kafir yang sesungguhnya

SIAPAKAH ORANG KAFIR YANG SESUNGGUHNYA...???

Dunia ini terbentang luas, semua makhluk yang ada di dalamnya adalah ciptaan Allah, kepunyaan Allah dan akan kembali kepada-Nya, dan semuanya berhak untuk mencintai Tuhannya dengan tata cara beramal ibadahnya dengan keyakinannya masing-masing, Tuhan (Allah) mempunyai kekuasaan mutlak (absolut), tiada yang dapat mengganggu atau mencampuri urusan Allah apalagi sampai mengatur Allah. Kita sebagai makhluk ciptaan-Nya hanya bisa berharap, mengharap belas kasih-Nya (Keridho’a-Nya), bukankah hal tersebut cukup jelas bahwa tiada satu makhluk di dunia ini yang dapat membantah-Nya, tentunya bagi orang-orang yang beriman dan meyakini adanya Allah SWT (Tuhan Sang Maha Pencipta) , kecuali bagi orang-orang yang dzalim. 

Allah SWT telah berfirman: "Sebenarnya, Al Qur'an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang dzalim" (Q.S Al Ankaabut (29) Ayat 49)

Tidak jarang dan bahkan sering kita mendengar adanya individu, sekelompok orang, golongan orang-orang yang seenaknya dan begitu mudahnya MENGKAFIRKAN ORANG LAIN, WALAUPUN DIA (ORANG YANG DIKAFIRKAN ITU) MEMPUNYAI AGAMA YANG DI YAKININYA ATAU YANG DI ANUTNYA. Bukankah ini sesuatu kekeliruan atau kurangnya pemahaman atas pengertian kafir itu sendiri, sehingga dapat menimbulkan tersinggungnya seseorang, sekelompok orang, golongan orang-orang yang menjalankan agamanya itu, bahkan dapat menyakiti perasaan saudara kita yang kesemuanya itu akan bermuara kepada perpecahan dan perselisihan umat yang berada di dalam wilayah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) yang kita cintai ini. Bukankah Negara kita Indonesia yang diperjuangkan kemerdekaannya oleh anak-anak bangsa itu sendiri yang pada saat itu di pimpin oleh Soekarno dan Muhammad Hatta sebagai proklamator kemerdekaan yang kemudian terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia pertama atas pilihan rakyat yang  beraneka ragam budaya, suku, agama yang menyebutkan diri mereka sebagai bangsa Indonesia, yang pastinya kesemuanya itu adalah berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, sebagaimana yang tercantum pada pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 Republik Indonesia, pada alenia ke tiga: "Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya."

Kemudian pada Ideologi Bangsa Indonesia adalah Pancasila, dengan lima silanya, yaitu: Sila pertama: “Ketuhanan Yang Maha Esa” ,  Sila Kedua : “ Kemanusia Yang Adil Dan Beradab”, Sila Ketiga: “Persatuan Indonesia”, Sila Keempat: “Kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan Perwakilan” ,  Sila Kelima: “ Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. 

Serta sebagaimana yang kita lihat di Negara Republik Indonesia yang kita cintai ini mempunyai beragam agama yang diakui, diantaranya: Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha dan  Kong Hu Cu, dan burung Garuda sebagai lambang Negara Republik Indonesia, yang pada kedua cengkaramannya terdapat pita yang bertuliskan “BHINNEKA TUNGGAL IKA” yang memiliki artian: berbeda-beda tetapi tetap satu jua. 

Dalam hal ini Mursyid/Guru Besar/Mujaddid Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan Bin H. Muhammad Thahir Bin Muhammad Isa Bin Malan menjelaskan dari sudut pandang yang cukup luas dan mendasar bahwa; walaupun di Negeri ini memiliki keanekaragaman budaya, bahasa daerah, suku bangsa, agama dan kepercayaan. Namun setiap agama bagi pemeluknya meyakini bahwasannya agama itu pasti mengajarkan untuk berbuat baik, berakhlakul karimah, berbudi dan santun serta menaburkan kasih sayang pada makhluk ciptaan Tuhan. Bukankah ini keindahan dan keharmonisan untuk kita semua...?  kalaulah Bhinneka Tunggal Ika ini… kita yakini dalam artian di dalam berkebangsaan, akan membuat dan membentuk persatuan dan kesatuan yang kuat dan kokoh dalam menjaga  kedaulatan dan suasana yang kondusif di  Negara Kesatuan Republik Indonesia , dan bila kita perhatikan dan pahami apa yang dikatakan Allah SWT di dalam Al Qur’an tentunya sebagai kitab suci yang diyakini penulis sebagai pemeluk agama Islam, di mana firman Allah itu berbunyi: "Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku" (Q.S Al Anbiyaa’ (21) Ayat 92)

Jelas bagi kita semua, bahwasannya setiap pemeluk agama yang ada di NKRI yang dilindungi oleh Undang-Undang Dasar 1945 tercantum pada pasal 29 ayat 1-2, yang bunyinya:

1.  Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa

2.  Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

            Semua agama itu hanya satu tujuan, yaitu HANYA KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA, menurut pemahaman Tuan Guru, bukankah firman Allah SWT itu begitu tingginya sehingga pita yang dicengkram oleh burung garuda jelas mengambil dari penafsiran firman Allah SWT itu sendiri (Q.S Al Anbiyaa’ (21) Ayat 92),  sebagai simbol lambang persatuan dan kesatuan. Kalau kita memiliki keyakinan seperti demikian bagi setiap pemeluk agama, mustahil akan terjadi sikap saling hujat-menghujat, hina-menghina dan mencaci antara satu sama lain, hingga bahkan begitu mudahnya mengkafirkan orang lain di NKRI yang kita cintai ini hanya karena perbedaan keyakinan, perbedaan pemikiran, perbedaan pendapat  serta perbedaan kepentingan pribadi, golongan atau institusi tertentu dan sebagainya.

Marilah kita lihat firman Allah SWT di dalam Al Qur’an, siapa sebenarnya yang dikatakan Allah itu sebagai orang kafir….??? agar kita tetap berpegang kepada Al Qur’an sebagai kalam Allah dan Al hadits sebagai Sabda Nabi Muhammad SAW:

Allah berfirman yang artinya: 

30. ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

31. dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"

32. mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana."

33. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka Nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka Nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"

34. dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia Termasuk golongan orang-orang yang kafir. (Q.S Al Baqarah (2) Ayat 30-34)

 

Dan firman Allah SWT lagi yang artinya:

72. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadaNya".

73. lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya,

74. kecuali Iblis; Dia menyombongkan diri dan adalah Dia Termasuk orang-orang yang kafir. (Q.S Shaad (38) Ayat 72-74)

         

   Jadi, cukup jelas bahwa Allah SWT mengatakan dalam ayat tersebut di atas bahwa orang kafir itu sesungguhnya adalah IBLIS/SYAITAN, bukan kepada keyakinan agama orang lain, karena Islam juga tidak pernah memaksakan setiap orang untuk memeluk agama Islam, sebagaimana Allah SWT telah berfirman:

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S Al Baqarah (2) Ayat 256)

 

Mengapa Iblis/syaitan dikatakan Allah SWT di dalam firman tersebut di atas “termasuk orang-orang kafir”. Itu dikarenakan kerasnya atau ingkarnya atau melawannya atau karena tidak patuhnya iblis/syaitan kepada perintah Allah hingga sombong dan takabur di hadapan-Nya, sehingga Allah-lah yang berhak menyebutnya sebagai  “orang kafir”.

 

Jadi kalau diri kita mengatakan orang lain kafir, rasanya kurang pantas atau tidak etis dan dapat menyinggung perasaan saudara kita yang memiliki keyakinan yang berbeda dengan keyakinan agama yang kita yakini, kan sudah dikatakan Allah bahwa agama Tauhid itu adalah agama kamu semua…sehingga dapat dipahami dengan mudah bahwa semua agama untuk menuju ketauhidan kepada satu Tuhan, walaupun dalam tata cara peribadatannya berbeda-beda, maupun dalam segi pengucapannya juga berbeda namun satu tujuannya, yaitu hanya mengabdi Kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena Allah juga sudah berfirman :

Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus. (Q.S Al Hajj (22) Ayat 67)

 

Menurut Pemahaman Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan Bin. H. Muhammad Thahir Bin Muhammad Isa Bin Malan; setiap individu manusia berpeluang terhadap kekafiran itu tanpa memandang agamanya apabila seseorang itu mengikuti sifat-sifat yang ada pada Iblis/syaitan itu sendiri. Karena sesungguhnya Iblis/syaitan itulah sesungguhnya yang kafir di sisi Allah, bukan agamanya yang kafir, tetapi diri sendiri karena selalu menperturutkan atau menigkuti sifat-sifat Iblis/syaitan yang ada pada diri dan hatinya, seperti; sifat merasa paling benar (sombong) dan takabur serta penyakit-penyakit hati lainnya, yaitu: buruk sangka, amarah, iri, dengki, khianat, uzub, syirik, ria, bakhil dan lain sebagainya yang bersembunyi dan bersemayam di dasar lubuk hati kita yang paling dalam.  Allah SWT telah berfirman: Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi. (Q.S Al Mujaddilah (58) Ayat 19)

 

Inilah orang-orang kafir yang berada di dalam setiap diri manusia yang wajib di perangi oleh setiap manusia yang meyakini Tuhan Yang Maha Esa dengan mengingat dan berlindung kepada-Nya serta berjuang (berjihad) untuk membuang segala penyakit-penyakit hati agar dapat hatinya kembali bersih dan suci sehingga kembali mengenal dan menyaksikan Tuhannya secara istiqomah (Tauhid) dengan mata hatinya.

 Firman Allah SWT: 

9. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, 10. dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q.S Asy Syams (91) Ayat 9-10)

 

Itulah yang dimaksudkan Allah, jika setiap pemuka-pemuka agama, dapat membekali atau mengajarkan kepada setiap umatnya dengan tata cara peribadatannya masing-masing untuk memerangi dirinya atau setiap individu dapat memerangi kekafiran di dalam dirinya masing-masing (yaitu Iblis/syaitan-syaitan yang amat nyata bisikan-bisikannya kedalam dada kita tepatnya di dasar hati kita), lebih jelasnya lagi setiap anak-anak Bangsa khususnya di Indonesia sama-sama berjuang untuk memperbaiki dirinya atau hatinya dari hari ke hari, maka pastinya Negeri Ini akan sesuai atau sejalan dengan ideologi Negara Republik Indonesia yaitu Pancasila yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, ber-kemanusiaan yang adil dan beradab, terbentuklah persatuan Indonesia, kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta terciptalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.

 

 

Maka terciptalah Negeri aman dan damai  yang tetap didalam ke-Ridho’an Allah yang kita rindu-rindukan, yang dalam istilah bahasa arab “baldatun toyyibatun warabbun ghafur “ artinya:  negara yang adil dan makmur, yang diberkati serta diampuni Allah atau dalam istilah bahasa jawanya ” Gemah ripah loh jinawih, tata tentrem kerta raharja (kekayaan alam yang berlimpah, dan dalam  keadaan yang tenteram)  akan segera dapat kita wujudkan bersama. Untuk itu marilah semua; anak-anak Bangsa dan seluruh elemen-elemen Bangsa untuk bergandengan tangan dan hidup penuh dengan keharmonisan karena sesungguhnya pada hakikatnya semua agama itu damai, karena Allah atau Tuhan telah dicintainya benar-benar telah tertanam di dasar lubuk hatinya yang paling dalam (Tauhid), sesuai dengan firman Allah itu sendiri: Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (Q.S Al Anbiyaa’ (21) Ayat 92)

 

Dan benarlah anak-anak bangsa ini telah menerapkan firman Allah SWT itu sendiri pada Q.S Al Ikhlas (112) Ayat 1-4)  dan benar pula telah mempedomani dan menghayati serta mengamalkan butir-butir Pancasila pada sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” secara benar.

 Firman Allah SWT yang artinya:

1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. 2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.  3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,    4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (Q.S Al Ikhlas (112) Ayat 1-4)

 

Dengan demikian tidak akan ada lagi di dalam negeri ini budaya caci mencaci, hina-menghina, hujat-menghujat dan saling kafir mengkafirkan sesama anak-anak Bangsa atau sesama dan antar umat beragama khususnya di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini, terkhusus bagi umat beragama Islam khususnya.

 

Bagi saudara-saudaraku yang berkeyakinan di dalam agama Islam, untuk dapat membuktikan dan menunjukkan bahwa agama Islam itu sejuk, tentram dan damai (Rahmatanlil alamin) seperti yang dimaksudkan oleh Junjungan Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa ajaran agama Islam yang mencerminkan akhlaknya yang sangat mulia itu (akhlakkul karimah), sebagaimana sabda Rasulullah SAW: 

Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaq. Artinya: Sesungguhnya aku diutus Tuhan untuk menyempurnakan akhlak.

 

Marilah kita bersama-sama mewujudkannya, karena sesungguhnya sesama umat Islam itu bersaudara untuk dapat membangun citra Islam yang telah dirusak oleh umat Islam itu sendiri. Bukankah Rasulullah SAW telah bersabda:

Dalam Sebuah hadis diriwayatkan daripada Thauban r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda, 

“Setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, umat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu, orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang menghadapi piring dan mengajak orang lain makan bersama.” Maka para sahabat r.a. pun bertanya, “Apakah ketika itu umat Islam telah lemah dan musuh sangat kuat?” Sabda Baginda SAW: “Bahkan masa itu mereka lebih ramai tetapi tidak berguna, tidak berarti dan tidak menakutkan musuh. Mereka adalah ibarat buih di laut.” Sahabat bertanya lagi, “Mengapa seramai itu tetapi seperti buih di laut?” Jawab Rasulullah SAW, “Kerana ada dua penyakit, iaitu mereka ditimpa penyakit al-Wahn.” Sahabat bertanya lagi, “Apakah itu al-Wahn? ”Rasulullah SAW bersabda: “Cinta akan dunia dan takut akan kematian.” 

 

Dari keterangan sabda Rasulullah SAW diatas menjadikan sebuah isyarat bagi kita sebagai umat Islam agar mawas diri atau dapat mengintropeksi diri kita masing-masing untuk dapat lebih memahami akan tujuan Islam itu sendiri seperti yang dimaksudkan Allah dan Rasul-Nya yaitu kembali hati kita untuk BERTAUHID atau BERAQIDAH kepada Allah secara benar, pas, tepat dan terarah, yang tentunya dengan menuntut ilmu kepada Ahlinya untuk dapat mengenal dan menyaksikan Allah dengan mata hati (Syahadatul bil Qalbi) yang selama ini telah diselewengkan oleh hiruk pikuknya dunia. 

 

Sibuknya para tokoh-tokoh dunia khususnya para tokoh-tokoh yang berada di Indonesia yang cenderung untuk mengurusi negaranya masing-masing...tidaklah salah...tapi diri kita sadar atau tidak sadar telah lalai dari membenahi jiwa kita yang pada hakikatnya haus dan sangat merindukan Kekasih hatinya, yaitu Allah Azza wa jalla yang maha tinggi itu, bila kita hijrahkan hati kita kepada kekasih hati kita, yaitu nama Tuhan yang selalu kita sebut namanya di hati ini dengan methode yang benar, pas, tepat dan terarah maka terwujudlah cinta kasih yang abadi hanya kepada Allah Sang Maha Pencipta, benar pulalah aplikasi Pancasila yang telah didasarkan oleh UUD tahun 1945 yang tercantum pada sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa”, yang tentunya tanpa meninggalkan urusan dunia kita dengan pekerjaannya masing-masing, bukankah ini wujud impian yang di impi-impikan oleh seluruh umat di dunia ini terkecuali orang-orang yang hatinya keras tidak mau tunduk kepada Allah Dzat yang Maha Agung dan Maha Mulia itu. Seperti firman Allah SWT yang cukup tegas: 

Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi. (Q.S Al Mujaddilah (58) Ayat 19)

 

Agar hati kita dapat selamat dari kekafiran itu sendiri yaitu dari perangkap Iblis atau setan-setan yang bersarang di dalam dada manusia dan selalu mengajak diri kita agar terjerumus kedalam kerendahan, yaitu hati yang keras dari berdzikir mengingat Allah (selalu bermaksiat hatinya kepada Allah) karena cinta akan duniawi sehingga membuatnya takut akan kematian karena begitu besar cintanya kepada dunia, sehingga dibawanya kedalam hatinya. Allah SWT telah menegaskan di dalam firman-Nya:

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.  (Q.S At Taubah (9) ayat 55)

 

Sangat mengerikan bukan.....??? siapa saja yang mencintai selain Tuhan sampai nyawanya melayang, jelas-jelas disebut Allah mati dalam keadaan kafir, Waw....seyem....???!  dan ini perlu kita pahami, resapi, hayati dan perlu di camkan dengan sebaik-baiknya untuk semua yang beragama dan mengakui Tuhan itu satu (Esa) khususnya yang berkewarganegaraan Indonesia, yang berbendera kebangsaan sang Merah putih. Juga terkhususnya bagi pemeluk agama Islam yang mengakui bahwa Tiada Tuhan Selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, dan bagi pemeluk agama lain...kami sangat menghargai dan menghormati dalam tata cara beramal ibadah untuk menuju kepada Tuhan yang satu (Esa).  

 

Terkhusus mohon maaf lahir dan bathin kepada para pemimpin bangsa yang kami sayangi, kami cintai dan kami hormati, betapa sungguh bahagianya hati kita ini semua bila para pemimpin kami dapat menerapkan dan mewujudkan untuk merevolusi mental (dalam istilah Islam; Hijrahnya hati kepada Allah Sang Maha Pencipta) dengan mempercayakannya kepada para tokoh-tokoh agama yang sudah terkenal dan ternama di negeri yang kita cintai ini dengan methode yang benar, pas, tepat dan terarah pada inti sasaran yaitu HATI, agar dapat mentauhidkan Allah seperti yang di firmankan Allah dalam Q.S Al Anbiya (21) Ayat 92. Jadi, dengan demikian bila program revolusi mental ini sudah berjalan dan kita jalani dengan kesungguhan hati untuk benar-benar mencintai Tuhan (Allah) maka jauh sifat-sifat kita dalam permusuhan itu, karena diri kita setelah mempelajari hakikat keTuhanan , kita menjadi mahir dan ahli untuk mengetahui apakah bisikan-bisikan yang selalu berbisik-bisik di dada kita tepatnya di dasar hati kita, jelaslah bisikan dari syaitan atau perkataan Allah  (Tuhan) yang ingin kita wujudkan bersama dan kita dapat mengetahui apa arti hakikat kehidupan di dalam diri kita sendiri, yang hanya untuk mengabdi kepada Allah (Tuhan Yang Maha Esa), tanpa meninggalkan apa lagi menelantarkan urusan dunia yang saat ini kita berada di atasnya. Seperti firman Allah SWT:  dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Q.S Adz Dzariyaat (51) Ayat 56).

 

Pengertian mengabdi di sini bukanlah hanya terus menerus menjalankan ibadah saja (atau beribadah di mesjid saja). Bukanlah seperti itu maksudnya.. tetapai beribadah dalam mengabdi dalam konteks firman Allah ini adalah beribadah DENGAN ILMU YANG BENAR, PAS, TEPAT DAN TERARAH KEPADA INTI SASARANNYA YAITU HATI.

 

Jadi, kami memberikan masukan kepada para pemimpin-pemimpin di Negeri ini Khususnya serta para pemimpin-pemimpin dunia pada umumnya  agar tidak lagi menunggu-nunggu hari esok untuk mewujudkan merevolusi mental anak-anak Bangsa Negeri ini. Semoga Allah me-Ridho’i setiap niat baik yang hendak kita lakukan. Dengan adanya ulasan dalam sudut pandang ilmu tasawuf melalui beramal ibadah di dalam berthariqat, sekarang kita sudah memahami dan mengerti bahwasannya orang-orang kafir itu adalah IBLIS/SYAITAN.

 

 

PESAN MURSYID/GURU BESAR/MUJADDID SYEKH. MUHAMMAD HIRFI NUZLAN  BIN H. MUHAMMAD THAHIR BIN MUHAMMAD ISA BIN MALAN sebagai PIMPINAN PENGAJIAN TASAWUF BABUR RIDHO RAHMATULLAH AHLI THARIQAT NAQSYABANDI JABAL HINDI

 

Mari....lapangkan dada kita masing-masing dengan jiwa yang bersih dan suci kembali seperti semula menuju kepada keridho’an Allah. Karena hakikat agama itu seperti di firmankan Allah di dalam Al Qur’an khususnya bagi umat yang beragama Islam adalah LAPANG DADA. Sebagaimana yang difirmankan Allah SWT:

22. Maka Apakah orang-orang yang dilapangkan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata.(Q.s Az zummar (39) ayat 22) 

 

Ketahuilah... bahwa hakikat lapang dada itu ialah dapat menerima siapa saja, baik saudara-saudara kita walaupun berbeda pemahaman dan keyakinan masing-masing yang diyakini oleh setiap anak bangsa ini, serta dapat menerimanya dengan senang hati karena hatinya yang selalu berdzikir kepada Allah, karena kita semua adalah makhluk ciptaan Allah yang tercipta dari setetes air mani (air hina) dari sari patih tanah, maka sangatlah tidak pantasnya kita merasa lebih mulia dari orang lain, cukuplah nama Allah saja kita muliakan di dasar hati ini.

Allah SWT telah berfirman: Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (Q.S Al Mukminuun (23) Ayat 14)

 

Bukankah Allah Maha Lapang, Maha Luas dan Maha segala-galanya itu. Apabila hati kita selalu menyebut-nyebut namanya (berdzikir) mengingat-Nya dan menjalankan syari’at yang telah ditentukannya yang dicontohkan oleh Junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, dan begitu juga bagi pemeluk agama lain, maka pasti lapanglah dada kita (hati kita/qalbu kita) karena hati kita mau tunduk dan patuh akan perintah Tuhan Yang Maha Esa.  Allah SWT telah berfirman: Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.(Q.s At Thaaha (20) ayat 14)

 

Dan Allah SWT berfirman lagi: Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (Q.S Al Haddid (57) Ayat 16)

 

Dan Allah SWT berfirman lagi: Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (Q.S An Nisaa’ (4) ayat 103)

 

 

 

 

Maha benarlah Allah yang telah menurunkan ketenangan kedalam hati kita,

Allah SWT telah berfirman: Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, (q.s al fath (48) ayat 4)

 

Jadi, ingatlah... untuk kita semua yang berada di Negara Kesatuan Republik Indonesia, khususnya bagi anak-anak bangsa... bahwa hanya Allah  sebutan bagi agama Islam atau Tuhan bagi pemeluk agama lain yang bisa dan dapat menentramkan hati kita. Jadi, wajiblah kita menyebut nama-Nya di setiap tarikan helaan nafas ini dari pagi hingga petang tanpa terlalai sepalingpun. Kalau belum dapat hati ini berkekalan secara terus menerus menyebut nama Allah SWT, maka bersungguh-sungguhlah terus belajar menuntut ilmunya yang benar, pas, tepat dan terarah pada hati yaitu kepada ahlinya. Sebagaimana Allah SWT teah berfirman: Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui(Q.S An Nahl (16) Ayat 43)

 

Ketauhilah juga....sebuah perbedaaan untuk meyakini Tuhan dengan tata cara masing-masing agama bukanlah suatu perkara yang harus kita persoalkan apalagi diperdebatkan, karena semua itu akan cenderung membuat hati kita lalai kepada Allah dan cenderung pula hati akan dikuasai oleh syaitan yang telah menaruh dendam kesumat kepada anak cucu keturunan adam. Kecuali bagi hati yang ikhlas, hati yang lapang dada (berjiwa besar). Persoalan agama adalah persoalan yang sangat sensitif yang tidak bisa di kotak-katik berdasarkan akal dan kehendak nafsu kita sendiri, karena semua itu sudah cukup jelas di atur di dalam Al Qur’an.

Allah SWT berfirman: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S Al Hujuurat (49) Ayat 13)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

Bagikan :

Komentar

Tambah Komentar (0)

Batal

Balas Komentar

Komentar Berhasil diterbitkan
Komentar tidak dapat diterbitkan Silakan coba lagi..!
Alamat email yang anda masukkan salah..!
Alamat web yang anda masukkan salah..!
Kode Captcha yang anda masukkan salah...!
Bidang tidak boleh ada yang kosong....!

Artikel Terbaru