Mengharap surga Allah, lupa kepada Allah (bagian 2

Jadi, untuk kesekian kalinya Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan mengingatkan kembali;
bahwa kalau kita tidak bisa menguraikan tentang ketauhidan secara benar sebagaimana yang dimaksudkan,
dinilai dan yang di Ridhoi Allah, jangan coba-coba menyampaikannya kepada masyarakat
awam, artinya: jangan menyampaikan keterangan ilmu tersebut berdasarkan pendapat dan
pemahaman diri sendiri karena semuanya nanti membuat bertambah-tambah bingung orang
yang mendengarkannya karena penjelasan keterangan ilmu yang kurang tepat dan benar
dapat membuat orang-orang awam sulit untuk menerimanya dan menjadi bingung untuk
melangkah menuju keridho’an Allah SWT itu, bahkan membuat bertambah-tambah runyamnya
persoalan yang kita sampaikan tersebut. Namun, bukan berarti yang kita sampaikan itu
tidak benar, karena semuanya berdasarkan Qur’an dan hadits tetapi tidak pada inti
sasaran yang dimaksudkan dan yang diridhoi Allah SWT. Karen Nabi Muhammad SAW sendiri
pun masuk surga bukan karena amalannya, tetapi karena karunia dan ridho Allah
kepadanya. Dan Hal inilah yang disayangkan oleh Mursyid/Guru Besar/Mujaddid Syekh.
 Muhammad Hirfi Nuzlan, karena Bapak Prof. DR. KH. Mahfud MD dan Dr. KH. M. Muzammil
Basyuni tidak menjelaskan kepada umat secara mendasar dan secara mendetail, sehingga
membuat umat semakin bertanya-tanya, karena penjelasan yang awalnya cukup gamblang
dan cukup jelas namun selanjutnya terkesan kabur dan mengambang atau tidak kepada
inti sasaran yang dimaksud oleh Allah SWT. Sebagaimana  keterangan Dr. KH. M. Muzammil
Basyuni yang  mengutip firman Allah SWT dalam Q.s Ad Dzariyaat (51) ayat 56, yang
intinya mengatakan untuk dapat meraih surga Allah adalah dengan jalan mengabdi/beribadah
kepada-Nya dan keterangan yang disampaikan oleh Bapak Mahfud MD bahwa untuk menggapai
cinta Allah adalah dengan jalan berbuat kebaikan kepada sesama manusia dan kepada Allah SWT.

Jadi, Bagaimana umat dapat mengabdi kepada Allah secara utuh sebagaimana yang
dimaksudkan dan yang dikehendaki Allah dan bagaimana untuk dapat mencintai Allah
jika tidak ada jalan atau methodenya…? dalam hal ini Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi
Nuzlan akan menjelaskan dengan sejelas-jelasnya dan terang-seterang-terangnya sesuai
dengan firman Allah dan Hadits Rasulullah SAW untuk bagaimana caranya agar dapat
mengabdi kepada Allah SWT secara utuh serta bagaimana agar hati kita secara penuh
dan murni hanya mencintai Allah SWT semata-mata.

Allah SWT berfirman:
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri
wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika
kamu tidak mengetahui, (Q.s An Nahl (16) Ayat 43)


Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang
mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat
keberuntungan.(Q.s Al Maidah (5) ayat 35)


Untuk dapat mengenal Allah (bersyahadat yang benar menyaksikan Allah dengan pandangan
mata hati) yang merupakan perkara yang paling mendasar atau sebagai pokok agama di dalam
beragama Islam itu sendiri, haruslah terlebih dahulu setiap muslim dan muslimat atau siapa
saja yang sudah Aqil Baligh untuk kembali dapat menepati janji kepada Allah dengan
mengembalikan fitrah Allah, yaitu hati/jiwa yang kembali bersih dan suci seperti awal
kejadian ruh/jiwa hendak di tiupkan ke dalam janin anak manusia dalam keadaan fitrah (suci),
di saat itu Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa tersebut atau lebih jelasnya jiwa
itu telah berjanji kepada Allah untuk selalu mengingat-Nya atau menyaksikan-Nya dengan
penyaksian hati/ruh kepada Allah SWT saat terlahir atau berada di dunia yang fana ini,
coba baca dan simak baik-baik firman Allah SWT berikut ini:
172. dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
"Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi
saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:
"Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",
(Q.S Al A’raaf (7) ayat 172)


Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia
menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali
bersyukur.(Q.s As Sajdah (32) ayat 9)


Dan untuk dapat mengenal siapa diri kita…? untuk apa kita di ciptakan…adalah hanya
Dengan mengikuti bimbingan seorang Guru/Mursyid yang dapat membimbing hati kita untuk
menuju kepada keridho’an Allah SWT
. Sedikit membahas atas apa disampaikan oleh Prof. DR.
 Mahfud MD bahwa untuk menggapai cinta Allah adalah dengan shalat tepat waktu dan tepat
caranya. Apakah tepat waktu shalat yang dimaksud adalah tepat di awal waktu shalat, dan
tepat caranya itu apakah tepat pelaksanaan tata cara amal ibadahnya dalam tata cara
syari’at yang disunnahkan Rasulullah SWT. Kalaupun tepat waktu dan tepat tata cara
pelaksanaan syari’at shalatnya, itukan tidak perlu dibicarakan lagi, karena semua orang
sudah tau caranya, tapi yang dimaksudkan dalam ulasan ini dan yang menjadi pokok
permasalahannya adalah bagaimana untuk dapat meraih cinta Allah itu…? apakah hanya
sebatas perbuatan ritual fisik di dalam pelaksaan amal ibadah semata dan berbuat baik
sesama makhluk ciptaan Tuhan untuk dapat meraih cinta Allah itu…?!, tidak begitu kata
Allah,  sesungguhnya Allah SWT hanya Ridho terhadap orang yang menepati janji jiwanya,
yaitu janji untuk mengembalikan kebersihan dan kesucian hati/jiwa kita, itulah fitrah
Allah, dan itulah Haq Allah sesungguhnya yang wajib ditunaikan terlebih dahulu, dan
itulah sesungguhnya awal waktu yang dimaksudkan Allah SWT. Sebagaimana dalam sebuah
hadits qudsi:

“ Tidaklah Aku akan memperhatikan HAQ hambaKu,  sebelum ia menunaikan haqKu. ’’
( H.Q.R. Thabarani dalam kitabnya Al-Kabiir yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a )


Haq Allah itu adalah Ruh Yang Bersih dan suci (fitrah) kembali. Sebagaimana dijelaskan
Allah di dalam firman-Nya:
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada
fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
(Q.s Ar Rum (30) ayat 30)


Jadi, untuk meraih cinta yang sejati, suci, murni, tulus dan abadi dari Allah, adalah
hanya satu syaratnya, yaitu: kembalikanlah Haq Allah itu terlebih dahulu, itulah Ruh
Allah yang awalnya bersih dan suci yang telah kita nodai dan kita kotori agar dapat
dikembalikan bersih dan suci, sebagaimana Allah SWT telah berfirman:
(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,
kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,
(Q.s Asy Syu’araa (26) ayat 88-89)


Apalagi bila kita mengharap atau menuntut surga Allah mustahil dapat terwujud jika
kita belum menunaikan haq Allah terlebih dahulu yaitu menunaikan atau menepati janji kita
kepada Allah terlebih dahulu, dan janji inilah yang wajib di tepati, yaitu hati atau
jiwa itu dapat kembali berhubungan atau berdzikir atau menyaksikan Allah dengan jalan
membersihkan dan mensucikan hati/jiwa (mengembalikan fitrah Allah) itulah syahadat
sebenar-benarnya dan sesungguhnya yang dimaksudkan Allah atau yang dikehendaki Allah
yang wajib ditunaikan bagi setiap muslim laiki-laki dan perempuan yang sudah Aqil
baligh sebagaimana sesuai dengan rukun Islam yang pertama, yaitu “mengucap dua kalimah
syahadat”. Coba kita pikirkan sejenak, begitu pentingnya menunaikan/menepati janji,
baik kepada sesama manusia apalagi kepada Allah SWT, bila kita berjanji kepada sesama
manusia saja dan kita tidak dapat menunaikannya (memenuhi janji kita kepadanya) pastilah
orang lain itu akan sangat marah kepada diri kita, terlebih bila kita berjanji kepada
Allah untuk selalu mengingat dan menyaksikan-Nya bila tidak dapat kita tunaikan/ kita
tepati sudah tentu Allah Sang Maha Pencipta diri kita pasti akan murkah kepada kita.
Allah SWT telah menegaskan didalam firman-Nya;
Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu
membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan
Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa
yang kamu perbuat.(Q.s An Nahl (16) ayat 91)


Jika kita sudah dapat menunaikan janji kita kepada Allah yaitu untuk selalu mengingat-Nya
atau menyaksikan Allah dengan pandangan mata hatinya maka yakinlah ia kepada Allah secara
sempurna sebagaimana dalam rukun Iman yang pertama yang wajib diyakini oleh umat yang
mengaku beragama Islam “ Beriman Kepada Allah”. Keimanan itu bukanlah hanya mengerjakan
apa yang diperintahkan Allah seperti mengerjakan shalat, berpuasa, berdzakat dan
menunaikan ibadah haji serta berbuat baik kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan, tetapi
Keimanan itu sesungguhnya adalah sesuatu hal yang ghaib, yang dapat dirasakan begitu
nyata di dalam hati yang ghaib juga untuk menyaksikan Allah Yang Maha Ghaib itu,
dan kita wajib meyakininya sebagai orang yang beriman. Allah SWT telah berfirman:
Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan
sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,
(Q.s Al Baqarah (2) ayat 2-3)


Jika kita telah dapat menyaksikan Allah yang Maha Ghaib itu dengan mata hati kita,
itulah yang dikatakan  “syahadat yang sesungguhnya” yaitu kalimat syahadat diucapkan
dengan lidah syari’at dan ditasdikkan/ dibenarkan/ disaksikan  oleh hati, maka tiada
keraguan sedikitpun di dalam hati kita untuk mengabdi kepada-Nya
. Maka segala bentuk
kebaikan dan segala amal ibadah yang kita lakukan akan tulus sebenar-benar tulus dan
ikhlas semata-mata hanya karena Allah dan hanya mengharap keridho’an Allah semata,
itulah yang sebenarnya pengabdian kepada Allah SWT. Maka sesuailah diri kita dengan
bacaan takbiratul ihram yang kita baca ketika kita mendirikan shalat: Inna shalatii
wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil-’aalamiin (Sesungguhnya shalatku,
ibadatku, hidupku dan matiku semata hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam).
Jika semua amal ibadah hidup dan mati kita hanya untuk Allah. itulah pengabdian yang
sesungguhnya kepada Allah (Q.s Ad Dzariyat (51) ayat 56) dengan segala bentuk amal
ibadah yang kita lakukan semata-mata hanya untuk Allah Azza Wajalla. Maka benarlah apa
yang dirasakan oleh Seorang Sufiyah Rabiyatul Ahdwiyah, “ Jika aku beribadah mengharap
surga-MU, berikan surga itu kepada orang Lain, Tetapi berikan cinta-MU kepadaku”,
karena dirinya telah merasakan begitu nyatanya Allah disaksikan oleh hatinya, sehingga
untuk apa surga Allah jika dirinya dapat berada dekat di sisi Allah dan meraih cinta
Allah SWT yang sejati itu.

 

Berikut sedikit kisah riwayat yang dapat kita ambil hikmahnya bahwa Allah SWT sesungguhnya
Ridho kepada orang-orang yang tulus ikhlas dalam beramal ibadahnya semata-mata hanya
karena Allah SWT:
Ulama Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al Hanzhali al Marwazi ulama terkenal
di makkah yang menceritakan riwayat ini.
Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan
tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit.
Ia mendengar percakapan mereka :
“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.
“Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.
“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”
“Tidak satupun”


Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.
“Apa?” ia menangis dalam mimpinya.
“Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan
yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir
yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”

Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.
“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi
ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni . Berkat dia seluruh haji
mereka diterima oleh Allah.”
“Kok bisa”
“Itu Kehendak Allah”
“Siapa orang tersebut?”

“Sa’id bin Muhafah tukang sol sepatu di kota Damsyiq (damaskus sekarang)”
Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun, Sepulang haji, ia tidak langsung
pulang ke rumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria. Sampai di sana ia
langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya.
Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang
namanya Sa’id bin Muhafah.“Ada, di tepi kota” Jawab salah seorang tukang sol sepatu
sambil menunjukkan arahnya. Sesampai di sana ulama itu menemukan tukang sepatu yang
berpakaian lusuh,“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Ulama itu
“Betul, Anda siapa Syekh?”
“Aku Abdullah bin Mubarak”
Said pun tercengang, "Syekh adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”
Sejenak Ulama itu kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaannya,
akhirnya ia pun menceritakan perihal mimpinya.“Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang
telah Anda perbuat, sehingga Anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?”
“Wah saya sendiri tidak tahu… ”,
jawabnya keheranan.
“Kalau begitu, coba ceritakan bagaimana kehidupan dan pengalaman Anda… ",
tanya Ulama itu.
Maka Sa’id bin Muhafah merenung, dan akhirnya bercerita,
“Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar: 'Labbaika Allahumma labbaika.
Labbaika la syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka.
laa syarikalaka'.
Ya Allah, aku datang karena panggilanMu. Tiada sekutu bagiMu. Segala ni’mat dan puji
adalah kepunyaanMu dan kekuasaanMu. Tiada sekutu bagiMu.
Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis,
'Ya Allah… Aku rindu Mekkah. Ya Allah aku rindu melihat Kabah.
Ijinkanlah aku datang… Ijinkan aku datang ya Allah…'
Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang
dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya
kumpulkan… Akhirnya pada tahun ini, Alhamdulillah, saya punya 350 dirham,
cukup untuk saya berhaji. Saya sudah siap berhaji!”

“Tapi anda batal berangkat haji”, tanya Ulama
“Benar”, jawab Said
“Apa yang terjadi?”, penasaran Ulama bertanya
Said menceritakan, “Istri saya hamil dan sering ngidam. Waktu saya hendak berangkat
saat itu dia ngidam berat. Ia berkata 'Suami ku, engkau mencium bau masakan yang
nikmat ini?'.

Aku mengiyakan pertanyaannya karena aku pun mencium bau yang sama.
Lantas ia berkata: 'Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini.
Mintalah sedikit untukku'.
Maka sayapun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata
berasal dari gubug yang hampir runtuh. Di situ ada seorang janda dengan enam anaknya
yang masih kecil-kecil. Saya bilang padanya bahwa istri saya sedang ngidam dan ingin
masakan yang ia masak walaupun sedikit saja. Janda itu diam saja memandang saya,
sehingga saya mengulangi perkataan saya. Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan:
'Maaf, tidak boleh tuan'. Saya katakan padanya dijual berapapun akan saya beli.
Namun janda itu menjawab: 'Makanan itu tidak dijual, tuan', katanya sambil berlinang
mata. Karena heran melihat ia menangis, akhirnya saya tanya kenapa.
Sambil menangis, janda itu berkata, 'Daging ini halal untuk kami dan haram untuk
tuan',
katanya. Dalam hati saya bertanya bagaimana mungkin ada makanan yang halal
untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim… Karena itu saya
mendesaknya lagi 'Kenapa?', Ia menjawab: 'Sudah beberapa hari ini kami tidak makan.
Di rumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil
sebagian dagingnya untuk dimasak. Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai
kami tak memakannya, kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram'.

Mendengar pengakuan ibu itu, saya pun tak kuasa untuk menangis, lalu saya segera
pulang. Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, dia pun menangis. Akhirnya kami
memasak makanan semampu kami dan mendatangi rumah janda itu untuk diberikan padanya,
sementara uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham, semuanya saya berikan pada
mereka agar bisa mereka gunakan untuk usaha, agar tidak kelaparan lagi. Ya Allah…
di sinilah Hajiku. Ya Allah… di sinilah Mekkahku..."

Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak tak bisa membendung air matanya..

Sumber: http://www.fotodakwah.com/2015/09/kisah-mabrurnya-seorang-yang-batal.html#ixzz4mU6r6zmw

Kembali kami menjelaskan bahwa dalam melaksanakan segala bentuk amal ibadah untuk
mendekatkan diri kepada Allah tidaklah sempurna bila hanya dilakukan dengan dimensi
tubuh saja, namun yang utama adalah bagaimana peranan jiwa/hati yang menjadi alat
yang dapat menghubungkan manusia dengan Allah SWT. Karena Allah lebih menilik/
melihat isi hati manusia, jika manusia itu beramal ibadah tanpa sebuah kebersihan
dan kesucian hati atau hati itu tidak dapat menyaksikan Allah sudah tentu segala
bentuk amal ibadah yang dilakukannya tidak akan terhubung atau jelasnya terhijab
kepada Allah atau tegasnya lagi segala bentuk amal ibadah yang dilakukan akan
menjadi sia-sia belaka di dalam pandangan dan penilaian Allah SWT.
Allah SWT pun berfirman dalam hadits Qudsi yaitu ;
“Kelak pada hari KIAMAT akan didatangkan beberapa buku yang disegel lalu DIHADAPKAN
KEPADA ALLAH S.W.T ( pada waktu itu ). Allah berfirman : “ BUANGLAH INI SEMUANYA”.
Malaikat berkata :” demi kekuasaan Engkau, KAMI TIDAK MELIHAT DIDALAMNYA  melainkan
yang baik-baik saja ”. Selanjutnya Allah berfirman :” Sesungguhnya isinya ini
dilakukan bukan karenaKu dan Aku sesungguhnya TIDAK AKAN MENERIMA kecuali APA-APA
YANG DILAKSANAKAN karena mencari KERIDHAANKU (IKHLAS) “.
(H.q.r. Bazzar dan Thabarani, dengan dua sanad atau diantara pararawinya termasuk
perawi al jami’us shahih ).


Jadi ketika di dalam menegakkan shalat, fisik yang memiliki peranan melaksanakan
gerakan shalat sesuai dengan yang disunnahkan atau yang dicontohkan Rasulullah SAW
dan mulut yang memiliki peranan untuk membaca firman-firman Allah SWT serta hati
yang juga memiliki peranan untuk tetap berdzikir secara terus-menerus (dawam) di
dalam shalat, tegasnya, ketika di dalam shalat tubuh bergerak (fiqli) mulut membaca
(qauli) dan hati yang berdzikir kepada Allah (Qalbi), dan Nabi SAW setiap gerak dan
ucapan Nabi Muhammad SAW selalu berserta Allah dan hatinya yang telah Baqabillah
selalu beserta Allah. Maka benarlah manusia ini di dalam pandangan manusia dan benar
pula di dalam pandangan dan penilaian Allah di dalam menjalankan tugasnya, itulah
yang dikatakan atau yang disebut dengan “Islam Yang Kaffah (sempurna)” 

Untuk dapat kembali menyaksikan Allah haruslah-lah melalui tahapan-tahapan proses
pembersihan hati dengan methode atau cara yang telah teruji dan di uji kebenarannya
secara benar, pas, tepat dan terarah di dalam mendekatkan diri mengabdi secara benar
dan pasti bisa dirasakan oleh yang mengamalkannya, yaitu:
  1. Takhali, mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela/kotor (Q.s Al Baqarah (2) ayat 10)
  2. Tahali, Mengisi diri dengan sifat-sifat terpuji (Q.s Al Fajr (89) aya 27-30)
  3. Tajalli. Setelah hati kembali bersih dan di isi dzikirirullah, maka nyatalah
      Tuhan dalam pandangan mata hatinya. (Q.s An Nuur (24) ayat 35)

Sebagaimana dalil yang shahih 1400 yang lalu tahun ketika Sayidina Ali Bin Abi Thalib
yang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW bagaimana cara untuk dapat mendekatkan diri
kepada Allah SWT, kemudian Rasulullah SAW bersabda:
“Ya Ali, pejamkan kedua matamu, lekatkan (rapatkan) kedua bibirmu, naikkan lidahmu
kelangit-langit dan sebutlah : Allah… Allah…Allah…” (H.R Thabarani dan Baihaqi)


Jadi jelas bahwa cara yang paling tepat dan cepat untuk dapat mendekatkan diri kepada
Allah sebagaimana yang termaksud dalam Q.s Adz Dzariyat (56) ayat 51 adalah dengan
mengamalkan amalan-amalan sunnat yaitu amalan dzikir Ismu Dzat, Dzikir Nafi Isbat dan
Dzikir Muraqabah Ahdiyah yang menjadi dasar pengamalan di Thariqat khususnya di thariqat
 Naqsyabandi Jabal Hindi menuju tasawuf (yaitu menuju hati yang bening dan bersih hanya
mentauhidkan Allah di dalam hatinya). Beribu-ribu orang sudah mengamalkan amalan
dzikrullah ini dan menyatakan bahwa ketentraman hati lebih sangat dirasakan dan
shalatnya yang selama ini hubar habir (berantakan) dan tak tentu arah dan entah apa
saja yang di ingat, dan setelah mengamalkan dzikir di thariqat hatinya dapat lebih
focus di dalam shalatnya walaupun belum dapat khusyuk secara totalitas.
Begitu tingginya keyakinan Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan kepada Allah SWT,
beliau memberikan jaminan berdasarkan firman Allah SWT kepada setiap murid-muridnya
bagi yang mengamalkan amalan dzikir di thariqat dengan mengatakan:
“jika kalian tidak mengalami perubahan yang lebih baik selama 3 bulan, maka beliau
bersedia di gergaji lehernya menggunakan gergaji tumpul, tapi dengan satu syarat harus
benar-benar diamalkan dengan sungguh-sungguh ya…?”
 
karena Allah SWT telah

menegaskan di dalam firman-Nya:
Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu,
maka pasti kamu akan menemui-Nya. (Q.s Al Insyiqaaq (84) ayat 6)


205. dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut,
dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu
Termasuk orang-orang yang lalai.(Q.s Al A’raaf (7) ayat 205)


Rasulullah SAW bersabda:
Sebaik-baik dzikir adalah dzikir dengan samar (khafi) dan sebaik-baiknya rezeki adalah
rezeki yang mencukupi, Nabi juga bersabda : “Dzikir yang tidak terdengar oleh malaikat
pencatat amal (maksudnya dzikir khafi) mengungguli atas dzikir yang dapat didengar
oleh mereka (dzikir jahri) sebanyak tujuh puluh kali lipat.” (HR. Al Baihaqi)

Itulah keterangan hadit tersebut di atas, artinya: hadits tersebut untuk memotiviasi
diri kita bahwa pentingnya berdzikir dengan hati, sedangkan bagi orang-orang sufi
(pengamal ilmu tasawuf) tidak ada niat di dalam hatinya untuk mendapat amal kebaikan 70
kali lipat di dalam berdzikirnya, atau tujuan berdzikirnya dan tujuan beramal ibadah
apa saja tidak pernah mengharap pahala, fadilah amal, surga dan ganjaran-ganjaran
kebaikan lainnya, yang diharapnya adalah hanya keridho’an Allah semata dengan ijab
qabulnya: “Illahi Anta Maqsyudi Waridhoka Mathlubi (Ya Allah..hanya Engkau yang aku
maksud tiada yang lain, dan Ridho-Mu jua dambaku tiada yang lain),
artinya: bila Allah senang kepada hamba-Nya, maka hamba-Nya itu akan di jamin
kehidupannya di dunia yang akan selalu merasakan ketentraman dan ketenangan di dalam
hatinya bersama dengan Allah dalam situasi dan kondisi apapun.

Kembali kepada pembahasan seputar JANJI kepada Allah, bahwa untuk dapat mengembalikan
janji kita kepada Allah untuk selalu mengingat-Nya adalah dengan menuntut ilmu, karena
 menuntut ilmu itu hukumnya wajib (Fardhu ‘ain) bagi yang sudah aqil baqih, Mukallaf
(dewasa), meninggalkannya berarti terus dalam keadaan berdosa (fasik), sedangkan
 menuntut ilmu yang wajib Fardhu ‘ain itu adalah: Ushuluddin, fiqih dan Tasawuf:

  1. Ilmu Usuhuluddin (Kalam/Tauhid) adalah; ilmu yang mempelajari tentang pokok-pokok
     atau dasar-dasar agama.

  2. Ilmu Fiqih adalah salah satu bidang ilmu dalam syariat Islam yang secara khusus
     membahas persoalan hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, baik
     kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun kehidupan manusia dengan Tuhannya.

  3. Ilmu Tasawuf adalah adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa,
     menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin serta untuk memperoleh kebahagian
     yang abadi.

Jadi jelas, bahwa untuk dapat membersihkan hati agar dapat mengenal Allah haruslah
menuntut ilmu tasawuf kepada Ahlinya, yaitu di Thariqat menuju tasawuf  dimanapun yang
kita yakini yang mu’tabarah yaitu memiliki silsilah yang tersambung dengan baik sampai
kepada Baginda Rasulullah SAW serta berdasarkan Al Qur’an dan Al Hadits. Sebab disetiap
thariqat tersebut tentulah memiliki methode dzikrullah yang terbimbing oleh Mursyid
sebagai wasilah yang menyambungkan hati murid kepada Allah SWT, karena manalah mungkin
hati kita dapat sampai mengenal Allah tanpa ada yang menghantarkannya yaitu seorang
Mursyid atau Guru Rasyid atau seorang Mursyid yang Kamil Mukamil (seorang mursyid yang
sudah sempurna dalam wushulnya kepada Allah atau hatinya yang telah sampai kepada Allah
dan dapat menyempurnakan muridnya untuk juga wushul kepada Allah) yang benar-benar
hatinya telah mengenal Allah secara penuh dan sempurna karena Allah-lah yang Maha
sempurna dan bila hati kita hanya Allah saja maka pada hakikatnya Allahlah yang dapat
menyempurnakan hati itu dari mengenal-Nya,

Ibaratnya: Manalah mungkin Handphoe yang kita gunakan dapat nyambung kepada orang yang
akan kita hubungi jika tidak ada sinyal melalui satelit pemancar sebagai perantara,
seperti itulah peranan mursyid yang merupakan perantara bagi seorang penuntut ilmu
tasawuf untuk menuju kepada Allah. tanpa seorang Guru atau Mursyid Kamil Mukamil yang
telah benar-benar telah mengenal Allah maka akan dikhawatirkan murid tersebut akan
tersesat hatinya dari menuju kepada Allah, dan Musyid yang tidak Kamil Mukamil,
maka Mursyid tersebut tidak berhak untuk mengantarkan muridnya kepada Allah dan yang
di dapat dalam majelis tersebut hanyalah sebuah bentuk perkumpulan-perkumpulan yang
bermudzakarah tentang Allah saja, tetapi tidak pernah hatinya istiqomah, berkekalan
kepada Allah (Baqabillah), KUSANGKA PRIA RUPANYA ROKAN, KUSANGKA IA RUPANYA BUKAN.


Bukankah Allah SWT sudah menegaskan dalam Al-Quran surat Almaidah (5) ayat 35,
agar diri kita bergegas mencari washilah untuk dapat mendekatkan diri kepada Allah,
yang tentunya wajib menuntut ilmu kepadanya serta berjuang secara sungguh-sungguh untuk
dapat membuang segala penyakit-penyakit hati yang dapat menutupi atau menghijab hati
manusia dari mengenal Allah, sehingga hati/jiwa tidak dapat kembali menyaksikan Allah,
sebagaimana dalam firman-Nya:
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa
yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (Q.s Al Baqarah (2) ayat 10)


Sebab, tanpa belajar menuntut ilmu kepada ahlinya yaitu ahli dalam dzikir hati
(Ahladzikri), sudah tentu manusia itu tidak dapat mengenal Allah kecuali Allah
menghendaki bagi orang-orang yang dipilih-Nya, akan tetapi perlu diingat kalau tidak
menuntut ilmunya apakah kita salah satu orang yang dipilih atau yang dikehendaki Allah
itu…?, jujurlah pada hati kita karena agama itu JUJUR, apakah hati kita sudah benar-
benar mencintai Allah secara penuh, murni  serta berkekalan hanya mengingat, menyaksikan
dan hadir Allah dihati kita disetiap saat dan waktu..? atau dapatkah hati kita dapat
kembali fitrah atau bersih dan suci kalau tidak menuntu ilmu…? Kalau hati kita sudah
kembali bersih dan suci, maka berbahagialah diri kita dengan Allah, namun jika belum
wajiblah diri kita mencari washilah dan belajar kepadanya agar diri kita mendapat
keberuntungan, atau sebaliknya diri kita akan selalu merugi dalam penilaian disisi
Allah. seperti ceramah yang disampaikan oleh ustadz Kasif Heer pada acara
“damai Indonesiaku” di stasiun TV1 tanggal 2 Juli 2017, yang mengatakan bahwa yang
pertama kali di seret ke  api neraka pada hari kiamat adalah”petama: orang yang banyak
membaca Al Qur’an, kedua: penyampai ilmu agama atau pendakwah, Ketiga: Orang Yang
berjihad” semuanya mendapat adzab Allah SWT karena niat di hati mereka tidak karena
Allah SWT.

Mohon maaf lahir dan bathin kepada saudara-sadauraku, Sesuatu yang HAQ haruslah
disampaikan dan bukan berarti saudara-saudaraku salah, tapi Tuan Guru  Syekh. MUhammad 

Hirfi Nuzlan hanya berpesan dan berharap dari segi hablumminannas agar para Ustadz-
Ustadzah, para Kiyai, para Pendakwa, para Da’I, para Mufasirin, para Muhaditsin, para
Qori’-Qori’ah, para Hafidz Qur’an,  para Profesor, para Doktor yang bergelut dan piawai
dalam bidang ilmu agamanya masing-masing atau bagi siapa saja, perlu diperhatikan agar
kita benar-benar sadar  bahwa apa yang kita sampaikan haruslah sesuai dengan hati kita.
Karena sesungguhnya  Allah SWT tidak melihat bentuk amal atau rupa kita, tapi Allah hanya
melihat isi hati kita. Allah SWT telah berfirman:

Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada
kamu kerjakan. (Q.s Ash Shaf (61) ayat 2-3)


Maka dari itu SADARILAH dan ROBALAH IMAN KEPERCAYAAN kita masing-masinng dengan
mengembalikan RUH Allah yang bersih suci itu (fitrah) seperti semula dengan jalan
menuntut ilmu yang wajib fardhu a’in itu kepada Ahlinya atau mencari wasilah yang
mu’tabarah. Tinggalkan rasa gengsi, rendahkan hati walaupun ilmu kita segudang untuk
mencintai Allah atau dicintai Allah kalau belum tahu cara atau mehtode untuk berdzikir
hati ini kepada Allah. semua orang bisa mengatakan “Hatiku sudah berdizkir kepada Allah”,
janganlah selalu terus menerus menipu diri kita sendiri bersikap jujurlah kepada hatimu
sendiri karena firman Allah sudah cukup jelas. Karena orang tidak dapat melihat isi
hatimu, kamu berani mengatakan “hatiku terus berdzikir”, padahal kamu paling mengetahui
akan hatimu sendiri berdzikir atau tidaknya hatimu kepada Allah
.Karena Allah SWT telah
berfirman:
Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.
 (Q.s An Najm (53) ayat 11)

Apalagi kita berani mengatakan “hatiku terus berdzikir secara istiqomah secara terus
menerus”, manalah mungkin kita dapat berdzikir secara istiqomah kalau kita tidak tahu
tata cara atau methodenya, tapi kalau Allah berkehendak tiada yang mustahil bagi Allah,
tapi apakah pantas hati kita yang belum bersih dan suci itu untuk selalu beserta Allah
Yang Maha Suci itu.

Dari itu, bersegeralah kita untuk menuntut ilmunya dengan merendahkan hati kita kepada
seorang yang ahli di dalam menuntun, mengarahkan dan membimbing  hati kita untuk menuju
kepada keridhoan Allah SWT, karena orang beriman diseur Allah lagi atau di tekankan
Allah lagi untuk tunduk khusytuk hati kita hanya kepada Allah.
Seperti Allah SWT Berfirman yang artinya:
“Belumkah datang(belum tiba, belum segera, belum mau) waktunya bagi orang-orang yang
beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun
(kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah
diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu
hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik”.
(Q.S.Al-Hadiid (57) ayat 16).


Rasulullah Saw bersabda yang Artinya:
“Rubahlah Iman Kepercayaanmu. ditanya: Ya Rasulullah bagaimana cara memperbaharui iman,
Rasulullah menjawab: perbanyaklah membaca Laailaha Illallah”.
(Hadits Riwayat Al-Hakim.


Abu Said Al Kudri r.a berkata : Nabi SAW bersabda :
Nabi Musa a.s berdo’a : Ya Rabbi ajarkan padaku sesuatu untuk berdzikir kepadaMu.
Jawab Allah : Bacalah : La ilaha illallah. Musa berkata : Ya Rabbi semua orang membaca
itu, dan aku ingin yang istimewa untukku. Jawab Allah : Hai Musa andaikata tujuh petala
langit dan penghuninya dan tujuh petala bumi  di letakkan di sebelah timbang  La ilaha
illallah, niscaya akan lebih berat  kalimat la ilaha ilallah melebihi dari semua itu .
( H.R Annasa’I )


Um Hani r.a berkata: Nabi Saw bersabda:
“Kalimat La ilaha illallah itu tidak dapat di kejar oleh lain amal, dan tidak
meninggalkan dosa (ya’ni tidak ada amal yang lebih besar dari padanya,
dan semua dosa dapat di hapus sehingga tidak ada sisanya).”
( H.R Ibn. Majah).


Ali r.a berkata : Nabi SAW bersabda : Jibril a.s berkata :
Allah ta’ala berfirman : La ilaha illallah  itu sebagai bentengku, maka siapa yang
masuk kedalamnya aman dari siksaku . ( H.R Ibn Asakir ).
Allah SWT pun berfirman dalam hadits Qudsi yaitu ;
“Kelak pada hari KIAMAT akan didatangkan beberapa buku yang disegel lalu
DIHADAPKAN KEPADA ALLAH S.W.T ( pada waktu itu ). Allah berfirman : “ BUANGLAH INI
SEMUANYA”. Malaikat berkata :” demi kekuasaan Engkau, KAMI TIDAK MELIHAT DIDALAMNYA 
melainkan yang baik-baik saja ”. Selanjutnya Allah berfirman :” Sesungguhnya isinya
ini dilakukan bukan karenaKu dan Aku sesungguhnya TIDAK AKAN MENERIMA kecuali APA-APA
YANG DILAKSANAKAN karena mencari KERIDHAANKU (IKHLAS) “.
( H.q.r. Bazzar dan Thabarani, dengan dua sanad atau diantara pararawinya termasuk perawi
al jami’us shahih ).


Firman Allah dan hadis di atas cukup jelas
(Al-Quran Surat  Al-hadid (57) ayat 16)  dan akan
diterangkan lebih jelas  oleh  Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan bahwa sesungguhnya:
Allah memerintahklan kepada orang-oring beriman yaitu orang-orang yang sudah beriman
menurut perbuatan yang mematuhi segala perintah-perintah Allah dan menjauhi segala bentuk
larangannya disebutlah beriman, akan tetapi Qur’an Surat Al-hadiid ini adalah supaya membuka
pikiran dan akal yang sempurna pada diri kita mengapa Allah menekankan lagi bagi orang yang
beriman untuk tunduk khusyuk hati mereka berdzikir mengingat Allah, hal itu berarti beriman
saja tidaklah cukup dalam pandangan Allah atau yang dikehendaki disisi Allah, belum lagi
Allah menekankan agar diri kita bertaqwa kepadanya, apalagi sebenar-benar taqwa, karena
sebaik-baik pakaian adalah TAQWA, cukup jelas bukan..?,
jadi agar dapat mencintai dan
dicintai Allah, hanya satu saja syaratnya yaitu kembalikan RUH yang bersih suci itu yang
Allah punya dengan mengikuti proses-proses tanjakan kerohanian melalui method-methode
dzikrullah yang sasaran utamanya adalah QOLBU (hati kita) dibawah dan di dalam bimbingan,
arahan dan pertunjuk dari Mursyid yang Rasyid dan Kamail mukamil yang sudah sampai atau
sudah duduk hatinya berkekalan dan Baqo billah bersama Allah.


Mohon maaf kami kepada Bapak Dr.  K.H. M. Muzammil Basyuni dan Bapak Prof. DR. Mahfud, MD
yang sebesar-besarnya kepada orang tua kami yang sangat kami sayangi dan yang sangat kami
cintai, khususnya bagi bapak Dr.  K.H. M. Muzammil Basyuni, karena sebelumnya kita pernah
bertemu didalam pernikahan anak Prof.DR. Muhammad Syahrin Harahap MA, di kediaman beliau
di Jl. Bhayangkara Gg. Mesjid No.12 Medan Sumatera Utara, yang pada waktu itu Bapak
Dr.  K.H. M. Muzammil Basyuni menerangkan tentang Ruh,  ini adalah untuk kita bersama
menuju kepada keridhoan Allah bagi anak-anak bangsa ini khusus umat Islam, dan bagi agama
lain tetap tauhidkan Tuhan didalam hati penganut keyakinan agama itu, menurut tata cara
syariat yang ditentukan Allah.

Seperti Allah SWT berfirman yang artinya:
“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan,
maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah
kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus”.
(Q.S.Al-Hajj (22) ayat 67).


Begitu banyak keterangan dan penjelasan, perintah-perintah Allah didalam Al-qur’an sebagai
firman Allah, seruan Rasulullah SAW melalui Hadits, dakwah-dakwah agama, buku-buku Agama
dan apa lagi namanya yang menyeru manusia agar menuntut ilmu agar dapat mengenal dan mencintai
Allah yang Maha Agung yang telah menciptakan dirinya, akan tetapi masih banyak yang masih
mengabaikan akan perintah untuk menuntut ilmu yang sebenarnya untuk kebaikan dirinya sendiri
dan dapat menolong dirinya itu, sungguh sangat mengherankan, padahal Nabi Musa yang dikenal
paling pintar di zamannya saja mau merendahkan hatinya untuk belajar menuntut ilmu kepada Nabi
Khaidir as seorang hamba yang sholeh.Seperti Allah SWT berfirman yang artinya:
Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku
ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?"
(Q.S. Al-Kahfi (18) ayat 66)


Bayangkan saja, Musa seorang Nabi saja mau belajar karena Allah yang memerintahkannya
untuk belajar kepada Nabi Khidir sebagai ahlinya, bagaimana pula diri kita yang tidak
mau atau enggan belajar menuntut ilmu untuk dapat benar-benar mengenal Allah..?, apakah
kedudukan kita sudah lebih tinggi dari nabi sehingga enggan menuntut ilmu…? Maka dari
itu segerakanlah diri agar menyingsingkan lengan baju kita untuk melangkahkan kaki
menuntut ilmu kepada ahlinya sebelum terlambat, karena sadar atau tidak sadar, mau atau
tidak mau, yakin atau tidak yakin, pasti diri kita akan menemui kematian dan akan
kembali kepada-Nya  dengan mempertanggung jawabkan ruh/hati sebagai amanah yang dititipkan
 Allah kepada kita agar selalu dijaga kebersihan dan kesuciannya dengan hati yang selalu
setiap saat berdzikit mengingat Allah kapanpun dan dimanapun diri kita berada. Sehingga
nantinya dapat kembali menghadap Allah dengan hati yang bersih dan suci disaat ajal menjemput
dimana-mana waktu, waktu mana yang dikehendaki-Nya.

Sebagaimana firman Allah SWT:
88. (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,
89. kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,
(Q.s Asy Syu’araa (26) ayat 88-89)


Untuk itu marilah mempersiapkan diri dan hati kita untuk bersungguh-sungguh didalam
menuntut ilmu agar dapat meraih cinta Allah secara tulus dan murni dengan segala bukti
perbuatan amal ibadah dan akhlak yang mulia yang disertai kebersihan dan kesucian hati
dengan hanya untuk mengabdi kepada Allah secara utuh dan sempurna dengan hati yang
tunduk dan khusyuk hanya berdzikir kepada Allah secara istiqomah. akhirul kalam,
semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung disisi Allah, yaitu orang-orang yang
terus-menerus memperbaiki diri terutama hati kita agar senantiasa hanya dapat mencintai
Allah dalam kehidupan di dunia yang fana ini sampai akhir hayat dikandung badan,
amiin.., amiin.., yaa rabbal ‘alamiin.

       

 

Bagikan :

Komentar

Tambah Komentar (0)

Batal

Balas Komentar

Komentar Berhasil diterbitkan
Komentar tidak dapat diterbitkan Silakan coba lagi..!
Alamat email yang anda masukkan salah..!
Alamat web yang anda masukkan salah..!
Kode Captcha yang anda masukkan salah...!
Bidang tidak boleh ada yang kosong....!

Artikel Terbaru