Awaluddin Ma_rifatullah

AWALUDDIN MA'RIFATULLAH

Awal-awal dari agama itu adalah mengenal/menyaksikan (melihat) Allah, dan di dalam rukun Islam yang pertama adalah
mengucap dua kalimah Syahadat, yaitu :
kita bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW itu adalah utusan Allah. Bersaksi
di sini mengandung pengertian yang sangat mendalam, secara hikmah, bersaksi itu adalah menyaksikan atau melihat Allah,
tegasnya RUH yang kembali fitrah bersih dan suci kembali menyaksikan Allah SWT pertama kali saat ruh akan ditiupkan
kedalam janin anak cucu adam yang awalnya dalam keadaan fitrah. jadi, kalimah Syahadat yang benar di dalam padangan
Allah SWT adalah: "KALIMAH SYAHADAT YANG DIUCAPKAN DI LIDAH DAN DITASDIKKAN ATAU DIBENARKAN DI DALAM HATI,
YAITU HATINYA TELAH DAPAT KEMBALI MENYAKSIKAN ALLAH".


Sabda Nabi Muhammad SAW:
Ibnu Umar meriwayatkan : “ Dikatakan, “ Ya Rasulullah, dimana Allah, di Bumi atau dilangit ?”
Nabi s.a.w. menjawab, “ Didalam hati-hati hamba-hambanya yang beriman”.
Dalam khabar, Allah Ta`ala berfirman : “ Bumi dan langit-Ku tidaklah mencukupi Aku,
tetapi hati hamba-Ku yang berimanlah yang mencukupi Aku”.
Dengan itu Umar berkata, “ Hatiku melihat Tuhanku. Ia menyucikan hatinya”.


dan firman Allah SWT yang artinya:
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil
kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau
Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:
"Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)"

(Q.S Al A'raaf (7) ayat 172)


Penjelasan ringkas:
Allah mengambil "Kesaksian atas diri mereka" dan berkata "Bukankah Aku ini Tuhanmu...?", Allah pada hakikatnya
berkata kepada Ruh ciptaan-Nya atau tegas dan terangnya Allah berkata di dalam alam ghaib dengan yang ghaib juga
(Allah berbicara dengan Ruh ciptaan-Nya yang ghaib juga) untuk para ruh yang akan di ambil kesaksiannya oleh
Allah, dan seluruh Ruh menjawab setelah mereka melihat dan menyaksikan Allah, lalu mereka berkata dengan tegasnya.
"BETUL, KAMI MENJADI SAKSI" lalu Allah berkata kembalikepada Ruhnya "Agar kamu nanti semuanya tidak mengatakan di
hari kiamat,
kamu semuanya LALAI, LUPA (TIDAK INGAT) tentang peristiwa besar ini", karena hari kiamat yang dimaksudkan
di dalam firman ini lebih condong kepada hari kiamat tentang diri pribadi kita masing-masing, bukan hari kiamat
hancur totalnya alam ini, kalaupun itu ada yang tepat ia mengalaminya juga pasti akan adanya, namun yang perlu kita
benahi maksud di dalam firman ini adalah hari kiamat tentang : KEMATIAN DIRI KITA UNTUK MENEMUI SANG MAHA PENCIPTA
(KIAMAT SUGRO), bila ruh yang telah ditiupkan Allah di dlam diri kita masing-masing telah kembali fitrah seperti
semula, maka RUH itu akan kembali dekat disisi-Nya ITULAH RUH YANG SELAMAT atau itulah yang dikatakan dengan RUH
YANG TELAH TERLEPAS DARI BELENGGU-BELENGGU HAWA, NAFSU, DUNIA, SYAITHON.
 
firman Allah SWT yang artinya:
Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan". Dan (katakanlah): "Luruskanlah muka (diri) mu di setiap shalat
dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan
 (demikian pulalah) kamu akan kembali kepada-Nya)".(Q.S. Al-A'raaf (7) ayat 29).


Dalam sebuah Hadits Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya:
"Siapa berperang untuk MENEGAKKAN KALIMAT (AGAMA) ALLAH, maka itu FISABILILLAH".
(H.R.Bukhori, Muslim, Abu Daud)


Pada hakikatnya agama itu adalah RUH, sehingga firman Allah mengatakan:"TEGAKKANLAH AGAMA ALLAH", artinya luruskanlah
kembali atau dirikanlah kembali RUh Allah itu yang sudah lama tertidur, terbenam, terhijab, tertutup, terbelenggu,
terpenjara, dan apapun itu istilahnya, namun yang terpenting adalah bagaimana diri kita dengan ilmunya dapat
mengembalikan lagi RUH yang tertutup itu dapat menyaksikan Tuhannya, itulah pokok persoalan utama bagi kita semua
terhadap anak-anak bangsa yang kita sama-sama kita cintai ini, amiin, amiin yaa rabbal 'alamin.

Untuk semua ini mau tidak mau, suka atau tidak suka, sempat atau tidak sempat hukumnya adalah wajib bagi setiap
individu untuk menuntut ilmunya didalam thriqat menuju TASAWuF sehingga sentral dari amal ibadah kita jatuhnya pada
mata hati, yang harus kita capai dengan suatu ilmu dan methode/ cara/ jalan untuk membersihkanya, agar terang
benderang mengeluarkan cahaya karena selalu dijaga dan selalu setiap saat dibersihkan tentunya  dengan dzikrullah.
jadi Allah itu ada dihati orang-orang mukmin, dan Allahlah pada hakikatnya yang menjaga ruh-Nya, agar tidak tercemari
oleh noda-noda hitam yang dapat menutupi atau menghalanginya dari melihat/menyaksikan Tuhannya yang Maha Suci dan
Maha Agung itu.

Allah SWT berfirman di dalam hadits Qudsi yang artinya:
"Tidaklah Aku memperhatikan Haq hamba-KU, sebelum ia menunaikan Haq-KU"
(H.Q.R. Thabarani dalam kitabnya Al-Kabiir yang bersumber dari Ibnu Abas r.a).


Apa yang d-imaksudkan di dalam Hadits qudsi ini tentang Haq Allah...? Haq Allah itu tidak laian adalah:
RUH YANG BERSIH DAN SUCI YANG DAHULU DITIUPKAN-NYA ATAU RUH YANG DITITIPKAN-NYA ATAU TEGASNYA ADALAH
SEBAGAI AMANAH DARI ALLAH
kedalam setiap diri anak cucu Adam pada waktu di dalam rahim seorang perempuan,
setelah lahir, dewasa (akil baligh)tua dan sampai ajal menjemput pada waktunya wajib bersih dan suci kembali
kepada Tuhannya, itulah yang dinamakan:
"HAQ ALLAH". Tegasnya kembalikan dahulu RUH YANG BERSIH DAN SUCI itu barulah Allah memperhatikan haq kita.

Allah SWT telah berfirman:
Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan,padahal kamu ketika itu melihat,dan Kami lebih dekat kepadanya
daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat,Maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah)? maka mengapa jika kamu
tidak dikuasai (oleh Allah)? (Q.S.Al-Waaqi'ah (56) ayat 83-87).


Beramal ibadah dengan pas,tepat, benar dan terarah serta dengan perkataan dan perbuatan yang benar pula sesuai
dengan hati yaitu hati yang mengenal atau menyaksikan Allah adalah tujuan beragama, yang demikian adalah
orang-orang yang dicintai Allah, dan semoga Allah memberikan karunia dan rahmad-Nya kepada kita semua dan
termasuklah kita sebagai orang-orang yang mati dalam keadaan HUSNUL KHOTIMAH,
Laahawlah wala kuwwata illa billa hil 'aliyul adziim.




 

Bagikan :

Komentar

Tambah Komentar (0)

Batal

Balas Komentar

Komentar Berhasil diterbitkan
Komentar tidak dapat diterbitkan Silakan coba lagi..!
Alamat email yang anda masukkan salah..!
Alamat web yang anda masukkan salah..!
Kode Captcha yang anda masukkan salah...!
Bidang tidak boleh ada yang kosong....!

Artikel Terbaru