Menanggapi Rakernas MUI tahun 2007

 

MENANGGAPI KEPUTUSAN RAKERNAS MUI TAHUN 2007

Keputusan Rakernas MUI, pada tanggal 06 Nopember 2007 tentang “Pedoman Identifikasi Aliran sesat” pada BAB VI Kriteria Sesat (point 5), mengatakan: Suatu faham atau aliran keagamaan di katakan sesat apabila memenuhi salah satu dari kriteria, yaitu pada point 5: Melakukan penafsiran Al Qur’an yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir.

Tanggapan :
Mursyid/Guru Besar/Mujaddid
Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan
Bin H. Muhammad Thahir Bin Muhammad Isa Bin Malan

Saudara-saudara kami, para orang-orang tua kami yaitu para Alim Ulama, para Kiyai dan para Ustadz-Ustadzah, yang duduk di lembaga Majelis Ulama Indonesia yang kami hormati, kami sayangi, kami kasihi dan sangat kami cintai. Kami mau bertanya kepada Majelis Ulama Indonesia, bolehkah kita berbeda pendapat….? Kalau boleh, baiklah akan kami uraikan pendapat dan pemahaman menurut Mursyid/Guru Besar/Mujaddid Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan Bin H. Muhammad Thahir Bin Muhammad Isa Bin Malan, karena pada dasarnya kita adalah satu keyakinan yang bernaung di bawah payung agama Islam. Karena tujuan kita dalam beramal ibadah hanyalah satu, yaitu untuk dapat mengikhlaskan hati dan mencintai Allah sepenuh hati kita. 

Allah SWT berfirman:
Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati,(Q. S Al Baqarah (2) Ayat 139)

Dan juga Allah SWT berfirman cukup terang, jelas dan tegas:
(1) Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa,
(2) Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
(3) Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,
(4) dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia".
    (Q.S Al Ikhlas (112) ayat 1-4)  

Jadi, kalau hati kita belum Istiqomah atau belum berkekalan maka belumlah dikatakan Bergantung kepada Allah atau belum beraqidah sebenar-benar aqidah, dan itu pula yang dikatakan Allah sebanar-benar Taqwa, bukan seseorang atau kelompok orang yang dapat mengatakan sebenar-
benar taqwa dan sebenar-benar beraqidah.

Secara bahasa, Tafsir berasal dari kata الفَسْرُ, yaitu “menyingkap sesuatu yang tertutup (rahasia)”. 
Menurut pemahan Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan; menyingkap sesuatu yang tertutup (rahasia) tidaklah dapat kita ungkap tabir rahasia itu jika hanya bergantung kepada ilmu yang kita pahami dan kita ketahui serta kita mahiri, karena Allah itu GUDANG RAHASIA (MAHA RAHASIA). Bagaimana mungkin rahasia itu di buka/diberitahukannya tanpa mengetahui dan menemukan kunci rahasia dan membuka gudang rahasia itu yang tergembok dan tertutup begitu rapatnya. Adapun syarat untuk membuka pintu rahasia itu dengan kunci pokoknya adalah hanya dengan satu cara yaitu : DENGAN BERTAUHID KEPADA ALLAH DENGAN MEMBUANG SEGALA PENYAKIT-PENYAKIT YANG BERSARANG DI DALAM HATI KITA MASING-MASING…jika ada….??! Itulah pokok dasar beragama; “Awaluddin Ma’rifatullah (awal agama adalah mengenal Allah)” atau yang disebut dengan ilmu “Usuluddin” secara bahasa, yaitu; mengkaji asal usul agama, dan dari segi isi kandungannya ialah mengkaji perkara-perkara yang menjadi intipati agama itu, dan intipati adalah Tuhan dan makhluk khasnya manusia, yaitu kepercayaan dan hubungan manusia itu dengan Tuhannya, inilah yang dinamakan iman dan Tauhid.

Dalam sebuah hadits Qudsy Allah SWT berfirman: “Manusia itu rahasiaKu dan Aku rahasianya.”dikutip dari kitab Sirrul Asrol oleh Syekh. Abdul Qadir Jailani, Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan memaknai bahwa; mengetahui rahasia Allah itu atau jika ingin mengetahui Rahasia Allah itu kuncinya adalah Tauhid dan beraqidah secara benar-sebenar-benarnya untuk bertauhid dan beraqidah yang sebanar-benarnya dari padangan dan penialain Allah dengan jalan membersihkan jiwa/hati kita masing-masing. Namun, perlu diingat dan diketahui untuk hati ini dapat bertauhid sebenar-beanar tauhid hanya Allah saja yang ada di hati kita (ini yang dikatakan sebenar-benar aqidah) syaratnya wajib membersihkan segala penyakit-penyakit hati yang bersarang di hati kita itu sendiri dengan jalan mengetahui ilmu fiqih dalam tata cara beramal ibadah agar  dalam syari’atnya kita benar memenunuhi syarat dan rukunnya. Tujuan beramal ibadah itu semuanya berhaluan hanya kepada Allah semata. Bagi orang thariqat beramal ibadahnya mengikuti methode tahapan-tahapan dzikrullah, seperti tahapan:

1. Dzikirullah Ismudzat yang pada dasarnya melatih-latih untuk menyebut Allah di dalam hati (Q.S Al A’raaf (7) ayat 205),

2. Begitu juga Dzikrullah Nafi Isbat yaitu kalimat “Laa ilaha Illallah” yang membacanya dijaharkan dengan lidah syari’at dan ditasdikkan       dengan lidah bathin yang selalu menyebut            “Allah”, baru benarlah kita mentauhidkan Allah di dalam hati kalau sudah istiqomah melekat dan       berkekalan hatinya hanya kepada Allah, sehingga rahasia Allah itu akan diberitahukannya kepada hati yang selalu bersamanya, itulah Allah      langsung yang mengajarinya apa-apa yang tidak diketahui oleh insan lain,  maka Allah SWT berfirman:
   (Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: "Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada    kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)".(Q.S Al Kahfi (18) Ayat 10)
 
3. Tahapan Dzikirullah Muraqabah Ahdiyah; yaitu : bagi si salik (pengamal thariqat) wajiblah mengintip prilaku atau kerja hati agar selalu       hanya Allah yang ada di hatinya, serta membuang segala macam bentuk kotoran-kotoran hati.
   Sebagaimana Allah SWT telah berfirman:
   sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu,dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
   (Q.S Asy Syams (91) Ayat 9-10)


Itulah tahapan-tahapan bagi seorang pengamal Thariqat yang ilmunya di tasawuf (hati yang bening dan bersih fitrah kembali seperti semula); yaitu membuang berbagai kotoran-kotoran hati (Takhalli) dan mengisi hati ini dengan segala perbuatan-perbuatan terpuji (tahalli) yaitu hanya memuji Allah saja di dalam hati. Terpujilah bagi siapa saja bila hatinya telah istiqomah dengan Allah (Mahmudah) dan merugilah orang-orang yang mensyarikatkan Tuhannya, yang merupakan perbuatan tercela (mazmumah).

Jadi, Tuan Guru tidak sepaham dan tidak sependapat jika memahami Tafsir Al Qur’an hanyalah sebatas berdasarkan kaidah-kaidah tafsir atau ilmu lain yang berhubungan dengannya. Tanpa Allah di hati kita, itulah pekerjaan Ahli Kitab yaitu; orang yang menggantungi akalnya yang juga tidak salah karena Allah memberikan kebebasan pilihan kepada hidup kita. Sehingga dapat dipahami bahwa menafsirkan Al Qur’an adalah menyingkap rahasia atau hikmah di balik penafsiran isi Al Qur’an itu sendiri, Karena Allah SWT telah berfirman:
Inilah ayat-ayat Al Qur'an yang mengandung hikmah, (Q.S Lukman (31) Ayat 2)

Allah SWT telah berfirman:
Sebenarnya, Al Qur'an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang dzalim.(Q.S Al Ankabut (29) Ayat 49)

Jelas bukan bagi kita semua, bahwasannya ilmu itu ada di dalam dada, tepatnya di dasar hati yang sebutan hakikatnya “Sirullah”. Tegasnya, bahwa ilmu itu bukan di akal, tetapi menuntut ilmu haruslah menggunakan akal hanya sebagai sarana atau jalan untuk menuju KETAKWAAN.

Bagaimana seseorang, kelompok orang, segolongan orang, apalagi ahli kitab mau mengetahui (mengungkap) rahasia Allah kalau hanya bergantung kepada akal semata berdasarkan ilmu yang di pelajarinya, ilmu yang dikuasainya, ilmu yang dimahirinya dapat menentukan dan memutuskan suatu perkara, bahwa menafsirkan Al qur’an tanpa kaidah-kaidah tafsir adalah sesat. Sangat lucu bukan…? Itupun kalau diri kita sadar dan menyadarinya bahwasanya ada yang lebih dari segala-galanya dari diri kita yaitu Allah Dzat Yang maha Suci dan Maha Mulia itu…… AWAS!!!! JANGAN SAMPAI MENJADI FIR’AUN KEDUA, KAMI HANYA MENGIKHLASKAN HATI KEPADA-NYA karena Allah tempat bergantung segala sesuatu, dan semua ilmu adalah milik dan kepunyaan Allah. Sadarlah diri kita, jangan sampai mengatur Allah dan meniadakan kekuasaan Allah yang bisa berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya.  Menyaksikan Allah Yang Maha Nyata itu di dalam hati dengan pandangan dan penyaksian bahwasannya melihat, mengenal serta menyaksikan Allah  (yang disebut ihsan) itu adalah dengan mata hati pula atau dengan jiwa yang telah kembali bersih dan suci seperti semula sebelum ruh di tiupkan kedalam janin = itulah rukun Islam yang pertama yaitu bersyahadat.

Sebagaimana yang telah di firmankan Allah SWT:
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",
(Q. S Al A’raaf (7) Ayat 172)


Walaupun dirinya mengatakan memiliki berjuta-juta gudang ilmu, berjuta-juta keahlian tafsir, berjuta-juta gelar akademis keagamaan, berjuta-juta kemahiran & kepiawan dalam berceramah dan dakwah apalagi sekelompok orang, segolongan orang untuk menyepakati bahwasannya menafsirkan Al Qur’an itu harus memenuhi kriteria kaidah-kaidah tafsir Al Qur’an maupun ilmu lainnya semuanya ini tidaklah dapat di terima Allah, tapi kami menghargai dan menghormati disiplin-disiplin ilmu itu. apalagi bagi orang-orang yang telah menuntut ilmu tasawuf jalan beramal ibadahnya melalui thariqat, terkhusus bagi orang-orang sufi yang dalam hidupnya di dalam kesehariannya, di dalam beramal ibadahnya dan dalam aktifitas kehidupannya sehari-hari serta disetiap tarikan dan hembusan nafasnya tidak pernah lepas hanya Allah saja di dalam pikiran apalagi qalbunya yang selalu berkekalan berdzikir kepada Allah.

Kalau hanya Islam yang diterima dan agama yang paling benar, tidak ada agama selain agama Islam yang diterima di sisi Allah. Kami pun sepakat dan sepaham serta meyakini bahwa hanya agama Islam yang diterima Allah, karena sesuai firman Allah itu sendiri:
Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam....(Q.S Ali Imran (3) Ayat 19)

Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Q.S Ali Imran (3) Ayat 85)

Namun, dalam pandangan dan pemahaman serta penafsiran ilmu tasawuf yang disampaikan oleh Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan, pengertian dan makna Islam yang sesungguhnya itu atau Islam secara kaffah adalah sesuai apa yang difirmankan Allah itu sendiri:
Maka apakah orang-orang yang dilapangkan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.(Q.S Az Zummar (39) Ayat 22)

Kalau mau dilihat sesat yang amat nyata itu adalah : orang-orang yang tidak berdzikir (mengingat) hatinya kepada Allah, dan yang menerima agama Islam itu adalah orang-orang yang lapang dadanya. Karena Allah Yang Maha Lapang itu selalu disebut–sebutnya di dalam hatinya. Dan hanya Allah-lah yang dapat memberikan kelapangan, ketentraman dan ketenangan kedalam hati setiap orang-orang yang hatinya yang kembali bersih dan suci selalu setiap saat dekat dan menyaksikan Allah secara istiqomah, di dalam Islam disebut sebagai orang mu’min, sehingga Allah yang membimbing langsung hati/jiwa orang-orang yang selalu beserta dengan-Nya (Dzikrullah).

Sebagaimana yang di firmankan Allah SWT:
Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(Q.S An Nuur (29) Ayat 35)


Sehingga bagi orang-orang yang telah setiap saat hatinya berkekalan beserta Allah SWT, maka Allah menjamin sebuah kebahagiaan yang hakiki dan abadi di dalam hatinya.

Sebagaimana janji Allah di dalam firman-Nya:
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (Q.S Ar Raad (13) Ayat 28)

Dan firman Allah SWT:
Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, (Q.S Al Fath (48) Ayat 4)


Itulah yang disebut Allah “ENGKAULAH HABIBULLAH (KEKASIH ALLAH) “secara intern pribadi, dan tidak disebut nabi dan rasul lagi di akhir zaman karena Nabi  sudah di tutup dengan sempurnanya ajaran yang di bawa oleh Junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, maka sempurnakanlah pikiran terutama hati kita sempurna nama Allah.

Menafsirkan Al-Quran berdasarkan kaidah tafsir atau berlandaskan ilmu yang berhubungan dengan penafsiran Al-Qur’an tidaklah salah, karena benarlah akal itu menurut ilmunya dan benar pula ilmu itu menurut akalnya. Namun perlu diketahui dan sangat perlu dipahami serta dihayati, apakah ilmu Allah itu sebatas penafsiran sesuai dengan kaidah tafsir yang dibuat oleh akal pikir manusia semata...?! Kenapa kita lupa dan kita tidak sadar, bukankah ilmu yg diberikan Allah kepada kita hanyalah sedikit sekali.

Sebagaimana yang telah difirmankan-Nya:
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanl ah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".(Q.S Al Israa’ (17) ayat 85)


Namun, mengapa dengan akal pikir yang kita miliki beraninya membatasi ilmu Allah SWT serta membatasi kekuasaan-Nya ketika Allah hendak memberikan pengetahuan-Nya kepada siapa-siapa yang dikehendaki-Nya. Janganlah berdalil dan berdalih demi menjaga kemurniaan isi kandungan dan tafsir Al Qur’an serta menjaga dan melindungi umat Islam agar tidak melenceng atau menyimpang dari aqidah Islam yang sebenarnya karena melakukan  penafsiran Al Qur’an secara bebas dengan membatasi setiap umat Islam di dalam menafsirkan Alqur’an haruslah dengan berdasarkan kaidah-kaidah tafsir yang telah ditentukan dan ditetapkan oleh para ahli Tafsir dan ilmu-ilmu tertentu.  Perlu kami beritahu kepada Majelis Ulama Indonesia, kami menafsirkan Al Qur’an tidaklah sesuka-suka hati kami, manalah mungkin dan tidaklah mungkin menafsrikan Al Qur’an itu berdasarkan hawa nafsu atau keinginan akal kami sendiri. Tujuan para Mursyid di thariqat menafsirkan Al Qur’an berdasarkan apa yang dirasakan di hatinya hanyalah untuk membimbing para salik yang ada di dalam thariqat itu semata-mata hanya untuk mentauhidkan Allah saja, jelasnya tAl Wur'idak ada murysid yang nyeleneh atau ngawur di dalam menafsirkan Al Qur’an itu, bukankah kita takut akan azab Allah itu….??? bukankah Allah setiap saat dan waktu selalu mengintip hati kita, terlalulah jalim diri ini bilah menafriskan Al Qur’an berdsarkan kehendak atau hawa nafsunya sendiri.  Bagi Mursyid yang di thariqat khususnya bagi Mursyid yang telah sampai dan mengenal sebenar-benar kenal hatinya kepada Allah saja atau telah beraqidah secara benar atau telah bertauhid semata-mata dan selalu istiqomah dan yang telah berkekalan hatinya kepada Allah apalagi disertai dengan akanl pikirnya selalu hanya tunduk kepada Allah, Allah-lah yang mengajarinya, karena fusni akan dan fungsi nafsu telah di diamkan Allah,  karena Allah Sang maha Raja itu telah mendiamkan akal dan nafsu bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Allah SWT telah berfirman:
Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.
(Q.S Al Buruuj (85) ayat 16)


Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan siap dan bersedia bila para tokoh-tokoh agama besar, tokoh-tokoh ahli tafsir dan Majelis Ulama yang kami hormati, kami sayangi, kami kasihi dan yang sangat kami cintai; PINTU GERBANG PENGAJIAN TASAWUF BABUR RIDHO RAHMATULLAH AHLI THARIQAT NAQSYABANDI JABAL HINDI TERBUKA LEBAR DENGAN TANGAN TERBUKA, DENGAN PENUH KERENDAHAN HATI KAMI MEMPERSILAHKAN  BERKUNJUNG SEBAGAI TAMU KAMI YANG AGUNG, YANG KAMI HORMATI, KAMI SAYANGI, KAMI KASIHI, DAN KAMI CINTAI UNTUK MENGUJI CARA PENAFSIRAN YANG DITAFSIRKAN TUAN GURU SYEKH. MUHAMMAD HIRFI NUZLAN BIN. H. MUHAMMAD THAHIR BIN MUHAMMAD ISA BIN MALAN, DEMI MENGEMBALIKAN HATI KITA KEMBALI TAUHID DENGAN SEBENAR-BENAR TAUHID YANG MERUPAKAN MISI AL QUR’AN ITU SENDIRI; TAUHID, FIQIH, DAN AKHLAK (TASAWUF)

Ketahuilah...bahwa ahli kitab yaitu orang-orang yang mempelajari kitab suci Al Qur’an berdasarkan akal pikirnya semata, sesungguhnya ilmu yang dimilikinya hanya sebatas kitab yang dipelajarinya. sedangkan ilmu Allah tiada berbatas yang tempatnya bukan di akal fikir dan bukan hanya sebatas tertulis di dalam kitab,  namun ilmu Allah itu berada di dalam hati orang-orang yang ditunjuki Allah SWT, yaitu di hati orang-orang yang selalu berdzikir dan berkekalan serta melekat hanya kepada Allah semata, dan pastilah Allah mengajarkan secara langsung ilmu-Nya kepada seseorang yang telah ditunjuki dan yang dikehendaki-Nya walaupun tanpa belajar dan dengan disiplin ilmu tertentu atau kaidah-kaidah tafsir untuk dapat mempelajari tafsir Al Qur’an., Tegasnya tidak perlu belajar, kalau Allah mau mengajari…dari mana jalannya tidak bisa. Jangan menentang Allah apalagi melawan-Nya atas kekuasaan-Nya, nanti diri kita menjadi kafir Zindik yang nyata. Agamanya saja yang sebutannya Islam, tetapi hatinya keras tidak mau menyebut dan tunduk kepada Allah, ITULAH SESAT YANG AMAT NYATA.

Allah SWT telah berfirman:
Sebenarnya, Al Qur'an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang dzalim. (Q.S Al Ankabut (29) Ayat 49)


Karena Allah berfirman :
Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. (Al-(Kahfi (18) ayat 65)


Ibnu Ma’sud berkata :
Ilmu itu bukan pandai meriwayatkan tetapi cahaya yang dimasukkan ke dalam hati.


Karena semua ilmu apapun yg kita kuasai dan kita pahami serta kita sepakati berdasarkan akal fikir kita semata, semuanya ditolak dan di buang Allah sejauh-jauhnya jika tanpa sertanya Allah di dalam hati kita. Mengapa demikian....?! Karena orang-orang yang sangat di murkai Allah adalah orang-orang yang tidak berdzikir hatinya kepada Allah namun ahli, mahir dan pandai menceritakan firman-firman Allah SWT dan orang-orang yang menjalankan segala perintah Allah tapi tidak pernah hadir hatinya kepada Allah.

Bukankah Allah SWT telah menegaskan di dalam firman-Nya:
103. Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?"
104. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-     baiknya.
105. mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, Maka hapuslah  amalan- amalan mereka, dan Kami tidak Mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.(Q.S Al Kahfi   ayat 103-105)

        
Allah SWT berfirman lagi:
Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. Dan di dapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. (Q.S An Nuur (24) Ayat 39)


shalat mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu. (Q.S Al Anfaal (8) Ayat 35)

Allah SWT pun berfirman dalam hadits Qudsi yaitu ;
“Kelak pada hari KIAMAT akan didatangkan beberapa buku yang disegel lalu DIHADAPKAN KEPADA ALLAH S.W.T ( pada waktu itu ). Allah berfirman : “ BUANGLAH INI SEMUANYA”. Malaikat berkata : ” demi kekuasaan Engkau, KAMI TIDAK MELIHAT DIDALAMNYA  melainkan yang baik-baik saja ”. Selanjutnya Allah berfirman :” Sesungguhnya isinya ini dilakukan bukan karenaKu dan Aku sesungguhnya TIDAK AKAN MENERIMA kecuali APA-APA YANG DILAKSANAKAN karena mencari KERIDHAANKU (IKHLAS) “.
( H.q.r. Bazzar dan Thabarani, dengan dua sanad atau diantara pararawinya  termasuk perawi al jami’us shahih ).


Jadi, kalau kita hanya mengadalkan ilmu semata tanpa hadirnya Allah serta di hati kita (Dzikrullah), itulah ibarat sebuah kapal besar di tengah samudera lautan, tentunya tidak akan tampak kapal itu lagi karena luasnya samudera itu,  walau sebesar apapun kapal di dunia ini. Dan...ketika  kita berada di dalam kapal itu kita akan berkata: wah...wah...wah...hebatnya kapal besar ini..?. Ibarat seperti kapal itulah orang yang membanggakan ilmunya apalagi membangga-banggakan lembaga-lembaga tempatnya bernaung di dunia ini tanpa serta Allah di sisinya. Padahal sesungguhnya Allah adalah samudara ilmu (Sang Pemilik ilmu), tidak malukah diri kita yang membanggakan ilmu tanpa Allah Sang Maha Ilmu...?!! Bukankah Allah SWT telah berfirman dengan terang, jelas dan tegasnya. Bahwasannya bukanlah Ahli ilmu yang di minta Allah, tetapi para ahli dzikir yang diridho’i Allah yang mengabdikan dirinya hanya untuk Allah semata.

Sebagaimana Firman Allah SWT;
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, (Q.S An Nahl (16) ayat 43)


Orang yang mempunyai pengetahuan yang dimaksudkan Allah dalam ayat ini, adalah orang yang hatinya selalu dan setiap saat istiqomah berdzikir hanya menyebut nama Allah Sang Maha Ilmu itu, sehingga Allah melimpahkan ilmu pengetahuan kepadanya.

Jelas, terang dan tegas firman Allah SWT itu:
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.(Q.S Al A’raaf (7) Ayat 205)


Jadi kami memberikan himbauan kepada lembaga-lembaga resmi yang diakui pemerintah (yaitu; Majelis Ulama Indonesia) dan kepada siapapun juga, jangan membawa-bawa atau menyeret-menyeret orang awam yang berpegang kepada lembaga yang di akui itu untuk mengikuti segala ketetapan yang dibuatnya. Walaupun kami sendiri para pengamal thariqat tetap mengakui keberadaan lembaga resmi itu dan tetap mengikutinya sebagai warga Negara Republik Indonesia yang patuh dan taat pada hukum tapi tidak mau ikut dan tidak mau sepaham dan sependapat kepada pemaham dan pendapat yang tidak sesuai dengan apa yang kami yakini,  yang kesemuanya didasarkan atas firman Allah SWT

Sebagaimana Allah SWT telah berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(Q.S An Nisaa’ Ayat 59)

   
Tetapi bila ada hal-hal yang tidak sesuai dengan yang kami pahami dan kami yakini dalam tata cara beramal ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah sesuai dengan tuntunan Islam itu sendiri, kami berbeda pendapat dengan saudara-saudara kami dan orang-orang tua kami yang sangat kami hormati, kami sayangi, kami kasihi dan kami cintai di Majelis Ulama Indonesia…mohon maaf lahir dan bathin, karena sudah saatnya sekarang ini kita untuk sama-sama membuka pikiran dan hati kita untuk menciptakan sebuah kemaslahatan umat agar kita Bangsa Indonesia ini menuju kedamaian yang kita cita-citakan yang tetap dalam keridho’an Allah. Sehingga kita harus melihat dan memahami permasalahan yang sebenar-benarnya, seterang-terangnya, dan yang sejelas-jelasnya yang sedang kita alami di dalam menuju keridho’an Allah. Karena selama ini ajaran Junjungan Nabi Besar Muhammad SAW telah banyak diselewengkan oleh orang-orang atau oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab atas apa yang disampaikannya kepada umat, kalau menyampaikan firman Allah dan hadits tiada pernah yang salah dan semuanya sangat benar bahkan cukup ahli dan mahir bahkan begitu piawainya menyampaikan kepada umat, tapi kalau diamat-amati dengan seksama dan secara mendalam... tujuan tausyiah yang disampaikan oleh para ulama terkenal dan cukup punya nama tidak kepada inti sasarannya, yang disampaikan hanyalah seputar tata cara beramal ibadah, berbicara seputar pahala dan dosa, halal dan haram, wajib dan sunat, makruh dan mubah dan lain sebagainya seputar ilmu fiqih, serta membahas fadilah-fadilah amal dan banyak menceritakan atau beriwayat tentang perjalanan hidup Nabi dan para sahabat-sahabat Nabi SAW yang luar biasa itu,  cerita itu tidak salah... perlu dan baik untuk kita teladani. 

Sekali lagi kami sampiakan, bahwa Para ulama itu tidak ada yang salah… mungkin methodenya belum dimiliki oleh para ulama tersebut dalam mentauhidkan Allah (hanya menggantungkan segala sesuatunya kepada Allah)  sehingga disadari atau tanpa di sadari hati umat telah kecolongan oleh berbagai keterangan-keterangan tausyiah yang disampaikan oleh para ulama-ulama tersebut karena disibukkan oleh berbagai ilmu pengetahuan seputar fiqih dan hukum-hukum Islam, disibukkan oleh berbagai imbalan pahala dan ganjaran dosa, disibukkan oleh berbagai fadilah-fadilah amal serta terhanyut kedalam cerita-cerita riwayat kisah Nabi-Nabi dan orang-orang saleh terdahulu, sehingga melupakan tujuan dari beramal ibadah itu yang sesungguhnya yaitu bagaimana mentauhidkan Allah secara istiqomah di dalam hati, karena  para jemaah yang menghadiri tausyiah-tausyiah tidak pernah di ajarkan bagaimana mendapatkan atau mengembalikan jiwa kita agar kembali bersih dan suci bersama dekat di sisi Allah SWT dengan methode dzikrullah dan dengan tata cara beramalnya yang benar, pas, tepat dan terarah pada inti sasarannya yaitu di HATI,

Seperti yang telah ditegaskan Allah SWT di dalam firman-Nya:
sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu,dan merugilah orang yang mengotori hatinya (Q.S Asy Syams (91) Ayat 9-10)

(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,
(Q.S Asy Syu’araa’ (26) ayat 88-89)

Dan juga ditegaskan Allah SWT di dalam firman-Nya:
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (Q.S Al A’raaf (7) Ayat 205)


Serta firman Allah SWT lagi:
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, (Q.S Al Mu’minuun (23) Ayat 1-2
)

Dan mengapa kita tidak pernah diarahkan secara khusus bil khusus untuk mendapatkan shalat yang khusus itu. Padahal sesungguhnya telah dikatakan Allah sangat beruntunglah orang yang dapat khusyuk di dalam shalatnya dan tentunya pasti merugilah orang yang tidak dapat khusyuk di dalam shalatnya atau sia-sia. Bahkan Allah mengancam bagi orang-orang yang lalai dari shalatnya.

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,(Q.S Al Ma’uun (107) ayat 4-5)

Lalai di sini bukan meninggalkan shalat atau melambat-lambatkan waktu shalat tetapi adalah ketika berdiri tegak melaksanakan shalat hati dan pikirannya jauh merantau/menerawang kemana-mana dan tidak berdzikir menyebut nama Allah didalam hatinya, dan yang lebih istri/suami, atau pacarnya dan anak-anaknya yang sangat dicintainya melekat/lengket di hatinya, sehingga Allah SWT mengancam nyawa mereka akan terbang dalam keadaan kafir.

Serta firman Allah SWT yang lebih tegas dan terang:
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.
(Q.S An Nisaa (4) Ayat 142)


Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.
(Q.S At Taubah (9) Ayat 55)



Kembali kepada persoalan perbedaan pendapat dan pemahaman, walaupun saudaraku berbeda pendapat dan pemahaman atas apa yang kami rasakan dan yang kami yakini..... kami tidak menyatakan saudaraku salah karena perbedaan tersebut...karena perbedaan itu adalah suatu rahmat yang besar, kami hanya tidak sepaham dan tidak sependapat dengan lembaga Majelis Ulama Indonesia (MUI) atas putusan fatwa MUI seputar 10 kriteria aliran sesat, pada poin 5 yang mengatakan: menafsirkan al Quran haruslah dengan kaidah-kaidah ilmu tafsir yang sedang kita bahas sekarang ini.

Kalau berdasarkan ilmu dan pendapat sekelompok orang ... ya...benar... dan sah-sah saja menurut pendapat mereka, dan kamipun tidak menyalahkan...tetapi jangan menyudutkan kami tanpa hadirnya Allah di hati saudara-saudaraku yang duduk di lembaga resmi itu yang menyatakan kami (pengamal thariqat) salah dan bahkan menuduh kami sesat. Kalau kami juga mau mengatakan saudara-saudara dan para orang-orang tua kami yang duduk di MUI sesat…. kan boleh-boleh saja dan sah-sah saja, karena kami berpendapat berdasarkan firman Allah SWT itu sendiri, dan kalau saudara-saudara dan para orang-orang tua kami yang duduk di MUI mau mengetahui siapa sesungguhnya yang sesat itu di mata Allah, dalam pandangan Allah, dalam penilain Allah...jelaslah orang-orang yang hatinya tidak berdzikir, karena hatinya keras, melawan, ingkar, durhaka kepada Allah. (tidak mau menyebut nama Allah)

Karena ALLAH SWT telah berfirman:
Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. MEREKA ITU DALAM KESESATAN YANG NYATA. (Q.S Az Zummar (39) Ayat 22)



Dan Kamipun juga menghimbau, mengingatkan dan mengajak berpikir secara akal sehat (rasional) kepada saudara-saudaraku serta orang-orang tuaku sekalian. Apakah di dalam hidup ini khususnya dalam beragama dan beramal ibadah untuk menuju keridho’an Allah, diri kita harus bergantung kepada lembaga-lembaga tertentu...?! apakah harus bergantung kepada ilmu....?! ataukah hanya bergantung kepada Allah, tolong jawab dengan tegas....?!!!

Bukankah Allah sudah jelas berfirman,
1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."
(Q.S Al Ikhlas (112) 1-4)


Jelas... dalam ayat tersebut bahwa di dalam beragama dan menjalankan amal ibadah sehari-hari wajiblah kita hanya bergantung kepada Allah semata. Tetapi kami juga memahami dan memaklumi bagi saudara-saudara kami yang hanya sekedar menjalankan dan mengerjakan perintah-perintah Allah semata, mempercayakan dan meyakini sepenuhnya kepada lembaga–lembaga yang resmi itu (MUI) dalam hal seputar beragama dan aturan aturan beramal ibadah. Lembaga resmi memang harus kita dengar dan kita kita ikuti tapi bukan berarti kami mengikutinya bila ada hal-hal yang tidak sesuai atau berlainan pemahaman dan penafsiran dengan para ahli thariqat untuk berjalan beramal ibadah menggapi keridho’an Allah. Bukankah perbedaan itu adalah hal yang wajar dan merupakan rahmat dari Allah kalau kita saling memahami dan saling memaklumi dan menerima antara satu sama lain, antara golongan satu dengan golongan lain, dan antara pemahaman satu dengan pemahaman yang lain yang tidak akan menimbulkan mudarat (tidak baik), itulah rahmat, namun bila perbedaan itu disikapi oleh rasa kebencian, hasut-menghasut,  caci mencaci, hujat menghujat, hina-menghina serta sampai memvonis seseorang atau kelompok orang lain sesat karena tidak sepaham dengan pemahaman yang kita yakini hingga mengeluarkan sebuah fatwa sesat kepada orang yang tidak sepaham dan tidak mau menigkutinya, hingga akhirnya karena sebuah fatwa dapat membuka peluang kepada orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak mau menjaga ketentraman dan ketertiban untuk memanfaatkan fatwa itu sebagai dalilnya membuat keonaran dan berujung kepada tindakan anarkis dan pengerusakan serta lain sebagainya kepada sekelompok orang yang berbeda dengan pemahamannya. padahal kita berada di bawah satu naungan agama Islam,  bukankah ini pukulan bagi umat Islam itu sendiri. Benarlah Junjungan Nabi Besar Muhammad SAW telah bersabda :
 
Sebuah hadis diriwayatkan daripada Thauban r.a., bahawa Rasulullah SAW bersabda, “Setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, umat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu, orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang menghadapi piring dan mengajak orang lain makan bersama.” Maka para sahabat r.a. pun bertanya, “Apakah ketika itu umat Islam telah lemah dan musuh sangat kuat?”
Sabda Baginda SAW: “Bahkan masa itu mereka lebih ramai tetapi tidak berguna, tidak berarti dan tidak menakutkan musuh. Mereka adalah ibarat buih di laut.” Sahabat bertanya lagi, “Mengapa seramai itu tetapi seperti buih di laut?” Jawab Rasulullah SAW, “Kerana ada dua penyakit, iaitu mereka ditimpa penyakit al-Wahn.” Sahabat bertanya lagi, “Apakah itu al-Wahn?”
Rasulullah SAW bersabda: “Cintakan dunia dan takut akan kematian.”

Marilah….. mulai detik ini hingga ke penghujung dunia ini berakhir, satukan aqidah kita bahwasnya hanyalah Allah yang kita cintai penuh di hati kita masing-masing,  “Illahi anta maqsudhi waridhoka mathlubi yang artinya “ Ya Allah…hanya Engkau yang aku maksud tiada yang lain, dan ridho-Mu jua dambaku tiada yang lain. Itulah ajaran Tauhid yang di bawa oleh Junjungan Nabi Besar kita Muhammad SAW yang kini sudah mulai memudar dan hampir hilang ajarannya yang di tausyiahkan/ di dakwahkan oleh para penceramah, ustadz-ustadzah serta dai’i-dai’yah.

Mengapa misi Al Qur’an yang pertama kali adalah membawa KETAUHIDAN, karena Nabi Besar Muhammad SAW dalam perjalan Isra’ Mi’raj bertemu langsung mengenal dan menyaksikan Allah secara nyata. Itulah syahadat atau itulah yang kami pahami sebagai syahadatnya Nabi Muhammad SAW, yaitu penyaksian kepada Allah SWT. Kemudian Rasulullah SAW pun turun kembali membawa syari’at untuk menegakkan shalat 5 waktu seperti yang di contohkan Nabi Muhammad SAW (FIQIH), dan Akhlak Nabi Besar Muhammad SAW adalah akhlak yang mulia karena di hatinya yang selalu memuliakan Allah, dan AKHLAK YANG MULIA itulah yang disebut TASAWUF. 

 Jalan untuk menuju kepada Allah, memang….wajiblah dengan ilmu, karena ilmu merupakan sarana atau kendaraan untuk mencapai tujuan yang dimaksudkan, tetapi bukan berarti harus bergantung kepada ilmu itu. Mengapa kami berani mengatakan dan menyampaikan kepada saudara-saudara kami kaum muslimin-mulsimat, mukmin dan mukminat yang kami hormati, kami sayangi, kami kasihi dan kami cintai…..bahwa jika kita hanya bergantung kepada ilmu, hal tersebut sangat bertentangan dan tidak sesuai dengan firman Allah itu sendiri...?! karena Allah sendiri yang mengatakan dalam firmannya; Bahwa Allah adalah tempat bergantung segala sesuatu. Namun mengapa mereka (para ahli kitab atau para ahli tafsir) di dalam berjalan menuju kepada Allah selalu berpegang dan bergantung kepada ilmu itu...?? jadi, siapakah sebenarnya yang menafsirkan
Al Qur’an itu...?.

Kami himbau untuk para mufasirin, muhaditsin atu siapa saja, para kelompok orang, segolongan orang, lembaga-lembaga resmi...janganlah membalikkan fakta atau memfitnah bahkan menebarkan fitnah terhadap orang-orang thariqat yang berjalan dengan amal ibadah sesuai tuntunan syaria’t Nabi Muhammad SAW berdasarkan Al Qur’an dan AL Hadits, Qiyas dan Ijma’ Ulama untuk meraih keridho’an Allah semata dikatakan sesat lagi menyesatkan.

Kami bangga kepada para Ustad-Ustadzah maupun para ulama yang berada di seluruh Indonesia yang sering kami lihat di layar kaca televisi, seperti: Ustadzah  Mama Dede, kami sangat senang melihat cara mema dede menyampaikan ceramah dan ciri khas tawanya yang menggelikkan hati kami, juga kepada ustadz Maulana yang memiliki gaya kocak dan gaya bicaranya yang lucu yang kadang bisa dibuatnya begitu cepat  yang juga membuat kami tertawa ketika menyaksiakan siaran Islam itu Indah, juga tak lupa kepada Ustadz Sam yang kalem lembut dan masih perjaka serta hafidz Qur’an lagi….., semoga cepat dapat jodoh yang ustadz kami do’akan hee…heee…he… kami kagum mendengar ustadz ketika melantunkan firman-firman Allah yang begitu lembut dan syahdunya, yang dapat menggentarkan dan menggugah hati kami yang tanpa sadar air mata kamipun menetes membasahi pipi, dan juga kepada ustadzah Oki (yang begitu lembut dan begitu banyak menguasai cerita-cerita hikmah riwayat para Nabi-Nabi dan orang-orang saleh yang begitu menggugah jiwa kami) juga tidak lupa kepada pembawa acaranya yang tampan. Juga kepada ustadz Zaki, Ustadz Abu Bakar Al Habsyi yang tampan seperti orang arab yang juga keren, Ustadz Solmed yang mengerti keadaan situasi zaman dalam menyampaikan tausyiah, apalagi kepada Ustadz yang sangat kami sayangi dan kami hormati Almarhum Jefri Al Bukhari yang begitu memahami anak-anak muda sehingga tausyian/dakwahnya mudah diterima oleh kalangan anak-anak muda yang sampai diberi gelar sebagai Ustadz gaul, serta ustadz Yusuf Mansyur yang sangat mahir dalam memotivasi dan menggugah umat untuk berinfak dan bersedeqah, yang juga kami sayangi dan kami cintai serta kami hormati Ustadz Abdullah Gymnastiar (A’a Gym) dengan programnya Manajemen Qalbu yang memiliki Pondok Pesantren Darut Tauhid yang lagunya cukup dikenal dan cukup luar biasa sya’irnya berjudul “JAGALAH HATI” sekilas penggalan sya’irnya “Jagalah hati…jangan kau koroti…jagalah hati…lentera hidup ini, jagalah hati….cahaya illahi….dst…., serta seluruh Para Ulama, Para Kiyai dan Para Ustadz-Ustadzah di acara Damai Indonesiaku yang tidak dapat kami sebutkan namanya satu persatu, tetapi kami cukup kagum yang sangat kami hormati, kami sayangi, kami kasihi dan kami cintai serta Bapak Ary Ginanjar dengan bukunya yang cukup terkenal ESQ dan juga kepada Ustadz Arifin Ilham dengan Majelis Dzikir Az Zikra yang selalu mengagungkan dan memuliakan Asma-asma Allah dimana setiap ulasan atau ceramahnya yang penuh dengan hikmah. Seandainyalah para Para Alim Ulama, Para Kiyai dan Para Ustadz-Ustadzah yang kami hormati, kami sayangi dan sangat kami cintai serta kami kagumi yang ada di Indonesia ini alangkah indah dan bahagianya serta bangganya kami bila semuanya melengkapi diri dengan menuntut ilmu yang wajib (fardhu) ‘ain di tuntut bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan yaitu menuntut ilmu TASAWUF setelah Usuluddin dan Fiqih dipelajari dan didalami terlebih dahulu dengan baik dan benar. Akhirnya kita semua sepakat, sepaham dan sependapat bahwasannya hanya Allah dan Rasul saja yang kita cintai di dalam hati kita masing-masing,

sesuai firman Allah SWT:
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(Q.S An Nisaa’ (4) Ayat 59)


Marilah saatnya kita semua merendahkan hati antar sesama dan merendahkan diri kepada Allah serta dengan segala kerendahan hati kami, semoga Allah memberikan Taufik, karunia dan hidayah-Nya, khususnya bagi Bangsa Indonesia  yang majemuk dengan beragam budaya, bahasa, suku dan agama serta seluruh dunia pada umumnya. Semoga Allah membuka pikiran, akal dan hati kita untuk bersatu dalam cinta kasih dan sayang, terutama dan paling utama cinta hati kita kepada Allah dan Rasul-Nya bagi pemeluk agama Islam dengan menjalankan segala perintah-perintah Allah dan segala sunnah Rasulullah Junjungan Nabi Besar Muhammad SAW berdasarkan syari’at yang telah ditentukan, dan bagi pemeluk agama lain yang kami hormati..biarlah dengan cara saudara-saudara kita sesuai dengan tuntunan syari’atnya masing-masing, apa yang di yakini saudara-sdaudara kita dalam menyebut (melafazkan) nama Tuhan yang diyakini saudara-saudara kita biarlah mereka yang tahu, dan Allah pasti sangat mengetahui apa yang ada di hati kita masing-masing.

Karena Allah SWT telah berfirman:
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, (Q.S Al Maidah (5) Ayat 48)


Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati, (Q. S Al Baqarah (2) Ayat 139)

Semoga Allah meridho’i anak-anak bangsa di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk mencapai kedamaian yang abadi bersama Allah. Dan semoaga Allah SWT memberikan hidayahnya kepada Bangsa kita yang kita cintai dan menggapai Negara yang adil dan makmur yang diberkati serta di ampuni Allah “ baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr” atau dalam istilah jawa “gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo“ kekayaan alam yang berlimpah, keadaan yang tenteram. DAMAILAH INDONESIA KU DALAM KERIDHO’AN ALLAH. Amin…amin…Amin…Ya Robbal…Alamin.

Motto

Pengajian Tasawuf Babur Ridho Rahmatullah
Ahli Thariqat Naqsyabandi jabal Hindi
KITA MAU, PASTI BISA
(Q.S Al Insyiqaaq (84) Ayat 4)





























 

Bagikan :

Komentar

Tambah Komentar (0)

Batal

Balas Komentar

Komentar Berhasil diterbitkan
Komentar tidak dapat diterbitkan Silakan coba lagi..!
Alamat email yang anda masukkan salah..!
Alamat web yang anda masukkan salah..!
Kode Captcha yang anda masukkan salah...!
Bidang tidak boleh ada yang kosong....!

Artikel Terbaru