Memanusia manusia

   

 

    MEMANUSIAKAN MANUSIA YANG BELUM MANUSIA
                     MENJADI MANUSIA SEUTUHNYA


Sebelumnya saya mohon maaf kepada saudara-saudariku yang membaca tulisan
ini jika isinya menyinggung perasaan maupun hati, karena saya hanya
ingin mengatakan kejujuran yang sebenarnya yang datang dari Allah Dzat Yang
Maha Mulia itu: Ketika kita berbicara tentang manusia,  sesungguhnya kita adalah

MANUSIA yang terlihat secara tampilannya saja,  padahal di dalam pandangan
Allah SWT kita ini adalah binatang yang paling sempurna dan paling mulia 
dibandingkan makhluk ciptaan Allah lainnya,

"Kenapa saya katakan kita tergolong binatang yang paling sempurna….?"
Karena kita sebagai manusia merupakan makhluk yang lebih mulia di bandingkan
makhluk ciptaan Allah lainnya. Kita  mempunyai akal, bisa berbicara,
bisa bekerja dan berkarya sesuai dengan keahliannya masing-masing,
bukankah ini yang disebut MAKHLUK YANG PALING MULIA DI SISI TUHANNYA
yang dapat beribadah sesuai perintah Tuhannya, yang dapat menggunakan akal
yang sempurna itu sesuai kehendak pilihan kita  selama hidup di dunia ini,
namun kita harus ingat juga akan bekal yang kita bawa setelah mati yaitu
amal ibadah yang diridhoi Allah SWT.

Walaupun  sebagai manusia makhluk yang mulia dan memiliki akal yang sempurna
tetapi jika kita tidak mau mempergunakan akal yang sempurna itu untuk
memahami akan maksud Allah menciptakan diri kita sebagai khalifahnya
di muka bumi dan kita tidak mau bersegera menyatakan menghamba kepada Allah
secara utuh atau kaffah lahir dan bathin ketika kita sudah mengerti dan
memahaminya, atau bahkan kita tidak mau bersegera berjihad secara bersungguh

-sungguh untuk menegakkan kalimat Laa ilaha ilallah di dalam dada/hati kita
masing-masing dengan jalan menuntut ilmu Tasawuf yang  fardhu a’in
bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan yang sudah aqil baliqh jelas-
jelaslah kita digolongkan sebagai “BINTANG TERNAK BAHKAN LEBIH

SESAT DARI  BINTANG TERNAK ITU SENDIRI”.

Seperti firman Allah SWT yang menyatakan dengan tegas:
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin
dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk
memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka
mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar
(ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan

mereka  lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
(Q.s Al A’raaf (7) ayat 179)

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman,
untuk tunduk (khusyuk) hati mereka mengingat Allah
dan

kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka
seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya,
kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi
keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.
(Q.s Al Haddid (57) ayat 16)

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka menyembah-Ku.
(Q.s Ad Dzariyaat (51) ayat 56)

Sesungguhnya saya sebagai penulis juga merasa malu dan sangat mengerikan
kalau membaca firman Allah tersebut, bahwa sesungguhnya kita adalah manusia
yang terlihat secara tampilan luar saja atau yang terlihat sesama manusia,
karena sesungguhnya kita di dalam padangan Allah adalah tergolong binatang
ternah bahkan lebih sesat dari binatang ternak itu, namun semuanya itu
berdasarkan atas firman Allah SWT itu sendiri," jadi MAU MARAH SAMA SIAPA…??
KALAU KITA TERIMA DIKATAKAN SEBAGAI BINATANG, LEBIH BAIK KITA
MENGKOREKSI DAN MEMPERBAIKI DIRI KITA SENDIRI".

Jadi, cukup jelas, terang dan tegas bagi kita untuk tidak boleh mempermaikan
akal sebagai raja tuhan di dunia ini atau main akal-akalan menurut senang kita
sendiri dalam menuju kepada ketauhidan. Karena akal memang pada dasarnya
selalu cenderung memilih sesuatu yang mudah-mudah saja atau menutur
kemauan dan kesenangannya sendiri dan tidak mau berjuang dengan sekuat
tenaga untuk memerangi hawa nafsunya dengan sekuat tenaga dan bersungguh
-sungguh untuk menegakan kalimat Laa ilaha ilallah (tiada Tuhan selain Allah)
di dalam hati ini, yang bagi akal perjuangan seperti itu memang adalah suatu
perkara yang harus kita akui sungguh sangat berat dan sulit ketika awal mula kita
lakukan, tetapi itulah tugas kita sebagai Khalifah Allah secara umum di
muka bumi Allah ini, yaitu perjuangan untuk bagaimana dapat mengabdi kepada
Allah secara utuh dan sempurna di dalam pandangan dan penilaian-Nya jika
kita tidak ingin dikatakan Allah sebagai “bintang ternak atau bahkan lebih
sesat dari binatang disebabkan HATI KITA YANG LALAI TERHADAP ALLAH SWT
atau TIDAK BERDZIKIR KEPADANYA
Sehingga kegelisahaan, ketakutan,
kekhawatiran, ketidak tentraman, ketidak tenangan dan ketidak bahagiaan
serta kesempitan hati selalu menyertai diri kita. Karena Allah SWT telah
bersumpah di dalam firman-Nya:

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah

hati menjadi  tenteram. (Q.s Ar Rad (13) ayat 28)

Jika kita mau jujur, bukankah kita sebagai manusia yang hidup di dunia ini
menginginkan sebuah ketentraman, ketenangan, kedamaian, kelapangan dan
kebahagiaan. Ketauhilah, bahwa untuk meraih semua itu adalah

hanya dengan  beraqidah secara benar, pas, tepat dan terarah
sesuai yang dimaksudkan Allah SWT.

Dalam buku berjudul “TAUHID untuk tingkat pemula dan lanjutan” di susun
oleh: DR. Abdul Azis Bin Muhammad, yang diterbitkan dan diedarkan di bawah
pengawasan: Direktorat Percetakan dan Penerbitan Departeman Agama Saudi
Arabia, mengatakan bahwa:
Landasan Aqidah Islam itu ada tiga:    
   1. Mengenal Tuhan  
   2. Mengenal Agama   
   3. Mengenal Nabi Muhammad SAW

Mengenal Tuhan yang dimaksudkan di sini adalah hati yang menyaksikan kepada
Allah Dzat Yang Maha Mulia itu, itulah “Syahadat yang sesungguhnya di dalam
padangan Allah”, dan mengenal agamanya yaitu dengan menjalankan segala
perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, serta mengenal
Nabi Muhammad SAW yaitu sebagai sosok Nabi Utusan Allah yang hatinya selalu
berhubungan kepada Allah. 

Dan begitu pentingnya Aqidah Islamiyah yang tampak dalam banyak hal, diantaranya:
1. Bahwasannya kebutuhan kita terhadap aqidah adalah di atas segala
   
kebutuhan dan kepentingan kita terhadap aqidah adalah di atas segala
   
kepentingan, sebab tidak ada kebahagiaan, kenikmatan dan kegembiraan
   
hati kecuali dengan beribadah kepada Allah, rabb dan pencipta segala sesuatu.

2. Bahwasannya Aqidah Islamiyah adalah kewajiban yang paling besar dan
    paling ditekankan. Karena itu, ia adalah sesuatu yang pertama kali
    diwajibkan kepada manusia. Rasulullah SAW bersabda:
    “Untuk diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi
    bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali dan bahwa Muhammad adalah
    utusan Allah” (H.R Al Bukhari dan Muslim)

Sehingga untuk dapat mewujudkan sikap beraqidah secara benar biasa yang
kita pahami dan kita lakukan adalah dengan melaksanakan segala perintah-
perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, seperti: mendirikan shalat
yang lima waktu, berpuasa, berdzakat dan menunaikan haji bagi yang mampu.
Namun, kita melupakan satu perkara yang sesungguhnya wajib

ditunaikan yaitu bagaimana hati ini untuk selalu berdzikir kepada
Allah dalam menjalankan segala perintah-perintah Allah SWT itu.

Allah SWT telah berfirman:
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan

diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi
dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.
(Q.s Al A’raaf (7) ayat 205)

Karena sesungguhnya Allah Dzat Yang Maha Melihat itu hanyalah melihat isi
hati kita. Sebagaimana firman-Nya:
Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi.
Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.

(Q.s Al Fatir (35) ayat 38)

Dan dalam sebuah hadits:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Abdurraman bin Syahrin Radhiyallahu Anhu
Rasulullah S.A.W bersabda :
Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupanya dan harta bendamu,
tetapi Dia memandang kepada hatimu dan amal perbuatanmu.

(H.R MUSLIM)

Dan bagi setiap manusia yang hatinya tidak berdzikir kepada Allah, itulah
sesungguhnya “HATI YANG BUTA/BUTA MATA HATINYA” di dalam pandangan

dan penilaian Allah SWT. Karena Allah SWT telah berfirman:

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati
yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan
itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu

yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.
(Q.s Al Hajj (22) ayat46)

Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat
(nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)

(Q.s Al Israa’ (17) ayat 72)


Karena Allah hanya meminta kepada kita untuk selalu mengingat-Nya
“kalaupun mau kita ikuti permintaan Allah itu sesungguhnya itu adalah demi
kepentingan diri kita pula”,
yang jelas Allah telah berfirman:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka menyembah-Ku.
(Q.s Ad Dzariyaat (51) ayat 56)

Menyembah disini bukan sekedar shalat gerakan tubuh saja, tapi menyembah
hakikatnya adalah dimana hati kita tunduk sujud kepada Allah dzat yang Maha
mulia itu. bukan menyembah secara peribadatan lahiriyah dan gerakan tubuh
seperti mendirikan shalat saja tanpa disertai HATI YANG BERDZIKIR KEPADA
ALLAH SWT. Karena Allah SWT telah menegaskan di dalam firman-Nya:

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,

(Q.s Al Ma’uun (107) ayat 4-5)

Pengertian LALAI dalam ayat ini bukan berati melambat-lambatkan atau
meninggalkan shalat, tetapi lalai yang dimaksudkan Allah adalah LALAINYA
HATI DARI BERDZIKIR KEPADA ALLAH DZAT YANG MAHA AGUNG ITU pada saat
mengerjakan shalat atau amal ibadah lainnya serta dalam kehidupan sehari-
hari.

Adapun menjadi bukti dalil bahwa lalai yang dimaksudkan Allah adalah hati
yang tidak berdzikir kepada-Nya, sebagaimana Allah telah menjelaskan di
dalam firman-Nya:
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa
takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang,
dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.

(Q.s Al A’raaf (7) ayat 205)

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan
membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka
berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) dihadapan
manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.

(Q.s An Nisaa’ (4) ayat 142)

Jadi, cukup jelas jika hati kita lalai dari berdzikir ketika menegakkan
shalat jelas maka kita tergolong orang-orang yang celaka, celaka yang
dimaksudkan Allah SWT adalah: celakanya diri kita karena digolongkan sebagai
orang-orang munafik di dalam pandangan Allah yang tempatnya sudah pasti
adalah Neraka Jahanam bahkan lebih sesat dari binatang.

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada
tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali
tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.

(Q.s An Nisaa’ (4) ayat 145)

 

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin
dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk
memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka
mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar
(ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih
sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

(Q.s Al A’raaf (7) ayat 179)

Mungkin sedikit ulasan di atas dapat membuka pikiran dan hati saya sebagai
penulis dan semoga juga dapat membuka pikiran dan hati saudara-saudariku
yang kusayangi dan yang kukasihi serta yang kucintai yang membaca tulisan
ini untuk dapat lebih memahami akan hakitat diri kita sebagai manusia.
Jika diri kita tidak ingin dinilai Allah sebagai binatang atau bahkan
lebih sesat dari binatang atau belum sempurna sebagai manusia seutuhnya,
dari itu marilah kita bersegera memperbaiki diri dan khususnya hati kita
dengan cara jalan menuntut ilmunya, yaitu ilmu untuk bagaimana dapat
mengajarkan hati ini untuk dapat terus berdzikir/berhubungan kepada Allah
secara istiqomah (Daimun) atau yang populernya disebut MA’RIFATULLAH
(sebenar-benar mengenal dan menyaksikan Allah SWT) atau tegasnya itulah
sebagai rukun Islam yang pertama “Mengucap Dua Kalimasyahadat”,
sehingga kita dapat memenuhi tugas kita kepada Allah untuk selalu mengabdi
kepada-Nya secara sempurna dan menjadi manusia seutuhnya di dalam pandangan
dan penilaian Allah SWT melalui ilmu Tasawuf dengan jalan berthariqat.

Dari itu bersegerahlah kita menuntut ilmunya di thariqat mana saja yang
mu’tabarah sebagai wadah atau sarana tempat untuk “Memanusiakan Manusia
Yang Belum Manusia Menjadi manusia Seutuhnya “ yang mengajarkan secara
khusus bagaimana methode untuk berdzikir kepada Allah secara benar, pas,
tepat dan terarah kepada sasarannya, yaitu HATI .


Allah SWT telah berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan
yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya,
supaya kamu mendapat keberuntungan.

(Q.s Al Maidah (5) ayat 35)

Semoga beruntunglah bagi saudara-saudaraku yang sudah atau
telah mencapai maqam ma’rifatullah, bagi saudara-sadaraku
yang sudah ma’rifatullah,  saya ucapkan selamat BERBAHAGIA.

sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu,
(Q.s Asy Syams (91) ayat 9)

(Kepada mereka dikatakan): "Salam", sebagai ucapan selamat
dari Tuhan Yang Maha Penyayang.

(Q.s Yassin (36) ayat 58)

 

 

 

Bagikan :

Komentar

Tambah Komentar (0)

Batal

Balas Komentar

Komentar Berhasil diterbitkan
Komentar tidak dapat diterbitkan Silakan coba lagi..!
Alamat email yang anda masukkan salah..!
Alamat web yang anda masukkan salah..!
Kode Captcha yang anda masukkan salah...!
Bidang tidak boleh ada yang kosong....!

Artikel Terbaru