Pemahaman yang keliru

PEMAHAMAN DAN PENAFSIRAN YANG KELIRU
TENTANG AMAL IBADAH YANG KITA KERJAKAN
SEBAGAIMANA YANG DIMAKSUDKAN DAN YANG DIKEHENDAKI
SERTA YANG DI RIDHOI ALLAH SWT


            Mudzakarah bersama Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan merupakan
kegiatan rutin yang biasa dilakukan pada pagi hari di Pengajian Tasawuf Babur
Ridho Rahmatullah Ahli Thariqat Naqsyabandi Jabal Hindi selepas shalat subuh
bersama para murid-murid di salah satu joglo yang berada di areal pengajian.
Pada pertemuan mudzakarah kali ini Tuan Guru mengulas seputar pemahaman dan
penafsiran yang keliru tentang amal ibadah yang kita kerjakan sebagaimana yang
dimaksudkan dan yang dikehendaki serta yang di ridhoi Allah SWT. Berikut ulasan
kaji yang disampaikan Tuan Guru serta dialog tanya jawab salah seorang murid.
 
           Siapa yang tidak senang dan gemar melakukan segala perintah-perintah Allah
SWT untuk memperbaiki diri dari hari-kehari, bulan kebulan dan tahun-ketahun
dalam mengerjakan segala bentuk amal ibadah yang wajib seperti: mengerjakan
shalat, berpuasa, menunaikan zakat dan melaksanakan haji bagi yang mampu serta
menuntut ilmu yang fardhu ‘ain dan melaksanakan segala bentuk amalan-amalan
sunat lainnya bahkan berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan, inilah anjuran
perintah Allah SWT bagi yang meyakini dan yang mencintai Allah dan Rasul-Nya
sebagai pegangan dalam hidupnya.

              Namun tidak jarang dan bahkan sering kita dengar para ustadz-ustadzah,
para kiyai, para alim ulama dan para tokoh-tokoh agama ketika pada saat
berkhutbah di mimbar jum’at, bertausyiah di dalam majelis dzikir maupun
majelis ta’lim dan tempat-tempat lainnya dengan mengatakan salah satu contoh,
bahwasannya: “berapa banyak orang-orang yang berpuasa hanya mendapat haus dan
lapar belaka”, mengapa demikian...? dan berapa banyak orang yang mengerjakan
shalat, menunaikan dzakat, melaksankan perintah haji bagi yang mampu hanya
mendapat keri’yaan belaka dan bangga akan segala bentuk amal ibadah yang
dilakukannya.
Allah SWT telah berfirman:

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas
tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan
malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah
mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali
. (Q.S An Nisaa’ (4) ayat 142)

 

Juga Allah SWT berfirman:
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,

(Q.S. Al-Ma’un (107) ayat 4-5)

Dan yang lebih mengerikan dan sangat menakutkan serta tidak pernah masuk akal
kita, apa yang kita kerjakan semuanya pas, benar, tepat dan terarah di dalam
hukum fiqih syari’at Islam, namun Allah mencap diri kita sebagai orang yang
kafir di dalam beragama dan melaksanakan amal ibadah yang kita kerjakan itu
sendiri.

Seperti firman Allah SWT yang artinya:
shalat mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan
tepukan tangan. Maka rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu.

(Q.S, Al-Anfaal (8) ayat 35)

Jangan pernah berdalih dan berkata bahwasannya Q.S Al-Anfal itu turun
disebabkan (asbab) orang-orang kafir Qurais terdahulu ketika bertawaf di
Baitullah menelanjangi dirinya tanpa sehelai benangpun menutupi dirinya. Kalau
kita berpegang terus pada asbabun nuzul, berarti ayat ini hanya dikhususkan
untuk orang-orang terdahulu, bukankah firman Allah yang sangat mengerikan itu
dan terang serta jelas bagi kita, apakah ayat tersebut tidak berlaku lagi bagi
umat di zaman sekarang ini...? apakah kita memilih-milih berdasarkan kehendak
pikiran dan akal serta nafsu kita karena tidak maunya belajar dan menuntut ilmu
lebih mendalam dalam tata cara beramal ibadah yang  pas, benar, tepat dan
terarah di dalam pandangan, penilaian, dan keridho’an Allah. Sekali lagi Tuan
sampaikan....! bahwa segala bentuk amal ibadah apapun yang kita lakukan tanpa
hati berdzikir (hati yang disertai Allah) secara istiqomah pastilah akan di
tolak Alllah atau akan menjadi sia-belaka, dan Allah mengatakan diri kita
termasuk sebagai golongan orang-orang yang munafik di dalam pandangan dan
penilaian Allah SWT (seperti dalam Q.S An Nisaa’ (4) ayat 142) bila dibiarkan,
lama kelamaan hati kita terus menjadi lalai bahkan dapat menjadi keras untuk
tidak berdzikir kepada Allah, Allah SWT telah berfirman:

103.Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang
yang paling merugi perbuatannya? "
104. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia
ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.
105. Mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan
(kafir terhadap) perjumpaan dengan Dia.  Maka hapuslah amalan-amalan mereka,
dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan)mereka pada hari kiamat.

(Q.S Al-Kahfi (18) ayat 103-105)

Allah SWT berfirman lagi yang artinya:
Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya
Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa
mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka,
sedang mereka dalam keadaan kafir
.
(Q.S At-Taubah (9) ayat 55)

Setelah mendengar penjelasan dari Tuan Guru, salah seorang murid perempuan
(bernama Ratna) yang turut serta dalam mudzakarah itu berkata:
“Mohon izin Tuan Guru, saya ingin bertanya: Didalam ayat tersebutkan
menjelaskan tentang orang-orang kafir yang tidak diterima segala amalan yang
mereka lakukan, namun mengapa dalam ulasan Tuan Guru tersebut di atas
menjelaskan tentang umat Islam sendiri yang di tolak segala bentuk amal
ibadahnya, apakah umat Islam itu juga tergolong orang-orang yang kafir....?”


Mendengar pertanyaan dari si murid, Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan
menjelaskan: “Pada umumnya orang berpendapat atau sebahagian orang berpendapat
bahwasannya orang-orang kafir itu adalah orang-orang yang di luar agama yang
diyakininya, seperti di luar agama Islam, begitukan Ratna....???”

Jawab murid: ” iya Tuan Guru....”

Tuan Guru menjelaskan lagi;
“ Kini saatnya Tuan akan menjelaskan secara terang
jelas dan gamblang berdasarkan firman Allah itu, kalau kamu berpendapat diluar
agama Islam itu adalah kafir...Tuan tidak akan mempersoalkan lagi. Namun, yang
kini Tuan persoalkan dan Tuan bongkar adalah orang kafir di dalam agama Islam
itu sendiri atau kafir didalam diri sendiri, kan lebih baik kita mempersoalkan
kafir tentang diri kita dari pada mempersoalan orang kafir di luar agama kita
(Islam). Karena ilmu Tasawuf itu lebih cenderung, lebih berat dan lebih
menekankan tentang isi hati dari yang menjalankan amalan itu sendiri.
Mengapa...? sesuai dengan pengertian dari tasawuf itu sendiri, yaitu; hati yang
bening dan bersih.

Baiklah Ratna... Tuan akan kelompokkan kafir menjadi 4 bagian sesuai
Hadits Rasulullah SAW:

1. Kafir Dzimmi, yaitu orang kafir yang tinggal di negeri Islam, hidup dengan
     aman dan di bawah  perlindungan pemerintahan muslim, dengan syarat membayar
     jizyah (upeti) sebagai jaminan keamanannya. Orang kafir seperti ini terjaga
    darahnya dan tidak boleh diganggu.

    Rasulullah SAW bersabda:  “Barang siapa membunuh kafir dzimmi maka ia tidak
    akan mencium bau surga dan sesungguhnya bau surga dapat tercium sejauh 40
    tahun perjalanan.”
    (HR an-Nasai: 8742,dan dishahihkan oleh al-Albani dalam shahih al-Jami  no.6457).

    Dan Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa menyakiti orang kafir Zimmi maka
    aku menjadi lawannya di hari kiamat”.
(Hadits riwayat Muslim).


2. Kafir mu’ahad, yaitu orang-orang kafir yang tinggal di negerinya, tetapi
     antara kita dan mereka terdapat perjanjian damai untuk tidak saling   
     memerangi selama waktu yang telah disepakati.  Namun, hal itu dengan syarat
     mereka tetap mematuhi perjanjian dan tidak melanggarnya. Dan kafir seperti
     ini juga tidak boleh dibunuh.

     Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang membunuh kafir mu’ahad  ia tidak akan
     mencium bau surga dan sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan
     empat puluh tahun.”
(HR.Bukhari: 3166).

     Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang membunuh kafir mu’ahad  ia tidak akan
     mencium bau surga dan sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan
     empat puluh tahun.”
(HR.Bukhari: 3166).

3.  Kafir musta’man, yaitu orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari kaum
      muslimin atau sebagian    kaum muslimin. Kafir jenis ini juga tidak boleh
      dibunuh sepanjang masih berada dalam jaminan  keamanan.

      Dari Ummu Hani, berkata, “Wahai Rasulullah, anak ibuku (yaitu Ali bin Abi
      Thalib) menyangka bahwa ia boleh membunuh orang yang telah saya lindungi
      (yaitu) si Fulan bin Hubairah. Maka Rasulullah SAW bersabda: “Kami telah
      lindungi orang yang engkau lindungi, wahai Ummu Hani.”  

      (HR. Bukhari: 357 dan Muslim: 337).

4.  Kafir harbi, yaitu kafir selain tiga di atas, kafir jenis inilah yang
      disyariatkan untuk diperangi dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam
      syari’at Islam. Dan inilah yang dimaksud  dalam surat al-Baqarah ayat: 190- 193.
      Golongan ini diperangi, apabila ia atau negaranya telah menampakkan atau
      menyatakan perang terhadap kaum muslimin atau kaum muslimin terlabih dahulu
      mengumumkan perang terhadap mereka setelah orang-orang kafir ini menolak
      ajakan kepada Islam.

 

Jadi kalau kafir zimmi itu dilindungi karena Nabi Muhammad SAW sudah bersabda
jangan menyakiti kafir zimmi, karena bagi siapa saja yang menyakiti kafir zimmi
sama menyakiti diri Rasulullah SAW, dan hadits lainnya mengatakan:
“Barang siapa menyakiti orang kafir Zimmi,
maka aku menjadi lawannya di hari kiamat”.

(Hadits riwayat Muslim).

Jadi supaya kita berfikir secara mendalam dan memahami hikmah makna Al-Quran
secara pas, benar tepat dan terarah sesuai dengan hikmah hakikat yang
diinginkan dan yang dipandang serta yang dinilai Allah SWT dan yang sangat
diridhoi Allah SWT yaitu masalah qalbu (hati) kita masing-masing, adakah selalu
dan setiap saat dan setiap waktu untuk menyebut namaNya,
Seperti Firman Allah SWT:
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa
takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang,
dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.

(Q.S. Al- A’raf (7) ayat 205)

Jadi Ratna sekarang kamu ngerti dengan jelas dan terang bagi dirimu sendiri
secara mendalam, sekarang Tuan mau balik bertanya: “ Sebelum kamu menuntut Ilmu
Tasawuf melalui jalan Thariqat di Pengajian Tasawuf Babur Ridho Rahmatullah
Ahli Thariqat Naqsyabandi Jabal Hindi ini, apakah kamu dalam mengerjakan amal
ibadah seperti sholat dan amal ibadah lainnya maupun dalam kehidupan sehari-
hari yang kamu kerjakan itu, apakah hati kamu dapat terus dapat berdzikir atau
dapat mengingat Allah atau menyaksikan Allah dan bisa kamu pusatkan pikiran dan
hatimu hanya tertuju kepada Allah Ratna...?”

Jawab Ratna tegas dan singkat:
”Pikiran dan hati saya entah kemana-mana pada waktu sholat, terlalu banyak yang
saya ingat isi dunia ini Tuan guru, yang banyak saya ingat terutama orang-orang
yang saya cintai seperti suami dan anak-anak saya selalu berada di hati saya,
Maha benar Allah itu Tuan Guru... agar kita dalam beramal ibadah hanya untuk
tertuju kepada diri-Nya semata tidak boleh ada yang lain selain hanya Allah 
SWT”

Tuan Guru kembali berkata:
Setelah kamu mendengar penjelasan dari Tuan, sudah mengertikah kamu siapa
sebenarnya diri kamu dahulu itu?

Jawab Ratna dengan penuh rasa malu hati:
“ Sekarang saya baru mengerti hakikat beramal ibadah yang dimaksudkan, yang
dinilai dan yang sangat di ridhoi Allah itu, yaitu hanya mengabdi secara penuh
dan secara totalitas bahwasanya hati dan pikiran ini hanya tertuju kepada Allah
semata dan mengabdi secara benar, pas, tepat dan terarah di dalam pandangan
Allah SWT”


Tuan Guru berkata sambil memberikan nasehat:
“Jadi, kalau ada yang lain selain Allah di dalam amal ibadah yang kita kerjakan
itu maka semuanya akan tertolak dan dibuang Allah sejauh-jauhnya dan diri kita,
dan dikatakan Allah dengan tegas adalah orang-orang yang tersesat sesesat-
sesatnya karena sudah menduakan Allah apalagi sampai nyawa kita melayang tidak
pernah berdzikir menyebut nama Allah atau yang selalu disebut dengan kalimat:
“LAA ILLAHA ILLALAH“ artinya Tiada Tuhan selain Allah”.


Ratna mencoba kembali bertanya:
“Tuan Guru saya mau bertanya lagi karena saya sudah takut terhadap amalan yang
saya kerjakan selama ini, Apakah setelah saya menuntut ilmu Tasawuf di thariqat
kalau belum lengket atau belum istiqomah nama Allah saya lekatkan dihati saya
ini karena saya sudah mengerjakan dzikir yang Tuan ajarkan yaitu Dzikir Ismu
dzat, Dzikir Nafi’ isbat, Dzikir Murakabah Ahdiyah, saya mati dalam keadaan
kafir atau amal saya tidak di terima Allah Tuan Guru..??”


Tuan guru menjawab dengan tegas dan sangat bisa dipahami bagi orang-orang yang
berakal yang dapat menerima pelajaran, Ratna dan murid-murid yang lain yang
turut serta dalam mudzakarah tersebut:
Dengarkan baik-baik apa kata Allah di dalam Al-Quran:

Firman Allah SWT:
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya
Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.
(Q.S. Ali Imran(3) ayat 31),

Dan firman Allah SWT lagi:
Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan 
sungguh-
sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.

(Q.S. Insyiqaaq (84) ayat 6)

Juga firman Allah SWT lagi:
Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka.
Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.

Maka tidakkah kamu memahaminya?
(Q.S. Al-An’am  (6) ayat 32)

Dan firman Allah SWT lagi:
Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia;
sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.

(Q.S. Ar-Ruum (30) ayat 7).

Abu Hurairah berkata:
Nabi SAW bersabda: “Sesaat dalam  jihad fii sabiilllah
lebih baik dari pada lima puluh  kali haji
(H.R. Addailamy).

Naiem bin hubbar berkata :
Orang yang mati syahid dalam jihad fisabilillah dalam barisan pertama dan belum
berhadapan muka melainkan telah terbunuh, maka mereka akan bertempat dalam
bilik yang tertinggi didalam surga, Allah tertawa pada mereka, dan bila Allah
tertawa pada seorang hamba-Nya yang mu’min  maka berarti tidak ada hisab
atasnya.
(H.R thabarani)

Nabi saw bersabda: Jibril as berkata; Allah ta’ala berfirman:
LAA ILAHA ILLALLAH itu sebagai bentengku,
maka siapa yang masuk kedalam intinya aman dari siksaKu

(HR Ibn Asakir).


Jadi kalaupun kita mati Ratna dalam menuntut ilmu tasawuf untuk membersihkan
hati khususnya untuk mencintai Allah semata dihati kita masing-masing  dan ijab
kabul kita selalu dalam beramal ibadah khususnya pada waktu berdzikir selalu
kita katakan berulang-ulang bila datang gangguan-gangguan isi dunia ini bisa
datang masuk ke dalam pikiran atau kedalam lubuk hati kita, spontan kita
mengatakan : “Illahi anta maqsudi waridhoka matlubi” yang artinya : “Ya Allah
hanya engkau yang kumaksud tiada yang lain dan ridhoMu jua dambaanku tiada yang
lain” inilah seterusnya kita melatih-latih hati  melazim-lazimkan nama Allah
selalu kita sebut di dalam hati kita masing-masing agar hati kita dengan izin
Allah tentunya dapat istiqomah berkekalan untuk selalu dan setiap saat menyebut
namaNya dan kita lambat laun akan mengenal dan berjumpa menyaksikan Allah
dengan mata hati yang bersih dan suci kata Allah pasti “Menemukan-Nya”.  Cukup
jelas kini sudah keterangan dari Tuan kan Ratna...?  untuk memahami amalan yang
kita kerjakan agar dapat diridhoi oleh Allah Sang Dzat yang Maha Esa itu.

Untuk lebih  jelasnya; orang kafir itu adalah iblis yang bersarang didasar lubuk
hati kita kepada umat manusia beragama apapun dia, berkeyakinan apapun dia,
berfaham apapun dia, bila hatinya tidak mau menyebut nama Tuhannya, itulah yang
dinamakan ingkar kepada Allah, melawan kepada Allah durhaka kepada Allah dan
itulah kata Allah sesat yang teramat nyata bagi diri kita sendiri.

Seperti Firman Allah SWT:
Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama
Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu
hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya
untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.
(Q.S. Az-Zumaar (39) ayat 22),
 
Ratna... agar kamu mengetahui secara mendalam bahwasanya yang beragama Islam
yang sesungguhnya itu yang mengaku dan mengucapkan dua kalimat syahadat adalah
lapang dada (berlapang dada) karena hatinya sudah menyebut-nyebut nama Allah
yang Maha lapang itu sehingga dalam situasi dan kondisi apapun diri kita kalau
sudah melekat nama Allah (Istiqomah) pastilah hati kita menjadi lapang.

Ratna pun menjawab dengan penuh rasa syukur kepada Allah SWT karena telah
menuntut ilmu Tasawuf di thariqat serta mendapatkan keterangan dan bimbingan
langsung dari Tuan Guru dengan mengatakan:
“Terima kasih Tuan Guru atas segala keterangan yang sangat-sangat berarti buat
diri saya dalam mengerjakan amal ibadah agar dapat di terima disisi Allah kelak
dihari kiamat”

 

 

 

Bagikan :

Komentar

Tambah Komentar (0)

Batal

Balas Komentar

Komentar Berhasil diterbitkan
Komentar tidak dapat diterbitkan Silakan coba lagi..!
Alamat email yang anda masukkan salah..!
Alamat web yang anda masukkan salah..!
Kode Captcha yang anda masukkan salah...!
Bidang tidak boleh ada yang kosong....!

Artikel Terbaru