Sejarah

SEJARAH SINGKAT

PENGAJIAN TASAWUF BABUR RIDHO RAHMATULLAH

AHLI THARIQAT NAQSYABANDI JABAL HINDI

 

 

 

Berawal Pengajian Tasawuf Babur Ridho Rahmatullah Ahli Thariqat Naqsyabandi Jabal Hindi, dibawa ke Sumatera Utara, tepatnya di Desa Paya Geli oleh Muhammad Jamil Bin Datuk Kanda Maharajo Ibrahim seorang putra kelahiran Daerah Bonjol yaitu Padang-Sumatera Barat. Beliau datang ke Sumatera Utara tepatnya di Desa Paya Geli Kabupaten Deli Serdang dan bertemu dengan Abdul Wahab Bin Arab Marga Surbakti pada tahun 1925, kemudian mereka berdua berangkat  menunaikan Ibadah Haji ke Tanah Suci Mekkah lalu berguru kepada Syekh. Kholil Hamdi Basya. Sepulang dari tanah suci Makkah, Muhammad Jamil tidak kembali ke kampung halamannya, namun langsung menuju ke Sumatera Utara bersama Abdul Wahab tepatnya di Desa Paya Geli. Setibanya di Sumatera Utara mereka berdua pun menemui Syekh. Muhammad Toyyib untuk lebih mendalami lagi ilmu agama di Kabupaten Sedang Bedagai-Sumatera Utara atas perintah guru mereka, yaitu Syekh. Kholil Hamdi Basya.

 

 

Setelah mendalami ilmu agama kepada Syekh. Muhammad Toyyib, kemudian Muhammad Jamil diangkat menjadi Syekh dan membuka pengajian yang diberi nama “THARIQAT NAQSYABANDIYAH” di Desa Paya Geli Kabupaten Deli Serdang hingga tahun 1934, beliau pun wafat dan dimakamkan di Jalan Stasiun Kereta Api Desa Kampung Lalang Medan. Setelah wafatnya Tuan Syekh Muhammad Jamil Bin Datuk Kanda Maharajo Ibrahim, Pengajian Thariqat Naqsyabandiyah di pimpin/diteruskan oleh Tuan Syekh Abdul Wahab Bin Arab sejak tahun 1934, kemudian beliau juga wafat pada tahun 1946 dan dimakamkan di Desa Paya Geli.

 

          Selanjutnya, setelah wafatnya Tuan Syekh. Abdul Wahab Bin Arab, Pengajian Thariqat Naqsyabandi Jabal Hindi pindah/hijrah dari Desa Paya Geli ke Desa Tanjung Gusta Kelambir Lima sejak tahun 1946 s/d 1963 yang dipimpin oleh Tuan Syekh. Abdurrahman Bin Usman, Beliau pun wafat dan dimakamkan di Desa Tanjung Gusta Kelambir Lima. Namun sebelum wafatnya Tuan Syekh Abdurrahman Bin Usman, tepat pada tahun 1957 beliau memerintahkan kepada muridnya yang sudah di anggap mampu, yang bernama Khalifah Muhammad Said Bin Samsuddin untuk membuka Cabang Pengajian Thariqat Naqsyabandiyah di Daerah Kampung Kurnia Belawan, dan pada tahun 1963 setelah wafatnya Tuan Syekh. Abdurrahman Bin Usman, Pengajian Thariqat Naqsyabandiyah di pindahkan kembali ke Desa Paya Geli yang diteruskan/dipimpin oleh Tuan Syekh H. Muhammad Daud Bin Abdul Wahab dari tahun 1963 sampai dengan tahun 1980, karena derasnya Zauqi yang beliau alami, sehingga Tuan Syekh H. Muhammad Daud Bin Abdul Wahab tidak dapat memimpin pengajian, maka Khalifah Muhammad Nuh ditunjuk untuk memimpin pengajian sebagai perpanjangan tangan Mursyid, suatu ketika Khalifah Muhammad Nuh pergi berangkat menunaikan ibadah Haji ke tanah suci dan pengajian sempat terhenti selama beberapa bulan, dan karena Khalifah Muhammad Nuh begitu lama di tanah suci, sementara murid–muridnya selalu mendesak agar pengajian dilaksanakan. Kemudian Tuan Syekh  H. Muhammad Daud pun memerintahkan supaya pengajian dilaksanakan di Belawan, tepatnya di kediaman Khalifah Muhammad Said Bin Samsuddin putra Jawa Timur. Dalam waktu yang relative singkat ternyata pengajian ini sangat banyak di minati, hingga rumah beliau tidak dapat lagi menampung para jema’ah, maka Khalifah Muhammad Said mengambil inisiatif untuk melaksanakan Pengajian di mesjid milik masyarakat umum, namun masyarakat umum merasa terganggu sehingga terjadi konflik kecil antara jemaah dan masyarakat sekitar mesjid. Prihatin melihat keadaan seperti ini, salah seorang dari jemaah menyumbangkan tanahnya di jalan Young Panah Hijau Lingkungan III kelurahan Labuhan Deli Kecamatan Medan Marelan.

 

          Kemudian pada tahun 1978 Pengajian Thariqat Naqsyabandiyah Cabang Kampung Kurnia Belawan yang di pimpin oleh Khalifah Muhammad Said Bin Samsuddin pindah/hijrah dari kampung Kurnia Belawan ke Jalan Young Panah Hijau Lingkungan III Kelurahan Labuhan Deli Kecamatan Medan Marelan, Namun sebelum wafatnya Tuan Syekh. H. Muhammad Daud Bin Abdul Wahab pada tahun 1980, beliau sempat berkunjung ke Pengajian yang di pimpin oleh Khalifah Muhammad Said dan menyampaikan kepada seluruh murid-murid yang hadir pada kegiatan pengajian tersebut, bahwa Khalifah Muhammad Said telah diangkat menjadi Syekh Muda. Lalu berselang beberapa minggu kemudian Syekh. Muhammad Daud kembali berkunjung ke Pengajian yang di Pimpin oleh Syekh. Muda Muhammad Said yang pada saat itu bertepatan Hari Besar Islam memperingati Isra’ Mi’raj. Di dalam pertemuan tersebut Syekh. Muhammad Daud menyampaikan kepada Syekh. Muda Muhammad Said dengan disaksikan beberapa orang khalifah dan murid, bahwa Tuan Syekh. Muhammad Daud mengatakan: “pusat pengajian pindah di sini” (maksudnya adalah bahwa Dewan Pimpinan Pusat atau seluruh kegiatan pengajian di pindahkan ke Jalan Young Panah Hijau Lingkungan III Kelurahan Labuhan Deli Kecamatan Medan Marelan yang di pimpin oleh Syekh Muda Muhammad Said ). Beberapa bulan kemudian setelah menyerahkan kepemimpinan, Tuan Syekh. Muhammad Daud pun meninggal dunia pada tahun 1980.

          Sepeninggalnya Syekh. Muhammad Daud, Kepemimpinan dilanjutkan oleh Syekh. Muda Muhammad Said untuk memimpin pengajian dan resmi diangkat menjadi Syekh, kemudian pengajian pun berganti nama menjadi “PONDOK PESANTREN THARIQAT BABUR RIDHO NAQSABANDI”, dan beliau wafat pada hari kamis tanggal 11 November 1986 pukul 12.30 WIB dan dimakamkan di pemakaman Jalan Young Panah Hijau Gang Wakaf Kelurahan Labuhan Deli Kecamatan Medan Marelan.

 

Setelah meninggalnya Syekh. Muhammad Said, pengajian diteruskan/ dipimpin oleh salah seorang muridnya, yaitu Muhammad Ishak Bin                        H. Muhammad Nurdin pada tahun 1987 hingga pada tahun 1995. Pengangkatan Muhammad Ishak untuk meneruskan kepemimpinan pengajian terbilang cukup unik. Yaitu melalui proses kejadian yang tidak umum atau tidak biasa sebagaimana aturan-aturan di dalam pengangkatan seorang Mursyid di kalangan Thariqat. Dimana sebelum wafatnya Syekh. Muhammad Said, beliau memberikan selembar kertas surat yang digulung-gulung lalu diserahkan kepada muridnya Muhammad Ishak dengan cara dilemparkan begitu saja dengan berkata: “Ini hak (nama panggilan akrab Muhammad Ishak) simpan, jangan di buka-buka”.  Sebagai murid yang patuh kepada Mursyidnya, Muhammad Ishak tidak pernah sekalipun membuka surat tersebut, hingga pada akhirnya setelah Tuan Syekh. Muhammad Said meninggal dan Muhammad Ishak meneruskan kepemimpinan sebagai Mursyid, Muhammad Ishak teringat kembali atas kertas surat tersebut, dan dibukalah surat itu yang isinya menjelaskan tentang pengangkatan Muhammad Ishak untuk memimpin pengajian. Kemudian dalam persulukan 20 hari, seorang murid yang baru memeluk Islam dari suku Tionghoa yang mengikuti persulukan bernama Hasan pui mendapat manjub dan mengatakan sambil menunjuk kearah Muhammad Ishak dengan berkata: “pak ishak inilah calon guru yang akan datang menggantikan pak said”. Dengan disaksikan seluruh jema’ah yang mengikuti persulukan. Setelah selesai persulukan Muhammad Ishak pun di tabalkan untuk menjadi mursyid di Pondok pesantren Thariqat Babur Ridho Naqsabandi dan diberi gelar menjadi “ Syekh. Muhammad Ishak Bin H. Muhammad Nurdin”.

 

 

 Tuan Syekh Muhammad Ishak Bin H. Muhammad Nurdin pun wafat pada hari Sabtu Tanggal 23 September 1995 pukul 17.00 WIB, dan beliau juga dimakamkan di pemakaman Jalan Young Panah Hijau Gang Wakaf Kelurahan Labuhan Deli Kecamatan Medan Marelan di samping makam Tuan Syekh Muhammad Said Bin Samsuddin.

 

Sebelum Tuan Syekh. Muhammad Ishak Bin Haji Muhammad Nurdin meninggal/wafat ada satu pesan secara lisan dari beliau, bahwa jika dirinya wafat maka pengajian dapat di teruskan, yang mana sebagai pembaca kitab oleh Khalifah Mahyar dan Khalifah Muhammad Yunus memimpin Tawajjuh. Setelah Tuan Syekh Muhammad Ishak Bin Haji Muhammad Nurdin wafat maka amanah tersebut pun dijalankan dan hanya berjalan selama 2 (dua) tahun, Sejak dari tahun 1996 s/d 1998.

 

Pada masa itu belum ada seorang Mursyid/Guru yang memimpin Pengajian Thariqat Naqsyabandi Jabal Hindi, ketika itu Khalifah Mahyar selalu bermunajat kepada Allah agar segerah diturunkannya seorang Mursyid sebenar-benar Mursyid/Guru yang diberi ilmu untuk dapat membimbing dan menentramkan jama’ah Pondok Thariqat Naqsyabandiyah Babur Ridho dan dapat menegakkan agama yang hak serta dapat menerangi sekelilingnya. Akhirnya PADA PERSULUKAN 20 HARI (SULUK AKBAR) DARI TANGGAL: 17 MARET 1998 S/d 05 APRIL 1998 TEPAT DI BULAN HURUM (BULAN MULIA)  ZULKAIDAH  1418 H di Pondok Thariqat Naqsyabandiyah Babur Ridho di Jl. Young Panah Hijau Lingkungan III  Kelurahan Labuhan Deli Kecamatan Medan Marelan, Medan-Sumatera Utara. Seorang murid bernama “HIRFI NUZLAN” menerima perintah dari Sang Maha Ghaib sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut didalam masa persulukan (perkhalwatan) yang ketika itu kondisi pondok pengajian mengalami masa kekosongan seorang Pimpinan/Mursyid selama lebih kurang 2 (dua) tahun lamanya.

Bagikan :

Artikel Terbaru