ilmu dalam bekerja

 

Menata hati adalah sebuah rutinitas dari waktu ke waktu yang wajib dilakukan
bagi Murid-murid di Pengajian Tasawuf Babur Ridho Rahmatullah Ahli Thariqat
Naqsyabandi Jabal Hindi, selain kewajiban beramal ibadah agar hati dapat secara
terus-menerus berdzikir mengingat Allah, hati juga perlu ditata dengan kebiasan-
kebiasaan yang baik dan mulia sehingga dapat terwujud akhlak yang mulia secara
lahir dan bathin, syari’at dan hakikat, hakikat dan syari’at.

Menerapkan segala yang diajarkan Mursyid, melatih, membiasakan dan menyenangi
serta mencintai perbuatan-perbuatan yang baik dan mulia terutama akhlak bathin
(hati) yang seterusnya akan tercermin kepada akhlak tubuh, banyak kegiatan dan
jenis pekerjaan khususnya di Pengajian ini yang dapat diaplikasikan dalam
kehidupan sehari-hari untuk menata hati agar baik, lebih baik, lebih baik lagi,
sehingga pada puncaknya dirinya tidak lagi mengetahui apakah hatinya sudah
baik… karena sudah terbiasa dan menyenangi hingga mencintai kebiasaan yang baik
tersebut, jadilah sesuatu itu menjadi hal yang biasa-biasa saja baginya,
padahal begitu sangat baiknya dari kacamata atau pandangan orang lain.

Pada kesempatan ini kami menyajikan salah satu jenis pekerjaan yang ada
di pengajian ini yaitu pekerjaan di halaman pengajian yang berhubungan dengan
media pasir, media pasir ini adalah media yang alami yang dapat dengan
mudah kita temukan dan sangat banyak guna atau fungsinya. Sebuah contoh dan
umpama bila ada alat-alat dapur kita yang sudah lama kita pakai sehingga sudah
sangat tebal keraknya atau sudah sangat hitamnya seperti kuali, pantat kuali
yang sangat hitam dan tebal kerak-keraknya atau berkarat  sangat sulit
dibersihkan dengan jenis-jenis sabun, dari sabun biasa hingga sabun bermerk
bahkan sabun importpun kita gunakan untuk membersihkan pantat kuali milik kita,
dari mulai harga yang murah hingga harga yang fantastis, namun pantat kuali
itu tak kunjung mengkilap walau dalam waktu yang relative lama, akan tetapi
bila kita gunakan pasir atau tanah yang mengandung pasir yang tidak perlu kita
beli dan sangat mudah mendapatkannya, itulah dari bahan yang alami yang kami
maksudkan, bila pasir itu kita gosok-gosok dengan sabar secara terus-menerus
maka dalam waktu yang relative singkat pantat kuali kita akan mengkilap
sehingga cahayanya akan memantul bila terkena sinar matahari.

Allah SWT berfirman:
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut,
 dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah
kamu termasuk orang-orang yang lalai.
(Q.S. Al-A’raaf (7) ayat 205)

Seperti diceritrakan dalam sebuah hadits, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Bahwasanya hati itu kotor seperti besi yang berkarat, dan pembersihnya adalah
dzikrullah, bagi setiap  sesuatu ada alat pembersihnya, dan untuk membersihkan
hati adalah  dengan dzikrullah”.(Al-Hadits)

Adapun salah satu jenis pekerjaan di pengajian yang menggunakan media pasir
adalah:
• Menabur pasir di permukaan tanah di halaman, meratakan pasir diatas
  permukaan tanah, mengayak pasir hingga dua kali yaitu ayakan pasir yang
  umum dan dengan menggunakan ayakan pasir yang halus yang terbuat dari kawat
  nyamuk, menyiram permukaan pasir agar basah sehingga tidak berdebu, menyapu
  dengan membentuk efek seni diatas permukaan pasir agar indah dipandang mata
  dan menggemburkan pasir dengan alat garuk bila pasir sudah mulai memadat.
  Permukaan tanah yang sudah diratakan dengan membuang sampah-sampah yang ada
  dan mencungkil atau membuang batu-batu yang ada tertimbun di permukaan tanah
  semuanya dikerjakan dengan hati yang senang dan selalu hati itu wajib
  berdzikir mengingat Allah, juga tanpa meninggalkan air wudhuk, begitulah yang
  di ajarkan Tuan Guru Syekh Muhammad Hirfi Nuzlan Sebagai Mursyid di Pengajian
  Tasawuf Babur Ridho Rahmatullah ahli Thariqat Naqsyabandi Jabal Hindi,
  tanah yang diratakan di ibaratkan hati kita yang harus di bersihkan dari
  sampah-sampah atau penyakit-penyakit hati dan dari batu atau kekerasan hati
  dari mengingat Allah.

  Menaburkan pasir yang sudah diayak halus di permukaan tanah hingga menutupi
  permukaan tanah akan membuat permukaan semakin lebih rata dan bersih serta
  rapi, begitulah di ibaratkan hati kita yang harus ditata sehingga bersih dan
  rapi serta indah dengan media pasir yang diumpamakan sebagai alat pembersihnya
  yaitu Dzikrullah, sehingga hati itu akan mudah menyerap air yang diumpamakan
  air itu adalah ilmu, karena sifat air itu mencari tempat yang rendah
  begitulah yang diajarkan Tuan Guru agar murid-muridnya selalu berlomba-lomba
  merendahkan hati kepada sesama manusia dan tidak boleh  sombong atau merasa
  lebih baik dari orang lain karena hal tersebut dapat mencelakakan dan
  membinasakan diri kita sendiri. Allah SWT berfirman :
  (Dikatakan kepada mereka): "Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahanam,
  dan kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang
  yang sombong".(Q.S. Al-Mukmin (40) ayat 76)


  Abdullah bin Mas’uud r.a. berkata: Nabi SAW bersabda:
  “Tidak akan masuk surga, orang yang didalam hatinya ada seberat atom 
  (sebiji debu) dari kesombongan, lalu ada orang bertanya: sesungguhnya ada
  seseorang suka jika pakaiannya baik dan sandalnya juga baik. Jawab Nabi SAW :
  Sesungguhnya Allah itu indah, suka pada keindahan. Sombong itu ialah
  menentang haq, (menolah haq) dan menghina orang.” (Hadits Riwayat Muslim).


Selain pasir mudah menyerap air, pasir juga mudah dibersihkan dengan menyiram
air bila melekat di kaki kita, begitulah diibaratkan dzikrullah dapat membersih
kan hati yang tentunya harus dengan ilmunya yang pas, benar, tepat dan terarah
pula. Selain menabur pasir halus diatas permukaan tanah, pasirpun diratakan
kembali kemudian disapu dengan sapu lidi dengan cara menyapu setengah lingkaran
dan dilakukan mundur agar tidak dipijak bekas sapuannya seperti gambar dibawah
ini:

• Menyiram permukaan pasir dengan air sebelum disapu agar tidak mengeluarkan
  debu saat disapu hal tersebut dilakukan setiap sore pukul 18.00 wib hingga
  selesai seterusnya disapu seperti gambar diatas akan memberi efek keindahan
  saat memandangnya. jika pasir mulai menipis halaman kembali di tabur pasir
  yang sudah diayak halus, hal itu dilakukan berulang-ulang hingga saat ini
  ketebalan pasir halaman Pengajian sudah setebal + 15 cm dari permukaan tanah.
 
• Mengayak pasir dengan ayakan menggunakan kawat nyamuk akan menghasilkan pasir
  yang sangat halus dan lembut, begitulah diumpamakan agar hati murid-murid
  semakin hari semakin halus dan lembut yang tentunya dengan selalu berdzikir
  kapanpun dan dimanapun murid berada dan dalam aktifitas apapun terlebih
  disaat aktifitas beramal ibadah, sedang pasir yang masih kasar di gunakan
  untuk menimbun permukaan tanah yang masih rendah atau untuk menimbun lantai
  bangunan yang akan dibangun untuk mem- bangun rumah persulukan di Pengajian.


Begitu banyak pekerjaan-pekerjaan di Pengajian Tasawuf Babur Ridho Rahmatullah
Ahli Thariqat Naqsyabandi Jabal Hindi dan semuanya mengandung maksud untuk
menata hati murid-murid agar dapat mengetahui mana yang baik dan mana yang
lebih baik serta hingga tidak tahu kalau dirinya sudah baik, karena Tuan Guru
Mengajarkan murid-murid agar berlomba-lomba berbuat kebaikan dengan hati setiap
saat berdzikir mengingat Allah tanpa ada kata lelah, bosan, malas serta putus
asa. Karena tujuan semua itu adalah hanya illahi anta maqsudi waridhoka matlubi
yang artinya: Yaa Allah hanya Engkau Maksudku tiada yang lain dan hanya
keridhoanMU dambaan kami tiada yang lain. Allah SWT berfirman:

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya.
Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada
pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya
Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
(Q.S.Al-Baqarah (2) ayat 148)

Dan Allah SWT berfirman:
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya.
(Q.S.Al-Fajr (89) ayat 28)


Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari
keridaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang
terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu
menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya,
maka hujan gerimis(pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.
(Q.S.Al-Baqarah (2) ayat 265)




Demikian semoga ulasan ini dapat memberi inspirasi dan manfaat bagi kita semua
agar dapat menata hati dengan melakukan aktifitas apapun didalam kehidupan ini
agar hidup kita lebih berarti terutama untuk diri sendiri seterusnya bagi orang
lain namun yang terpenting dari yang penting janganlah hati kita lalai dari
mengingat-Nya.


Billahi taufiq wal hidayah wassallamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis:
Departeman Seni dan Budaya
Pengajian Tasawuf
Babur Ridho Rahmatullah
Ahli Thariqat Naqsyabandi Jabal Hindi

 

Bagikan :

Komentar

Tambah Komentar (0)

Batal

Balas Komentar

Komentar Berhasil diterbitkan
Komentar tidak dapat diterbitkan Silakan coba lagi..!
Alamat email yang anda masukkan salah..!
Alamat web yang anda masukkan salah..!
Kode Captcha yang anda masukkan salah...!
Bidang tidak boleh ada yang kosong....!

Artikel Terbaru