Meraih Islam yang Sebenarnya

 

 

Assalamu’alaikum Warohmatullahi wabarokaatuh.

Jihad yang sesungguhnya untuk meraih Islam yang sebenarnya adalah merupakan dambaan
bagi setiap umat Islam khususnya yang haus akan kebenaran yang mutlak dari sisi
Allah itu, namun terkadang masih belum juga kita raih, padahal segala upaya untuk
mengerjakan segala perintah-perintah Allah dan meninggalkan atas apa yang
dilarang-Nya, bahkan segala bentuk amal ibadah yang sunnat sekalipun sudah kita
lakukan dengan kesungguhan hati menurut diri kita sendiri, ternyata semua yang kita
lakukan itu belum atau tidak kepada sasaran yang dimaksudkan oleh Allah. Sehingga
perlulah pada kesempatan ini kami mencoba mengulas, memaparkan, menerangkan dan
menjelaskan akan sesuatu yang telah kami rasakan, seperti apa.... dan bagaimana....
Jihad yang sesungguhnya untuk meraih Islam yang sebenarnya yang dimaksudkan Allah
seperti didalam firman-firman-Nya  berikut di bawah ini:

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang
dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah
dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang
lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya,
(Q.S Ash Shaff (61) ayat 10-11)

Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih
orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada
mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir
terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya
.
(Q.S Ali Imraan (3) ayat 19)

Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan
diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

(Q.S Ali Imraan (3) ayat 85)

Maka apakah orang-orang yang dilapangkan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam
lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya
(sama dengan orang yang membatu hatinya)?
Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk
mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.
(Q.S Az Zummar (39) ayat 22)

Dari jumlah total penduduk Indonesia, sebanyak + 85 % adalah pemeluk agama Islam
dengan berbagai mahzab, kelompok, golongan, aliran dan paham yang berbeda-beda pula,
begitu juga dalam memaknai atau mendefenisikan arti jihad yang sesungguhnya dan
arti Islam yang sebenarnya. Namun masih juga ada sebahagian kecil kelompok yang
memaknai arti jihad masih bersifat fanatik alias kaku atau brutalisme sehingga
mengartikan jihad menjadi tindakan jahat serta masih banyak umat Islam yang memaknai
arti Islam sebatas peribadatan lahiriyah semata tanpa mau melihat lebih jauh dan
mendasar atas peranan hati yang menjadi tolok ukur utama dalam menjalankan segala
bentuk amal ibadah yang diperintahkan oleh Allah melalui jalan beragama, karena
Allah lebih menilik dan menilai kepada niat ataupun isi hati kita. Sehingga
adakalanya penafsiran, pemikiran dan pemahaman menjadi sedikit berbeda dari tujuan
yang dimaksudkan dan yang dikehendaki Allah SWT.

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu,
bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.
Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah
 dan Rasul-Nya,
dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita
yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.”

(HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)
 

1. Jihad Yang sesungguhnya

Pengertian jihad banyak diartikan sebuah perjuangan/peperangan untuk mencapai suatu
tujuan yang dimaksud, dan pengertian jihad itu sendiri meliputi banyak aspek sisi
kehidupan manusia. (dikutip dari buku “Fiqih Jihad” oleh Yusuf Qardawi” halaman
Ixxv, tahun 2009, Media mizan utama)


Namun dalam kesempatan ini kita akan membahas jihad memerangi orang-orang kafir di
luar Islam yang hingga saat sekarang ini masih ada sebahagian orang atau kelompok
orang yang memahami atau menafsirkan Al Qur’an masih secara kaku, sempit atau secara
bahasa/tersurat/terlihat saja ataupun berdasarkan kepentingan pribadi atau golongan
yang didalihkan dan disandarkan atas nama agama, seperti “KELOMPOK TERORIS” tanpa
mau mendalami secara lebih mendalam apa sesungguhnya yang dimaksudkan Allah tentang
Jihad sebenarnya secara mendalam dan secara spesifik (secara khusus) itu sesuai
yang di ridhoi Allah SWT yaitu jihad memerangi hawa nafsu yang berada di dalam diri
kita masing-masing yang selalu mengajak kepada kejahatan atau tegasnya jihad yang
mengikuti langkah-langkah syaitan, seperti; menanamkan kebencian, membuat permusuhan
membuat ketidak tentraman, dan melakukan fitnahan, ancaman (teror) yang berujung
kepada pengerusakan bahkan sampai kepada peperangan dan pembunuhan, bukankah ini
merupakan tindakan kejahatan yang dapat di hukum melalui hukum yang berlaku
khususnya di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini.
Allah SWT telah berfirman:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan
harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.

(Q.S Hujuurat (49) ayat 15)

Sebab apabila arti jihad dan aqidah tersebut diartikan secara dangkal atau sempit
maka akan cenderung didalam aktualisasinya atau pelaksanaanya dapat bersifat JAHAT
dengan memusuhi selain agamanya, memusuhi selain pemahamannya dan memusuhi selain
keyakinannya. Seperti contoh sebahagian ayat-ayat Al-Quran yang di tafsirkan atau
yang di artikan secara sempit dan dangkal yang hanya diartikan secara bahasa/tersurat
/terlihat saja tanpa HIKMAH seperti yang di terangkan Al-Quran itu sendiri bahwa
Al-Quran itu banyak mengandung dan penuh dengan Hikmah. Seperti salah satu firman
Allah SWT :

Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat
mereka telah mengusir kamu (Mekah)
; dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari
pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika
mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu),
maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.

(Q.S Al Baqarah (2) ayat 191)

Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu,
dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah
beserta orang-orang yang bertakwa
. (Q.S At Taubah (9) ayat 123)

Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah
terhadap mereka
. Tempat mereka adalah neraka Jahanam dan itu adalah seburuk-buruk
tempat kembali.
(Q.S At Tahriim (66) ayat 9)

Sehingga dengan memahami jihad seperti demikian tanpa mau mendalami kandungan atau
hikmah Al Qur’an; maka akan cenderung selalu mengarah kepada sikap permusuhan dan
kebencian yang berakibat kepada tindakan pengerusakan, pertikaian, peperangan hingga
kepada tindakan pembunuhan, yang pastinya semua tindakan itu berakibat merugikan
orang lain sebagaimana yang banyak kita saksikan dilayar kaca maupun media elektronik
lainnya....apakah jihad seperti ini yang kita inginkan...??? Jelas dan tegas kita
katakan ; TIDAK..!!! dan pasti pemerintah juga mengatakan ..TIDAK...!!! siapapun
yang menginginkan kebenaran, pastilah mengatakan TIDAK...!!! . memang Jihad adalah
suatu perkara yang diwajibkan di dalam agama Islam, sebagaimana telah banyak
diterangkan di dalam firman Allah dan hadits Rasulullah SAW.

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat
menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih
baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu
dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan
(memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah
keberuntungan yang besar
. (Q.S Ash Shaff (61) Ayat 10-12)

Abu Musa Al Asy ‘ari r.a berkata; Rasulullah SAW bersabda:
“ Siapa yang berperang untuk menegakkan kalimat (agama ) Allah,
 maka itu fisabilillah. ”
(H.R Bukhari, Muslim, Abu Dawud )

Catatan penting:
Yang dimaksud “menegakkan kalimat (agama ) Allah” menurut pemahaman Tuan Guru Syekh.
Muhammad Hirfi Nuzlan adalah; “menegakkan kalimat laa ilaha illallah, yang artinya
“tiada tuhan selain Allah” yang wajib kita tanamkan di hati kita masing-masing.


Naiem bin Hubbar berkata : Nabi Saw bersabda :
Orang yang mati syahid dalam jihad fisabilillah dalam barisan pertama dan belum
berhadapan muka melainkan telah terbunuh, maka mereka akan bertempat dalam bilik
yang tertinggi di dalam surga, Allah tertawa pada mereka, dan bila Allah tertawa
pada seorang hamba-Nya yang mu’min, maka berarti tidak ada hisab atasnya.

(H.R At Thabarani )

Abu Hurairah r.a berkata: Nabi SAW bersabda; Perumpamaan orang yang berjuang jihad
fisabilillah, dan Allah lebih mengetahui orang yang berjihad fisabilillah itu, 
bagaikan orang yang berpuasa tiada berhenti, dan bangun malam tiada berhenti dari
sembahyangnya sehingga kembali kerumahnya, dan Allah akan menjanjikan bagi orang
yang berjihad fisabilillah,  jika mati untuk memasukkanya kedalam surga atau
mengembalikannya kerumahnya dengan selamat mendapat pahala dan ghamimah

(H.R Bukhari dan Muslim)

Manusia sebagai Khalifah Allah di muka bumi mempunyai peranan penting di dalam tugas
dan tanggung jawabnya sebagai manusia itu sendiri untuk dapat mengabdi dengan
sebenar-benarnya mengabdi Kepada Allah secara tunduk dan patuh melaksanakan
seruan-Nya dan meninggalkan segala apa yang dilarang-Nya.

Allah SWT telah berfirman yang artinya:
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
(Q.S Adz Dzariyaat (51) ayat 56)

Pengertian mengabdi, patuh dan Tunduk bukanlah sekedar tunduk perbuatan fisiknya
saja dan ucapan semata,  akan tetapi lebih menitik beratkan dan memfokuskan  kepada
PIKIRAN dan  HATI YANG TUNDUK HANYA MENGABDI KEPADA ALLAH, yang pastinya haruslah
dengan sebuah methode ilmu yang benar, pas, tepat dan terarah kepada ahlinya
(berwasilah). Namun semuanya itu tidak semudah dengan mengucapkan kata-kata dan
semudah seperti membalikan telapak tangan... di dalam mengabdi yang sebenar-benar
mengabdi kepada Allah, manusia itu tidak bisa lepas dari gangguan dan godaan
IBLIS/SYAITAN yang selalu mengajak hawa nafsu manusia untuk menghalang-halangi
manusia sehingga tak jarang manusia itu terpedaya oleh syaitan yang memang syaitan
itu teramat mahir didalam perannya untuk menjerumuskan hati manusia agar menjadi
jahat sejahat-jahatnya sehingga jauh dari jalan kebenaran (Allah). Sehingga
dibutuhkan perjuangan untuk jihad memerangi iblis/syaitan yang selalu membisik-
bisikkan kepada pikiran dan hati kita untuk berbuat maksiat kepada Allah (yaitu
maksiat hati untuk tidak berdzikir kepada Allah).

Sebagaimana yang dijelaskan di dalam firman Allah SWT:
Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti
aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan
pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya
, (Q.S Al Hijr (15) ayat 39).

Allah SWT telah berfirman yang  artinya:
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu
selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.
Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Q.S Yusuf (12) ayat 53)

Catatan penting:
Menurut pemahaman dan penafsiran Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan atas ayat
tersebut di atas adalah: mohon maaf yang sebesar-besarnya...kepada saudara-saudaraku
kaum muslimin dan muslimat, kami memaknai dan menafsirkan hakikat Al Qur’an itu,
makna yang terkandung di dalamnya adalah untuk kita semua yang membacanya. Bahwa
Nabi Muhammad SAW saja yang sudah berpangkat Nabi dan  Rasul sebagai kekasih Allah
saja masih mengatakan “aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan)”, artinya
“sebagai manusia pilihan Tuhan dan sudah berpangkat Nabi masih mengatakan bahwa
dirinya juga tidak terlepas dari kesalahan”, walaupun dirinya sendiri sudah tahu
bahwasannya dirinya telah dijamin Allah, tetapi beliau sebagai manusia biasa
menunjukkan kepada kita semua bahwasannya diriku sendiri saja (Nabi Muhammad SAW)
juga tidak terlepas dari kesalahan. Ini adalah untuk kita sebagai pengikutinya Ahlu
Sunnah wal Jama’ah untuk berfikir lebih dalam; jangan sembarangan mengatakan
bahwasannya diri pengikutnya itu sudah terbebas dari kesalahan.

Allah SWT telah berfirman yang  artinya:
Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang
benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.
(Q.S Az Zukhruf (43) ayat 37)


Ternyata iblis/ syaitan juga memiliki peranan yang sangat besar untuk mempengaruhi
dengan memberikan kontribusi negatif kepada pikiran dan hati manusia manusia itu,
hingga tanpa disadari Iblis/ Syaitan telah memegang peranan didalam kehidupan
manusia dan mengendalikannya,  jika pikiran, akal dan hati manusia itu tidak benar-
benar mengabdi tunduk  sebenar-benar tunduk hatinya berdzikir mengingat Allah.

Seperti firman Allah SWT yang artinya:
Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka
itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah
golongan yang merugi
. (Q.S Al Mujaddilah (58) ayat 19)

Syaitan dengan keahliannya yang sangat mumpuni karena dahulunya syaitan sangat dekat
dengan Allah bahkan sebagai kepercayaan Allah untuk memimpin para malaikat dan
sebagai bendaharawan surga, selain itu syaitan adalah makhluk Allah yang paling
ikhlas di dalam beramal ibadah kepada Allah sebelum terusir dari surga Allah,
sehingga dengan begitu sangat mudahnya dapat menguasai pikiran dan hati manusia yang
tidak berdzikir atau mengingat Allah dan menstransfer rencana-rencana jahatnya
kedalam pikiran seseorang atau sekelompok umat Islam dengan memandang segala
perbuatan yang dilakukan orang-orang yang dikuasai syaitan karena hatinya tidak
berdzikir mengingat Allah, sehingga apa yang dilakukan manusia itu dirinya memandang
adalah sudah sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya dan sesuai
pula dengan akal dan pikirannya yang telah dikuasai dan dirasuki pikiran-pikiran
jahat Iblis/syaitan itu, dengan menganggap setiap orang yang diluar Islam
(non muslim) adalah kafir yang wajib diperangi/ dibunuh dan dimusnahkan di muka bumi
ini, sehingga membuat mereka yang meyakini konsep jihad tersebut berjuang dengan
sepenuh tenaga dan segenap jiwa untuk memerangi orang-orang kafir di luar Islam
dengan mengharap balasan ganjaran pahala kebaikan dan surga, padahal jelas perbuatan
yang demikian itu adalah kesalahan yang sangat besar dimata manusia, dimata malaikat,
apalagi di dalam pandangan dan penilaian Allah, yang pastinya salah pula dimata
hukum dunia.

Bukankah sudah sangat jelas dan terang di dalam kitab suci Al-Qur’an, Allah telah
menjelaskan bahwa sesungguhnya Iblis/syaitan itulah orang-orang kafir. Jadi jangan
diputar balikkan lagi apa yang telah dikatakan Allah SWT dengan merujuk kepada
berbagai macam disiplin ilmu .


Seperti firman Allah SWT:
Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman
(dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak
kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan
sihir)....
(Q.S Al Baqarah (2) ayat 102)

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada
Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia
termasuk golongan orang-orang yang kafir
.
(Q.S Al Baqarah (2) ayat 34)

kecuali iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir
(Q.S  Shaad (38) ayat 74)

Wahai saudara-saudaraku yang kusayangi, kukasihi dan yang kucintai, sekarang kita
lebih jelas lagi dapat mengetahui bahwa yang kafir itu sesungguhnya adalah iblis/
syaitan yang wajib kita perangi di dalam diri kita masing-masing, jelasnya yang
kafir itu adalah Iblis/syaiatan yang ada di dalam diri kita sendiri,
bukanlah agama
orang lain yang berada di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, karena pada
dasarnya agama datang dari Allah untuk menyeruh manusia kepada kebaikan dan
merupakan batu ujian bagi kita sebagai umat yang beragama Islam yang telah
dijelaskan didalam firman Allah Q.S Al Maidah (5) ayat 48 :

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa
yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian
terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa
yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan
meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara
kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki,
niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu
terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.
Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa
yang telah kamu perselisihkan itu,
(
Q.S Al Maidah (5) ayat 48)

Serta berdasarkan Pancasila dan telah di atur di dalam Undang-Undang Dasar tahun
1945 pasal 29 ayat 1-2 bahwa:
1. Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-
    masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Catatan:
Jelas, terang dan tegas firman Allah di atas (Q.S Al Maidah (5) ayat 48)...kalau
Allah ingin menjadikan satu umat (umat Islam) saja di dunia ini terlalu mudah dan
gampang, seperti Dia berkata “kun (jadilah)...maka jadilah apa yang dikehendaki-Nya,
namun Allah membuat beragam agama sebagai batu ujian antara agama yang satu dengan
agama yang lain dan memerintahkan kita agar berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan
dan beramal ibadah untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan tuntunan syari’atnya
masing-masing dalam beragama itu (Q.S Al Kafiruun (109) ayat 6). Boleh-boleh saja
dan sah-sah saja setiap orang yang meyakini agamanya bahwa agamanyalah yang paling
baik dan diterima Tuhannya, namun bukan berarti harus saling hujat–menghujat,
caci-mencaci, hina-menghina, saling kafir mengkafirkan, bahkan saling teror menteror
dan melakukan tindakan kekerasaan dan pembunuhan.  Karena masalah agama adalah
masalah yang paling sensitive bagi setiap pemeluknya dan setiap orang pastilah
(involed) terlibat dengan agamanya dan akan mempertahankan agama yang diyakininya
itu.


Iblis/syaitan dengan berbagai tipu dayanya telah berhasil menguasai diri dan hati
manusia yang tidak berdzikir kepada Allah sehingga iblis/syaitan menanamkan
permusuhuan dan kebencian  untuk memecah belah dan menyesatkan seluruh anak cucu
Adam yang ada di muka bumi ini dengan mempengaruhi hati dan pikiran manusia dengan
janji-janji manis dan angan-angan yang penuh dengan kepalsuan belaka dengan harapan
akan mendapatkan pahala yang besar dan masuk kedalam surga yang kekal bila melakukan
 tindakan jihad seperti yang dimaksudkan syaitan itu sendiri dengan melakukan
kemaksiatan yaitu melakukan tindakan keji, pengerusakan, pengeboman, penteroran
hingga pembunuhan yang dipandangnya hal itu sangatlah baik, padahal itu adalah
perbuatan yang sangat dibenci Allah (maksiat).

Sebagaimana yang dijelaskan di dalam firman Allah SWT:
Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat
pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi,
dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,

(Q.S Al Hijr (15) ayat 39).


2. Islam yang sebenarnya

Berbicara mengenai agama Islam tentunya tidak dapat terlepas dari pembawa ajaran agama
Islam itu sendiri, beliaulah Junjungan Nabi Besar Muhammad Rasulullah SAW yang sama-
sama kita kasihi kita sayangi dan kita cintai, ajaran Islam tercermin didalam
perbuatannya sehari-hari dengan akhlakkul karimah (Akhlak yang mulia) serta ajarannya
yang untuk dapat menuntun umat manusia kepada ketenangan, ketentaraman, kedamaian,
dan kebahagiaan abadi bersama Allah SWT, karena Rasulullah SAW hatinya hanya mencintai
Allah Dzat Yang Maha Mulia itu. Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa besar yang dialami
Junjungan Nabi Besar Muhammad SAW yang wajib di imani bagi setiap umat yang mengaku
beragama Islam, kemudian menghadap dan berjumpa Allah Dzat Yang Maha Agung itu,
Rasulullah SAW turun kembali ke bumi dengan membawa perintah Shalat, sehingga dapat
kita pahami bahwa perintah shalat baru turun setelah Rasulullah SAW bertemu/
menyaksikan  Allah dan kesempurnaan agama Islam baru dimulai bagi diri Junjungan Nabi
Muhammad SAW setelah isra’ mi’raj (Awaluddin Ma’rifatullah “awal agama mengenal Allah”).
Rasulullah SAW sebagai pembawa ajaran Islam dengan kitab sucinya Al Qur’an membawa 3
misi, yaitu: “Tauhid, Syari’at dan Akhlak (tasawuf)”, dan untuk tetap dapat menjaga
dan melanjutkan misi Al Qur’an itu dan meneladani akhlak serta hati Rasulullah SAW
bagi umat yang mengaku beragama yang didasari rukun iman dan rukun Islam. Sehingga
diwajibkan bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan yang sudah Aqil baliqh untuk
menuntut ilmunya, yaitu ilmu untuk bagaimana dapat menerapkan ketiga misi utama
Al Qur’an itu di dalam berbagai aspek kehidupan umat manusia yang mengaku beragama
Islam itu di dalam menjalani kehidupannya dan dalam menjalankan peribadatan agamanya
secara sempurna di dalam padangan dan penilaian dan pastinya yang dikehendaki Allah,
dimana ilmu-ilmu tersebut telah disusun dan diterapkan oleh para ulama-ulama terdahulu.

Hadits Rasulullah SAW yang artinya:
menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan”
(H.R. Ibnu Abdil Barr).
 
Sehingga ada tiga disiplin ilmu yang hukumnya wajib Fardhu ‘ain dituntut bagi setiap
individu kaum muslimin dan muslimat yang telah baligh dan berakal antara lain wajib
menuntut:

1. Ilmu Ushuluddin (Tauhid)
   Ushuluddin berasal dari kata “Ushul” yaitu; Dasar, dan “Din” yaitu; Agama.
   Jadi Ushuluddin yaitu kaidah dasar yang membahas tentang keyakinan kepada Tuhan
   dalam beragama.

2. Ilmu Fiqih (Syari’at)
   Adalah satu bidang ilmu dalam syari’at Islam yang secara khusus membahas persoalan
   hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi,
   masyarakat maupun kehidupan manusia dengan Tuhannnya.

3. Ilmu Tasawuf (Akhlak)
   Tasawuf atau sufisme adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa/
   hati, menjernihkan   akhlak, membangun dzahir dan bathin dengan membuang berbagai
   sifat-sifat tercela di dalam diri dan hati untuk dapat memperoleh kebahagiaan yang
   abadi bersama dengan Allah.

Dan agama Islam itu sendiri berdiri di atas pondasi rukun Islam dan rukun Iman dan
dibungkus oleh; Syari’at, Thariqat, Hakikat, dan Ma’rifat.

1. Syariat adalah hukum fiqih yang mengatur dalam tata cara beramal ibadah baik
   syarat dan rukun-rukunnya yang harus dipenuhi.  Contohnya; di dalam mengerjakan
   shalat, setelah lengkap syarat-syaratnya, seperti ; membersihkan diri dari hadats
   besar dan kecil dan bersih pakaian serta tempat beribadah, mengambil wudhu dan
   mengerjakan sholat menghadap arah kiblat. dan memenuhi /menyempurnakan rukun-rukun
   shalat itu sendiri yang dimulai dengan niat dan diakhir dengan tertib, seperti
   contoh didalam mendirikan sholat tubuh bergerak sesuai dengan rukunnya (fiqli) dan
   mulut membaca ayat atau bacaan-bacaan didalam sholat itu disebut (qauli).
 
2. Thariqat adalah jalan beramal ibadah yang teratur, tersusun berdasarkan methode-
   methode di dalam jalan berthariqat terkhusus di Pengajian Tasawuf Babur Ridho
   Rahmatullah Ahli Thariqat Naqsyabandi Jabal Hindi sejak tahun 1925, contohnya
   seperti: Dzikir Ismu Dzat, Dzikir Nafi Isbat dan Dzikir Muraqabah Ahdiyah.

3. Hakikat adalah Kebenaran yaitu HATI RASULULLAH yang benar-benar telah selalu
   menyaksikan Allah, itulah sesungguhnya syahadat yang sebenarnya yaitu melihat
   Allah dengan mata hati nya (ihsan) .

4. Ma'rifat berasal dari kata "Al-Ma'rifah" yang berarti mengetahui atau mengenal
   sesuatu. Dan apabila dihubungkan dengan pengamalan Tasawuf, maka istilah ma'rifat
   di sini berarti mengenal Allah ketika Shufi mencapai maqam dalam Tasawuf. Dan
   menurut Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan ma’rifat itu adalah putus pengenalan
   dirinya, yang ada hanya Allah, cukup Allah baginya (hasbunallah wani’mal wakiil).
   Maksudnya; Dipikiran dan dihatinya hanya Allah semata, atau hatinya dan pikirannya
   tidak ada yang diingatnya atau yang dimaksudnya kecuali hanya Allah.

Maka jika rukun Islam dan rukun Iman sebagai pondasi dasar beragama Islam dan juga
dengan  ketiga ilmu yang wajib kita tuntut itu dibungkus oleh Syari’at, thariqat,
hakikat dan ma’rifat. maka sempurnalah kita sebagai umat Islam di dalam beragama.
Itulah yang dikatakan Islam secara kaffah (Islam secara menyeluruh, yaitu; ucapan,
berbuatan, dan hati yang selalu tunduk berdzikir kepada Allah dalam setiap saat dan
waktu kapanpun dan dimanapun berada). Namun sebaliknya jika, salah satu ilmu dari
ketiga ilmu yang wajib di tuntut itu tidak kita pelajari, maka pincanglah kita dalam
beragama (tidak sempurna) dan selalu dalam keadaan fasik (berdosa), karena sesuatu
yang hukumnya wajib apabila dikerjakan mendapat pahala dan bila ditinggalkan maka
berdosa.

Allah SWT telah berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya,
dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan.Sesungguhnya syaitan itu musuh yang
nyata bagimu
. (Q.S Al Baqarah (2) Ayat 208)

Catatan Penting:
Menurut pemahaman dan penafsiran Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan “langkah-
langkah syaitan” yang dimaksudkan Allah di dalam firman-Nya tersebut adalah; bujuk
rayu, godaan syaitan untuk menjerumuskan manusia kedalam lembah kenistaan, dan
kemaksiatan serta kezaliman hati untuk tidak mengingat (berdzikir) kepada Allah.
Karena syaitan telah bersumpah kepada Allah untuk menyesatkan semua keturunan Anak
cucu adam termasuk diri penulis dan pembaca, dan tanpa terkecuali diri Tuan Guru Syekh.
Muhammad Hirfi Nuzlan sekalipun yang juga sebagai anak cucu adam. sebagaimana yang
dijelaskan di dalam firman Allah SWT:

Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti
aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti
aku akan menyesatkan mereka semuanya
, (Q.S Al Hijr (15) ayat 39)

 

Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka
itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah
golongan yang merugi.
(Q.S Al Mujaddilah (58) ayat 19)


Untuk itu wahai saudara-saudaraku yang kukasihi, kusayangi, dan yang kucintai, yang
seiman, senasib, serasa dan sepenanggungan, agar diri kita tidak selalu dalam keadaan
berdosa karena tidak menuntut salah satu ilmu yang wajib di tuntut itu, maka jangan
membuang-buang waktu lagi untuk bersegera berjihad/berperang memerangi segala bentuk
hawa nafsu dengan menuntut ketiga ilmu yang wajib (fardhu ‘ain) di tuntut itu kepada
ahlinya secara bersungguh-sungguh dan dengan kesungguhan hati, terkhusus untuk menuntut
ilmu tasawuf melalui jalan beramal ibadah di thariqat mana saja yang saudaraku sukai
tanpa ada alasan, mau atau tidak mau, sempat atau tidak sempat kita wajib menuntut
ilmu agar kita tidak menjadi orang-orang yang berdosa atau merugi, atau orang-orang
yang hatinya dikuasai syaitan atau hatinya diperbudak oleh hawa nafsu.

Allah SWT telah berfirman:
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu
kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu
tidak mengetahui
, (Q.S An Nahl (16) ayat 43)

Dan firman Allah SWT lagi:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang
mendekatkan diri (wasilah) kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya,
supaya kamu mendapat keberuntungan.
(Q.S Al-Maa’idah (5) ayat 35).


Juga firman Allah SWT yang artinya:
Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh
menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya
.(Q.S Al-Insyiqaaq (84) ayat 6).


Dalam sebuah riwayat:
Ketika pulang dari satu peperangan yang dahsyat melawan kaum musyrikin,
Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud :
Kita baru kembali dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang
lebih besar. Sahabat terkejut dan bertanya, "Peperangan apakah itu wahai Rasulullah ?
" Baginda berkata, "PEPERANGAN MELAWAN HAWA NAFSU."

(Riwayat AliBaihaqi).

Dengan menuntut ilmu kepada ahlinya melalui methode yang benar, pas, tepat dan terarah
pada sasarannya yaitu untuk membersihkan dan mensucikan hati dari kecintaan terhadap
isi dunia hingga benar-benar hatinya dapat mencintai Allah secara tulus dan murni
hanya mentauhidkan Allah didalam hatinya,  sehingga jika kita menerapkan methode itu
dengan sungguh-sungguh kepada ahlinya maka dapatlah nantinya diri kita beramal ibadah
secara benar, pas, tepat dan terarah yaitu IKHLAS hanya untuk dan karena Allah,
karena bila kita hanya menuntut ilmu yang tidak melalui seorang yang ahli tentang
perjalanan hati manusia menuju kepada Allah apalagi tidak dengan methode yang benar,
pas, tepat dan terarah kepada centralnya yaitu HATI yang menentukan diterima atau
tidaknya amal ibadah kita, maka sangat dikhawatirkan segala amal-amal ibadah yang kita
kerjakan itu akan menjadi sia-sia di dalam pandangan Allah.

Allah juga berfirman bagi orang-orang yang merugi:
(103)Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang
     paling merugi perbuatannya?"

(104)Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini,
     sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.

(105)Mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kafir
     terhadap) PERJUMPAAN DENGAN DIA
. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami
     tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.
(Q.S Al Kahfi (18) ayat 103-105)

Catatan Penting:
Yang dimaksud kafir di sini menurut pemahaman dan penafsiran Tuan Guru Syekh. Muhammad
Hirfi Nuzlan adalah “hati kita yang tidak mau tunduk terhadap Allah serta mengingkari/
melupakan atas janji kita kepada Allah ketika Allah mengambil kesaksian ruh/jiwa
sebelum ditiupkan kedalam janin, bahwa hati/jiwa kita wajiblah untuk selalu
mengingatnya (Dzikrullah) (Q.S Al A’raaf (7) ayat 172)”


Dan Allah berfirman di dalam hadits qudsi yang artinya:
“Kelak pada hari kiamat akan didatangkan beberapa buku yang di segel lalu dihadapkan
kepada Allah SWT (pada waktu itu) Allah berfirman”BUANGLAH INI SEMUANYA”.  Malaikat
berkata: “demi kekuasaan Engkau, KAMI TIDAK MELIHAT DIDALAMNYA melainkan yang baik-
baik saja”. Selanjutnya Allah berfirman: “Sesungguhnya isinya ini dilakukan bukan
karena-KU dan AKU sesungguhnya TIDAK AKAN MENERIMA kecuali apa-apa yang dilaksanakan
karena mencari KERIDHOANKU (IKHLAS)”.

(H.Q.R. Bazzar dan thabarani, dengan dua sanad atau diantara perawinya termasuk perawi Al-jami’us Shohih).

Ikhlas yaitu bersih dan sucinya hati kembali seperti semula saat awal ruh akan
ditiupkan Allah kedalam Janin anak manusia yaitu Fitrah menyaksikan Tuhannya (hati
yang hanya bergantung kepada Tuhannya semata),
Sebagaimana Allah telah menjelaskan di
dalam firman-Nya:

Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa,
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,
dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia"
.
(Q.S Al Ikhlas (112) ayat 1-4)

Inilah yang dimaksudkan dengan “bersyahadat” yaitu hatinya dapat kembali menyaksikan
Tuhannya, maka yakinlah dia kepada Tuhannya dengan sebenar-benar yakin, sesuai dengan
rukun Iman yang pertama, yaitu yakin kepada Allah karena hatinya telah menyaksikan
Allah (bersyahadat) sesuai dengan rukun Islam yang pertama pula.

Jadi, dari mulai saat ini dan detik ini, janganlah sekali-kali hanya mengandalkan amal
ibadah kita kepada Allah dengan memakai akal kita,  karena Allah tidak memandang dan
menerima semua amal ibadah yang kita kerjakan itu kecuali dengan HATI yang TULUS DAN
IKHLAS SEMATA-MATA untuk mentauhidkan Allah saja secara murni dan IKHLAS benar-benar
hati ini (RUH) ciptaan-NYA kembali kita Fitrahkan. Sesuai dengan Firman Allah yang
artinya:
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu,
dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”.

(Q.S Asy-Syam (91) ayat 9-10).

Dan firman Allah SWT yang artinya:
“Maka mengapa (tidak kamu kembalikan RUH) ketika nyawa sampai di kerongkongan, 
padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu.
Tetapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah)?
Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (RUH) jika kamu adalah orang-orang yang benar?

(Q.S Al-Waaqi’ah (56) ayat 83-87).

Yang sangat berhubungan dengan firman Allah SWT:
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
"Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi
saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:
"Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan
Tuhan)",
(Q.S Al A’raaf (7) ayat 172)

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada
fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus;  tetapi kebanyakan  manusia tidak mengetahui,
(Q.S Ar Ruum (30) ayat 30)

Bila hati kita telah kembali fitrah mengenal dan menyaksikan Allah, inilah yang
dikatakan dengan sebutan IHSAN (yaitu kita beramal ibadah seolah-olah melihat Allah)
namun, mohon maaf beribu maaf... bagi kaum sufi ihsan itu adalah nyatanya Allah di
dalam pandangan mata hatinya namun tidak dapat digambarkan maupun diumpamakan karena
Allah tiada umpama dan tidak dapat diumpamakan ( Q.S Asy Syuraa 42 ayat 11) dan hanya
ruh kita sajalah yang dapat merasakan dan mengetahuinya, karena Allah Maha Ghaib yang
dapat  mengenal dan menyaksikannya wajiblah dengan yang ghaib pula (yaitu ruh sebagai
ciptaan-Nya) dan kaum sufi hanya ingin mengikhlaskan hatinya kepada Allah (Q.S Al-
Baqarah (2) ayat 139). Inilah yang dikatakan telah IKHLAS, dan  inilah yang dikatakan
khusyu’ , maka baginyalah keberuntungan dan baginyalah kebahagiaan yang hakiki dan
abadi itu.

Seperti firman Allah SWT yang artinya:
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
(yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya,”

(Q.S.Al-Mukminuun (23) ayat 1-2).

Dan Firman Allah SWT yang artinya:
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk (khusuk) hati
mereka mengingat Allah
dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan
janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab
kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi
keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik”.

(Q.S. Al-Hadiid (57) ayat 16).

Islam yang sebenarnya itu bukanlah seperti yang kita pikirkan selama ini yang hanya
dengan melaksanakan perintah–perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya sebatas perbuatan
ritual fisik semata (mohon maaf…disebut sebagai Islam kulit luar saja), atau beragama
Islam secara keturunan dikarenakan orang-orang tua kita yang sudah memeluk Islam,
sehingga secara otomatis mengatakan diri kita sudah beragama Islam. Semua itu tidaklah
ada yang salah, namun kalau kita lihat di dalam diri kita sendiri, sudah benarkah
rasa ketenangan dan ketentraman serta kelapangan sudah kita rasakan di hati kita
selama kita menjadi penganut agama Islam itu….? Marilah secara jujur kita akui tanpa
ada rasa beban dan malu karena diri kita ingin menyatakan cinta kepada Allah sebenar-
benar cinta. Kalau kita dustai diri kita sendiri pun, namun hati kita selalu tidak
dapat membohongi atas apa yang kita rasakan dan kita lihat dengan teramat jelas di
hati kita itu, apa-apa sajakah sesungguhnya yang berada dan melekat di dalam hati kita
ini, seperti; pacar/kekasih, suami/istri, anak/cucu, harta/uang, pekerjaan/jabatan dan
lain sebagainya dan segala bentuk keduniawian, itulah taghut-thagut (berhala-berhala)
yang bergerak di akhir zaman ini.

Sekarang saatnya kita sebagai umat Islam untuk dapat mengerti dan memahami atas
keIslaman yang kita yakini (imani) dan kita jalani selama ini, jika kita lihat secara
padangan zahir dan menurut pikiran kita, jelaslah memang kita adalah umat yang
beragama Islam, namun masih belum/ kurang tepat didalam pandangan dan penilaian serta
yang dimaksudkan Allah, saatnya kita memperbaharui keimanan kita sebagai umat Islam
yang meyakini Allah sebagai Tuhan Dzat Yang Maha Tunggal itu dan Rasulullah SAW sebagai
utusan-Nya.

Rasulullah s.a.w. pun telah bersabda dari Abuhurairah r.a.
Perbaharuilah iman kepercayaanmu, ditanya : Bagaimana memperbaharui iman
Ya Rasulullah ? jawab Nabi s.a.w. “perbanyaklah membaca : La ilaha illallah”.

( H.R. Ahmad Alhakim )

Allah SWT berfirman:
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut,
dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah
kamu termasuk orang-orang yang lalai. 
(Q.S Al A’raaf (7) ayat 205)

Sudah benarkah hati kita sudah dapat selalu mengingat/menyebut nama Allah (Tuhan Sang
Maha Pencipta) di dalam hati kita yang dahulu telah berjanji kepada Allah untuk selalu
menyebut/mengingat-Nya setelah kita terlahir ke dunia yang fana ini
(Q.S Al’ A’raaf (7) ayat 172). Sekali lagi jujurlah terhadap diri dan hati kita masing
-masing…..?!

Karena Islam yang sebenarnya yang dimaksudkan dan di dalam padangan serta penilaian
Allah adalah hati yang selalu dekat, selalu akrab, selalu mesra, selalu intim dengan
Tuhannya, itulah orang-orang yang telah MERAIH ISLAM YANG SEBENARNYA maka  LAPANGLAH
HATI atau LAPANGLAH DADAnya
, tidak ada setitikpun kebencian dihatinya, tidak ada
keirian, tidak ada kesombongan, tidak ada buruk-sangka kepada orang lain, tidak ada
dihatinya keriaan dan kemunafikan serta penyakit-penyakit hatinya yang membuat hatinya
keras dari berdzikir mengingat Allah,  karena penyakit-penyakit hati itulah yang
menjauhkan, menghalangi atau menghizab ataupun menutupi hati seorang hamba kepada
tuhannya.

Semoga kita tidak termasuk sebagai orang-orang yang keras hatinya dari mengingat Allah
karena bagi orang-orang yang keras hatinya dari berdzikir mengingat Allah, maka mereka
itu dalam kesesatan yang nyata.  Itu semua…. Allah yang mengatakan langsung di dalam
firman-Nya…bukanlah perkataan penulis.

Seperti Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
Maka apakah orang-orang yang DILAPANGKAN Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam
lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka
kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah.
 Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.
(Q,S. AZ-Zumaar (39) ayat 22).

Firman Allah SWT yang artinya:
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.

(Q.S. Ar-ra’d (13) ayat 28).

Dan Firman Allah SWT yang artinya:
(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang
menghadap Allah dengan hati yang bersih, 
(Q.S.Asy-Syu’araa (26) ayat 88-89).

Jadi jelaslah bagi kita semua wahai saudara-saudaraku bahwa Islam yang sebenarnya itu
adalah LAPANG DADA (hati yang telah LAPANG) karena hatinya berdzikir kepada Allah,
jelasnya telah SELAMAT HATINYA kembali Fitrah menyaksikan Tuhannya seperti awal
kejadiannya saat Ruh akan ditiupkan kedalam janin anak manusia bahwa hati atau RUH
ciptaanya dalam keadaan fitrah dan menyaksikan Tuhannya atau telah mendapat cahaya
dari Tuhan-Nya.


Seperti Firman Allah SWT yang artinya:
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka
dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku
ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami
lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya
kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",

(Q.S. Al-A’raaf (7) ayat 172).

Karena Junjungan Nabi Besar Muhammad SAW sebagai suri tauladan kita dengan akhlakul
karimah (akhlak yang mulia) dan berjiwa besar (lapang dada), beliau mengajarkan
KETAUHIDAN kepada kita semua yaitu hati yang hanya mencintai ALLAH Azza wajallah
sehingga dapat merasakan ketentraman, ketenangan, kebahagiaan dan kedamaian abadi
bersama Allah didalam hati yang selalu setiap saat berdzikir mengingat Allah di dalam
jiwa/hati bagi setiap umat yang mau meyakininya dan melaksanakan apa yang
diperintahkan Allah dan mengikuti akan petunjuk-petunjuknya agar hati itu tidak lalai
dari mengingat Allah, sehingga hati itu selalu dekat, akrab, mesra dan intim bersama
dengan Allah (Habibullah), dengan demikian  jadilah agama Islam itu sebagai agama
rahmatan lil alamin (rahmat sekalian alam) terutama hramat bagi diri kita sendiri,
karena Allah sang pemberi rahmad itu selalu bersama dengan dirinya atau hatinya
didalam kehidupan ini.

Jadi janganlah memandang terlalu sempit terhadap agama Islam yang kita yakini itu
hanyalah sebatas ritual peribadatan fisik semata, seperti mendirikan shalat yang lima
waktu sehari semalam, berpuasa, berdzakat dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu,
serta amalan-amalan sunnat dan perbuatan-perbuatan baik lainnya, karena didalam
beragama itu haruslah mencakup dua aspek; Jasmaniyah (Tubuh) dan Ruhaniyah (Batin).
Sehingga segala bentuk amal ibadah apapun yang dilakukan tanpa hadirnya hati
(berdzikirnya hati) kepada Allah, maka akan menjadi sia-sia belaka bahkan mendapat
adzab dari Allah. Perbuatan beramal nya betul tetapi hatinya belum benar dapat
mengenal Tuhannya.

Hadis Nabi SAW:
ěž“Bersyariat tanpa berhakikat sia-sia (kosong/hampa) dan berhakikat tanpa bersyariat
batal (tidak sah) dan barangsiapa yang memisahkan keduanya maka ia adalah kafir”.

Selamat berjuang memerangi kekafiran di dalam diri sendiri agar meraih Islam yang
sebenarnya.

Moto

Pengajian Tasawuf Babur Ridho Rahmatullah Ahli Thariqat Naqsyabandi Jabal Hindi
“KITA MAU, PASTI BISA”
Semuanya terpulang kepada diri kita masing-masing

 

Visi dan misi
Pengajian Tasawuf Babur Ridho Rahmatullah Ahli Thariqat Naqsyabandi Jabal Hindi
JIHAD AL AKBAR YANG SESUNGGUHNYA,
MENDAPATKAN ISLAM YANG SEBENARNYA,
TERCIPTALAH MANUSIA YANG SEUTUHNYA
YANG BERSYARI’AT DAN BERHAKIKAT,
 BERHAKIKAT DAN BERSYARI’AT

 


Semoga anak-anak bangsa kita ini berjaya, serta Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang kita cintai ini berjaya hatinya bersama dengan Sang Maha Pencipta. Tubuhnya
bekerja dan berkarya untuk menggapai cita-cita selagi hayat masih di kandung badan
dan hatinya tidak pernah lalai kepada Allah Dzat Yang Maha Berkuasa dan Menentukan
itu.


Akhirul kalam,
semoga Allah memberikan petunjuk serta hidayah-Nya bagi orang-orang yang ingin meraih
Islam yang sebenarnya .

Amin..amin..amin... Ya Rabbal Alamin
 

 

Bagikan :

Komentar

Tambah Komentar (0)

Batal

Balas Komentar

Komentar Berhasil diterbitkan
Komentar tidak dapat diterbitkan Silakan coba lagi..!
Alamat email yang anda masukkan salah..!
Alamat web yang anda masukkan salah..!
Kode Captcha yang anda masukkan salah...!
Bidang tidak boleh ada yang kosong....!

Artikel Terbaru