan tidak kepada rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian “(Diriwayatkan Muslim) 

                Setelah menyampaikan atas apa yang dirasakannya kepada Khalifah Yunus dan Khalifah Sujono dan mendengarkan atas apa yang telah disampaikan mereka berdua, Hirfi Nuzlan pun  beranjak bangkit menuju khalifah Mahyar yang berada tepat disebelah kiri mimbar imam yang berjarak sekitar 3 meter dari khalifah Sujono, lalu meneruskan pertanyaannya kepada Khalifah Mahyar, dengan berkata: “MENGAPA PERINTAH INI DATANG LAGI KEPADA SAYA...? MACAM MANA INI...? ULAN GAK NGERTI…? DAN GAK PANDAI…?” Lalu Khalifah Mahyar menjawab seraya menjelaskan: “Tunggulah perintah itu sekali lagi, saya akan bantu pak Ulan, jika perintah itu sampai 3 (tiga) kali terulang kepada pak Ulan...berarti itu benar perintah langsung dari Allah SWT, seperti turunnya perintah Allah kepada Nabi Ibrahim As melalui petunjuk mimpi agar mengorbankan anaknya yaitu Ismail untuk disembelih, sebab begitulah turunnya perintah kepada Nabi Ibrahim as sampai 3 (tiga) kali berturut-turut”. Selanjutnya tatkala Hirfi Nuzlan mendengar perkataan dan penjelasan langsung dari Khalifah Mahyar, spontan dirinya pun berucap: “Ooo... begitu” 
 
                  Kemudian Setelah perintah dari Sang Maha Ghaib itu turun untuk yang ke-2 (dua) kalinya, maka Khalifah Mahyar kembali memohon petunjuk kepada Allah dengan mengerjakan sholat sunnat Istiqarah 2 (dua) raka’at dan kemudian berdo’a (bermunajat) dengan memohon kepada Allah : “Ya Allah kalau benar Hirfi Nuzlan Engkau beri petunjuk dan Engkau turunkan perintah kepadanya untuk memimpin di pondok pesantren ini dan menjadi sebenar-benar Mursyid yang dapat menerangi SEKELILINGNYA, KHUSUSNYA BAGI MURID-MURID, maka turunkanlah pula saksi-saksinya untuk memperkuat perintah ghaib dari-Mu kepada Hirfi Nuzlan di dalam persulukan ini, supaya jangan ada keraguan kepada kami”.
 
PERISTIWA TURUNNYA PERINTAH KETIGA DARI SANG MAHA GHAIB (ALLAH SWT) 
 
Pada hari keempat persulukan, tanggal 19 Maret 1998 bertepatan dengan tanggal 20 Zulkaidah 1418 H hari Kamis malam Jum’at sekitar pukul 23.35 Wib setelah selesai tawajuh, ikhwan-ikhwani peserta persulukan memasuki kelambunya masing-masing dengan tidak berisik dan bersuara sedikitpun. Setelah  selesai melaksanakan tawajuh seluruh murid dan khalifah kembali ke kelambunya masing-masing dengan tidak boleh berbicara satu patah katapun dan semuanya masing-masing mengerjakan dzikir Ismu Dzat. Kemudian ketika ikhwan Hirfi Nuzlan hendak masuk ke dalam kelambu, dirinya merasakan suasana yang dingin di sekitar kelambunya, yang merupakan tempat untuk beramal Ismu dzat (methode berdzikir dengan menggunakan sarana tasbih). Lalu seluruh peserta persulukan pun beramal dzikir ismu dzat begitu juga dengan ikhwan Hirfi Nuzlan, dimana kelambu Hirfi Nuzlan terlihat agak ganjil, yaitu ukuranya yang lebih besar dibandingkan dengan kelambu peserta persulukan lainnya. Beberapa saat kemudian, ketika ikhwan Hirfi Nuzlan sedang asyik-asyiknya beramal Ismu dzat, dirinya merasakan dingin yang turun secara terus-menerus menyelimutinya dari segala penjuru dan merasuk ke dalam tubuhnya, dimana dingin tersebut dirasakan menyelimuti sekujur tubuhnya sehingga terasa teramat dingin sekali, lalu bergetarlah tubuh ikhwan Hirfi Nuzlan karena menahankan dingin yang begitu deras dan kuatnya yang turun teramat dahsyat, sehingga di belakang dan di depan kelambu Hirfi Nuzlan pun ikut terimbas   merasakan dingin tersebut, dan lantai pondok pesantren yang terbuat dari papan itupun ikut bergetar dan bergoyang karena dahsyat Zaug yang dirasakan ikhwan Hirfi Nuzlan yang tubuhnya bergetar dan bergoyang karena tidak kuatnya merasakan rasa dingin yang teramat sangat dahsyat itu. Serta rasa dingin itupun terimbas ke kelambu Amran yang berada tepat di belakang kelambu ikhwan Hirfi Nuzlan. Lalu disaat itu juga perintah dari Sang Maha Ghaib datang dan terulang lagi untuk yang ketiga kalinya dengan sangat jelas dan terang sekali serta lebih tegas terdengar oleh telinga zahir serta telinga bathin Hirfi Nuzlan, yang mengatakan: “PIMPIN INI PONDOK PESANTREN....!!!” tetapi Hirfi Nuzlan tetap  berucap secara  spontan dengan menggelengkan kepala dengan mengatakan: “LAA...”, Namun perintah dari Sang Maha Ghaib itu tidak pernah kunjung berhenti     kepadanya hingga berpuluh-puluh kali, dan ikhwan Hirfi Nuzlan hanya dapat mengatakan: “ILAHI ANTA  MAQSHUDI WARIDHOKA MATHLUBI“ dan sesekali terucap “ENGGAK... ENGKAULAH YA... ALLAH” sambil menangis tersedu-sedu tidak kuat mendengar perintah itu, karena dirinya merasa lemah, papah, hina, miskin dan bodoh serta merasa tidak pantas untuk menerima perintah itu. Namun tetap saja perintah Sang Maha Gaib itu terus tidak berhenti terdengar ditelinga bathin dan  telinga  dzahir ikhwan Hirfi Nuzlan yang lebih terang, jelas dan lebih tegas lagi. Sehingga membuat tubuh ikhwan Hirfi Nuzlan bergoyang, bergetar dan terangkat-angkat yang membuat pondok pesantren yang lantainya terbuat dari papan juga ikut bergetar dan bergoyang. Namun, tetap saja ikhwan Hirfi Nuzlan hanya berucap: ”LAA...”, “ENGGAK... ENGKAULAH YA... ALLAH”, dengan tetap diiringi ucapan “ILAHI ANTA MAQSHUDI WARIDHOKA MATHLUBI“. Berselang  beberapa saat kemudian ikhwan Amran pun juga ikut terkena imbasan dari ikhwan Hirfi Nuzlan dan tubuhnya ikut bergetar karena suasana yang teramat sangat dingin itu,  lalu ikhwan Amran mengeluarkan suara dengan mendehem ;“Hm...Hm...Hm...” yang seolah-olah menunjukkan bahwa dirinya marah kepada ikhwan Hirfi Nuzlan, mengapa perintah itu tidak diterimanya.
 
     Selanjutnya kelambu Khalifah Mahyar yang berada tepat dibelakang kelambu ikhwan Amran juga ikut terimbas rasa dingin yang berasal dari kelambu ikhwan Hirfi Nuzlan, karena merasakan hal tersebut dan mendengar peristiwa dahsyat yang sedang terjadi, khalifah Mahyar pun berhenti dari beramal dzikir ismu dzatnya dan meletakkan tasbihnya, lalu Khalifah Mahyar menempelkan telapak tangan kanannya yang dibatasi oleh kain kelambu kepunggung ikhwan Amran sambil berucap: “LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAAHIL ALIYYIL ‘AZIIM” yang diucapkannya berkali-kali, namun ikhwan Amran tetap saja tubuhnya bergetar dan terangkat-angkat tidak berhenti, karena imbasan Zauqi (rasa) dari ikhwan Hirfi Nuzlan yang terus bergetar.  Akhirnya setelah berulang-ulang kali perintah dari Sang Maha Ghaib itu terus terdengar untuk memimpin pondok pesantren, dan Hirfi Nuzlan pun sudah tidak kuasa lagi untuk menahan perintah itu, dirinya pun berucap spontan begitu saja dengan ucapan: “YAA... YAA... YAA.. ALHAMDULILLAH… ALHAMDULILLAH… ALHAMDULILLAH... AMIIN.... AMIIN... AMIIN... barulah peristiwa dahsyat itu pun reda dengan sendirinya, dan khalifah Mahyar pun melepaskan tangannya dari punggung ikhwan Amran.
 
              Setelah peristiwa itu, ikhwan Hirfi Nuzlan pun keluar dari dalam kelambunya langsung menuju ruangan pengajian yang disusul beberapa saat kemudian oleh ikhwan Amran, ikhwan Junaidi dan Khalifah Mahyar. Kemudian Khalifah Mahyar menghampiri ikhwan Sulianto di ruangan persulukan dan langsung berkata: “Benar petunjuk kamu itu Gus (nama panggilan ikhwan Sulianto)”, dan mereka berdua (khalifah Mahyar dan ikhwan Sulianto) menuju ruangan segi empat pengajian. setelah mereka berkumpul di ruangan segi empat pengajian lalu merekapun bercerita tentang kejadian yang sangat dahsyat dan di luar nalar akal manusia. Pada saat itu suasana di ruang pengajian pun begitu dingin dan semakin lama semakin terasa dingin. 
 
Allah SWT telah berfirman: Fa’aalul limaa yuriidu 
artinya:  "Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya." (Q.S Al Buruuj (85) Ayat 16)
 
 
 
 
 
 

Bagikan :

Komentar
  • Fendi

    Sepertnya sudah saatnya Islam akan bangkit…salam cinta mendalam kepada saudaraku yang diberikan petunjuk dari Allah untuk memimpin umat…..bisa mula-mula dari pondok pesantren bapak, dan tidak tertutup kemungkinan Tuan Syekh. akan membimbing umat di seluruh dunia, jika Allah berkehendak...tidak ada satupun yang dapat menghalanginya. Bimbing juga kami ssaudaraku terkasih...agar kami dapat mencintai Allah sepenuh hati dan jiwa raga kami...amin...

  • ayu

    Kalaulah memang benar ada org yg mendapat petunjuk dr Allah untuk memperbaiki rasa keimanan kita kepada Allah agar kualitas amal ibadah kita dapat terfokus kepada Allah (khusuk) betapa bahagianya kita atas orang yang mendapat petunjuk tersebut, dan kita dpt meminta petunjuk atau meminta pelajaran dari dirinya, kerena ini jelas adalah pasti pilihan Allah terhadap dirinya....bagi teman2ku yg tidak yakin atau percaya atau meragukan marilah sama2 kita cari, lihat dan kita teliti tentang kebenarannya......

Tambah Komentar (3)

Batal

Balas Komentar

Komentar Berhasil diterbitkan
Komentar tidak dapat diterbitkan Silakan coba lagi..!
Alamat email yang anda masukkan salah..!
Alamat web yang anda masukkan salah..!
Kode Captcha yang anda masukkan salah...!
Bidang tidak boleh ada yang kosong....!

Artikel Terbaru