Al Quran itu Cahaya

 

AL-QURAN ITU ADALAH CAHAYA/RUH YANG SUCI

Melihat fenomena di zaman sekarang ini Umat Islam telah terkotak-kotak
alias telah terpecah-pecah antara satu dengan yang lainnya,
masing-masing golongan mengatakan:
”Kamilah yang benar.... karena kami berdasarkan Al-qur’an”,
golongan yang lain juga mengatakan:
“kamilah yang paling benar... karena berdasarkan Al-qur’an dan
menafsirkan Al Qur’an berdasarkan kaidah Tafsir, serta ilmu-ilmu
lainnya”,

dan banyak lagi ungkapan-ungkapan lainnya untuk mempertahankan
pendapat mereka masing-masing seperti juga yang disampaikan oleh
lembaga Majelis Ulama Indonesia (MUI), semua yang mereka sampaikan
adalah kebenaran, karena  kebenaran itu yang tujuannya hanya untuk
mencintai Allah dan menuju kepada Allah semata sepanjang penafsiran
itu tidak lari dari makna hakikat yang sesungguhnya dan dapat diterima
akal sehat dan dibenarkan oleh hati,
namun bukan berarti kita
memperselisihkan soal pemahaman dan penafsiran ayat-ayat Al Qur’an
dengan orang lain bahkan ngotot mengklaim dirinyalah atau golongannyalah
yang paling wajib diikuti dengan menganggap orang lain semua salah di
matanya, bukankah ini sifat sombong yang muncul dengan ilmu yang
dimilikinya itu.


           Kalau mau di sadari secara benar dan jujur, sesungguhnya yang paling
wajib kita ikuti dan kita taati adalah bagaimana hati kita ini sudah
benar-benar hanya penuh mencintai Allah tanpa berpaling kepada selain
Allah sedikitpun, dan itu semua kalau kita juga mau mengakui secara
benar dan jujur yang sebenar-benar jujur, dan pastilah hati kita tidak
sombong dan angkuh serta ria dengan ilmu yang kita miliki, karena yang
Maha ilmu itu hanyalah Allah semata.

Jadi hindarkanlah, jauhkanlah dan hilangkanlah dari diri kita sendiri
untuk mengklaim kitalah yang paling benar. Karena kita tahu bahwa hanya
Allah-lah yang Maha Benar, bila hati kita telah melekat secara istiqomah
 hanya menyebut dan berdzikir kepada Allah azza wajjala yang
Maha Mengetahui segala isi hati kita. Kalau diri kita sudah sibuk untuk
memperbaiki diri dan membenahi hati kita masing-masing untuk menyebut
nama Allah dan berdzikir tunduk sujud menghamba kepada-Nya,
pasti jauhlah dari perselisihan dan beda pendapat untuk bertengkar
dan saling menyalahkan serta sesat menyesatkan.
Tetapi sebuah perbedaan pendapat sepanjang untuk kemaslahaan  umat,
itu adalah rahmat yang besar. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:
“Perbedaan umatku adalah rahmat”

Dan Allah SWT juga telah berfirman bagi diri kita yang mengaku telah
beriman dan mengerjakan segala perintah-perintah Allah di dalam beramal
ibadah dan menjauhi segala bentuk larangan-larangan-Nya,
dengan menyeruh dan memerintahkan agar hatinya tunduk khusyuk hatinya
hanya menyebut dan menyaksikan Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:

dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri
dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi
dan petang, dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang lalai.

(Q.S Al A’raaf (7) ayat 205)


Dan firman Allah SWT lagi yang artinya:
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman,
untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran
yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti
orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al kitab kepadanya,
kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka
menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang
yang fasik. (Q.S Al Haddid (57) ayat 16)


Barulah Allah menurunkan ketentraman dan ketenangan kedalam hati kita,
tentramlah kehidupan jiwa kita di dalam bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara, karena hati kita masing-masing telah menyebut dan berdzikir
kepada Allah secara berkekalan, sebab hanya Allah lah yang dapat
memberikan ketentraman dan ketenangan di dalam hati kita masing-masing,
dan bagi pemeluk agama lain biarlah dengan caranya dan ucapannya yang
telah di atur Allah untuk menuju kepada Tuhan yang satu.
Agama Islam dengan menyebut “Laa ilaha Illallah” dan urusan keyakinan
agama lain yang diluar Islam biarlah nanti Allah yang memberi
perhitungan kepada diri kita masing-masing.

Jika kalau sesama agama Islam sudah bertengkar dan saling bermusuhan,
saling mengejek dan mengolok-olok dan memvonis sesat menyesatkan,...
bukanklah ini merupakan suatu aib bagi pemeluk agama Islam itu sendiri..?
betapa senang dan bahagianyalah syaitan/iblis itu telah memainkan
peranannya yang sangat begitu halus mempengaruhi akal pikir kita
sehingga membuat hati kita menjadi amarah yang begitu besar untuk
mengacau dan mengotak-ngotakkan agama yang kita yakini itu,
yaitu; agama Islam
. Jelasnya diri kita telah diduduki dan dikuasainya
(syaitan/iblis) untuk mengikuti langkah-langkahnya yang menunjukkan
sifat kealiman, taat, kewara’an, kezuhudan dan keshalehan kepada Allah,
namun kalau ditilik dan diteliti dengan benar, Allah SWT mengatakan
bahwa; mereka itu semuanya telah terjerumus dan terpelesat oleh kealiman,
ketaatan, kewara’an, kezuhudan, dan keshalehannya itu sendiri.
Mengapa...???? kalau kita orang yang benar yang memakai akal yang sempurna
untuk mencintai-Nya dan sesungguhnya hanya Allah-lah yang tahu orang
yang sebenar-benar takwa itu, maka diri kita tidak akan akan menghina,
menghuzat, mencaci, mengolok-olok orang lain bahkan sampai menimbulkan
pengerusakan dan penganiayaan... yang jelas di mata hukum (aturan) dunia
saja jelas-jelas perbuatan tersebut telah melanggar ketertiban umum,
namun secara sadar atau tidak sadar kita termasuk yang dikatakan Allah
sebagai golongan syaitan disebabkan tidak berdzikirnya hati kepada Allah
secara istiqomah. Allah SWT telah berfirman:
Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa
mengingat Allah; mereka Itulah golongan syaitan. ketahuilah,
bahwa Sesungguhnya golongan syaitan Itulah golongan yang merugi.
(Q.S Al Mujaddilah (58) ayat 19)


36. Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah
        (Al Quran), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) Maka syaitan
        Itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.
37. dan Sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka
        dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat
         petunjuk.
(Q.S Az Zukhruf (43) ayat 36-37)


Perlulah kita ketahui bersama wahai saudara-saudaraku yang kukasihi,
kusayangi, dan yang kucintai, yang seiman, senasib serasa dan
penanggungan.  bahwa sesungguhnya bukanlah Al-quran yang salah,
tetapi oknum atau golongan yang memahami Al-Quran tersebutlah yang
belum tepat serta belum pula mengerti Hakikat Al-quran yang sesungguhnya
itu.

Firman Allah Swt yang artinya:
52.  Dan Demikianlah kami wahyukan kepadamu RUH (Al Quran) dengan
perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab
(Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami
menjadikan Al Quran itu cahaya, yang kami tunjuki dengan dia siapa
yang kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu
benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
(Q.S Asy-Syuura (42) ayat 52)


Catatan Penting;
Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan  menafsirkan ayat tersebut
di atas:
“Kami wahyukan kepadamu RUH (Al Quran) dengan perintah kami”
   ditafsirkan: setiap anak manusia mempunyai ruh ciptaan Tuhan yang
   diperitahkan Allah untuk bersemayam di hati itulah Ruh kebenaran,
   apabila anak manusia itu terus menjaganya agar tetap bersih dan suci
   seperti semula, maka wajiblah ia menjaganya dengan selalu berdzikir
   menyebut Allah. Karena Ruh itu hanya tahu, hanya berkeinginan, hanya
   berhasrat kepada Allah semata.

   Apabila Ruh yang ditiupkan Allah kepada
   setiap insan manusia tidak terjaga dan bahkan tercemari oleh berbagai
   isi kehidupan dunia ini dan ruh itu tidak kita kembalikan kepada yang
   menciptakannya, maka merugilah orang-orang tersebut. Mengapa...??
   karena yang punya diri selalu memperturutkan kehendaknya, hasratnya,
   kemauannya dan hawa nafsunya untuk hanya mengejar kepentingan duniawi
   dari pada kehendak Ruh yang hanya tahu mengenal berharap dan
   berkeinginan hanya kepada yang menciptakannya, yaitu “TUHAN”. 
   (Q.S Al A’araf (7) ayat 172 & Q.S Al Israa’ (17) ayat 85).


“Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan
  tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al Quran
  itu cahaya”,
  ditafsirkan; bahwa jelaslah sudah bagi kita semua, kita
  tidak akan tahu apa itu Al Kitab (Al Qur’an ) dan apa itu iman tanpa
  diberitahu Allah, karena ikatan-ikatan nafsu baik yang kasar apalagi
  yang halus menyelimuti hati kita. Walaupun ada seseorang yang
  diberitahukan dan mendapat petunjuk oleh Allah, diri kita tidak dapat
  menerimanya, karena orang yang memberi tahu itu sama dengan diri kita
  ketika dilihat dengan pandangan dzahir. Padahal Allah telah memberikan
  kepada orang tersebut suatu pemahaman, penafsiran, dan makna yang
  sesungguhnya langsung dari sisi Tuhannya kedalam hatinya. Bukankah
  Allah SWT telah berfirman:
  " Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami,
  yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang
  telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami"

  (Q.S Al Kahfi (16) ayat 65)

Bukankah ini sesuatu kelebihan yang bila Allah berkehedak akan
diberikan-Nya kepada siapa saja yang hendak ditunjuki-Nya.
Maka dari itu... Janganlah berburuk sangka, janganlah iri hati apalagi
mendengki dan sombong serta angkuh dengan merasa lebih baik dari orang
lain, bukankah kita hanya tercipta karena setetes air mani yang hina
melalui seorang laki-laki dan perempuan (ibu bapak).

Kitab adalah firman-firman Tuhan (Allah) yang disusun secara tersurat
yang dapat kita baca, yaitu kitab suci Al Qur’an atau kitab-kitab suci
lainnya.  Sedangkan kitab di sisi Allah adalah kitab Lauh Mahfuzh yang
merupakan catatan Allah yang sudah tertulis tentang diri kita masing-
masing yang tidak dapat di robah-robah lagi, dan iman pun adalah suatu
bentuk keyakinan yang ghaib (tidak terlihat namun nyata dapat dirasakan)
yang terletak di dalam hati kita sendiri yaitu nyatanya  Allah  di dalam
pandangan mata hati kita, itulah yang dikatakan “Iman”.
Sehingga jika ruh/jiwa tidak dapat  kita kembali bersih seperti
semula (Qur’an), mustahil kita akan dapat mengetahui kitab dan iman itu.

Namun bila ruh/jiwa kita telah kembali bersih dan suci seperti semula
dekat di sisi Allah, pastilah Allah memberitahu kepada ruh yang berada
di dalam diri kita, karena ruh/jiwa itulah yang hanya tahu kepada
Allah yang menciptakannya, dan karena ruh itu di dalam diri kita,
kita pun diberi tahu oleh ruh itu pula, dam iman itu adalah suatu
keyakinan yang amat nyata di dalam setiap diri kita,

Untuk Menafsirkan atau mengartikan ayat-ayat Al-Quran hendaklah memahami
alatnya seperti mahir dalam berbahasa Arab, mengetahui dan menguasai
ilmu Nahwu, Sharaf, Ma’ani, Badi’, Bayan, Manthiq,  Wasith, ‘Arudh Wal
Qawafiy dan lain sebagainya yang semestinya haruslah dituntut
di wadah-wadah pendidikan Formal baik di Madrasah maupun di Universitas,
Namun Bagaimana agar untuk memahami Hikmah Al-Quran…???! 
tentunya juga memerlukan alat yaitu kebersihan dan kesucian hati,
yang tidak perlu dituntut di universitas atau diperguruan tinggi, 
tetapi memerlukan bimbingan dari Allah SWT baik itu bersifat langsung
maupun melalui  seseorang yang Ahli tentang perjalanan hati itu, 
karena hanya hati yang bersih dan sucilah yang dapat menyentuh hikmah
Al-Quran sebagai Induk Kitab DI SISI ALLAH.

Seperti Firman Allah yang artinya:
"Dan Sesungguhnya Al Quran itu dalam Induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh)
DI SISI KAMI, adalah benar-benar Tinggi (nilainya) danamat banyak
mengandung HIKMAH
" ( Q.S Az-Zukhruf (43) ayat 4 )

Dan Firman Allah yang artinya:
77.  Sesungguhnya Al-Quran Ini adalah bacaan yang sangat mulia,
78.  Pada Kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh),
79.  Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.

(Q.S Al-Waaqi’ah (56) ayat 79)


Menafsirkan maksud dan hikmah Al-Quran tanpa di barengi dengan
kebersihan dan kesucian hati atau hatinya tidak beserta dengan Allah,
maka akan berakibat fatal terhadap tujuan yang dimaksudkan oleh
Allah Swt,  sebab tanpa kebersihan dan kesucian hati, penafsiran
tersebut akan dapat membawa kepada kecendrungan terhadap hawa nafsu,
kecenderungan terhadap kepentingan diri pribadi atau golongan, maupun
kepentingan agama yang diyakininya sehingga dapat menyimpang dari
tujuan yang dimaksudkan oleh Allah itu sendiri yaitu untuk menuju
kepada sebenar-benar takwa di sisi Allah, untuk itu marilah kita
berlomba-lomba membersihkan dan mensucikan hati kita masing-masing agar
hati kita selalu dapat dekat terus di sisi Allah, dan tidak keliru
nantinya didalam memahami maksud dari isi kandungan Al-quran itu,
karena pada hakikatnya manusia yang hatinya selalu berkekelan kepada
Allah, Allah-lah yang akan mengajarinya langsung kedalam hatinya,
sehingga penafsiran yang dikeluarkannya tidak ada berdasarkan kehendak
hawa nafsu dan kepentingan pribadi maupun golongannya.

Bila setiap individu atau golong saling berlomba-lomba sibuk untuk
membersihkan hatinya masing masing dengan amal ibadah tuntunan dalam
agamanya tanpa meninggalkan urusan dan kepentingan duniawi yang
merupakan tanggung jawabnya sebagai insan makhluk sosial serta tuntutan
di dalam berkeluarga dan sebagai tanggung jawab dalam bekerja,
bermasyarakat, berbangsasa dan bernegara. Sehingga dengan demikian,
jauhlah rasa permusuhan atau kejahatan, dan jauh pula budaya saling
mencaci, saling memfitnah, atau saling mengintimidasi antara satu sama
lain, karena dihatinya sudah merasakan kebesaran kebesaran Allah itu,
tentunya dengan sengaja secara dini membuang penyakit-penyakit hati
yang ada bersarang di dalam dada setiap anak manusia,
seperti: su’uzhon (buruk sangka), iri, dengki, benci, ria, takabur,
hasud, Bakhil/pelit/ bedekut dan lain-lain  yang tentunya dengan metode
yang benar, pas, tepat dan juga terarah serta dibimbing oleh seorang
yang ahli pula untuk bagaimana membersihkan hati yang ada di dalam dada
kita masing-masing.

Firman Allah yang artinya:
17. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu)
      dan (membuatmu pandai) membacanya.
18. Apabila kami Telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu
 
(Q.S. Al-Qiyaamah (75) ayat 17-18)

Dan Firman Allah lagi yang artinya:
Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada
orang-orang yang diberi ilmu. dan tidak ada yang mengingkari
ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.

(Q.S Al-Ankabuut (29) ayat 49)


Catatan penting
Penjelasan Tuan Guru Syekh. Muhammad Hirfi Nuzlan terhadap
(Q.S Al-Ankabuut (29) ayat 49); bahwa ayat-ayat Allah yang ada di dalam
dada kita masing-masing adalah perkataan-prkataan Allah yang
Maha Benar itu,

seperti bila mendengar lintasan hati yang berkata;
“shalatlah..” lalu yang mendegarkan kata-kata hati itu melakukannya
langsung untuk menegakkan shalat secara syari’at dengan memenuhi syarat
dan rukunnya, maka benarlah orang tersebut telah mengikuti bacaannya
(ayat-ayat Allah) yang dibacakan Allah kedalam hatinya, dan apabila
bacaan yang terlintas di hatinya tentang sesuatu yang tidak baik maka
jangan ikuti bacaan itu. Karena sebenarnya Allah hanya mengajarkan
kepada hal-hal kebaikan “Amal ma’ruf nahi munkar”. Allah SWT telah
berfirman:

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan,
memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji,
kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar
kamu dapat mengambil pelajaran"
(Q.S An Nahl (16) ayat 90)

 Kitab suci Al-qur’an yang kita kenal secara umum adalah Al-Quran yang
tersurat yaitu terdiri dari 30 Juz, 114 surat dan 6666 ayat,
namun pernahkah kita berfikir untuk mencari Al-Quran yang tersirat
ataupun yang tersuruk yang penuh dengan hikmah itu ...?
yang sebenarnya sudah ada didalam dada kita masing-masing yaitu RUH
yang telah ditiupkan kedalam janin anak manusia yang harus dijaga untuk
selalu fitrah atau difitrahkan, kalau ruh/jiwa itu sudah tenggelam oleh
hiruk pikuknya dunia ini atau terlalu mencintai dunia sehingga ruh itu
tidak dapat lagi mengenal dan menyaksikan Tuhannya, atau tegasnya telah
terhijab/terdinding oleh isi dunia ini. Maka dari itu gali-lah/
bongkarlah kembali dari segala sesuatu yang menimbunnya, sehingga
perlulah kita menuntut ilmunya agar ruh/jiwa yang teggelam itu dalam
hidup kembali dan mengenal Tuhannya. Itulah yang disebut fitrah kembali
seperti semula, yaitu ketika ruh itu berada dekat di sisi Allah karena
Ruha itu tidak tercemar oleh yang menghizabnya yaiotu segala isi dunian
dan ruh iotupun bercahaya kembali sehingga dapat berhubungan kembali
dengan cahaya Allah Azza wajallah.

Seperti firman Allah yang artinya:
Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya
Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya
ada Pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan
bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak
dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di
sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya),
yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh
api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada
cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-
perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

(Q.S An-Nur (24) ayat 35)

Benarlah dia beragama Islam yang sebenar-benarnya, karena ruhnya telah
Qur’an yang murni  atau sesunggunya Ruh itulah Qur’an yang suci.
Maka urusan Ruh itu sesungguhnya adalah hanya berurusan dengan Allah
semata. Apabila insan manusia ini telah mengembalikan tugas ruh itu
secara benar, pas, tepat dan terarah, maha benarlah Allah itu atas
segala firman-Nya: “bahwa Urusan Ruh itu adalah urusan KU”.

Akhirul Kalam....

Kami berpesan kepada saudaraku yang kukasihi,
dan yang kusayangi agar dapat memulai dengan membaca didalam diri
dan hati kita yang ada didalam dada kita masing-masing, bila ada bacaan
atau kata-kata dihati kita untuk menyeru kepada kebaikan,
misalnya menyeru untuk: ”ambil wudhuk...! , atau dirikan Sholat..!,
bersedekah...! atau berinfak...!” maka ikutilah bacaan ataupun seruan
hati kita tersebut, tetapi bila diri atau hati kita mengajari atau
menyeru kepada kejahatan dan hal-hal yang tidak baik
contohnya: membenci seseorang, memfitnah, mengejek, mendengki, menipu,
merusak, su’uzhon dan lain-lain kata-kata yang tidak baik maka mohon
ampun dan berlindunglah kepada Allah dengan berdzikir hati kita
mengingat Allah, karena kata-kata jelek itu merupakan seruan setan,
karena kita sebagai manusia sudah diberikan Allah akal pikiran sebagai
mizan atau dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk,
maka akallah sebagai Furqon atau pembedanya kepada mana kata-kata baik
dan mana kata-kata yang buruk.

Dan bacalah kitab suci Al-Quran dengan hati yang bersih dan suci,
maka akan sesuailah apa yang dibacakannya dengan apa yang dirasakan
dihatinya tentang kebenaran Al-quran itu, semoga kita semua tidak
menjadi sebagai orang-orang yang munafik yaitu membacakan
atau mengatakan apa-apa yang tidak kita mengetahui atau
merasakannya akan kebenaran Al-Quran itu dihati kita,
ataupun mengatakan sesuatu yang tidak kita perbuat
.


amiin...amiin... Ya Rabbal ’aalamiin .

Bagikan :

Komentar

Tambah Komentar (0)

Batal

Balas Komentar

Komentar Berhasil diterbitkan
Komentar tidak dapat diterbitkan Silakan coba lagi..!
Alamat email yang anda masukkan salah..!
Alamat web yang anda masukkan salah..!
Kode Captcha yang anda masukkan salah...!
Bidang tidak boleh ada yang kosong....!

Artikel Terbaru