Mengharap surga Allah, lupa kepada Allah

“Mengharap Surga Allah, Tapi Lupa Pemilik-Nya” Begitulah judul ceramah duet
yang disampaikan oleh Bapak Prof. DR. KH. Mahfud, MD (Sebagai Guru Besar
Universitas Islam Indonesia dan pernah menjabat sebagai Ketua Mahkamah
Konstitusi ke-2), dimana Mursyid Al Rasyid yang telah Kamil Mukamil dan telah
diperjalankan serta dibimbing Allah Rabbul Arshil Azeem/Guru Besar/Mujaddid
Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan Bin H. Muhammad Thahir Bin Muhammad Isa Bin Malan
sangat respect dan kagum kepada beliau atas konsistennya menjalankan jabatannya
pada waktu menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi di Negeri Ini, “pokoknya
 saya senang dan sangat senang sama beliau… karena saya begitu respect kepada
Bapak… teruskan Bapak Fahmud, MD dalam menjalankan dan menegakkan keadilan di
persada Nusantara Indonesia yang kita cintai ini sesuai dengan pengetahuan
yang Bapak miliki”
, juga tidak lupa yang saya hormati dan yang sangat saya
sayangi, yaitu Bapak Dr. KH. M. Muzammil Basyuni (Ketua Badan Pelaksana
Pengelola Masjid Istiqlal) yang menjadi rekan duet tausyiah Bapak Mahfud MD.

Acara tersebut merupakan siaran ulang yang ditayangkan oleh stasiun televisi
iNEWS TV pada pukul 04.00 Wib Dini hari, tanggal 17 Juni 2017, Sehingga pada
pembukaan ceramah tersebut Prof. DR. Mahfud MD mengatakan bahwa “Bagaimana
untuk menggapai surga Allah itu, tentunya dengan jalan atau tata cara yang
praktis dengan dimulai niat… dan untuk menggapai surga Allah, kita harus
mencari cinta Allah, dan Bagaimana kita dapat merasakan cinta Allah kalau diri
kita tidak tahu jalan praktis itu…? kalau menghapal Qur’an yang 6666 ayat
ya… pasti repot”.
Kemudian Beliau membawa kisah riwayat Seorang Sufiyah
Rabiyatuh Ahdawiyah yang berkata “Jika Aku beribadah untuk mengharap
surga-MU, berikan surga itu kepada orang Lain, Tetapi berikan cinta-MU kepadaku”,
melanjutkan ucapannya “kalau dapat cinta Allah, kan dapat surga-Nya”.

Mursyid Al Rasyid yang telah Kamil Mukamil dan telah diperjalankan serta
dibimbing Allah Rabbul Arshil Azeem/Guru Besar/Mujaddid Syekh. Muhammad Hirfi
Nuzlan Bin H. Muhammad Thahir Bin Muhammad Isa Bin Malan setuju dengan ucapan
Bapak Prof. DR. KH. Mahmud MD, Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan pun
mengatakan: “bagi Al Hafidz ya… tidak repot untuk menghafal Al-Qur’an, kalau
yang bisa menghafal Al Qur’an yang bisa masuk surga, berarti Al Hafidz saja
yang bisa masuk surga kan…?”
dan bagi sebahagian orang yang mengerjakan
perintah Allah SWT dan berniat baik, pastilah menganggap bahwa pekerjaannya
itu sangat di cintai Allah dan sangat di sukai Allah, namun kenyataannya diri
kita menjadi kecewa kalau kita dicampakkan ke neraka atau segala amalan yang
kita lakukan tidak diterima Allah  “Siapa yang tidak marah kalau yang kita
kerjakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larang-Nya mau
dicemplungkan ke dalam neraka”.
Namun Allah telah berfirman di dalam hadit
Qudsi:

“Kelak pada hari KIAMAT akan didatangkan beberapa buku yang disegel lalu
DIHADAPKAN KEPADA ALLAH S.W.T ( pada waktu itu ). Allah berfirman:
“BUANGLAH INI SEMUANYA”. Malaikat berkata: “Demi kekuasaan Engkau, 

KAMI TIDAK MELIHAT DIDALAMNYA  melainkan yang baik-baik saja”.

Selanjutnya Allah  berfirman :”Sesungguhnya isinya ini dilakukan bukan
karenaKu dan Aku sesungguhnya TIDAK AKAN MENERIMA kecuali APA-APA
YANG DILAKSANAKAN karena mencari KERIDHAANKU (IKHLAS) “
(H.q.r. Bazzar dan Thabarani, dengan dua sanad atau diantara pararawinya
termasuk perawi al jami’us shahih ).

Dalam hadits qudsi tersebut di atas, ada bahasa berbunyi
“Sesungguhnya isinya
ini dilakukan bukan karenaKu, dan Aku sesungguhnya TIDAK AKAN MENERIMA
kecuali APA-APA YANG DILAKSANAKAN karena mencari KERIDHAANKU (IKHLAS)“

Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan Bin H. Muhammad Thahir Bin Muhammad
Isa Bin Malan menafsirkan bahwa:
Di setiap amalan anak manusia yang katanya beragama Islam dan beriman kepada
Allah akan melaksanakan segala  perintah-perintah Allah seperti melaksanakan
shalat, puasa, zakat dan amalan-amalan lainnya. Dalam hal ini kita akan
mengambil salah satu contoh: Ketika dalam menegakkan shalat, kita berdiri
menghadap kiblat dan memenuhi rukun-rukun shalat itu sendiri hingga sampai
salam, namun ketika melaksanakan shalat tersebut  di dalam hatinya tidak
berdzikir kepada Allah atau tidak disaksikannya Allah dengan pandangan mata
hatinya (Syahadatul Bil Qalbi,) atau tidak hadirnya Allah di dalam hatinya,
atau Ruh/jiwa ciptaan Allah yang ditiupkan di dalam diri kita sebagai amanah
Allah tidak kita konekkan/hubungan kepada Allah, sehingga Allah tidak dapat
menyaksikan kita ketika beramal ibadah (shalat). Bukan Allah itu tidak Maha
Melihat, tapi karena kita sudah berjanji kepada Allah bahwasannya kita tidak
akan lalai kepada-Nya , tapi nyatanya Allah menyaksikan kita dengan amat nyata
bahwa nama  Allah SWT itu tidak pernah kita sebut di dalam setiap pekerjaan
amal  ibadah yang kita kerjakan.

Bila Ruh/jiwa ciptaan Allah yang diamanahkan kepada kita tidak kita hubungkan
kepada Allah, maka diri kita diibaratkan seperti boneka yang tidak berguna
dihadapan Allah ketika kita beramal ibadah (mengerjakan shalat) maaf…?
Bahasa kasarnya seperti tong taik yang berjalan, apakah kita tidak berpikir…?.
Pastinya, bagaimana mungkin Allah SWT mau menerima segala apa yang kita kerjakan
jika tidak ada hadirnya Allah sebagai penyaksian ruh/jiwa yang bersih dan suci
itu kepada Allah, dan sudah pasti Allah akan membuang segala amalan –amalan yang
kita kerjakan tersebut. Allah SWT telah berfirman:

103.Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang
       yang paling merugi perbuatannya?"
104.Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia
       ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.
105.Mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan
      (kafir terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan
       mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka
       pada hari kiamat.
(Q.s Al Kahfi (18) ayat 103-105)

Islam terbagi menjadi 4 golongan, yaitu:
1. Islam kafir adalah: Islam yang tidak mengerjakan perintah-perintah Allah
   sebagai kewajibannya di dalam beragama Islam, dan ada juga Islam Kafirun
   yang mengerjakan segala perintah Allah tapi hatinya keras tidak mau
   berdzikir berdzikir kepada Allah karena hatinya yang telah dikuasai oleh
   Syaitan.Sebagaimana Allah SWT:
   sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan
   tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.
   (Q.s Al Anfaal (8) ayat 35)


   Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di
   tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi
   bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. Dan di
   dapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya
   perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat
   perhitungan-Nya. (Q.s An Nuur (24) ayat 39)


   Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah;
   mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan
   syaitan itulah golongan yang merugi. (Q.s Mujaddilah (58) ayat 19)


2. Islam Musyrikun adalah: Pemeluk Agama Islam yang menduakan Allah.
3. Islam Munafiqun adalah:
   Pemeluk Agama Islam yang mengerjakan perintah Allah tapi munafik, dalam arti
   kata, ucapannya tidak selaras dengan hatinya, contoh: seperti ketika
   melaksanakan shalat, ketika membaca bacaan shalat tetapi hatinya tidak
   berdzikir kepada Allah, apalagi saat membaca: "Asyahaduanla illaha ilallah”
   tetapi hatinya tidak pernah menyaksikan Allah.

4. Islam Fasik adalah:
   Pemeluk Agama Islam yang terus menerus melakukan pekerjaan perintah Allah
   tetapi tetap dalam keadaan berdosa, kenapa…? Karena hatinya yang tidak
   berdzikir kepada Allah SWT.


Sekarang kita mau masuk kedalam kategori yang mana, kalau kita tidak mau
memilih dari yang empat kategori itu, maka kembalikanlah jiwa kita kepada

Allah dengan menepati janji kita kepada Allah untuk selalu mengingat-Nya.

Jadi, Kenapa segala bentuk amal ibadah yang kita kerjakan di buang Allah…? 
Karena Allah tidak senang.
Kenapa Allah bisa tidak senang..?
karena pelaksana perintah Allah itu atau  yang menjalankan perintah shalat itu
tidak menepati janjinya, yaitu janji jiwa untuk selalu mengingat-Nya ketika
awal mula ruh/jiwa di tiupkan kedalam janin (Q.s Al A’raaf (7) ayat 172).
Jelasnya, Allah tidak suka atau tidak senang jika IA tidak ada/tidak hadirnya di
dalam hati kita. Bagaimana mau kita bilang Allah bisa senang…,
kalau hati kita tidak hadir atau menyaksikan Allah yang amat nyata di hati
kita itu
. Allah SWT telah berfirman:
Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. (Q.s An Najm (53) ayat 11)

 

Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan akan membuat sedikit tamsil/perumpamaan:
Bagaimana seorang pekerja akan mendapat imbalan gaji/upah, jika si pekerja
tidak pernah kenal kepada pemilik perusahaan tempatnya bekerja (toke/majikan),
walaupun si pekerja bekerja dengan sungguh-sungguh atas pekerjaan yang
dikerjakannya itu, mustahil bukan…?. Dan sebuah perumpamaan lain dimisalkan:
Bagaimana kita dapat mengambil buah/memetik buah jika kita tidak pernah
menanam pokok dari buah tersebut. Pokok itu di kiasakan dalam Bergama adalah
pokok Kalimat La illahaillah (tauhid) tersebutlah yang merupakan pokok agama
yang wajib terlebih dahulu kita tanam di dalam hati kita.

Kembali kepada pembasan awal mengenai ceramah duet yang disampaikan
Dr. KH. M. Muzammil Basyuni dan Bapak Prof. DR. KH. Mahfud, MD, 
di sinilah ketertarikan Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan atas judul
ceramah beliau berdua, bagaimana pikiran dan hati tidak tertarik…?, judulnya
saja “Sibuk Mengejar Surga Allah, Tetapi Lupa Kepada Allah”
Sungguh unik.. bukan…ulasannya…? jadi geregetan serta penasaran buat kita-kita
yang awam ini, kenapa…?. Kalau kita banyak beramal ibadah dan berbuat baik ya
pastilah kita anggap dan kita menganggap itulah
“ingat kepada Allah” karena
kita patuh dan menjalankan segala perintah-perintah-Nya.

 

Sebenarnya “mengingat Allah” tidaklah seperti demikian, itu semua hanyalah
pelaksanaan amalan-amalan yang dicontohkan Rasulullah SAW dalam bentuk ritual
fisik bagi kita umat Islam khususnya. Kalau cuma mengikuti ritual fisik yang
contohkan Nabi SAW, kita kemanakan hati Nabi SAW sebagai suri teladan kita
ketika kita melaksanakan amal ibadah itu…? mengapa kita tidak mau mengikuti
atau mencontoh hati Nabi SAW yang selalu berdzikir kepada Allah itu…?
dan kenapa kita tidak peduli dengan hati kita…? Atau kita tidak pernah mau
mengkoreksi hati kita…?

Bukankah Allah SWT telah berfirman:
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.s Al Ahzab (33) ayat 21)


Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa
takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang,
dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.(Q.s Al A’raaf (7) ayat 205)

 
Hati Nabi Muhammad SAW yang tidak pernah berhenti menyebut Allah dan selalu
istiqomah hatinya kepada Allah SWT apalagi Nabi adalah sang Habibullah
(sebagai kekasih Allah) tentunya makamnya adalah Baqabillah (berkekalan
hatinya dengan Allah) dikarenakan hatinya yang telah kembali fitrah seperti
semula yang dibersih dan disucikankan Allah melalui kedua malaikat-Nya pada
usia 6 tahun karena di dalam hati Rasulullah SAW masih terdapat segumpal
darah hitam yang menutupi hatinya untuk dapat melihat Allah Sang Maha Pencipta,
itulah kotoran-kotaran/penyakit-penyakit yang harus dan wajib di buang
di dalam dada Rasulullah SAW.

Kalau kita timbulkan pertanyaan di benak kita sendiri yang akal itu selalu
berkata: “Itukan Nabi…? Ya bisalah hatinya selalu berkekalan kepada Allah dan
ia adalah manusia pilihan Allah SWT
". Itu memang benar dan wajib kita
akui dan kita yakini bahwasannya ia adalah sebagai manusia pilihan-Nya,
kalaupun kita tidak seperti Nabi SAW manusia pilihan Allah SWT, cukuplah kita
sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW yang sunnahnya wajib kita ikuti dan
hatinyapun setidaknya kita ikuti pula. benar tidak…? Apakah diri kita
terdiri dari jasad saja tanpa ruh, kalau jasad saja bagaimana kita bisa
bicara kalau tidak ada ruh, itu namanya orang mati., manusianya hidup tapi
hatinya mati. Dan kalau kita hanya mengikuti ritual fisik semata seperti yang
dicontohkan oleh Nabi SAW, berarti kita termasuk pengikut Nabi SAW yang masih
pincang atau tidak sempurna sebagai pengikut Nabi Muhanmad SAW.

Dan sebaliknya, kalau hati Nabi Muhammad SAW yang selalu banyak menyebut Allah
kita ikuti dan dengan tetap melaksanakan sunnah-sunnah Rasulullah SAW,
barulah kita benar-benar dikatakan PENGIKUT NABI YANG AHLU SUNNAH

WAL JAMA’AH, yang bersyari’at dan berhakikat, berhakikat dan bersyari’at,
sempurnalah diri kita sebagai pengkuti Nabi Besar Muhammad SAW

Seperti apakah hati Nabi Muhammad SAW yang sebenarnya itu…? yang jelas Mursyid
Al Rasyid yang telah Kamil Mukamil yang telah diperjalankan dan dibimbing
Allah Rabbul Arshil Azeem/Guru Besar/Mujaddid Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan
Bin H. Muhammad Thahir Bin Muhammad Isa Bin Malan menjelaskan dengan tegas
dan penuh keyakinan yang Haq, bahwa: “HATI JUNJUNGAN NABI BESAR

MUHAMMAD SAW TIDAK PERNAH BERPALING SEPALINGPUN/ SEDIKITPUN/
SEKELEBAT ANGINPUN DARI YANG LAIN SELAIN HANYA KEPADA ALLAH SWT

SEMATA KERENA KEBERSIHAN DAN KESUCIAN HATINYA”. Dan kita pun bisa
seperti hati Nabi Muhammad SAW dengan tetap melaksanakan perintah-perintah Allah
dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya. Sebagaimana Allah SWT telah berfirman:
Beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya (Q.s Asy syams (91) ayat 9)

Saudara-saudariku yang kusayangi, kukasihi, dan yang kucintai, tidak sadarkah
kita atau lupakah kita bahwasannya Nabi Muhammad SAW itu adalah manusia pilihan
Allah SWT, namun tetap dirinya adalah manusia biasa seperti kita juga:
Nabi juga tidur, berkeluarga, berusaha, makan dan minum dan dia juga bisa sakit,
lelah dan letih seperti kita juga
. Sekarang… kalau kita bilang kita pengikut
Nabi SAW, Mengapa kita hanya mengikuti pelaksanakan ritual ibadah
fisiknya saja…? tetapi hatinya Nabi SAW tidak mau kita ikuti. Sudah benarkah
kita sebagai pengikuti Nabi Muhammad SAW yang sebenarnya itu….?

Sebenarnya… kita tahu dan kita sadari bahwasanya yang bisa banyak menyebut
Allah tanpa henti itu adalah hanya dengan lidah bathin (hati), kalau pakai
lidah syari’at yang biasa dipergunakan mengunyah makanan, mustahil pada akal
kita bisa menyebut Allah dari pagi hingga petang (Q.s Al A’raaf (7) ayat 205)
secara terus menerus tanpa henti, tentunya pasti dengan menuntut ilmunya.
Allah SWT telah berfirman:
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami
beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai
pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,(Q.s An Nahl (19) ayat 43)


Jadi kalau Nabi Muhammad SAW masuk surga karena karunia dan rahmat Allah
disebabkan hatinya selalu berkekalan kepada Allah (maqamnya Baqabillah).
Walaupun hatinya Baqabillah (berkekalan dengan Allah) sebagai Habibullah,
Nabi Muhammad SAW tetap menyerahkan kepada Allah sepenuhnya. Sekarang coba kita
pikirkan, bagaimana mungkin kita bisa masuk surga kalau kita tidak mau
mengikuti hati Nabi SAW, jelas bukan…?. Meraih cinta Allah itu tidak dapat
dengan amalan, berbuih pun mulut kita membaca firman-firman Allah, nunggak
nanggik pun tubuh kita menegakkan shalat, menahan lapar dan haus pun kita ketika
berpuasa, dzakat infak sedekah dan memberi makan anak yatim sekalipun dan segala
perbuatan baik apapun  kita lakukan dan serta haji kita tunaikan bagi yang
mampu, semuanya akan TERTOLAK OLEH ALLAH SWT,
jawabannya yang tegas

terang dan nyata; karena penyakti hati kita masih bersarang di dalam hati kita yang teramat
nyata kita rasakan itu, bagaimana mungkin bangkai kita bawa-bawa/kita hadapkan
kepada Allah, pastilah Allah berpaling dari kita, bagaimana Allah mencintai kita
kalau hati kita masih terselimuti berbagai penyakit hati itu yang disimpulkan
dengan KEBUSUKAN HATI YANG SANGAT DIMURKAI ALLAH.

Maka, jadilah seperti apa yang dikatakan Allah dalam firman-Nya:
Beruntung orang-orang yang mensucikan jiwanya (Q.s Asy Syams ( 91) ayat 9)

Dan Kaum sufi adalah orang-orang yang menghisab dirinya sendiri/ mengkoreksi
dirinya , menyalahi dirinya sendiri karena hatinya ingin berserta dengan
Allah SWT, sampai kepada tanjakan-tanjakan kerohanian itu dirasakan hatinya bahwa 
dirinya telah melihat apa yang ada bumi yang dapat disaksikan dengan mata syari’atnya,
segala bentuk rupa, gerak dan ucapan serta tingkah laku segala makhuk ciptaan
Allah, hatinya telah dapat diam karena Allah selalu besertanya, itulah kaum
sufi yang telah masuk ke dalam benteng "La ilaha ilallah", benteng Allah itu adalah hatinya 

menyebut nama Allah.

Jangan lagi berdalil memakai dalil dalil dengan akal, karena yang namanya
menuntut ilmu untuk bagaimana mentauhidkan Allah dengan membersihkan dan
mensucikan hati melalui ilmu tasawuf  yang hukumnya adalah Fardhu a’in dan kalau
ditinggalkan pasti berdosa. Karena Nabi SAW sendiripun tidak bisa masuk surga
dengan amalannya tapi karena Karunia dan Rahmat-Nya, sebagaimana dalam sebuah
hadits yang Nabi SAW berkata demikian, yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, ra :
“Amal seseorang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga.” “Engkau juga
tidak wahai Rasulullah?”, tanya beberapa sahabat. Beliau menjawab, “Aku pun
tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allah.” (HR. Bukhari
no. 5673 dan Muslim no. 2816)


Karena telah sempurnanya Allah di dalam hati Nabi Muhammad SAW dan makamnya
adalah baqabillah (yaitu hatinya yang selalu berkekalan kepada  Allah, sehingga
telah sempurnalah Islam bagi dirinya dan di rasakannya begitu besarnya nikmat
Allah di dalam hatinya karena selalu beserta Allah Dzat yang Maha Agung dan
maha mulia itu di dalam hatinya)


Dan Allah SWT telah berfirman:
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.

(Q.s Al Maidah (5) ayat 3)

Mursyid Al Rasyid yang telah Kamil Mukamil yang telah diperjalankan dan
dibimbing Allah Rabbul Arshil Azeem/Guru Besar/Mujaddid Syekh. Muhammad Hirfi
Nuzlan Bin H. Muhammad Thahir Bin Muhammad Isa Bin Malan menafsirkan secara
mendalam bahwa: Nabi Muhammad SAW sebagai seorang manusia pilihan-Nya yang
disempurnakan Allah akhlaknya terutama akhlak hatinya yang mulia kepada
Allah SWT, karena Allah SWT Maha Mulia, dan Nabi SAW menyebut-nyebut nama 

yang mulia itu dengan berdzikir sebanyak-banyaknya, maka dimuliakan Allah hatinya.
Di mana hatinya telah benar-benar istiqomah dan baqabillah bersama Allah.
Sehingga Nabi SAW sempurna syari’atnya di dalam melaksanakan perintah-perintah
Allah dan sempurna hakikatnya adalah hatinya tiada pernah berpaling selain
hanya kepada Allah SWT. Maka Allah akan mencukupi segala kenikmatan kepada
Junjungan Nabi Muhammad SAW, yaitu kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat
(hati) yaitu  kenikmatan bagi Nabi SAW itu adalah melaksanakan perintah Allah
dengan tulus ikhlas karena hatinya telah baqabillah dengan Allah. duduknya
karena Allah, berdiri karena Allah, berjalan karena Allah, makan karena
Allah dan segala aktifitas apapun semuanya semata-mata karena Allah,
maka segala kenikmatan yang dirasakannya semuanya karena Allah. Jadi,
hakikat agama Islam yang sesungguhnya itu telah dirasakan oleh Junjungan
Nabi Muhammad SAW karena keridho’an Allah terhadap dirinya.

Kembali menurut pemahaman Tuan Guru, bahwa Islam itu sesungguhnya pada
hakikatnya adalah: Hati yang lapang (lapang dada), sebagaimana Allah telah
menjelaskan di dalam firman-Nya:
Maka apakah orang-orang yang dilapang Allah hatinya untuk (menerima) agama
Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu
hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya
untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.
Q.s Az Zummar (39) ayat 22.


Cukup jelas bukan, bagi roang yang tidak berdzikir kesat hatinya (keras hatinya/
membatu hatinya) untuk menginata Allah, atau teasnya tidak mau berdzikir hatinya
itulah SESAT YANG AMAT NYATA.

Jika Nabi SAW telah selamat hatinya disempurnakan Allah SWT hatinya untuk
menerima agama Islam karena hatinya yang selalu berkekalan kepada Allah SWT
dengan tetap melaksanakan segala perintah-perintah Allah SWT. Sekarang apakah
kita sebagai pengikut Nabi SAW hanya dengan mengikuti ritual fisik saja kita
juga bisa selamat untuk dapat dekat di sisi Allah SWT tanpa hati mau menyebut
nama-Nya…? tentu jawabannya tidak…!!! karena Allah telah berfirman dalam
(Q.s Al Haddid (57) ayat 16) menyeruhkan kepada orang-orang beriman untuk
khyusuk dan tunduk hati mereka mengingat Allah.

Dan Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat atau memandang kepada tampilan ritual
amalan fisik kita semata, tetapi Allah lebih memandang kepada hati kita.
Sekali lagi di tegaskan…?! Bukankah sudah cukup jelas keterangan tersebut di atas
bahwa sesungguhnya Allah hanya melihat hati kita, mengapa kita masih terus
membantah dengan lebih mendahulukan akal kita. jika kita terus membantah, maka
tergolonglah kita sebagai orang-orang yang merugi atau dzalim dan termasuklah
sebagai golongan orang-orang Islam yang kafirun yang menentang selalu kebenaran
yang datang dari Allah. Sebagaimana firman-Nya:

Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Qur'an ini
bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak
membantah.(Q.s Al Kahfi (18) ayat 54)


Dan hati yang bersih dan suci yang terbebas dari berbagai penyakit-penyakit
hati itulah hati yang lapang, hati yang damai yang beruntung, seperti Firman
Allah SWT yang artinya:
Sesungguhnya, beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya
(Q.S.Asy-Syam (91) ayat 9)


Dan firman Allah lagi yang artinya:
(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang
yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,
(asy-Syu’araa ayat 88-89
)

Karena dia mau membujuk hatinya yang amarah itu kepada Allah dengan selalu
berdzikir menyebut-nyebut dan melazim-lazimkan nama Allah agar tunduk khusyuk
berdzikir mengingat Allah.

Allah SWT berfirman yang artinya:
27. Hai jiwa yang tenang.
28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
29. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,
30. masuklah ke dalam syurga-Ku.
(Q.S.Al-Fajr (89) ayat 27-30),


Jama’ah Allah itu adalah orang-orang yang selalu melazim-lazimkan menyebut-nyebut
nama Allah di dalam hatinya, itulah yang teramat sangat diridhoi Allah dan yang
banyak mengamalkan amalan-amalan sunat yaitu DZIKRULLAH,  jadi jiwa yang telah
kembali kepada Allah SWT dalam arti kata jiwanya telah menepati janji untuk
selalu berdzikir (mengingat) kepada Allah seperti Firman Allah (Q.s Al A’raaf (7) ayat 172),
dan seperti itulah kelapangan hati Nabi Muhammad SAW di dalam menghadapi segala
ujian dan cobaan yang diberikan Allah kepadanya. Kenapa dirinya bisa lapang…?
karena Rasulullah SAW hatinya banyak menyebut Allah dan berkekalan kepada Allah
dan maqamnya adalah maqam Baqabillah (ma’rifatullah), karena Allah Maha lapang,
Maha Agung, Maha suci Maha Besar, Maha Kuat dan Maha dari Segala Yang Maha,
bila kita selalu menyebut-nyebut nama-Nya: maka hati kita pastilah akan dilapangkan
Allah, dikuatkan Allah menghadapi situasi dan kondisi apapun yang menerpa diri
Nabi SAW, karena kita selalu bersama dan didampingi Allah dan hanya bergantung
kepada Allah (Q.s Al Ikhlas (112) ayat 1-4). sebagaimana yang dikatakan Abu Hurairah, ra:
“Karena sesungguhnya ilmu itu bukanlah pandai meriwayatkan, tetapi ilmu itu
adalah cahaya yang dimasukkan ke dalam hati.

Kembali kepada pembahasan awal, setelah mendengar ceramah duet tersebut,
Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan merasa sangat terkesimah dan sangat
senang sekali, adapun inti ceramah yang disampaikan sebagai berikut:
1. Dr. KH. Muzammil Basyuni menyimpulkan bahwa dalam hal sibuk mencari surga,
   sehingga tidak mengenal siapa pemiliknya adalah salah besar, dan kita harus
   selalu melakukan pengenalan diri, siapa kita…?, kenapa kita ada…? untuk apa
   kita diciptakan…? Allah menjawab dalam Q.s Adz Dzariyat (56) ayat 51) adalah
   hanya untuk mengabdi/beribadah kepada Allah SWT.
   Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan menanggapi bahwa:
   mengabdi bagaimana yang dimaksud oleh Dr. KH. Muzammil Basyuni seperti yang
   dikatakan dalam ceramahnya itu…? pengenalan diri yang seperti apa…?, apakah
   cukup hanya dengan pengenalan diri dan mengabdi kepada segala yang
   diperintahkan Allah dengan keterangan saja, kenapa Dr. KH. Muzammil Basyuni
   tidak menerangkan pengenalan diri dengan ilmunya yang jelas  psti mempunyai
   methode yang praktis pula untuk menggapai cinta Allah.

2. Prof. DR. Mahfud, MD menyimpulkan bahwa: untuk meraih surga Allah, haruslah
   meraih cinta Allah terlebih dahulu, dan untuk dapat meraih kecintaan dari
   Allah adalah dengan melakukan amal-amal yang baik langsung kepada manusia
   atau langsung kepada Allah, terutama kepada kaum dhu’afa, orang tua,
   pembantu dan lain sebagainya. Maka surga Allah akan diberikan kepada
   orang-orang yang memperoleh cinta Allah, surga sendiri terbagi dua:
   a. Surga dunia yaitu dimana hidup dengan kenyamanan di dalam hati.
   b. Surga Akhirat yaitu sesuatu hal yang ghaib yang harus kita raih dan wajib
      kita yakini.

   Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan menanggapi:
   Apa yang disampaikan oleh Prof. DR. Mahfud, MD seputar untuk bagaimana menggapai
   cinta Allah sudah sangat tidak jelas, apa yang disampaikan sudah jauh melenceng
   dari apa yang dimaksudkan Allah. Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada
   Bapak Prof. DR. Mahfud, MD yang sangat kusayangi, kukasihi dan yang kucintai,
   Ceramah duet yang disampaikan dari kedua tokoh besar tersebut menurut Mursyid
   Al Rasyid yang telah Kamil Mukamil dan telah diperjalankan dan dibimbing Allah
   Rabbul Arshil Azeem/Guru Besar/Mujaddid Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan Bin H.
   Muhammad Thahir Bin Muhammad Isa Bin Malan adalah sangat benar karena semuanya
   berdasarkan Al Qur’an dan Al Hadits, tetapi kesimpulan atau inti dari ceramah
   duet tersebut tidaklah pada sasaran yang dimaksudkan oleh Allah, yang dikehendaki
   dan yang Ridhoi Allah SWT atau tegasnya adalah: Sebuah kekeliruan besar,
   kenapa…?: berikut jawabannya:

   1. Kalau untuk dapat masuk ke surga Allah adalah dengan mengabdi atau beribadah
      kepada Allah SWT dengan mengutip firman Allah SWT Q.s Adz Dzariyat (56) ayat 51,
      semua orang telah melakukan hal itu, tetapi ceramahnya bagaimana untuk
      menggapai cinta Allah kalau orang beribadah mengaharapkan surga Allah
      tetapi tidak kenal kepada yang punya surga, sepertinya maaf… penceramah
      sendiri tidak kenal hatinya kepada  Allah, kalau  melihat dari kesimpulan
      yang disampikan oleh penceramah tersebut.

   2. Mengabdi atau beribadah seperti apakah yang dimaksudkan Dr. KH. M. Muzammil
      Basyuni tersebut. Mengapa dirinya tidak menjelaskan secara tuntas dan
      mendetail serta penjelasannya yang masih mengambang pada inti sasaran
      pokok dari hakikat mengabdi/ibadah itu sendiri.
      Menutur Mursyid Al Rasyid yang telah Kamil Mukamil dan telah diperjalankan
      dan dibimbing Allah Rabbul Arshil Azeem/Guru Besar/Mujaddid Syekh.
      Muhammad Hirfi Nuzlan Bin H. Muhammad Thahir Bin Muhammad Isa Bin Malan
      bahwa beribadah yang dimaksud dan di Ridhoi Allah dalam Q.s Adz Dzariyat
      (56) ayat 51 adalah; BERIBADAH SECARA TOTALITAS/ MENYELURUH yaitu; TANGAN
      BERGERAK, MULUT MEMBACA DAN HATI YANG TERUS BERDZIKIR KEPADA ALLAH,
      SERTA  MEMUSATKAN PIKIRAN DAN HATI KITA HANYA KEPADA ALLAH SWT SEMATA,
      ITULAH SESUNGGUHNYA ISLAM YANG KAFFAH. 

   3. Begitu juga Prof. DR. KH. Mahfud, MD juga menyimpulkan untuk meraih surga
      Allah adalah terlebih dahulu meraih cinta Allah dengan mengamalkan
      amalan-amalan yang baik kepada manusia lainnya khususnya kepada Allah SWT,
      tegasnya; mencintai Allah dahulu baru dapat meraih surga Allah.

Menurut Mursyid Al Rasyid yang telah Kamil Mukamil dan telah diperjalankan dan
dibimbing Allah Rabbul Arshil Azeem/Guru Besar/Mujaddid Syekh. Muhammad Hirfi
Nuzlan Bin H. Muhammad Thahir Bin Muhammad Isa Bin Malan untuk meraih cinta
Allah ataupun di cintai Allah adalah sungguh suatu hal yang mustahil, bagaimana
mungkin kita bisa mencapai cinta Allah atau dicintai Allah kalau kita tidak
pernah mengingat-Nya, tidak pernah menyebut-nyebut naman-Nya (Dzikrullah),
tidak pernah menyaksikan-Nya dan mengenal sebenar-benar kenal hati kita
kepada-Nya. Kalau berbuat baik tanpa hadirnya Allah di hati (tanpa menyebut
Allah di hati kita) atau tidak berzikir kepada Allah secara terus menerus,
maka perbuatan baik kita cenderung jatuh banyak kepada sifat keria’an atau
tidak tulus dan ikhlas, karena sebaik-baik amalan adalah penyaksian hati hanya
kepada Allah (Syahadatul bil Qalbi) itulah mentauhidkan kalimat La ilaha
ilallah di dalam hati, yang termaktub dari Rukun Islam yang pertama.

Um Hani r.a berkata: Nabi Saw bersabda:
“Kalimat La ilaha illallah itu tidak dapat di kejar oleh lain amal,
dan tidak meninggalkan dosa (ya’ni tidak ada amal yang lebih besar dari padanya,
dan semua dosa  dapat di hapus sehingga tidak ada sisanya).”
( H.R Ibn. Majah).


Maksud Kalimat La ilaha illallah tersebut di atas bukan hanya diucapkan dengan
lidah syari’at semata, tetapi Kalimat La ilaha illallah makna yang sesungguhnya
adalah tiada Tuhan selain hanya Allah yang kita rasakan di dalam hati kita

Sebelum melanjutkan kepada pembahasan berikutnya, Mursyid Al Rasyid yang telah
Kamil Mukamil dan telah diperjalankan dan dibimbing Allah Rabbul Arshil Azeem/
Guru Besar/Mujaddid Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan Bin H. Muhammad Thahir Bin
Muhammad Isa Bin Malan yang merupakan sosok yang sangat takut kepada Allah
apalagi akan laknat Allah SWT memohon maaf yang sebesar-besarnya dengan sepuluh
jari kepada Bapak Prof. DR. KH. Mahfud MD dan Dr. KH. M. Muzamil Basyuni jika
terlalu lancang menyampaikan tentang HAQ ALLAH, karena karena jika Tuan Guru
tidak menyampaikan yang diketahuinya, berupa ilmu pengetahuan yang diberikan
Allah kepadanya yaitu pengetahuan ilmu untuk bagaimana tata cara untuk
mentauhidkan Allah secara benar, pas, tepat dan terarah untuk dapat meraih
cinta Allah, dirinya akan mendapatkan laknat azab dari Allah SWT. Sehingga
segala pengetahuan dan ilmu yang diberikan Allah kepadanya untuk bagaimana
mentauhidkan Allah secara benar, pas, tepat dan terarah itu, Tuan Guru merasa
berkewajiban untuk menyampaikannya kepada seluruh umat manusia khususnya umat
Islam.  Karena Allah SWT telah berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan
berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami
menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan
dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati,
(Q.s Al Baqarah (2) ayat 159)


Rasulullah SAW bersabda:
Seseorang yang menyembunyikan ilmu, akan menyebabkan Allah mengisi mulutnya
dengan api (Hadits Shahih yang bersumber dari Abu Hurairah)


Mungkin sedikit perlu untuk saudara-saudariku ketahui bahwa Tuan Guru Syekh.
Muhammad Hirfi Nuzlan menjadi Guru/Mursyid bukanlah karena diangkat oleh manusia
lainnya atau ditunjuk gurunya (atau sesuai dengan syarat-syarat syah untuk
menjadi Guru/Mursyid) tetapi beliau di angkat menjadi guru atas perintah dari
sang Maha Ghaib yaitu Allah SWT sebanyak 3 kali berturut-turut pada waktu
persulukan yang kedua kali dilakukannya pada persulukan Akbar 20 Hari pada
tanggal 15 Maret s/d 5 April 1998 (lihat kisahnya pada artikel petunjuk Maha
Ghaib atas pengangkatan Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan untuk menjadi
guru atau memimpin di Pondok Pesantren Babur Ridho Rahmatullah Ahli Thariqat
Naqsyabandi Jabal Hindi).

I. Menanggapi

Kemudian Mursyid Al Rasyid yang telah Kamil Mukamil yang telah diperjalankan
dan dibimbing Allah Rabbul Arshil Azeem/Guru Besar/Mujaddid Syekh. Muhammad
Hirfi Nuzlan Bin H. Muhammad Thahir Bin Muhammad Isa Bin Malan sebagai
Pimpinan di Pengajian Tasawuf Babur Ridho Rahmatullah Ahli Thariqat Naqsyabandi
Jabal Hindi, menanggapi atas keterangan dan penjelasan yang disampaikan oleh
Prof. DR. Mahfud MD dan Dr. KH. M. Muzammil Basyuni pada acara ceramah duet
(Damai indonesiaku), dimana ceramah yang disampaikan terkesan sangat kabur,
sebab yang diinginkan oleh umat di saat sekarang ini adalah sebuah jawaban
atau keterangan yang seterang-terangnya serta penjelasan yang sejelas-jelasnya
dengan memberikan solusi atau methode yang benar, pas, tepat dan terarah
dengan menuntut ilmu yang wajib itu, yaitu Ilmu Tasawuf melalui thariqat yang
mu’tabarah dimana saja yang saudara sukai untuk menuju kepada kesucian dan
kebersihan hati.

Allah SWT telah berfirman:
Dan bahwasanya: jika mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam),
benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).
(Q.s Al Jin (72) ayat 16)


Sehingga, jika keterangan itu disampaikan dengan jelas dan sejelas-jelasnya serta
terang dan seterang-terangnya, maka setiap umat tidak bertanya-tanya lagi atau
menjadi bingung tujuh keliling seperti apa dan bagaimana caranya untuk dapat
beribadah sesuai yang diinginkan dan yang dikehendaki serta yang di Ridhoi Allah
SWT. Karena tanpa sebuah methode yang benar, pas, tepat dan terarah kepada
sasaran yang dimaksudkan Allah yaitu hati yang menentukan diterima atau tidaknya
amal ibadah seseorang di sisi Allah, maka mustahil semuanya itu dapat terwujud
yaitu beramal ibadah yang benar dengan hati yang bersih dan suci tunduk serta
ikhlas semata-mata karena Allah SWT. 

II. Menilai

Mursyid Al Rasyid yang telah Kamil Mukamil yang telah diperjalankan dan dibimbing
Allah Rabbul Arshil Azeem/Guru Besar/Mujaddid Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan Bin
H. Muhammad Thahir Bin Muhammad Isa Bin Malan menilai BAHWA SYARAT DITERIMANYA
IBADAH ADALAH HATI YANG BERSIH DAN SUCI (IKHLAS SEMATA-MATA KARENA ALLAH),
sebab bila beramal ibadah tanpa kebersihan hati atau keikhlasan hati akan
berpeluang besar kepada kesyirikan/Syirik Khofi, Allah SWT telah berfirman:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala
dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa
yang besar. (Q.s An Nisaa’  (4) ayat 48).

Syirik adalah menduakan Allah dengan yang lain selain Allah atau menyakini
selain Allah, dan syirik terbagi kepada dua kategori;

1. Syirik yang nyata seperti contoh yaitu percaya dan meyakini kepada benda-benda
    yang memiliki kekuatan seperti keris, batu cincin, mustika dan lain-lain,
    percaya dan meyakini perdukunan, peramal dan lain-lain.

2. Syirik Khofi atau syirik yang halus (syirik tersamar), karena begitu halusnya
    syirik ini sehingga tanpa disadari kita telah melakukan bentuk kesyirikan
    seperti ini secara terus menerus, contohnya yaitu ketika berdiri mengerjakan
    shalat hati kita ada yang lain selain Allah, maka Allah menyebutnya sebagai
    perbuatan syirik yang tidak diampuninya atau termasuk golongan orang-orang
    yang munafik karena hati kita yang tidak berdzikir kepada Allah secara terus
    menerus (dawam) bahkan Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang berdzikir
    sedikit sekali, Sebagaimana Allah SWT menegaskan di dalam firman-Nya:

   Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas
   tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan
   malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah
   mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.(Q.s An Nisaa’ (4) ayat 142)

Setelah melihat firman Allah SWT di atas, bagaimana kita dibilang menipu Allah,
padahal kita sedang atau dalam mengerjakan perintah-Nya. Kalau kita pikir dengan
akal, manalah mungkin kita menipu Allah..? rupa-rupanya kita berdiri dalam
mengerjakan shalat hati kita tidak mengingat Allah secara istiqomah atau hati
kita tidak secara benar, pas, tepat dan terarah untuk berdzikir (mengingat)
kepada-Nya. Bukankah ini yang dikatakan orang-orang yang munafik di dalam
padangan dan penilaian Allah, dimana perbuatannya dan ucapannya sempurna
menjalankan perintah Allah secara syari’at tetapi hatinya tidak pernah berdzikir
(hadir) kepada Allah atau berkekalan kepada Allah, itulah yang dikatakan
sebagai orang munafik yang menipu Allah SWT.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a,  Rasulullah S.A.W bersabda :
Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupanya dan harta bendamu,
tetapi Dia memandang kepada hatimu dan amal perbuatanmu.
(H.R MUSLIM)


Amal perbuatan yang dimaksud Allah dalam hadits ini adalah; hati yang berdzikir
mengingat Allah, seperti firman Allah lagi yang cukup jelas dan terang:
maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang
dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka
dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang
buta, ialah hati yang di dalam dada.
(Q.s Al Hajj (22) ayat 46)


Dari itu, agar diri kita tidak tergolong sebagai orang-orang yang munafik di
dalam pandangan dan penilaian Allah Maka wajiblah fardhu ‘ain bagi setiap
muslim laki-laki dan perempuan yang sudah aqil baliqh untuk menuntut ilmunya,
untuk bagaimana dapat beramal ibadah secara benar, pas, tepat dan terarah
dengan hati yang berdzikir secara terus menerus (dawam) kepada Allah SWT,
dan bila Allah berkehendak Diri-Nya akan menjadi hati kita Baqabillah
(berkekalan kepada Allah), itulah karunia dan hidayah Allah yang diberikan
kepada siapa saja yang hendak ditunjuki-Nya. Sebagaimana firman Allah SWT:
 
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut,
dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu
termasuk orang-orang yang lalai (Q.s Al A’raaf (7) ayat 205)


Jadi sekali lagi ditegaskan bahwa syirik tersamar (khofi) di dalam mengerjakan
shalat adalah; pikiran dan hati kita melayang dan merabah kemana-mana, tidak
fokus (khusyuk) berdzikir kepada Allah, atau lebih jelasnya lagi dihati kita
ada mengingat yang lain yang kita cintai selain Allah di dalam dunia ini,
seperti: anak, suami/istri, harta atau kedudukan atau pekerjaan. Syirik khofi
inilah yang besar peranannya menguasai hati apalagi pikiran kita untuk
mengalihkan atau memalingkan hati kita untuk mengingat yang lain selain Allah
SWT. Sebagaimana dalam firman-Nya:
Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah;
mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan
itulah golongan yang merugi.(Q.s Mujaddilah (58) ayat 19)

Rasullullah SAW bersabda yang artinya ;
“ Sesungguhnya yang sangat aku khawatirkan terhadap umatku ialah syirik kepada
Allah yaitu bukan aku berkata kamu akan menyembah matahari atau bulan, atau
berhala, tetapi kamu berbuat amal untuk selain Allah dan karena terdorong
syahwat yang samar “.( H.R Ibn Hibban )

 
Dan Rasulullah SAW juga bersabda:
”Akulah sebaik-baik sekutu ( teman )
barang siapa mempersekutukan Aku bersama yang lain,
dia (diserahkan) kepada sekutu itu. Wahai sekalian manusia..!
beramalah kalian dengan Ikhlas karena Allah. Karena sesungguhnya Allah tidak
akan menerima amal seseorang kecuali amal yang berdasarkan Ikhlas karena Allah.
Janganlah kalian mengucapkan:
” Ini demi Allah dan demi kekerabatan”. Perbuatan yang demikian hanya karena
kekeluargaan saja dan tidak sedikitpun karena berdasarkan Ikhlas karena Allah.
Dan jangan pula kalian mengucapkan:
” Ini demi Allah dan demi pemimpin kalian. Amalan seperti itu hanya untuk
kehormatan pemimpin kalian saja, dan tidak karena Allah”.

(H.Q.R. Al-Bazzar yang bersumber dari Adlahak).

Allah SWT pun berfirman dalam hadits Qudsi yaitu ;
“Kelak pada hari KIAMAT akan didatangkan beberapa buku yang disegel lalu
DIHADAPKAN KEPADA ALLAH S.W.T ( pada waktu itu ). Allah berfirman:
“BUANGLAH INI SEMUANYA”. Malaikat berkata :” demi kekuasaan Engkau, KAMI TIDAK
MELIHAT DIDALAMNYA  melainkan yang baik-baik saja ”. Selanjutnya Allah
berfirman :” Sesungguhnya isinya ini dilakukan bukan karenaKu dan Aku
sesungguhnya TIDAK AKAN MENERIMA kecuali APA-APA YANG DILAKSANAKAN karena
mencari KERIDHAANKU (IKHLAS) “.
( H.q.r. Bazzar dan Thabarani, dengan dua sanad atau diantara pararawinya
 termasuk perawi al jami’us shahih ).


Bersambung...lanjut di sini

Bagikan :

Komentar

Tambah Komentar (0)

Batal

Balas Komentar

Komentar Berhasil diterbitkan
Komentar tidak dapat diterbitkan Silakan coba lagi..!
Alamat email yang anda masukkan salah..!
Alamat web yang anda masukkan salah..!
Kode Captcha yang anda masukkan salah...!
Bidang tidak boleh ada yang kosong....!

Artikel Terbaru