Fatwa MUI Sumut telah dicabut

 

FATWA SESAT YANG DIKELUARKAN MUI TK-I SUMUT TERHADAP
PENGAJIAN TASAWUF BABUR RIDHO AHLI THARIQAT

NAQSYABANDI JABAL HINDI TELAH DICABUT

Pada tahun 2006 tepatnya pada tangga 8 Juni (11 Jumadil Awal 1427 H)
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Propinsi Sumatera Utara melalui Komisi
Fatwa telah menerbitkan surat keputusan fatwa sesat terhadap diri Pribadi
Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan Bin H. Muhammad Thahir Bin Muhammad
Isa Bin Malan sebagai Pimpinan Pengajian Tasawuf Babur Ridho Ahli
Thariqat Naqsyabandi Jabal Hindi, dengan nomor:
22/kep-07/MUI-SU/VI/2006 telah dicabut  dengan kembali diterbitkannya
surat penjelasan Fatwa pada tanggal 18 Februari 2010 (4 Rabiul Awal 1431 H)
bahwa "FATWA TERSEBUT TIDAK BERLAKU LAGI" yang disahkan oleh:
Ketua Komisi Fatwa     : DR. H. Ramlan Yusuf Rangkuti, MA
Ketua Umum                   : Prof. Dr. H. Abdullah Syah, MA

 

Tetapi pemberitaan miring masih terus bergulir melalui media online
seputar Pengajian Babur Ridho Rahmatullah, diantaranya
Salah satunya di :
http://beritasore.com/2016/01/25/waspadai-aliran-sesat-muncul-lagi/


 

 

http://islamiccentermadina.blogspot.co.id/2014/01/mengenal


 

dan banyak lagi situs situs lainnya yang melakukan pemberitaan miring
seperti demikian.
  

Sehingga pemberitaan tersebut teramat sangat  mengganggu
pikiran setiap orang khususnya yang ingin beriman mencintai Allah
dengan menuntut ilmu tasawuf melalui thariqat dan  para pengguna
media online (nitizen) pada umumnya.

Bukankah ini sebuah tindakan pembunuhan karater building terhadap pribadi
Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan Bin H. Muhammad Thahir Bin
Muhammad Isa Bin Malan selaku pimpinan Pengajian, karena ini hanyalah
sebuah perbedaan pemahaman dan pendapat, yang mana perbedaan pendapat itu
antara sosok Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan dengan MUI propinsi
Sumatera Utara, antara lain:

1. Dimana Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan pernah di datangi
     Malaikat Jibril pada suatu malam ketika beramal ibadah. Namun MUI Propinsi
     Sumatera Utara memberikan penjelasan yang jauh berbeda atas keterangan
     yang disampaikan oleh Tuan Guru dengan menuliskan di dalam redaksi surat
     fatwa bahwa  Tuan Guru  mengaku selalu di dampingi malaikat Jibril,
     SEKALI LAGI KAMI TEGASKAN BAHWA TUAN GURU
     SYEKH. MUHAMMAD HIRFI NUZLAN HANYA PERNAH SEKALI
    
DI DATANGI MALAIKAT JIBRIL.

     Jika berbicara Malaikat Jibril, bagi  orang-orang pengamal thariqat melalui ilmu
    
tasawuf atau orang-orang sufi bukanlah sesuatu  yang harus diherankan sama sekali.
     Bila Allah SWT hendak memberikan petunjuk atau menunjukkan tanda-tanda
     kebesarannya atau kekuasaan-Nya dengan menurunkan Malaikat Jibril kepada seseorang
     yang dikehedaki-Nya tiada yang mustahil bagi Allah. Bahkan Allah SWT pun turun
     kelangit bumi setiap malam di sepertiga malam, sebagaimana dalam sebuah
     hadits shahih:
     Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
     “Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia pada setiap malam
     yaitu ketika sepertiga malam terakhir, (kemudian) Dia berfirman:
     ‘Barang siapa berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan,
     barang siapa meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan,
     dan barang siapa memohon ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni”

    Jadi, kenapa oknum-oknum MUI gusar akan Malaikat Jibril turun dan
    pernah mendatangi Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan.
    Bukankah malaikat Jibril turun atas perintah Allah, dan tidak ada
    satu manusiapun yang dapat mencegahnya. sesuai dengan firman
    Allah SWT itu sendiri:

   "Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril
   dengan izin  Tuhannya untuk mengatur segala urusan"

   (Q.s Al Qadr (97) ayat 4)

   dan kenapa kita harus  mendustakan atas kekuasaan Allah
   dan mendengki kepada seseorang yang diberikan kelebihan oleh Allah SWT.
   bukankah ini salah satu bentuk penyaki hati yang dapat
   mengazab diri kita sendiri. Allah SWT telah menegaskan
   di dalam firman-Nya:

 

   Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya;
   dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.
   (Q.s Al Baqarah (2) ayat 10)

 

 
2.  Pengakuan Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan bahwa semua
     
agama itu baik dan sorga itu adalah milik Allah SWT sehingga
      semua orang tanpa memandang agamanya dapat masuk ke dalam surga
      tersebut. Namun pihak MUI menilai dan memutuskan di dalam fatwa
      tersebut pada point:
      A.2  Memutuskan: bahwa seseorang yang memiliki keyakinan Allah SWT
               memasukkan orang kafir (non Muslim) ke dalam sorga adalah
               ke dalam sorga adalah salah dan bertentangan dengan ajaran Islam.

      A.4 Memutuskan: Keyakinan Sdr. Hirfi Nuzlan bahwa Allah SWT memberikan
               surga kepada setiap orang yang ikhlas tanpa membedakan agama
               yang dianutnya adalah salah dan bertentangan dengan ajaran Islam.


Hanya kedua point itulah yang menjadi perbedaan pendapat,
sehingga Tuan Guru difatwakan sesat Oleh MUI propinsi Sumatera Utara.

Di dalam ilmu Tasawuf bahwa pengertian KAFIR sendiri adalah 
hati yang keras tidak mau tunduk berdzikir kepada Allah SWT.
sebagaimana firman Allah SWT:

Maka apakah orang-orang yang dilapangkan Allah hatinya untuk (menerima)
agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang
membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka

yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah.
Mereka itu dalam kesesatan yang nyata (Q.s Az Zummar (39) ayat 22)
 
Jadi cukup jelas, bahwa SESAT YANG AMAT NYATA ITU ADALAH
HATI YANG KERAS KARENA TIDAK BERDZIKIR KEPADA ALLAH SWT.

Walaupun sudah difatwakan sesat oleh MUI Sumut, nyatanya pengajian Tasawuf
Babur Ridho Rahmatullah Ahli Thariqat Naqsyabandi Jabal Hindi
di bawah bimbingan Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan tetap saja
para jema'ahnya masih terus belajar menuntut ilmu tanpa surut sedikitpun
kepada beliau bahkan semakin hari jumlah murid yang  berminat menuntut ilmu
semakin hari semakin bertambah hingga membuka cabang-cabang pengajian karena
begitu besarnya minat masyarakat untuk menuntut ilmu tasawuf.

Bahkan ada salah satu orang murid yang dahulunya masyarakat
awam sekarang menjadi murid mengatakan
: "saya mau mencari pengajian yang sesat
itu, yang di fatwakan oleh MUI"
. Sehingga kini dirinya menjadi murid yang
ta'at kepada Allah, ta'at kepada Rasul dan tetap berpandu kepada gurunya.

Dan kini dirinya memahami akan maksud pendapat Tuan Guru tersebut
rupa-rupanya tujuannya adalah untuk mengajarkan kepada
murid-muridnya tidak boleh berburuk sangka dan merasa lebih baik (sombong)
kepada  agama lain,  bahkan kepada orang lain sekalipun.

 

Dalam hal ini kami tidak menyalahkan siapa-siapa.
Karena pada hakikatnya orang-orang yang mau
berjalan untuk memperbaiki diri terutama hatinya untuk menyatakan
keIslamannya dihadapan Allah dengan tata cara (methode) beramal ibadah
secara benar, pas, tepat dan terarah pada qalbu akan terus diuji
keimanannya dengan berbagai bentuk cobaan, cacian, hinaan bahkan fitnahan.
sebagaimana Allah SWT telah berfirman:

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga,
padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang
terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan,
serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah
Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya
pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan
Allah itu amat dekat.

(Q.s Al Baqarah (2) ayat 214)

Dan sesungguhnya Allah hanya meniliki isi hati kita (Qalbu kita) agar
dapat mengenal dan menyaksikan Allah dengan mata hati
(ruh yang telah fitrah kembali), sebagaimana firman Allah SWT:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah);
(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah
itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus;
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui

Q.s Ar Rum (30) ayat 30)

Bagaimana jalan atau tata cara untuk dapat membersihkan dan mensucikan hati
itu dapat ditemukan tata cara beramalnya dalam ilmu tasawuf melalui jalan
berthariqat. maka dari itu, carilah Wasilah (jalan) untuk dapat membimbing
hati kita untuk dapat mengenal kepada Allah. Karena Allah SWT telah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan
yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya
kamu mendapat keberuntungan.

Q.s Al Maidah (5) ayat 35)

 

Jika dalam hal ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) masih beranggapan atau
menilai pengajian Tasawuf Babur Ridho Ahli Thariqat Naqsyabandi Jabal Hindi
khususnya Pribadi Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan sesat, Bukankah
hal ini sebuah kemunafikan tulen yang dimiliki oleh oknum-oknum MUI
khususnya di MUI Propinsi Sumatera Utara, tetapi...kami yakin
masih ada juga oknum-oknum yang duduk di MUI Propinsi Sumatera Utara yang
berhati mulia dan berfikiran luas seperti yang dimiliki oleh Junjungan
Nabi Besar Muhammad SAW, artinya bahwa hanya Allah aja yang ada di dalam
hatinya dan pikirannya, sehingga pikiran dan hatinya menjadi jernih dan bersih
alias tidak kaku atau sempit.
Orang-orang seperti inilah yang disayangi dan di cintai Allah.
Bukankah ini tujuan beribadah bagi kita semua. 

Bukankah ini yang ingin kita gapai dalam beramal ibadah
untuk mencapai ma’rifatullah  atau mencapai keridho’an Allah.
Bukan seperti yang dituduhkan dan yang difatwakan oleh MUI sumut yang
notabene banyak oknum-oknum yan duduk di MUI hanya tahu seputar kulit luar
saja atau seputar ilmu fiqih saja, namun buta dalam memahami dan bagaimana
tata cara untuk memperbaiki hati (qalbu)nya sendiri.
Allah SWT telah menegaskan di dalam firman-Nya:
Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi.
Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati
.
(Q.s Al Fathir (35) ayat 38)

dalam dalam sebuah Hadist:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Abdurraman bin Syahrin Radhiyallahu Anhu
Rasulullah S.A.W bersabda :
Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupanya dan harta bendamu,
tetapi Dia memandang kepada hatimu dan amal perbuatanmu.
(H.R MUSLIM)


Ibnu Mas’ud berkata:
“Bukanlah ilmu itu karena banyak meriwayatkan, tetapi ilmu itu adalah
cahaya yang dimasukkan kedalam hati.
(dari kitab Ringkasan Ihya’ Ulumuddin hal 8 karangan Imam Al-Ghazali
penerbit Pustaka Amani Jakarta cetakan I oktober 1995)

 

Dalam hal ini kami mengingatkan dan menghimbau kepada seluruh masyarakat
pengguna media online dan khususnya pihak penyedia situs online (website)
agar lebih berhati-hati dan teliti dahulu sebelum menerima informasi
atau menyajikan pemberitaan dan membuat tulisan.
selayaknya haruslah dapat menerima informasi
dari kedua belah pihak, tidak hanya mendegarkan pemberitaan dari
salah satu sumber tertentu saja tanpa dapat dipertanggung jawabkan
kebenarannya, karena Allah SWT telah menegaskan di dalam firman-Nya:

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa
suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan
suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang
menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."

(Q.s Al Hujurat (49) ayat 6)

”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu
akan dimintai pertanggung-jawabannya”.

(Q.s Al Israa' (17) ayat 36)

Dan kami dari Pengajian Tasawuf Babur Ridho Rahmatullah Ahli Thariqat
Naqsyabandi Jabal Hindi engan kerendahakn hati membuka pintu yang
seluas-luas kepada siapa saja yang ingin bertanya tentang pengajian ini,
khususnya seputar fatwa yang telah diterbitkan oleh Majelis Ulama Indonesia
(MUI) Sumatera Utara. dengan mengunjungi alamat pengajian di:
Jalan. Asam Lorong Sekolah No. 4 Lingk. VII Kelurahan Martubung
Kecamatan Medan Labuhan, Medan-Sumatera Utara.
Telp. 061-641590   Fax. 061-6854974
atau berikan tanggapan langsung di kolom komentar situs ini.

Jika ingin lebih jelas mengetahui bagaimana perjalanan Panjang Pengajian Tasawuf
Babur Ridho Rahmatullah Ahli Thariqat Naqsyabandi Jabal Hindi di bawah
kepemimpinan Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan Bin H. Muhammad Isa Bin
Malan menghadapi, menanggapi dan memberikan jawaban atas segala keputusan
fatwa sesat yang diterbitkan oleh MUI Propinsi Sumatera Utara,
Tunggu jawaban Mursyid pada artikel-artikel berikutnya atas
fatwa MUI tersebut.

Dan jawaban tersebut telah dikirimkan melalui surat resmi
pada tanggal  22 Oktober 2006 dengan nomor: 030/DPP-PTBRR/DK/B//2006
sebanyak 65 tembusan surat.

 

Bagikan :

Komentar

Tambah Komentar (0)

Batal

Balas Komentar

Komentar Berhasil diterbitkan
Komentar tidak dapat diterbitkan Silakan coba lagi..!
Alamat email yang anda masukkan salah..!
Alamat web yang anda masukkan salah..!
Kode Captcha yang anda masukkan salah...!
Bidang tidak boleh ada yang kosong....!

Artikel Terbaru