Buruk Sangka

BURUK SANGKA PINTU GERBANG PENYAKIT HATI

 

Sesuatu hal yang baru atau asing, sesuatu hal yang tidak kita sukai atau 
sesuatu hal yang tidak atau belum kita membiasakannya terkadang membuat kita
enggan untuk dapat menerima dan melaksanakannya, padahal sesuatu itu belum
tentu buruk untuk kebaikan diri kita.

Pada umumnya setiap orang sangat suka terhadap sesuatu hal yang enak, mudah,
cepat dan realistis atau rasional namun tanpa disadari atau disadari kebiasaan
itu dapat memasung diri kita dari meraih kebenaran hakiki, sebab sifat-sifat
tersebut cenderung mengikuti hawa nafsu yang ada di diri kita,
karena hawa nafsu itu tidak ingin melakukan sesuatu hal yang susah untuk
melakukannya, tidak sabar atau tidak mau menunggu lama untuk mencapai sesuatu
tujuannya, apalagi bila sesuatu itu tidak rasional menurutnya, padahal tidak
bisa kita pungkiri didalam kehidupan kita banyak hal-hal yang tidak mudah atau
tidak enak atau sesuatu yang tidak kita inginkan kerap datang atau terjadi
kepada diri kita yang kesemuanya itu membuat diri kita semakin susah,
apalagi hal yang tidak realistis atau tidak rasional menghampiri didalam
kehidupan yang mau atau tidak mau harus kita jalani atau menerimanya pastilah
hal tersebut akan menjadi masalah yang membuat kita tidak bisa bersikap tenang
sepanjang diri kita belum dapat ikhlas menerimanya, sehingga rasa buruk sangka
terhadap hal yang belum dapat kita menerimanya menjadi penyakit yang selalu
membayangi atau menghantui didalam kehidupan ini yang akibatnya hati dan
pikiran kita selalu takut kalau-kalau hal itu datang kepada diri kita sehingga
rasa was-was atau kekhawatiran pun datang didalam kehidupan yang kita jalani
padahal dirinya sudah mengetahui akan ketentuan qodho dan qhodar Allah berlaku
kepada dirinya namun rasa buruk sangka kepada Allah dapat muncul seketika,
dirinya takut bila Allah memberikan ketentuan kepada dirinya sesuatu yang
tidak ia sukai. Padahal Allah SWT sudah berfirman yang artinya:

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang
kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

(Q.S.Al-baqarah (2) ayat 216).   

Dan Allah SWT berfirman yang artinya:
Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap
Tuhanmu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk
orang-orang yang merugi
.
(Q.S. Al-Fushshilat (41) ayat 23)

Kepada Allah saja, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang itu hati dan pikiran
serta hawa nafsu itu dapat berburuk sangka, apa lagi kepada manusia sebagai
ciptaan Allah tentulah hal tersebut berpeluang besar terhadap hati yang belum
benar-benar tunduk, ridho atau ikhlas kepada Allah  apalagi bila dirinya
ditimpa suatu cobaan, ujian  dan goncangan baik dari Allah ataupun dari
perbuatannya sendiri seperti ditimpa kemiskinan, kemelaratan, kesengsaraan,
kesakitan, penderitaan dan lain sebagainya yang tentunya hal tersebut sangat
tidak disukainya, pastilah hatinya menjadi amarah, benci, iri, hasud, dengki
tanpa mau untuk mengoreksi diri atau menyalahkan dirinya sendiri, dan secara
otomatis diri itu akan mencari kambing hitamnya untuk cenderung menyalahkan
orang lain yang tidak sesuai dengan dirinya terlebih dirinya dapat kufur
terhadap Allah menjadilah dirinya marah terhadap ketentuan Allah karena
hatinya tidak dapat menerima keputusan Allah.

Seperti Allah SWT berfirman yang artinya:
dan supaya Dia mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan
orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka
buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat
buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka
neraka Jahanam. Dan (neraka Jahanam) itulah sejahat-jahat tempat kembali.

(Q.S. Al-Fath (48) ayat 6)


Perlu kita ketahui buruk sangka adalah penyakit hati yang sangat BESAR,     
Buruk sangka tanpa kita sadari sering kali kita lakukan, kadang-kadang kita
menilai seseorang hanya dari kulit luarnya saja padahal kita belum tahu apa
yang ada didalam hatinya.

Misalnya:
Kita ada mendengarkan perkataan dari seseorang menceritakan keburukan seseorang
kepada kita, lalu kita terpengaruh terhadap cerita itu sehingga hati kita
menjadi marah, benci, iri dan dengki dan lain sebagainya, padahal kita belum
tahu cerita yang sebenarnya dan kita belum menanyakan atau menelitinya kepada
seseorang yang bersangkutan, seharusnya yang kita lakukan adalah menanyakan
kebenaran cerita kepada yang bersangkutan namun itulah yang namanya buruk
sangka ia muncul terlebih dahulu jelasnya mendahului kebenaran (fakta),
sudah lebih pandai menilai dan menyimpulkan sebelum dirinya mengetahui yang
sebenarnya tentang kebenaranya cerita tersebut.


Allah SWT berfirman yang artinya:
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka,
sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu
mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing
sebahagian yang lain. S
ukakah salah seorang di antara kamu memakan daging
saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.
Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi
Maha Penyayang.

(Q.S. Al-Hujuraat (49) ayat 12).   

Dan Allah SWT berfirman yang artinya:
Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan semua
yang ada di bumi.
Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah,
tidaklah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka
belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga.

(Q.S. Yunus (10) ayat 66).

Sesuatu hal yang dapat dilihat oleh kasat mata dan kita dengar oleh telinga
kita dalam kehidupan sehari-hari menambah pengetahuan bagi diri kita untuk
dapat mengukur seberapa besar penyakit buruk sangka, atau masih adakah penyakit
itu di hati kita…? sebab apa-apa yang kita lihat atau kita dengar itu nantinya
akan diterima akal dan akal atau sifat akal itupun menimbang, menilai,
dan menyimpulkan baik buruknya, suka tidak sukanya, dan bila akal itu menilai
terhadap penilaian positif atau negatifnya  sesuatu itu seterusnya dapat
mempengaruhi HATI sehingga hati itu dapat senang atau marah dan susah,
hati itu dapat berani atau takut, khawatir dan was-was, benci atukah suka,
dan bila hati itu tidak suka atau benci, atau marah maka disinilah lahirnya
atau bermunculannya berbagai  penyakit-penyakit hati lainnya seperti iri,
dengki, hasud, dendam, ujub, ria, sombong, dan lain sebagainya, proses ini
terjadi karena:
“HATI KITA TIDAK BERDZIKIR MENGINGAT ALLAH”.

Seperti firman Allah SWT yang artinya:
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi
tenteram.

(Q.S.Ar-Ra’d (13) ayat 28).

Seperti firman Allah SWT yang artinya:
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa
takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang,
dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.

(Q.S.Al-A’raaf (7) ayat 205).

Jadi perlulah kita ketahui, apa penyebab buruk sangka dan bagaimana caranya
untuk  dapat menepis atau membuang atau menaklukan segala buruk sangka yang
ada di dalam pikiran dan hati kita…??!, berikut ini marilah kita lihat hikmah
kisah Nabi Musa a.s. bersama seorang hamba yang sholeh yaitu Nabi Khaidir
yang di jelaskan didalam Al-Quran, sebagai pelajaran bagi hati kita.

Allah SWT berfirman yang artinya:
65. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba
       Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami,
       dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.
66. Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu
    mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah
    diajarkan kepadamu?"
67. Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup
    sabar bersamaku.
68. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum
    mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?"
69. Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang
    yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun".
70. Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan
    kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya
    kepadamu".
71. Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu
    lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu melobangi
    perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?"
    Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.
72. Dia (Khidhr) berkata: "Bukankah aku telah berkata: "Sesungguhnya
    kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku"
73. Musa berkata: "Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan
    janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku".
74. Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan
    seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: "Mengapa
    kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain?
    Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar".
75. Khidhr berkata: "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa
    sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?"
76. Musa berkata: "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah
    (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu,
    sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan udzur padaku".
77. Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada
       penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu
       tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian
       keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir
       roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata:
       "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu".
78. Khidhr berkata: "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu;
    Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang
    kamu tidak dapat sabar terhadapnya.
79. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja
        di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan
        mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap
80. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang
        mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang
        tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.
81. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka
       dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan
       lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).
82. Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di
       kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka
       berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shaleh, maka Tuhanmu
       menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan
       mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu;
      dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri.
       Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat
    sabar terhadapnya".

(Q.S.Al-Kahfi (18) ayat 65-82)

 

Hikmah ayat diatas Allah telah menerangkan kepada kita bahwa perbuatan-
perbuatan yang dilakukan Nabi Allah Khadir itu sangat tidak bisa
terjangkau oleh Nabi Musa yang hanya mengandalkan ILMUNYA YANG
BERDASARKAN AKAL PIKIRNYA saja, sehingga perbuatan-perbuatan Nabi Allah
Khaidir yang pada dasarnya di luar akal manusia itu mendorong akal untuk
menvonis bahwa perbuatan itu salah dan akal itu mendorong untuk
menanyakan kenapa hal itu diperbuatnya..? padahal Nabi Musa sudah
mengadakan perjanjian dengan Nabi Allah Khaidir untuk tidak MENANYAKAN
atas apa-apa yang diperbuatnya bila Nabi Musa ingin belajar kepada Nabi
Khaidir, Nabi Musa tidak dapat sabar atas perbuatan Nabi Allah Khaidir
yang diterangkannya bahwa apa yang dilakukannya bukanlah kemauan atau
kehendak Hawa Nafsu Nabi Allah Khaidir akan tetapi perbuatan itu adalah
petunjuk ataupun seruan Allah kepada Nabi Allah Khaidir yang telah
mengajarkan pengetahuan atau ilmu dari sisi-Nya.

Jadi pesan dari ayat ini adalah bagaimana Hati manusia itu wajiblah
berdzikir mengingat Allah kapanpun dan dimanapun dirinya berada dan
dalam situasi serta kondisi apapun hati kita wajib tetap terus berdzikir
kepada Allah agar hati kita tetap tenteram bersama Allah, terlebih akal
dan pikiran wajib pula tunduk kepada Allah yaitu tetap dengan prasangka
yang baik dengan memandang segala kejadian itu adalah semata-mata pada
hakikatnya Allah pula yang mengizinkan sesuatu itu bergerak dan sudah
tercatat di LOHMAHFUZ jadi jelasnya HATI DAN PIKIRAN HARUS TETAP TUNDUK
KEPADA ALLAH DENGAN SELALU HATI KITA BERDZIKIR MENGINGAT  ALLAH.

Sesuai dengan Firman Allah SWT yang artinya:
Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari
Al Qur'an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami
menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari
pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarah (atom) di bumi atau pun di
langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar
dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz).

(Q.S. Yunus (10) ayat 61).

Dan Allah SWT  berfirman yang artinya:
Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang
telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan
hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal."

(Q.S. At-Taubah (9) ayat 51).

Untuk itu bagi saudara-saudaraku yang kusayangi, yang kukasihi,
dan yang kucintai, marilah menjaga hati dan pikiran kita untuk tidak
berburuk sangka kepada siapapun apalagi berburuk sangka kepada Allah
yang tentunya dengan tetap selalu diri kita berlindung kepada Allah
dengan hati kita yang terus tetap berdzikir mengingat Allah karena pada
hakikatnya hanya Allah yang dapat menjaga hati dan pikiran  kita,
ingatlah Allah dihati kita masing-masing  agar hati kita dapat tentram
bersaman-Nya, dan bila hati kita selalu mengingat-Nya maka Allah akan
mengingat kita pula dan insya Allah, Allah akan terus menjaga hati kita
dari KEBURUK SANGKAAN yang menjadi pintu gerbangnya penyakit-penyakit
hati itu.

Sesuai Allah SWT  berfirman yang artinya:
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu,
dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) -Ku.

(Q.S.Al-Baqarah (2) ayat 152).

Akhirul Kalam Semoga Allah memberikan Karunia dan Rahmadnya bagi
orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencintai-Nya dengan
bersungguh-sungguh pula memperbaiki diri dan hatinya ini dari penyakit-
penyakit hati terutama BURUK SANGKA.
Amiin.. amiin.. ya rabbal ‘alamiin.

 

 

Bagikan :

Komentar

Tambah Komentar (0)

Batal

Balas Komentar

Komentar Berhasil diterbitkan
Komentar tidak dapat diterbitkan Silakan coba lagi..!
Alamat email yang anda masukkan salah..!
Alamat web yang anda masukkan salah..!
Kode Captcha yang anda masukkan salah...!
Bidang tidak boleh ada yang kosong....!

Artikel Terbaru