Menjalin Persahabatan Dengan Allah

MENJALIN PERSAHABATAN BERSAMA ALLAH,
DENGAN MELEPASKAN SEGALA KEINGINAN SELAIN ALLAH.

Jika kita cerna dengan akal, sepertinya; Terlalu mengada-ngada untuk bisa
bersahabat dengan Allah, manusia adalah makhluk yang kasat mata (dzahir)
sedangkan Allah adalah Dzat Yang Maha Ghaib, dan bagaimana mungkin kita
sebagai manusia ciptaan Allah yang penuh dengan kekotoran dan berbagai
penyakit-penyakit hati bisa bersahabat dengan Allah Dzat Sang Maha
Pencipta dan Maha Agung serta Maha Suci itu..?  Namun semuanya tiada
yang mustahil bagi Allah jika IA berkehendak kepada setiap manusia
ciptaan-Nya, dan mungkin saja Allah dapat berkehendak kepada saudara-
saudara yang membaca tulisan ini, sekali lagi…TIADA YANG MUSTAHIL BAGI
ALLAH. Seperti apakah persahabatan yang dapat terjalin antara manusia
(makhluk ciptaan-Nya) dengan Sang Penciptanya (Allah SWT)…?.
Jawabannya pasti adalah dengan syarat kita wajib mengembalikan jiwa/hati
kita bersih dan suci terlebih dahulu, karena jiwa/hati yang suci-lah
yang dapat berhubungan dengan Sang Maha Suci, dan yang Ghaib (hati) di
dalam diri manusia-lah yang dapat berhubungan dengan Yang Maha Ghaib (Allah).

Allah sendiri telah berikrar di dalam firman-Nya bahwa DIRINYA adalah
sebaik-baik teman dan sebaik-baik penolong bagi diri kita.
Dalam firman Allah SWT:
Tetapi (ikutilah Allah), Allahlah Pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik
Penolong. (Q.s Ali Imraan (3) ayat 150)


Dan dalam sebuah hadist Qudsi:
”Akulah sebaik-baik sekutu ( teman ) barang siapa mempersekutukan Aku
bersama yang lain, sesungguhnya dia (diserahkan) kepada sekutu itu.
Wahai sekalian manusia..! beramalah kalian dengan Ikhlas karena Allah.
Karena sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal seseorang kecuali
amal yang berdasarkan Ikhlas karena Allah. Janganlah kalian mengucapkan:
”ini demi Allah dan demi kekerabatan”. Perbuatan yang demikian hanya
karena kekeluargaan saja dan tidak sedikitpun karena berdasarkan Ikhlas
karena Allah. Dan jangan pula kalian mengucapkan:
” Ini demi Allah dan demi pemimpin kalian.  Amalan seperti itu hanya
untuk kehormatan pemimpin kalian saja,  dan tidak karena Allah”.
(H.Q.R. Al-Bazzar yang bersumber dari Adlahak).


Jika Allah dapat menjadi teman dan penolong kita sebagai makhluk
ciptaan-Nya, orang-orang seperti apakah yang dikehendaki Allah untuk
menjadi teman-Nya. Pastinya orang-orang yang hatinya telah kembali
bersih dan suci, yaitu orang-orang yang benar-benar ikhlas hatinya
mengabdi kepada-Nya dalam setiap amal ibadah yang dilakukannya dengan
jalan berjihad dengan sebenar jihad untuk menegakkan kalimat
La illaha ilallah di dalam hati, dengan jalan berjihad itulah hati dapat
kembali bersih dan suci dari berbagai penyakit-penyakit hati serta
segala hal selain dari pada Allah yang bersarang didalam hati,
seperti: suami/istri, anak, harta benda dan jabatan yang lainnya selain
dari pada Allah.

Mungkin kita menganggap dan mengatakan dengan mudahnya bahwa diri kita
telah berjihad bersungguh-sungguh di jalan Allah tetapi kita sendiri
menyadari bahwa diri kita sesungguhnya belum maksimal atau belum
bersungguh-sungguh di dalam berjihad di jalan Allah dan kita sendirilah
yang paling mengetahuinya, bukankah Rasulullah SAW telah berkata
“bahwa agama itu adalah kejujuran”, kejujuran dalam ucapan, kejujuran
pada perbuatan dan yang lebih utama kejujuran pada HATI yang tidak
pernah dusta atas apa yang dilihat oleh hati kita sendiri, apakah sudah
benar Allah telah kita saksikan dengan mata hati kita…??? yang merupakan
rukun Islam yang pertama “Mengucap dua kalimah syahadat” yang diucapkan
di lidah dan ditasdikkan (dibenarkan hadirnya Allah) di dalam hati.

Atau mungkin kita mengatakan kita telah beramal ibadah secara sungguh-
sungguh dan dengan penuh keikhlasan, padahal kita sendiri belum dapat
ikhlas di dalam menjalan semua amal ibadah yang kita lakukan… Kalaupun
ikhlas, ikhlasnya hanyalah di mulut saja, dan mustahil kita dapat ikhlas
kalau tiada Allah di dalam hati kita. Bukankah ini sebuah kemunafikan
yang selalu kita pegang selama hidup kita…?!.

Karena Allah telah menegaskan di dalam firman-Nya:
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan
membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka
berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan
manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.
(Q.s An Nisaa’ (4) ayat 142)

 
Cukup jelas dalam ayat ini;  Allah akan mengatakan diri kita sebagai
orang yang munafik, karena kita melaksanakan segala bentuk ritual
peribadatan secara sempurna di dalam pandangan manusia lainnya, tetapi
hati kita sangat sedikit sekali menyebut atau mengingat-Nya di dalam
hati kita. Itulah orang munafik yang sesungguhnya di dalam pandangan
Allah karena perbuatannya tidak sesuai dengan hatinya. Bukankah ini
perbuatan yang sia-sia belaka.

Kemudian dalam sebuah hadit qudsi:
Allah SWT pun berfirman dalam hadits Qudsi yaitu ;
“Kelak pada hari KIAMAT akan didatangkan beberapa buku yang disegel
lalu DIHADAPKAN KEPADA ALLAH S.W.T ( pada waktu itu ). Allah berfirman:
“ BUANGLAH INI SEMUANYA”. Malaikat berkata :” demi kekuasaan Engkau,
KAMI TIDAK MELIHAT DIDALAMNYA  melainkan yang baik-baik saja ”.
Selanjutnya Allah berfirman :” Sesungguhnya isinya ini dilakukan bukan
karenaKu dan Aku sesungguhnya TIDAK AKAN MENERIMA kecuali APA-APA YANG
DILAKSANAKAN karena mencari KERIDHAANKU (IKHLAS) “.
( H.q.r. Bazzar dan Thabarani, dengan dua sanad atau diantara
pararawinya termasuk perawi al jami’us shahih )


Dan pasti segala amal ibadah yang kita lakukan semuanya akan menjadi
sia-sia dan akan di buang Allah jika tidak hadir atau besertanya Allah
di dalam hati kita. Mengapa kita tidak dapat berdzikir secara istiqomah
kepada Allah, atau dalam kalangan tasawuf dikatakan tidak dapat
menyaksikan Allah (ma’rifatullah)..? itu dikarena tertutupnya hati oleh
berbagai kotoran-kotoran hati seperti berbagai kilauan duniawi serta
berbagai penyakit-penyakit hati, yang dapat membutakan hati kita
untuk dapat menyaksikan Allah Dzat yang Maha Agung dan Mulia itu.

Allah SWT kembali berfirman:
maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai
hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang
dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata
itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.
(Q.s Al Hajj (22) ayat 46)


Diriwayatkan dari Abu Hurairah Abdurraman bin Syahrin Radhiyallahu Anhu
Rasulullah S.A.W bersabda :
Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupanya dan harta bendamu,
tetapi Dia memandang kepada hatimu dan amal perbuatanmu.
(H.R MUSLIM)


Ikhlas karena Allah itu sesungguhnya adalah hadirnya hati kita kepada
Allah, dan menjadi Allah sebagai tempat bergantung atas segala sesuatu,
dalam aktualisasi peribadatan dan dalam aktifitas apapun wajiblah hati
kita kepada Allah, sebagaimana Allah SWT telah berfirman:
1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa,
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,
4. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia".
(Q.s Al Ikhlas (112) ayat 1-4)


Disinilah kita untuk dapat lebih membaca dan memahami keadaan hati kita
di dalam keseharian khususnya di dalam beramal ibadah dengan penuh
kejujuran di dalam hati. Apakah Allah terus beserta di dalam hati kita,
atau sebaliknya terlalu banyak selain Allah di dalam hati kita.
Mustahil Allah akan dapat terus beserta di hati kita jika di hati masih
menyimpan tuhan-tuhan yang lain selain-Nya, seperti anak, suami/istri,
harta, pangkat/jabatan dan berbagai keinginan-keinginan kita yang
selalu memperturutkan hawa nafsu syaitan yang selalu mengajak untuk
lalai dari berdzikir kepada Allah.

Jika diri kita telah dapat memahami akan keadaan diri dan hatinya yang
telah bercampur baur dengan lain selain Allah, maka tugas kita sebagai
manusia untuk angkat senjata memerangi berbagai hawa nafsu yang
cenderung kepada keduniawian yang merupakan tipu daya syaitan untuk
mengajak kita sebagai manusia untuk lalai dari berdzikir kepada Allah
yang merupakan janji kita kepada Allah ketika di alam ruh yang wajib
kita tunaikan pada saat kita berada di dunia yang fana ini.
karena Allah telah berfirman:
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja),
sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang
berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia
selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(Q.s At taubah (9) ayat  16)


Maka dari itu, tuntutlah ilmu tasawuf (hati yang bening dan bersih)
dengan jalan mengamalkan methode dzikir secara benar, pas, tepat dan
terarah kepada inti sasaran yang hendak dimaksud, yaitu HATI di dalam
thariqat dengan mengamalkannya dzikrullah secara sungguh-sungguh dan
penuh kesungguhan yang tujuannya tiada yang lain selain hanya untuk
dapat menyaksikan Allah secara istiqomah dan meraih keridho’an-Nya
dengan hati yang telah kembali bersih dan suci pula.
 
Karena pada hakikatnya Ruh itulah yang selalu beserta dengan
Allah Dzat yang maha Agung itu setelah turun kedunia dan bersemayam
di dalam tubuh manusia dan dikatakan HATI, bukan hati seperti bagian
dari orang tubuh manusia, tetapi HATI RABBANI YANG DAPAT BERHUBUNGAN
KEPADA ALLAH, karena sesungguhnya ruh itu hanya berhasrat, berkeinginan
untuk selalu menyaksikan dan dapat berada di sisi Allah dalam keadaan
bersih dan suci (fitrah) kembali ketika awal mula di tiupkan kedalam
janin. Ruh itulah sesungguhnya yang dapat akrab dengan Allah karena
Ruh itulah yang dapat menyaksikan secara nyata dengan pandangannya.


Ibarat sekuntum bunga, Ruh/jiwa itu dapat (berkembang) bangkit
dengan sinaran cahaya Dzatullah Yang Maha Agung itu,
seperti itulah besarnya hasrat kerinduan Ruh/jiwa untuk dapat
kembali bersama Allah SWT. Terkadang kita selalu merasa tidak dapat
merasakan ketenangan dan ketentraman di dalam hati ini, walaupun dengan
berbagai daya dan upaya kita usahakan untuk meraih ketenangan dan
ketentraman itu, yang tak elak hanyalah sebuah kekecewaan belaka.
Karena Allah SWT telah bersumpah bahwa ketenangan dan ketentraman
yang hakiki dan kekal abadi hanyalah dengan mengingat DIA (dzikrullah).
Dalam Firman Allah SWT:
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram
dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah
hati menjadi tenteram. (Q.s Ar Rad (13) ayat 28)


Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang
mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka
(yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi
dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
(Q.s Al Fath (48) ayat 4)


Seperti sebuah syair lagu tembang kenangan berjudul "TANPAMU" yang
dinyanyikan oleh Tety Kadi, yang inti lirik lagu tersebut mengkiaskan
bahwa TANPA-MU, yaitu tanpa hadirnya Allah SWT di dalam hati kita maka
kehidupan yang kita jalani akan terasa hampa dan penuh dengan kesia-siaan
belaka. dari itu raihlah cinta Allah dengan mengembalikan Ruh Ciptaan-Nya
kembali bersih dan suci seperti awal mula di tiupkan ke dalam janin (fitrah
kembali). Allah SWT telah berfirman:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah);
(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut
fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang
lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,
(Q.s Ar Rum (30) ayat 30)



Berikut Syair lirik lagunya:
Sekuntum bunga indah yang sedang mekar
Selalu merindukan sinar surya
Selalu merindukan jatuhnya embun
Sepertiku yang selalu menunggumu

Tanpamu apa artinya
Tanpamu serasa hampa
Gairah hidup kan musnah
Selamanya..
Denganmu aku merasa
Denganmu pasti kan nyata
Impian hidup bahagia
Terbayang nyata

Bila ku sedang rindu engkau menghiburku
Kau buat aku tersenyum kembali
Bila ku ingin manja engkau segera
Membelaiku dengan cinta dan kasihmu

Tanpamu apa artinya
Tanpamu serasa hampa
Gairah hidup kan musnah
Selamanya..
Denganmu aku merasa
Denganmu pasti kan nyata
Impian hidup bahagia
Terbayang nyata

Bila ku ingin manja engkau segera
Membelaiku dengan cinta dan kasihmu

Tanpamu apa artinya
Tanpamu serasa hampa
Gairah hidup kan musnah
Selamanya..
Denganmu aku merasa
Denganmu pasti kan nyata
Impian hidup bahagia
Terbayang nyata


 (klik di sini untuk melihat video clipnya bro)

Bagikan :

Komentar

Tambah Komentar (0)

Batal

Balas Komentar

Komentar Berhasil diterbitkan
Komentar tidak dapat diterbitkan Silakan coba lagi..!
Alamat email yang anda masukkan salah..!
Alamat web yang anda masukkan salah..!
Kode Captcha yang anda masukkan salah...!
Bidang tidak boleh ada yang kosong....!

Artikel Terbaru